SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF
Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.
Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.
Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.
Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRANDALAN POSESIF
BAB 34: Labirin Kasih di Balik Selimut Sutra.
Fajar di Jakarta biasanya disambut dengan raungan klakson dan polusi yang menyesakkan, namun di dalam kamar utama Mansion Elangga, waktu seolah dipaksa berhenti oleh titah sang pemiliknya. Cahaya keemasan yang menerobos celah gorden bukan lagi pengingat akan rutinitas, melainkan saksi bisu atas perubahan besar yang terjadi pada diri seorang Davindra Elangga.
Setelah ritual mandi besar yang penuh dengan keheningan khusyuk dan shalat subuh berjamaah yang menggetarkan jiwa, Davindra tidak membiarkan Shania beranjak jauh. Sejadah baru saja dilipat, namun dekapan pria itu sudah kembali mengunci pinggang istrinya.
"Dav, aku harus menyiapkan buku-buku..." bisik Shania, suaranya masih serak, sisa dari emosi yang tumpah semalam.
"Buku tidak akan lari, Shania. Tapi kedamaian ini? Ini langka," jawab Davindra rendah.
Tanpa menunggu persetujuan, ia mengangkat tubuh Shania, membawanya kembali ke atas ranjang yang masih berantakan, lalu menyelimuti mereka berdua dalam kehangatan bedcover tebal.
Malam tadi bukan sekadar penyerahan fisik; itu adalah peruntuhan tembok ego yang selama ini dibangun Davindra dengan darah dan keringat. Dan pagi ini, ia hanya ingin menyesap sisa-sisa kemenangan itu dalam bentuk yang paling lembut.
Di Bawah Kuasa Sang Berandal.
Davindra memposisikan dirinya menyamping, menumpu kepala dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya bermain di helai rambut Shania yang masih sedikit lembap. Matanya yang biasanya tajam seperti elang yang mengincar mangsa, kini meredup, dipenuhi oleh binar yang hanya diperuntukkan bagi wanita di depannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Shania, pipinya merona merah meski mereka sudah melewati malam yang paling intim sekalipun.
"Memastikan kalau ini bukan mimpi," sahut Davindra.
Ia mendekat, mengecup kening Shania lama.
"Selama ini aku merasa memiliki segalanya—uang, kekuasaan, rasa takut orang-orang pada The Lions. Tapi baru semalam aku sadar, aku sebenarnya pengemis sebelum kamu benar-benar menyerahkan hatimu."
Shania tersenyum, jemarinya memberanikan diri menelusuri rahang tegas suaminya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus.
"Seorang Davindra Elangga mengaku sebagai pengemis? Kalau anak buahmu dengar, reputasimu hancur, Dav."
"Biar saja. Di depan mereka aku adalah raja, tapi di depanmu, aku hanyalah pria yang butuh pulang."
Davindra menarik Shania lebih rapat ke dadanya. Detak jantung mereka beradu dalam ritme yang sinkron.
Keheningan yang menyusul kemudian terasa begitu mewah. Tidak ada ponsel yang berdering, tidak ada laporan tentang wilayah kekuasaan yang direbut, dan tidak ada drama medis yang mengejar Shania. Davindra benar-benar menutup akses dunia luar. Ia telah memerintahkan penjagaan super ketat di gerbang mansion; siapapun yang berani mengusik ketenangan mereka pagi ini harus siap berhadapan dengan moncong senjata.
Getaran di Markas: Sisi Lain Sang Pelindung.
Sementara di Mansion Elangga suasana dipenuhi bunga-bunga cinta, di Markas Gudang Utara, Raka mencoba mengimbangi debaran jantungnya yang tidak karuan karena alasan berbeda. Laras, yang keras kepala, ternyata benar-benar tertidur di kursi samping tempat tidurnya.
Raka memperhatikan wajah Laras yang tampak tenang saat tidur. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada noda kecil di pipinya—mungkin bekas pulpen saat ia mencoba mencatat instruksi Shania semalam. Perlahan, Raka menarik selimutnya sendiri dan menyampirkannya ke bahu Laras.
"Eungh..."
Laras melenguh, terbangun karena gerakan Raka. Ia mengerjapkan mata, menatap Raka yang sedang tertangkap basah memperhatikannya.
"Raka? Kamu butuh sesuatu? Betismu sakit lagi?"
Laras langsung panik, tangannya otomatis meraba dahi Raka untuk mengecek suhu tubuh.
Raka menangkap pergelangan tangan Laras.
"Aku, oke, Ras. Tenanglah. Kamu, tidur seperti orang pingsan."
Laras menarik tangannya, wajahnya memanas.
"Ya lagian, siapa yang suruh kamu sakit pas jadwal kuis? Shania pasti bakal nanyain aku kalau aku telat masuk."
"Shania tidak akan masuk hari ini," potong Raka dengan nada yakin.
"Kok tahu?"
Raka terkekeh tipis, meski luka di betisnya sedikit berdenyut.
"Bos Davindra, punya cara sendiri untuk merayakan 'kemenangan'. Dan aku yakin, saat ini jangankan kampus, matahari pun mungkin dilarang masuk ke kamar mereka kalau Bos mau."
Laras terdiam, memahami maksud tersirat Raka. Ia menunduk, memilin ujung bajunya.
"Jadi... mereka sudah benar-benar... maksudku..."
"Mereka sudah sah secara jiwa dan raga, Ras. Sesuatu yang seharusnya terjadi sejak lama kalau Bos tidak terlalu keras kepala dengan egonya."
Raka menatap langit-langit gudang yang tinggi.
"Dan kamu tahu? Melihat mereka seperti itu, membuatku berpikir kalau hidup sebagai brandalan tidak selamanya harus berakhir tragis."
Laras menoleh, menatap mata Raka yang penuh arti.
"Maksudmu?"
"Maksudku... mungkin suatu saat nanti, aku juga butuh seseorang yang menjagaku bukan karena kewajiban medis, tapi karena dia memang tidak mau kehilanganku."
Suasana mendadak canggung namun manis. Boni, yang lewat di depan pintu kamar Raka dengan piring nasi uduk di tangannya, hanya bisa menghela napas panjang.
"Aduh, bau-bau cinta ini lebih menyengat daripada bau oli di bengkel bawah. Bos di mansion asik-asikan, tangan kanan di sini mulai main mata. Boni... oh Boni, nasibmu memang cuma jadi penonton setia," gerutu Boni sambil menyuap nasi uduknya dengan dramatis.
Janji di Balik Dinding Mansion.
Kembali ke kamar utama, Shania hampir terlelap kembali dalam pelukan Davindra ketika pria itu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Sha, berjanjilah padaku satu hal."
Shania membuka matanya sedikit.
"Apa?"
"Jangan pernah mencoba menjadi pahlawan sendirian lagi. Kemarin, saat aku melihatmu di tengah kepungan orang-orang itu, jantungku rasanya mau berhenti. Aku bisa menghancurkan dunia, tapi aku tidak bisa membangun kembali duniaku kalau kamu tidak ada di dalamnya."
Shania tertegun. Ia bisa merasakan kejujuran yang mentah dalam suara Davindra. Posesif pria ini bukan lagi sekadar obsesi untuk menguasai, tapi ketakutan mendalam akan kehilangan.
"Aku, calon dokter, Dav. Tugasku menyelamatkan orang. Tapi aku janji, aku akan lebih menghargai nyawaku, karena sekarang nyawaku bukan cuma milikku, tapi juga milikmu," jawab Shania lembut.
Davindra mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shania. Aroma sabun dan sisa minyak wangi maskulinnya bercampur dengan aroma tubuh Shania yang menenangkan.
"Hari ini, biarkan dunia berjalan tanpa kita. Hanya ada aku, kamu, dan langit Elangga yang menyaksikan bahwa mulai detik ini, kamu adalah pemenang atas seluruh hidupku."
Shania mengangguk pelan, membiarkan kantuk kembali menyerang karena rasa aman yang luar biasa dalam dekapan pria yang dulunya ia takuti.
Di luar sana, Jakarta mungkin masih riuh dengan segala kekacauannya, namun di dalam kamar itu, sang Brandalan Posesif akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya.
Davindra pun ikut memejamkan mata, menyusul istrinya ke alam mimpi. Tidak ada rencana untuk bangun hingga matahari berada tepat di atas kepala. Baginya, penyerahan semalam hanyalah pembuka dari babak baru kehidupan mereka yang panjang. Dan ia bersumpah, siapa pun yang mencoba mengusik kebahagiaan ini, akan merasakan kemarahan sang predator yang kini telah memiliki sesuatu untuk dilindungi.
BERSAMBUNG ....