Kisah seorang gadis yang cuek akan belajar agama kini berubah drastis di karenakan seorang ustadz mulai masuk ke pesantren itu.. kira kira ada apa ya?? Kenapa bisa berubah begitu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razi Maulidi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34...---
Keheningan yang tadinya mencekam kini pecah oleh suara isak haru Tina. Ia masih memegang erat lengan Farhan, seolah jika ia melepaskan, semua keajaiban ini akan menguap. Farhan, yang masih berlutut, menatapnya dengan mata yang kini memancarkan kejernihan total.
Bapak Rahman, wali Tina, mengangkat tangan, memberi isyarat pada kerumunan yang mulai bubar. Wajahnya tampak lega, seperti seorang nahkoda yang baru saja berhasil menavigasi kapalnya melewati badai besar.
"Bangun, Nak Farhan," ulang Bapak Rahman, suaranya lembut. "Saya melihat perjuanganmu hari ini. Itu lebih dari cukup untuk membuktikan kesungguhanmu. Saya tidak melihat pria yang tidak stabil; saya melihat pria yang rela kehilangan segalanya demi menjaga kehormatan putri saya."
Farhan perlahan bangkit, aura seorang ustadz yang sempat pudar kini kembali, namun kini ia membawa martabat seorang pria yang telah melalui ujian kehormatan. Ia menoleh pada Ibu Tina, yang berdiri kaku dengan wajah menantang, namun tatapannya sudah tidak sedingin sebelumnya.
"Nyonya," Farhan menyapa lembut, tanpa sedikit pun nada defensif. "Saya harap hari ini cukup menjadi pembuktian. Surat cerai saya asli, dan saya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab ini. Saya hanya memohon agar Tina diizinkan menyelesaikan studinya dengan tenang, karena saya akan kembali untuk menikahinya segera setelah semua urusan administrasi ini selesai."
Ibu Tina menatap putrinya. Tina berdiri di samping Farhan, genggaman tangannya semakin menguat, seolah menolak untuk terpisahkan. Keputusan Tina yang berani di hadapan aparat desa dan seluruh warga itu adalah pukulan telak bagi otoritasnya.
"Jika... jika itu yang kau inginkan, Tina," ujar Ibu Tina pelan, kata-katanya nyaris tak terdengar. Ia menatap Farhan dengan sisa-sisa ketidakpercayaan. "Aku akan bicara dengan wali utamamu nanti. Tapi ingat, Farhan, pernikahanmu di masa lalu adalah aib yang harus kau tanggung sendiri. Jangan pernah kau biarkan itu membebani putriku."
Farhan mengangguk hormat. "Saya terima tanggung jawab itu, Nyonya. Itu adalah bagian dari jalan saya yang harus saya perbaiki."
Bapak Rahman menepuk bahu Farhan. "Baiklah. Sekarang, Farhan, karena kamu sudah resmi keluar dari pondok, mari kita selesaikan urusan administrasi kepindahanmu. Ustadz Saleh akan membantumu. Setelah itu, kamu bisa fokus pada urusan pernikahanmu dan memulihkan reputasi di mata Kyai Malik."
Farhan menoleh pada Tina, senyumnya kini penuh janji tanpa batas. "Aku hanya perlu waktu sebentar untuk pamitan formal pada Kyai Malik. Aku akan segera kembali ke sini untuk memastikan semua dokumen pindahku selesai."
Tina mengangguk, matanya tidak lepas dari Farhan. "Hati-hati, Farhan. Jangan sampai ada drama lagi."
Farhan tertawa kecil. "Tidak akan ada lagi drama, sayang. Semuanya sudah di depan mata."
Farhan kemudian pamit pada Bapak Rahman dan berjalan menuju kantor Kyai Malik. Bapak Rahman memerintahkan beberapa kerabat untuk tetap tinggal di sana, mengawal Tina dan memastikan tidak ada pihak ketiga yang mengganggu proses lamaran yang sudah disetujui secara lisan ini.
Di kantor Kyai Malik, suasana berbeda. Tidak ada lagi kemarahan, hanya tatapan kecewa yang bercampur hormat.
"Farhan," Kyai Malik menyambutnya, tanpa basa-basi. "Aku dengar kamu berhasil memenangkan hati wali santriwati itu, bahkan setelah semua kekacauan hari ini."
Farhan membungkuk dalam. "Kyai, saya minta maaf atas kekacauan yang saya timbulkan di hadapan para aparat desa. Saya tidak bermaksud membuat pondok terlihat tercemar karena urusan pribadi saya."
"Kamu sudah membuktikan bahwa niatmu tulus, Nak. Kamu memilih kehormatan Tina di atas jabatanku, dan itu adalah pilihan yang harus dihormati seorang guru," kata Kyai Malik, nadanya melembut. "Aku memanggilmu ke sini bukan untuk memarahimu lagi. Aku memanggilmu untuk memastikan kamu benar-benar pergi, dan untuk memberikan surat rekomendasi kepadamu untuk melanjutkan dakwahmu di tempat lain."
Kyai Malik menyerahkan sebuah amplop tebal kepada Farhan. "Ini rekomendasi pengunduran dirimu yang sudah kutandatangani, serta surat pengantar ke beberapa kawan lama yang bisa membantumu mendapatkan tempat mengajar baru."
Farhan menerima amplop itu, tangannya sedikit gemetar. Ia telah resmi kehilangan jubah ustadznya di tempat yang ia cintai ini.
"Terima kasih, Kyai. Saya tidak akan pernah melupakan bimbingan Kyai di sini. Semua batasan yang Kyai ajarkan, akan saya pegang teguh dalam pernikahan saya nanti."
"Pergi dan jalani hidupmu. Jaga amanah barumu," nasihat Kyai Malik. "Dan sampaikan salamku pada calon istrimu, Tina. Dia gadis yang baik, dan dia layak mendapatkan pria yang siap berjuang sejauh ini."
Farhan membungkuk sekali lagi, kali ini dengan rasa syukur yang murni. Ia telah kehilangan statusnya, tetapi ia memenangkan segalanya.
Setelah berpamitan singkat dengan Ustadzah Hamidah—yang memberinya pelukan hangat dan ucapan selamat—Farhan kembali ke ruang tamu. Kelegaan tampak jelas di wajahnya.
Tina sudah menunggu, kali ini tanpa kerumunan yang mengintip. Hanya ada dirinya, Farhan, dan beberapa kerabat yang kini memandangnya dengan tatapan penuh restu.
Farhan mendekat, langkahnya mantap. Ia tidak lagi terburu-buru atau panik. Ia berjalan menuju Tina seolah ia baru saja pulang dari perjalanan panjang yang menantang.
"Semua sudah selesai," ujar Farhan, suaranya penuh kebahagiaan. "Kyai sudah memberikan rekomendasi. Surat cerai sudah divalidasi oleh wali utama. Ibuku tahu aku serius. Dan kini, kita hanya perlu menentukan jadwal pernikahan secepatnya."
Tina melompat kecil, rasa lega membanjirinya hingga ia hampir menangis lagi. Ia tertawa kecil. "Kita berhasil, Farhan. Kita berhasil melewati semua tembok itu."
"Kita berhasil karena kamu tidak menyerah padaku saat aku menghilang dan kamu tidak gentar saat ibumu menuduhku," balas Farhan, mengusap air mata di pipi Tina dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa begitu intim, begitu legal, setelah sekian lama ia tahan.
"Lalu, sekarang apa?" tanya Tina, matanya bersinar penuh antisipasi. "Ustadz sudah tidak mengajar di sini. Kita sudah mendapat restu lisan. Apa langkah selanjutnya?"
Farhan menarik tangan Tina, menggenggamnya erat, seolah menariknya keluar dari gerbang pondok menuju dunia yang lebih luas.
"Langkah selanjutnya, kita keluar dari sini, bersama-sama. Aku tidak akan melanjutkan dakwah di pesantren lagi, Tina. Aku akan mencari pekerjaan yang memungkinkan kita untuk hidup mandiri, dan aku akan melamarmu secara resmi di hadapan seluruh keluargamu, tanpa terhalang oleh status guru-santri."
Ia menarik napas dalam, memandang Tina dengan tatapan penuh cinta yang telah melewati banyak badai.
"Aku sudah kehilangan posisiku sebagai guru, tapi aku mendapatkanmu sebagai imbalannya. Itu pertukaran terbaik yang pernah kulakukan."
Bapak Rahman berdeham dari sofa, tersenyum bijak. "Kami sudah bicara dengan kerabatmu, Nak Farhan. Kami sepakat pernikahan akan dilangsungkan dua minggu lagi, setelah kamu mapan di pekerjaan barumu. Kami akan membantu mencarikan tempat tinggal sederhana di dekat tempat kerjamu nanti."
Farhan terkejut mendengar kecepatan rencana ini, namun hatinya dipenuhi rasa syukur. "Terima kasih banyak, Bapak. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan ini bagaimana."
"Balas dengan menjaganya, Nak," kata Bapak Rahman. "Itu sudah lebih dari cukup."
Tina menatap Farhan, rasa haru memuncak melihat betapa banyak yang telah ia korbankan dalam kurun waktu satu minggu terakhir. Perjalanan mereka dari kesalahpahaman dingin hingga pengakuan berani di depan umum, akhirnya berbuah manis.
"Dua minggu," bisik Tina pada Farhan, senyumnya begitu lebar. "Aku tidak sabar."
Farhan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Tina. "Aku juga tidak sabar, Tina. Karena dua minggu itu adalah waktu terlama kita akan berpisah sebelum menjadi suami istri yang sah di mata Allah."
Ia mencium kening Tina singkat, sebuah gestur yang kini sah dan penuh makna. Di lorong pondok yang dulu penuh ketegangan, kini hanya tersisa kehangatan dan janji masa depan. Semua batasan telah hancur, digantikan oleh ikatan yang kokoh.