NovelToon NovelToon
Puteri Sampah Yang Berubah

Puteri Sampah Yang Berubah

Status: tamat
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:135.8k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.

Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!

Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 : Pertarungan

​Udara di Lembah He-Feng terasa mencekam. Kabut tebal menyelimuti celah-celah tebing curam yang mengapit jalan setapak utama. Wan Long duduk tegak di atas kuda hitamnya, mengenakan zirah perak yang berkilat tertimpa cahaya fajar yang pucat. Di belakangnya, lima ribu prajurit pilihan Jenderal Zhao bersiaga dalam keheningan yang mematikan.

​"Mereka datang," bisik Jenderal Zhao, menunjuk ke arah utara di mana debu beterbangan tinggi ke langit.

​Ribuan kavaleri Suku Utara yang dipimpin oleh Wan Jin mulai memasuki mulut lembah. Wan Jin tampak angkuh, memacu kudanya di barisan depan bersama para panglima barbar yang haus darah. Begitu melihat pasukan Wan Long, Wan Jin mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

​"Lihat! Kakakku yang malang hanya membawa sedikit pasukan!" teriak Wan Jin penuh kemenangan. "Serbu! Jangan biarkan satu pun dari mereka hidup!"

​Wan Long menyeringai tipis di balik pelindung wajahnya. Ia mengangkat tangannya, lalu segera menurunkannya, sebuah sinyal. "Mundur! Sekarang!"

​Sesuai rencana Bai Hua, pasukan istana berbalik arah dan memacu kuda mereka masuk lebih dalam ke lembah. Wan Jin, yang sudah dibutakan oleh dendam, tidak curiga. Ia menganggap saudaranya itu ketakutan.

​"Kejar mereka! Mereka terjebak!"

​Di Menara Komando Pusat, Ibu Kota...

​Bai Hua duduk di depan sebuah meja besar yang berisi miniatur lembah He-Feng. Di tangannya terdapat sebuah teleskop kuno yang sudah ia modifikasi lensanya. Melalui jendela menara, ia bisa melihat sinyal asap dari kejauhan.

​"Nona Muda, mereka sudah masuk ke titik pusat lembah," lapor Choi yang berdiri di dekat pengintai.

​"Bagus," gumam Bai Hua. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran kursi roda. "Tunggu sampai kavaleri berat mereka sepenuhnya menginjak area tanah merah."

​Tiba-tiba, pintu menara komando didobrak kasar. Beberapa pembunuh berpakaian hitam---mata-mata Suku Utara yang tertinggal di dalam kota---berhasil menyusup.

​"Bai Hua! Hari ini adalah hari terakhirmu bernapas!" teriak salah satu pembunuh sambil menghunus belati beracun.

​Bibi Pong menjerit, namun Bai Hua tetap tenang. Dengan gerakan tenang, ia menekan sebuah tombol di bawah meja komandonya. Srak! Beberapa anak panah kecil meluncur dari celah dinding menara, menembus dada dua pembunuh terdepan.

​"Aku sedang sibuk memenangkan perang," desis Bai Hua tanpa menoleh. "Jangan menggangguku dengan urusan sepele seperti pembunuhan."

​Ia menarik tuas terakhir di meja pusatnya. Tuas itu terhubung dengan kawat panjang yang terkubur hingga ke perbatasan kota, memicu sinyal api yang akan dilihat oleh Wan Long di lembah.

​Kembali ke Lembah He-Feng...

​Wan Long melihat kilatan cahaya dari arah menara kota. Ia segera menghentikan kudanya dan berbalik menghadap pasukan Wan Jin yang hanya berjarak seratus meter.

​"Cukup pelariannya," ujar Wan Long dengan suara menggelegar. "Wan Jin, kau ingin takhta ini? Ambil di neraka!"

​Wan Long melepaskan satu panah api ke arah tanah di depan kavaleri Suku Utara. Saat ujung panah itu menyentuh tanah merah yang sudah ditaburi bubuk mesiu dan fosfor oleh tim Bai Hua, bumi seolah terbelah.

​BOOOM! BOOOM! BOOOM!

​Ledakan berantai mengguncang lembah. Tanah yang dipijak pasukan Utara meledak, menciptakan lubang-lubang api yang menelan kuda dan prajurit sekaligus. Tebing-tebing di sisi kiri dan kanan yang sudah dipasangi bahan peledak oleh pasukan Jenderal Zhao mulai runtuh, menghujani musuh dengan batu-batu raksasa.

​"Apa ini?! Sihir macam apa ini?!" teriak Wan Jin panik saat kudanya terjungkal karena ledakan.

​Di tengah kekacauan, asap ungu yang mengandung ekstrak pelumpuh (modifikasi racun Lian-Xin yang dilemahkan) mulai memenuhi lembah, membuat para prajurit Utara lemas seketika.

​Wan Long memacu kudanya menembus asap, menebas setiap musuh yang masih mencoba melawan. Ia mencari satu orang, Wan Jin.

​Ia menemukan adiknya itu terhimpit di bawah bangkai kuda, wajahnya penuh jelaga dan ketakutan. Wan Long turun dari kudanya, menghunus pedang tepat di leher Wan Jin.

​"Kau bilang aku akan memerintah di atas abu?" Wan Long menatap adiknya dengan dingin. "Lihat sekelilingmu. Abu ini adalah milik pasukan yang kau bawa sendiri."

​"Bunuh aku..." desis Wan Jin. "Cepat bunuh aku!"

​"Tidak," sahut Wan Long. "Kau akan hidup untuk melihat bagaimana aku dan 'wanita lumpuh' itu membangun kembali kerajaan ini. Kau akan membusuk di sel yang sama dengan ibumu."

​Dua Jam Kemudian...

​Sisa pasukan Suku Utara melarikan diri kocar-kacir. Kemenangan mutlak ada di tangan Wan Long. Namun, saat Wan Long kembali ke ibu kota dengan perasaan lega, ia melihat Choi berlari ke arahnya dengan wajah pucat.

​"Pangeran! Nona Muda... dia pingsan di menara!"

​Wan Long jantungnya seolah berhenti detak. Ia melompat dari kuda dan berlari menuju menara komando. Ia menemukan Bai Hua tergeletak di lantai, wajahnya pucat pasi, namun tangannya masih memegang cetak biru pertahanan kota.

​"Mei Lin!" Wan Long mengangkat tubuhnya. "Bibi Pong, apa yang terjadi?"

​"Nona Muda terlalu memaksakan diri... ia mencoba berdiri untuk mencapai tuas terakhir tadi karena kursi rodanya macet," isak Bibi Pong. "Sarafnya menegang terlalu hebat."

​Wan Long mendekap Bai Hua erat-erat. Gengsi yang selama ini ia jaga runtuh seketika. "Dasar wanita keras kepala... aku bilang jangan lakukan hal gila."

​Tiba-tiba, jemari Bai Hua bergerak lemah. Ia membuka matanya sedikit, menatap wajah cemas Wan Long, lalu menyeringai tipis.

​"Kita... menang?" bisiknya parau.

​"Ya, kita menang," jawab Wan Long, suaranya bergetar.

​"Bagus. Kalau begitu... jangan menangis. Wajahmu jadi jelek," gumam Bai Hua sebelum kembali memejamkan mata dalam kelelahan yang luar biasa.

​Wan Long menghela napas panjang, mencium kening istrinya dengan lembut. "Tidurlah. Kali ini, aku yang akan menjagamu sampai kau bisa berjalan lagi."

***

Happy Reading ❤️

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih

1
Atoen Bumz Bums
👍
Atoen Bumz Bums
gt sadar langsung kenak cambuk 🤦
tinie
fz yaa
memang dulu aku punya
namun karna kebijakan negara lain yang tidak mengijinkan fz ada
jadi saya hanya punya nt
tinie
sebenarnya siapa pemilik tahta kaisar ini
kenapa sang kaisar tua sangat ketakutan
jika anaknya yang idiot telah sembuhnya 🤔🤔🤔🤔
tinie
ini BPK macam apa🤣🤣
tinie
main petak umpet
tinie
setelah mahar didapat pengantin wanita hendak dibunuh

uuh kasian sekali,,
TPI mereka berdua kuat tak perlu di kasihani
tinie
ahahha lucu agen rahasia
dan intelijen bersatu
tinie
🤣🤣🤣 musuh bebuyutan malah jadi suami istri
D'mok Swin
ok bossku..mantap 👍
Dede Bleher
juhuuu Happy Ending
Andrea
/Rose//Rose//Rose/
Rumi Yati
maksih thor
Kartika Dewi
ceritanya bagus thor,saya kasih satu vote,,semangat berkarya
Kartika Dewi
Luar biasa
Memyr 67
𝗀𝖺𝗀𝖺𝗅 𝗍𝗈𝗍𝖺𝗅 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌𝗅𝖺𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗆𝖺𝗂𝗌𝗎𝗋𝗂. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝖽𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗂 𝗁𝗎𝖺 𝗌𝖾𝖼𝖺𝗋𝖺 𝖻𝖺𝗂 𝗁𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖺 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗀𝖾𝗋𝖺𝗇 𝗂𝖽𝗂𝗈𝗍. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗋𝖾𝗇𝖺 𝗃𝖺𝗁𝖺𝗍 𝖺𝗃𝖺. 𝗉𝖾𝗋𝗆𝖺𝗂𝗌𝗎𝗋𝗂 𝗉𝖺𝗒𝖺𝗁.
Memyr 67
𝖺𝗁𝗁𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗋𝗎𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗆𝖾𝗇𝗌𝗂 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄.
Memyr 67
𝖺𝗁𝗁𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗋𝗎𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗆𝖾𝗇𝗌𝗂 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄.
Memyr 67
𝗁𝖺𝖽𝗈𝗁. 𝗍𝖾𝗋𝗃𝖾𝖻𝖺𝗄 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗆𝗎𝗌𝗎𝗁
Na
😅😅😅😅😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!