NovelToon NovelToon
Bring You Back

Bring You Back

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Cintamanis / Romansa / Cintapertama / Gadis Amnesia / Tamat
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aquilaliza

Kecelakaan yang merenggut istrinya menjadikan Arkana Hendrawan Kusuma tenggelam dalam perasaan kehilangan. Cinta yang besar membuat Arkan tak bisa menghilangkan Charissa Anindya—istrinya—dari hidupnya. Sebagian jiwanya terkubur bersama Charissa, dan sisanya ia jalani untuk putranya, Kean—pria kecil yang Charissa tinggalkan untuk menemaninya.

Dalam larut kenangan yang tak berkesudahan tentang Charissa selama bertahun-tahun, Arkan malah dipertemukan oleh takdir dengan seorang wanita bernama Anin, wanita yang memiliki paras menyerupai Charissa.

Rasa penasaran membawa Arkan menyelidiki Anin. Sebuah kenyataan mengejutkan terkuak. Anin dan Charissa adalah orang yang sama. Arkan bertekad membawa kembali Charissa ke dalam kehidupannya dan Kean. Namun, apakah Arkan mampu saat Charissa sedang dalam keadaan kehilangan semua memori tentang keluarga mereka?

Akankah Arkan berhasil membawa Anin masuk ke kehidupannya untuk kedua kalinya? Semua akan terjawab di novel Bring You Back.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Anin dipaksa turun dari mobil ketika tiba di sebuah rumah tua yang terbengkalai. Pipinya memerah sebab mendapat tamparan ketika memberontak di dalam mobil tadi.

Awalnya dia tenang saat dibawa pergi meski dalam hatinya terus waspada. Ketika ia tak sengaja melihat seringaian licik salah satu pengawal melalui spion mobil, perasaan ragu yang sempat mereda kembali muncul. Puncaknya ketika ia sadar, mobil berbelok ke arah yang berbeda dari arah kantor.

Saat itulah Anin sadar, mereka bukanlah orang-orang utusan Arkan.

"Siapa kalian?" Anin mencoba menggertak, tapi malah dibalas dengan gelak tawa para lelaki itu.

"Kau tidak perlu tahu! Tunggu saja disini, sebentar lagi Nyonya akan datang!"

Dengan gelak tawa yang masih terdengar, mereka berbalik meninggalkan Anin, membiarkan perempuan itu di dalam ruangan dengan cahaya remang, dan pintu yang terkunci rapat.

Selang beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka, siluet dua wanita menghampiri. Anin menegakkan tubuhnya. Kejadian ini terasa sangat familiar.

"Nyalakan lampu."

Suara itu, Anin rasa ia pernah mendengarnya. Ketika lampu dinyalakan, barulah ia bisa melihat kedua wanita itu.

"Nyonya Monic ...? Nona Vanesha ...?"

"Hallo, Charissa." Vanesha tersenyum menyeramkan, membuat Anin terkejut saat nama mendiang istri Arkan itu disebut. Dia tahu wajahnya mirip dengan wanita itu, tapi dia bukanlah Charissa.

"Maaf Nona, saya Anin bukan Charissa."

"Hahaha ... Kau yakin?" Giliran Bu Monic yang berbicara. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat secara perlahan. Senyum tersungging di bibirnya, namun matanya memancarkan kebencian. "Ikat dia!"

Sekali perintah, tiga pengawal mendekati Anin. Perempuan itu panik dan melangkah mundur. "Apa yang kalian lakukan? Jangan! Lepaskan aku!!" Anin berteriak keras ketika dua pria menangkapnya, dan mulai memaksanya untuk duduk di sebuah kursi

"Tidak! Aku tidak mau!"

"Diam!!"

Bentak kan itu membuatnya semakin takut. Ia juga merasakan perasaan aneh, dimana ia solah pernah mengalami hal yang sama persis. Tapi yang ia ingat, semua itu mimpi. Mimpi yang terus menghantui malamnya, mimpi yang terus berulang dengan kejadian yang sama.

"Duduk!"

"Jangan paksa aku!"

Plak!

"Diam sialan!" Tamparan keras dari salah seorang pria cukup membuat sudut bibir Anin sobek. Bekas memerah tercetak jelas di pipinya.

Vanesha dan Bu Monic yang melihat pun tertawa senang.

Satu kali dorongan kuat, Anin terduduk di kursi. Dengan cekatan pria-pria itu mengikat tubuh Anin.

Sedikit mundur, mereka kemudian mempersilahkan Bu Monic dan Vanesha. Seperti empat tahun lalu, mereka tidak berhak menyiksa sebelum mendapat perintah Vanesha dan Bu Monic.

"Nyonya, Nona, saya mohon, lepaskan saya. Saya minta maaf jika saya memiliki kesalahan terhadap kalian. Mohon lepaskan saya."

Vanesha tersenyum lebar. Dia senang melihat musuhnya memohon seperti ini. Rasanya ia ingin segera menghabisi Anin.

"Kau memang tidak memiliki kesalahan," ucap Bu Monic sambil melipat kedua tangannya di dada. "Satu-satunya kesalahan mu adalah Charissa. Kau adalah Charissa, dan kau masih hidup!"

"Tidak! Anda salah orang! Saya bukan Charissa! Saya—akhh!" Anin berteriak kencang ketika Vanesha menarik rambutnya.

Wajah Vanesha sangat dekat. Tatapan matanya sarat akan keinginan untuk membunuh. "Dengar, sialan! Kau itu Charissa!" Vanesha melepas kasar rambut Anin hingga kepala perempuan itu sedikit terdorong kedepan.

"Bukan! Saya bukan—"

Plak

Plak

Dua kali tamparan diberikan Bu Monic. Wanita itu lalu mencengkram kedua pipi Anin dengan kuat.

"Kau itu Charissa! Asal kau tahu, Arkan itu suami mu dan Kean adalah putramu!"

Anin menggeleng pelan. "Tidak! Anda berbohong. Saya—"

"Diam!!" Bu Monic membentak, lalu sekali lagi menampar Anin. "Apa yang kau tahu? Kau kehilangan ingatanmu empat tahun lalu!" Bu Monic tersenyum sinis. Sebelah tangannya lalu mengarah pada Vanesha. Seolah paham apa yang di minta Bu Monic, Vanesha meletakkan pisau—pemberian seorang pria suruhan yang berdiri di dekatnya—pada Bu Monic.

Senyum mengerikan kembali tercipta di bibir Bu Monic. Pisau yang di genggamnya ia arahkan ke leher Anin, mendekatkan ujungnya pada kulit leher perempuan itu.

"Kau tahu? Kau bukanlah adik dari seorang Dimas. Kau itu istri Arkan, Ibunya Kean. Keluarga kalian bahagia, dan itu membuatku benci! Arkan mencintaimu, Heru juga sayang padamu seperti putrinya. Kau mengambil putra penurut ku. Heru menerima mu di rumahnya, memperlakukan mu seperti putri kandungnya, sementara aku selalu dia abaikan. Dan kau melahirkan bayi yang sering kali menolak ku. Kau membawa semua kesialan itu untukku."

Sorot mata Bu Monic penuh kebencian. Dan seringai-an jahat di bibirnya, juga ujung pisau yang perlahan menggores kulit leher Anin membuat darah mulai mengalir pelan.

Namun, Anin tak benar-benar fokus sekarang. Dia mulai memejamkan mata, mencoba menekan rasa sakit di kepala nya yang mulai intens. Bayang-bayang masa lalu berputar di pikirannya, membawa rasa sakit yang semakin lama semakin tak tertahankan. Bahkan goresan di lehernya tidak bisa mengalihkan rasa sakit di kepalanya.

Bu Monic dan Vanesha terbahak melihat kondisi Anin. Menyedihkan, tapi mereka tidak ingin permainan ini cepat diselesaikan. Ketika Bu Monic mundur dan menarik pisau dari leher Anin, Vanesha dengan senang hati menggantikan. Saatnya bermain-main sampai puas.

Sementara itu, Arkan bersama Rafi sedang mengamati CCTV jalanan yang dikirimkan oleh bawahan Rafi dan beberapa anak buah Arkan.

Berdasarkan nomor plat mobil yang diberitahukan dua pengawal yang diserang di area restoran, mereka bisa melacak nya melalui CCTV jalanan.

Dimas yang baru saja tiba segera bergabung bersama dua lelaki itu. Setelah mendapat kabar dari Arkan bahwa adiknya diculik, dia langsung membatalkan keberangkatannya ke luar kota dan segera bergabung bersama Arkan dan Rafi untuk mencari Anin. Bawahannya pun ia kerahkan untuk turut membantu menyelidiki penculikan ini.

"Ketemu." Rafi bergumam pelan sambil terus menatap layar laptop di depannya. Arkan dan Dimas juga turut memperhatikan.

Di saat ketiganya tengah fokus pada rekaman CCTV, handphone milik Dimas tiba-tiba berdering, telpon dari salah satu anak buahnya.

"Halo, Tuan?" Sapa seorang pria dari seberang sana. Dimas sedikit mengerutkan keningnya. Suara itu bukan suara anak buahnya. Selain itu, terdengar suara ribut seperti saling mengejek.

"Maaf, Tuan. Saya anak buah Tuan Arkan. Kami tidak sengaja bertemu orang-orang anda saat mencari nyonya. Handphone saya kehabisan daya."

"Ya, katakan, apa ada informasi?"

Arkan dan Rafi yang fokus pada laptop pun bersamaan menoleh pada Dimas. Loudspeaker Dimas hidupkan agar Arkan dan Rafi bisa mendengar.

"Tolong beritahu Tuan Arkan, kami sudah menemukan dimana nyonya sekarang."

"Berikan padaku!" Dimas langsung mengarahkan handphonenya pada Arkan yang diraih cepat oleh lelaki itu. "Katakan, dimana?"

"Tuan? Syukurlah langsung pada Tuan. Nyonya diculik nyonya besar dan nona Vanesha. Nyonya disekap di rumah tua bagian barat kota. Kami tidak bisa mendekat sekarang. Penjagaan di rumah tua itu sangat banyak dan ketat. Kami hanya berdua, berempat dengan anak buah tuan Dimas. Kami kalah jumlah, Tuan."

"Kirimkan alamatnya."

"Baik, Tuan."

Panggilan berakhir. Setelah mendapat alamat rumah tua itu, baik Arkan, Dimas dan Rafi segera menuju alamat sambil menghubungi semua anak buah mereka.

Dimas melirik Arkan yang tengah menyetir. Raut wajah Arkan sekarang sangat gelap. Kekhawatiran yang lebih didominasi oleh amarah itu cukup membuatnya sadar, cinta Arkan pada Anin jauh lebih besar dari perkiraannya selama ini.

Mobil yang dikendarai Arkan melaju begitu cepat, disusul mobil Rafi dibelakangnya.

"Jika terjadi sesuatu pada istriku, hubungan kita tidak akan aku pertimbangkan, Bu."

Dimas sampai meneguk ludahnya mendengar gumaman Arkan tersebut.

Perjalanan mereka memakan waktu yang cukup lama. Sehingga mereka tiba ketika hari sudah mulai gelap. Bersamaan dengan semua anak buah yang sudah berkumpul di satu titik, mereka sama-sama menyerang ke rumah tua.

Cukup mudah bagi mereka mengalahkan anak buah Bu Monic dan Vanesha. Arkan kalap, menghajar seorang penjaga yang berdiri di pintu rumah hingga tak sadarkan diri.

Arkan menendang pintu hingga terbuka. Disana, ia bisa melihat Bu Monic dan Vanesha yang berdiri di sisi kiri dan kanan Anin sambil tersenyum padanya. Sorot tajamnya menggelap ketika melihat istrinya terikat di sebuah kursi—lemah, terluka di sekujur tubuh, juga darah yang membasahi beberapa bagian tubuhnya.

Tangannya terkepal kuat serta rahang yang mengeras ketat. Ingin sekali dia menghancurkan dua wanita itu, tapi pisau yang bertengger di leher istrinya membuatnya sadar, kekasihnya sedang dalam bahaya.

"Anin!"

"Dimas, tenang!" Rafi dengan cepat menahan Dimas yang hendak mendekat ke arah adiknya. "Nyawa Anin terancam. Kita harus memikirkan cara yang tepat tanpa menyakiti Anin."

Dimas terdiam. Ya, dia seharusnya tidak gegabah. Tapi, dia sangat mengkhawatirkan adiknya. Dia takut dua wanita gila itu benar-benar melakukan hal yang membahayakan Anin.

"Hallo Rafi, dan ... Hallo Dimas. Untuk kali ini, jangan ikut campur urusan kami lagi. Kalian orang luar." Bu Monic berucap dengan santai sambil menunjukkan senyuman tipis.

"Apa yang kalian inginkan?" Arkan bertanya dingin. Dia tidak ingin basa basi. Dia harus segera menyelamatkan istrinya dan membawanya ke rumah sakit.

"HK Group dan semua kekayaanmu," ucap Bu Monic.

"Juga, menikah dengan ku," sambung Vanesha dengan senyuman ceria. Arkan berdecih lalu tersenyum miring sekilas. "Tapi, kalau kau tidak mau menikah, tidak masalah. Cukup satu bulan kau menjadi lelaki ku saja sudah cukup. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya berhubungan dengan mu." Vanesha tersenyum mesum sambil menatap Arkan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Menjijikkan!" Dimas berdecih di samping Arkan. Tanpa mereka sadari, Rafi sudah tak berada di sekitar mereka.

"Bu." Suara Arkan cukup rendah. Dia menatap tepat pada wajah ibu tirinya tersebut. "Empat tahun lalu, kau merencanakan semuanya?"

Bu Monic tertawa. Ternyata Arkan sudah mengetahui tentang penculikan Charissa dulu.

"Iya. Kenapa? Kau baru tahu, ya?" Bu Monic terbahak sejenak. "Maaf tidak memberitahu mu."

Arkan mendengus pelan. Tidak ia sangka wanita yang begitu ia hormati dan sayang adalah seorang yang kejam.

"Dengar, Arkan. Kau pikir, saya tulus menyayangi mu? Jika kau berpikir begitu, kau salah besar! Saya menyayangi mu hanya karena ingin kau menjadi anak yang selalu menuruti kemauan ku. Awalnya saya senang karena saya berhasil melakukannya. Tapi, setelah kehadiran Charissa, kau menjadi berubah dan sering membantah ku."

"Sikapmu itu membuat saya teringat pada ibu kandungmu. Wanita keras kepala yang merebut Heru dariku. Tapi untunglah, saya berhasil menghabisinya. Dan bisa-bisanya semua percaya jika wanita itu kecelakaan."

Arkan semakin mengeratkan rahangnya. Kepalan tangannya semakin kuat, membuat setiap urat-urat tangannya menonjol.

"Kemunculan Charissa juga membuat saya semakin muak pada ibumu yang sudah mati itu. Kenapa wanita yang kau pilih malah semua sifatnya mirip ibumu? Ayahmu juga lebih dekat dengan Charissa dibandingkan saya, istrinya. Dia tersenyum pada Charissa, tapi dingin padaku."

"Lalu, tante menyalahkan adik saya?" Dimas tidak terima Anin dituduh dengan hal yang sama sekali adiknya tidak pernah lakukan. Bu Monic terlalu buta hingga tidak bisa melihat semuanya dengan baik. Dan kebutaan itu membawa bencana untuk Anin.

"Dia bukan adikmu!" Bu Monic membentak. "Gara-gara kau! Gara-gara kau semua rencana saya berantakan. Tapi, saya cukup berterima kasih karena Charissa kehilangan ingatannya karena kau."

Dimas terdiam. Wanita ini memang mulutnya harus di tambal agar berhenti berisik.

"Saya benci kalian sekeluarga! Bahkan Kean si bayi tak berguna itu pun tidak mau digendong saya!"

"Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?"

Bu Monic terbahak mendengar perubahan panggilan Arkan terhadapnya. Lelaki itu tidak pernah menyebutnya dengan kata "kau". Setiap berbicara hanya ada kata "ibu, ibu, dan ibu", tidak ada kata lain yang menggantikan sapaan itu. Dan sekarang, Arkan merubah panggilannya dengan begitu cepat.

"Kau lupa yang ku katakan barusan?" Bu Monic tersenyum lebar.

"Baik. HK group, dan—"

Dor!!

Satu tembakan yang Rafi lepaskan mengenai tangan kanan Bu Monic hingga pisau yang dipegangnya terlepas. Wanita paruh baya itu terjatuh dan darah mengalir dari lengannya. Vanesha yang terkejut hendak melarikan diri, namun Dimas dengan cepat mencegah.

Arkan tak mempedulikan apapun selain istrinya. Dengan cepat dia melepas ikatan pada tubuh Anin. Perempuan itu lemah dan tak lama kemudian tidak sadarkan diri.

"Anin! Sayang!" Arkan menepuk pelan pipi Anin, namun tidak ada respon sama sekali.

"Hahaha ... Dia sudah mati!"

"Diam sialan!" Dimas membentak dengan penuh emosi. Raut khawatir mendominasi di wajah pria itu. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada adiknya.

Arkan segera menggendong Anin, membawa perempuan itu agar segera ditangani. Kondisinya sangat tidak baik sekarang. Rafi pun langsung mengamankan Bu Monic yang masih berusaha untuk kabur.

Ketika Arkan mencapai mobil, sekelompok aparat kepolisian tiba. Arkan tahu, mereka adalah rekan kerja Rafi. Saat pandangannya saling bertemu dengan salah seorang polisi, mereka saling menganggukkan kepala. Urusan ini, ia akan serahkan pada Rafi.

1
Nurlaila Mahlil
mampir Thor
Atalia
author lama banget kelanjutannya udah nunggu lama banget nii 😭😞
Paradina
kok belum up kak?
Aquilaliza
Sangat direkomendasi untuk dibaca. Selamat membaca.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!