Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Royal betul suamimu itu, Yas," ucap Mama berbisik, tak henti-hentinya memuji menantunya sepanjang kami berjalan di antara deretan stan pakaian.
Aku hanya terdiam sembari menyunggingkan senyum tipis.
"Eh Yas, pulang nanti kita singgah di warung makan coto, ya? Ingin sekali Mama makan coto malam ini..." pinta Mamaku tiba-tiba dengan mata berbinar.
Aku mengangguk mengiyakan. Cukup lama aku berputar-putar mencari beberapa potong baju yang menurutku sreg di hati, sampai akhirnya aku mendapati beberapa yang cocok. Saat sedang memilah, mataku tidak sengaja menangkap setelan celana pendek dan kaus pria yang modelnya cukup bagus. Aku teringat kalau Jalal tidak membawa banyak pakaian ganti ke kampung. Mungkin tidak ada salahnya kalau kubelikan ini untuknya, batinku berbicara sendiri.
Namun, saat aku sedang asyik memilih ukuran baju tersebut, sebuah suara cempreng yang sangat tidak asing tiba-tiba mengejutkanku dari arah belakang.
"Ededeh... Mau beli baju laki-laki untuk siapa itu, Yas? Anak harammu tidak sekalian kau belikan juga?" ucap Sela, sepupu dari pihak Bapak, menyindirku dengan nada bicara yang teramat sinis.
Darahku seketika berdesir panas. Aku membalikkan badan lalu menatapnya dengan pandangan mata yang menghunus tajam. "Heh, kau jaga mulutmu nah! Anakku bukan anak haram!" kataku tegas dengan suara tertahan, berusaha menahan diri agar tidak memicu keributan di depan umum.
Sela malah mendengus remeh. "Cih, siapa yang tidak tahu? Kau pergi merantau ke Bandung terus cuma jadi simpanan laki-laki beristri. Begitu hamil, habis itu kau pulang kampung toh? Karena laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab!" cibirnya berapi-api sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkanku begitu saja.
"Anak anjing kau, Sela!" makiku kasar dengan napas memburu, menatap punggungnya yang menjauh dengan rasa geram yang teramat sangat.
Tak lama berselang, Mama berjalan menghampiriku dari stan sebelah. Menyadari kehadiran Mama, aku secepat kilat melunakkan kembali raut wajahku agar beliau tidak ikut kepikiran. Setelah urusan belanja baju serba tiga puluh lima ribu selesai, aku dan Mama kembali berjalan menemui suamiku dan Bapak yang setia menunggu di dekat wahana permainan.
"Sudah selesai belanjanya, Sayang?" tanya Jalal begitu aku berdiri di depannya.
Aku mengangguk pelan. "Ayo mi kita pulang sekarang," ucapku mengajak.
Suamiku mengangguk setuju. Aku melirik ke arah Jayan yang berada di gendongan Jalal; bocah kecil itu kini tampak diam saja, tidak seceria dan seheboh saat kami baru tiba tadi karena sepertinya dia sudah mulai mengantuk. Kami semua berjalan bersama meninggalkan area pasar malam menuju tempat parkir mobil.
"Pak, kita singgah sebentar di warung makan coto di depan nah," pintaku pada Jalal saat kami sudah bersiap masuk ke dalam kabin.
"Iya, boleh. Mama sama Bapak juga pasti sudah lapar setelah beberapa jam bergantian menjaga Bang Jayan bermain tadi," sahut Jalal tersenyum ramah dari balik kemudi.
Bapak dan Mama yang duduk di kursi tengah hanya tersenyum lembut menanggapi kebaikan menantunya. "Sudah biasa, Nak Jalal. Dari semenjak Jayan masih umur satu bulan, kami memang sudah bergantian begini jaga Jayan," ucap Mamaku polos.
Mendengar jawaban Mama, senyum di wajah Jalal perlahan menipis. Sorot matanya menyiratkan rasa bersalah dan tidak enak yang teramat besar karena telah melewatkan masa-masa sulit itu. Melihat perubahan raut wajahnya, aku bergeser sedikit lalu menggenggam erat telapak tangan kirinya sembari melemparkan senyuman menenangkan, berusaha mengikis rasa bersalah di hatinya.
Perlahan, mobil SUV hitam milik suamiku memasuki area parkir sebuah warung makan coto yang tampak cukup ramai pengunjung. Kami lantas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam warung. Jalal berjalan dengan gagah sembari menggendong Jayan di lengan kanannya, sementara tangan kirinya menggandeng jemariku dengan erat seolah tidak mau melepaskanku lagi.
Namun, baru beberapa langkah menapakkan kaki di dalam warung, mataku tak sengaja menangkap keberadaan Sela dan Yanti yang sedang duduk berkumpul bersama beberapa teman-temanku yang lain. Sela dan Yanti adalah sepupuku sendiri. Sebenarnya, jika saja sifat mereka baik, aku pasti akan dengan senang hati berteman erat dengan mereka. Sayangnya, tabiat mereka berdua sangat buruk dan suka menjatuhkan orang lain, persis seperti sifat ibu mereka.
Sengaja ingin menunjukkan bahwa aku tidak takut sedikit pun, aku berjalan tenang menuju meja kosong yang letaknya tepat di depan meja mereka. Saat pelayan warung datang menghampiri, aku langsung memesan empat porsi coto Makassar dan satu porsi nasi goreng suwir ayam khusus untuk putra kecilku.
Tak lama setelah pelayan itu pergi, ponsel di saku celana Jalal tiba-tiba bergetar nyaring. Pria itu merogoh ponsel bobanya, melirik layar sejenak, lalu menatapku. "Saya angkat telepon sebentar di luar ya, Yas," ucapnya yang langsung kuangguki.
Sementara Jalal berjalan keluar, Mama dan Bapak menatapku dengan pandangan bertanya-tanya, seolah merasakan atmosfer ketegangan yang sempat terjadi di antara aku dan dua sepupuku di meja seberang. Namun, sebelum Mama sempat membuka suara, fokusku mendadak teralih oleh kedatangan empat orang wanita yang tiba-tiba menghampiri meja kami. Dua di antaranya tampak masih mengenakan seragam dinas kesehatan, sedangkan dua lainnya memakai pakaian kasual biasa.
Aku mengernyitkan dahi bingung, berusaha mengingat-ingat wajah mereka.
"Astaga... ini betul kau kan, Yasita?" tanya salah satu wanita itu dengan heboh, memutus kebingunganku. "Astaga, ini kau...! Saya Mitha, ini Rere, Juli, sama Dea!" katanya mengingatkan satu per satu.
Ingatanku seketika berputar cepat. "Astaga! Saya lupami komorang (kalian semua)! Bagaimana mi kabar? Cie Sist, komorang dua sudah jadimi perawat di'..." ucapku heboh setelah bangkit berdiri dan memeluk hangat mereka satu per satu.
"Eh, ada Tante sama Om juga," sapa Dea ramah, menyalami tangan kedua orang tuaku yang diikuti oleh tiga temanku yang lain.
"Kau baru datang kah di kampung, Yas?" tanya Mitha penasaran.
"Iye, de'ela (iya nih)... Tadi kita habis dari pasar malam, bawa anakku jalan-jalan," ucapku sembari menunjuk ke arah Jayan yang sedang duduk tenang menyantap hidangannya sambil sesekali melirik ponselku.
"Hah?! Anakmu ini? Kapan kau menikah, Yas?" tanya mereka serentak dengan raut wajah kaget luar biasa.
"Di perantauan saya menikah, Ces (teman)... Makanya tidak ada kabar sama sekali. Pulang-pulang ke kampung sudah langsung isi, sekarang umurnya sudah jalan tiga tahun," ucapku pelan dengan senyuman tipis.
"Astaga, tidak ada kabar-kabar sama sekali... Wuuu, jahatnya kau deh!" canda mereka bergantian menyenggol bahuku.
"Iya, maaf, maaf... Tapi nanti kalau misal ada acara kelanjutannya, saya pasti akan undangji komorang (kalian semua) kok," jawabku balik bercanda, yang langsung disambut tawa renyah oleh mereka sebelum kami dengan cepat saling bertukar nomor ponsel baru.
Sementara itu, di luar area warung makan yang agak remang, Jalal berjalan mondar-mandir sembari menempelkan ponsel di telinganya. Rupanya, panggilan telepon itu datang dari putri sulungnya, Zulaikha.
"Halo, Zu," ucap Jalal membuka percakapan begitu tombol hijau digeser.
"Halo, Bi... Abi kapan pulang ke Bandung?" tanya Zulaikha di seberang sana dengan nada suara yang terdengar cepat dan menuntut.
Jalal mengembuskan napas pendek, berusaha menyusun kalimat yang tepat. "Sabar, Zu. Abi sepertinya bakalan lama berada di sini. Mungkin sekitar enam bulanan lagi... Rencananya Abi mau membangun tiga rumah penangkaran walet sekaligus membuat tempat penyulingan minyak di daerah sini," ucap Jalal pelan dengan suara beratnya.
Jalal sengaja memilih untuk tidak mengatakan sepatah kata pun mengenai fakta bahwa dia sudah bertemu kembali dengan Yasita dan putra mereka. Pria matang itu tahu betul watak putrinya, dia tidak ingin membuat hati Zulaikha semakin sakit dan tertekan untuk saat ini.
Setelah obrolan singkat itu selesai dan sambungan telepon ditutup, Jalal membalikkan tubuhnya hendak melangkah kembali masuk ke dalam warung. Namun, karena kurang memperhatikan jalan, tubuh tegapnya tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita lokal yang baru saja hendak keluar. Wanita itu bertubuh cukup tinggi, mengenakan pakaian ketat yang kekurangan bahan, dengan rambut yang dicat pirang kemerahan—terlihat sangat kontras di bawah siraman lampu terang warung makan.
Wanita berambut pirang itu seketika menatap terpesona ke arah rahang tegas dan ketampanan wajah bule milik Jalal. Namun, alih-alih meminta maaf atau mengeluarkan senyuman ramah, Jalal justru memasang raut wajah yang sangat datar dan dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu langsung menggeser langkahnya dan melenggang pergi begitu saja masuk ke dalam warung, mengabaikan tatapan memuja wanita asing tersebut.
Begitu tirai pintu warung disibak, pandangan mata Jalal langsung tertuju ke satu titik. Dia melihat istrinya sedang asyik mengobrol dan tertawa lepas dengan beberapa wanita sebayanya di meja makan. Detik itu juga, gumpalan rasa hangat kembali menyeruak di dalam dada Jalal. Dia berdiri mematung di dekat pintu, hanya untuk memandangi garis wajah cantik milik istrinya dari kejauhan.
"Gimana saya tidak tambah cinta sama kamu, Yas... Kalau setiap waktu kamu selalu bisa membuat jantung saya berdetak sekeras ini," bisik Jalal dengan suara yang teramat rendah, diikuti seulas senyuman tipis yang terukir di bibirnya sebelum dia melangkah menghampiri meja keluarga kecilnya.