"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"
Anisa Rahmawati
Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
**Selamat membaca, semoga teman-teman semua suka 😊 **
Puncak tertinggi dari sebuah perasaan adalah mengikhlaskan. Tidak banyak orang yang bisa mencapai benar-benar ikhlas dalam melepaskan sesuatu, namun inilah kenyataannya. Tidak ada yang bisa Dimas lakukan lagi saat Anisa memutuskan untuk meninggalkan kotak berbentuk hati itu di atas meja rias yang di sediakan mendiang Ayah Pras dulu untuk menantu kesayangannya di dalam kamarnya.
Raut kecewa mendiang sang Ayah kembali melintas di benaknya saat dia tidak sengaja melakukan kekejian malam itu. Tidak, dia sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk melecehkan gadis yang sudah di anggapnya seperti adik kecilnya, meskipun rasa cinta untuk Anisa belum tumbuh di hatinya saat itu.
Dimas membenamkan wajahnya di atas bantal yang dua malam ini di gunakan oleh mantan istrinya untuk beristirahat. Menghirup sepuasnya aroma vanilla yang tertinggal di sana.
"Aku rindu Nis." Ujar Dimas pelan. Hatinya sesak, kotak cincin itu kini digenggamnya dengan begitu erat. Jika saja kotak cincin ini hanya terbuat dari kertas, mungkin saja sudah remuk di dalam tangannya.
Ikhlas, ingin sekali kata itu benar-benar dia terapkan di dalam hatinya namun kata itu tidak semudah saat mengucapkannya. Benar kata orang, puncak tertinggi dari sebuah rasa cinta adalah mengikhlaskan, karena memang hanya sebagian kecil manusia yang bisa mencapai ke titik benar-benar mengikhlaskan sesuatu yang penting.
"Zia Ayah merindukanmu nak." Ujarnya lagi. Sungguh kerinduan ini justru semakin bertambah hingga memenuhi seluruh bagian rongga dadanya. Dia berharap setelah bertemu dan menghabiskan waktu singkat bersama, dia semakin bisa merelakan putrinya itu jauh, namun semuanya tidak berjalan seperti yang seharusnya.
"Makan dulu nak, ini sudah malam." Suara ibu Mirna terdengar dari balik pintu kamar yang tertutup rapat.
"Ibu duluan saja, Dimas belum lapar bu." Jawabnya.
Entahlah malam ini dia seperti anak remaja yang mengalami patah hati saat pujaan hati memilih pergi. Lucu bukan, namun inilah yang Dimas rasakan sekarang.
drrttt...drrtttt
Benda pipih di atas nakas di samping tempat tidur terus bergetar, namin si pemilik sama sekali tidak berniat melihat siapa gerangan yang kini sedang mengganggunya.
ting...
Getaran ponsel berganti dengan bunyi notifikasi dari sebuah aplikasi terpenting di dunia. Namun lagi-lagi Dimas enggan untuk memeriksanya.
"Nak periksa ponselmu, putrimu merindukanmu." Teriak Ibu Mirna dari lantai bawah rumahnya.
Dimas bergegas bangun dari ranjang yang di penuhi wangi khas balita milik putrinya juga vanilla milik mantan istrinya.
Matanya membelalak melihat nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya itu mengirim video putrinya yang sedang makan dengan begitu lahap.
"Cepat makan Ayah, nanti sakit dan tidak akan bisa menjemput Zia." isi pesan bersamaan dengan video putrinya.
"Assalamualaikum.." Sapa Anisa saat panggilan Video yang dimas lakukan sudah terhubung dengan nomor yang baru saja mengirimnya pesan singkat.
"Waalaikumsalam Zia." Jawab Dimas saat wajah putri dan mantan istrinya sudah terlihat jelas di layar ponselnya. Dimas tersenyum senang ke arah kamera.
Hening, tidak ada kata dari dua orang dewasa itu. Hanya wajah mereka yang saling mengisi layar. Dimas terus saja melihat wajah bersahaja dengan hijab itu, namun Anisa terus saja menyibukkan dirinya menyuapi putri mereka.
"Kamu juga makan Nis, jangan Zia doang yang di buat gendut." Ujar Dimas mencairkan susasana. Dia sudah hafal bagaimana tabiat dari mantan istrinya ini.
"Mas juga harus makan, kata ibu mas belum makan sejak pagi." Kata Anisa dan kini sudah menatap ke layar ponsel.
"Iya aku pasti akan makan, asalkan Zia mau di jemput pulang ke rumah Ayah." Ucap Dimas.
Ponsel Anisa sudah berpindah tangan, dan wajah dan kini layar ponse Dimas sudah terisi wajah Abi Arif.
"Jika mau mwnjemput Zia, harus bersama ibunya. Karena Zia dan Anisa sepaket nak." Ucap Abi Arif.
Dimas terdiam, dia bingung dan sibuk mencerna kalimat yang kini meluncur dari mantan mertuanya.
"Anisa sudah menolaknya Abi." jawab Dimas.
Abi Arif terdiam, dia kebingungan dengan ucapan mantan menantunya ini. Bagaimana bisa Anisa menolak, sementara putrinya sudah meminta izin dan memantapkan hatinya untuk kembali.
"Siapa yang menolak mas ?" Tanya Anisa tersenyum lucu. Dimas belum tahu apapun, laki-laki ini sama sekali tidak memeriksa kotak cincin itu.
Dimas memandang sendu pada Anisa.
"Kamu meninggalkan cincinnya Nis." Ujar Dimas lalu menggenggam erat kotak cincin yang ada di tangannya.
Anisa hanya tersenyum manis di depan layar ponselnya saat melihat wajah tidak bersemangat Dimas.
"Aku membawanya bersamaku." Jawab Anisa. "Kalau begitu aku tutup ya Mas, kami akan menunggu kamu datang kembali." Sambung Anisa.
"Nis..."
"Makanlah, dan kita akan bicarakan semuanya di Bandung nanti. Assalamualaikum." Ucap Anisa ingin segera mengakhiri panggilan.
"Baikalah, aku akan segera kesana dan terimakasih." Ucap Dimas dan Anisa mengangguk tapi panggilan belum berakhir.
"Kenapa ?" Tanya Dimas lagi.
"Assalamualaikum mas." Ucap Anisa lagi.
"Waalaikumsalam Nis." Jawab Dimas sambil terkekeh pelan lalu mengakhiri panggilan mereka.
Deg...
Dadanya semakin berdebar saat membuka kotak, cincinnya sudah todak lagi berada di sana.
"Secepatnya aku akan kesana menjemput kalian." Ujar Dimas dengan perasaan yang membuncah.
Allah sudah mengatur segala sesuatu dengan begitu indah saat waktunya tiba.
Masih dengan senyum dibibirnya, Dimas segera keluar dari dalam kamarnya menuju dapur. Setelah berbicara dan mendapatkan kabar yang membuatnya bahagia, kini perutnya sudah merasakan lapar.
Ibu Mirna sudah berada di ruang keluarga saat putranya berjalan cepat menuju dapur.
"Kamu tuh sudah dewasa tingkahnya seperti remaja yang sedang patah hati. Ngambek mogok makan karena putus cinta." Ujar Ibu Mirna saat putranya sudah berada di ruangan yang sama.
Dimas tidak lagi menjawab, semua yang di katakan ibunya memang benar adanya. Masih dengan senyum bahagia di bibirnya, Dimas meninggalkan sang ibu yang sibuk membolak balik majalah menuju ruang makan untuk memberi makan cacing-cacing yang mulai menggila karena kehabisan asupan.
****
"Kesempatan ini sangat berharga nak, jangan sia-siakan lagi." Ujar Ibu Mirna sambil ikut duduk di hadapan putranya yang baru saja menyelesaikan makan malamnya.
"Ibu sudah tahu jika Nisa tidak menolakku ?" Tanya Dimas menatap sang ibu yang sudah duduk di hadapannya.
Ibu Mirna mengangguk.
"Dia memberitahu ibu pagi tadi sebelum kita mengantar mereka ke Bandara. Dia mencintaimu sejak dulu, dan semuanya masih sama seperti dulu." Jawab Ibu Mirna. "Jangan lagi melukainya, Allah sangat jarang memberikan kesempatan ketiga jadi cintai dia lebih dari cinta yang dia beri untukmu." Sambung Ibu Mirna.
Wanita yang semakin menua itu terus saja memberikan nasihat untuk putra semata wayangnya agar kedepannya tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
"Seorang suami wajib memberikan cinta melebihi cinta yang di berikan oleh istrinya. Kenapa ? karena laki-laki harus memberi tip untuk wanita yang sudah dengan ikhlas melahirkan keturunannya." Ujar Ibu Mirna lagi sambil menatap lekat pada putranya yang kini terdiam.