Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pupus
Di parkiran, Langit turun dari mobilnya. Ia berjalan dengan langkah mantap memasuki sebuah gedung. Sesampainya di lobi, ia menghampiri meja resepsionis. Ia menyampaikan maksud kedatangannya. Sambil menunggu resepsionis itu menghubungi atasannya, Langit memutar pandangannya melihat sekeliling ruangan lobi itu.
"Pelangi." gumamnya saat matanya menangkap sosok bayangan yang sangat dikenalnya. "Bagaimana ia bisa berada di sini?"
"Pak, anda dipersilahkan masuk Pak Presdir sudah menunggu anda di ruangannya. "
"Terima kasih!"
Langit melangkah menuju ruangan presdir. Pikirannya masih tertuju pada Pelangi.
tok tok tok
"Masuk!"
"Assalamualaikum, Pak Surya!" Langit mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam. Masuklah. Silahkan duduk.!" mereka berdua duduk di sofa. "Bagaimana?"
"Soal tawaran Bapak, sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih, tapi dengan berat hati saya mohon maaf, saya tidak bisa menerimanya. "
Pak Surya tersenyum.
"Pria ini, tutur katanya selalu sopan. Ia juga tidak arogan. " batin Pak Surya.
"Kenapa?"
"Karena saya sudah berjanji pada seseorang, Pak. "
"Seorang gadis?"
"Iya!"
Pak Surya manggut-manggut.
"Sayang sekali kalau begitu. Padahal saya sangat menyukaimu. Siapa sangka kita tak berjodoh. "
"Apakah gadis itu anak orang kaya, lebih kaya daripada saya?"
Langit menggeleng.
"Buka kekayaan yang membuat saya menyukainya. "
"Oh iya. Bagaimana dengan perusahaanmu, apa ada perkembangan?"
"Masih dalam kondisi yang sama, Pak. Tapi saya tidak putus asa. Namun jika di suruh memilih, saya lebih memilih mempertahankan gadis itu daripada perusahaan saya. "
"Bagaimana dengan karyawanmu?"
"Jika nanti perusahaan saya jadi diakuisisi, saya akan memperjuangkan agar mereka tetap bisa bekerja pada pemilik barunya. "
"Terus apa yang akan kamu lakukan?"
"Berusaha lagi, Pak. Mungkin dari nol. "
"Lalu bagaimana kau akan membahagiakan gadis itu?"
"Dengan karakternya, saya yakin ia akan mau mendampingi saya melewati ini semua."
"Kau begitu yakin akan dirinya, jadi saya sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi. "
Mereka lalu diam. Langit teringat Pelangi.
"" Langit. Bapak sangat menyukaimu. Bapak benar benar ingin kamu jadi menantu bapak. Jika harapanmu pada gadis muda itu tidak terwujud terimalah tawaranku. Pikirkan keluarga dan karyawanmu. Pertimbangkan tawaranku dengan masak-masak!" Pak Surya menepuk pundak Langit.
****
Malam hari
Pak Surya sedang makan malam dengan istrinya.
"Ku dengar Anggi ke kantor tadi siang, apa benar?" tanya Ny. Mira istri Pak Surya.
"Ya."
"Pa.. apa betul kau akan menikahkan Anggi?"
"Ya."
"Ku dengar, ada dua pria yang melamarnya. Benar begitu?"
"Ya."
" Ku dengar... . "
Belum selesai Ny. Mira bicara, Pak Surya memotongnya.
"Sudahlah jangan banyak tanya. Semua info yang kau dengar itu benar. Tak perlu kau menanyakannya padaku lagi. "
"Jadi benar papa akan menikahkan Anggi dengan Sahreza, putra tunggal Danendra pemilik perusahaan properti terbesar itu?"
"Ya. Kamu nggak usah iri. Karin juga sudah ku carikan jodoh kok. "
"Dengan Langit, maksudmu. Kau tidak adil Pa. Untuk Anggi kau carikan konglomerat. Seorang milyader. Untuk Karin kau carikan pengusaha biasa. " Ny Mira cemberut.
"Ini tidak bisa dibiarin. Karin lah yang pantas buat Sahreza bukan Anggi. " batin Ny. Mira.
"Bukankah kelak Karin akan mewarisi perusahaanku. Apa itu tidak cukup buatnya?Bukankah kekayaanku tidak kalah di banding Tuan Danendra?"
Ny. Mira diam memberengut.
"Tapi tetap saja, aku akan lebih bangga jika Reza menantuku." batin Ny. Mira.
***
Langit sedang duduk di balkon apartemennya. Pikirannya melayang ke perkataan Pak Surya.
Ia menghela nafas.
drrt drrt drrt
Ponselnya berbunyi.
"Assalamualaikum, Ma. " sapa Langit.
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana, Nak? Apa sudah beres semua?"
"Do'akan, Ma!"
"Mama selalu mendoakanmu. Langit! Jika nanti segala sesuatunya tidak sesuai dengan harapan, kau jangan putus asa. Ingatlah bahwa akan selalu ada kebaikan dalam segala hal. "
"Iya, Ma."
"Bagaimana dengan Anggi? Kau sudah bertemu ayahnya?"
"Rencananya besok Langit akan menemuinya. "
"Semoga kau berhasil. Ya sudah, istirahatlah. Jaga kesehatan! Wassalamualaikum. "
Oma mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Langit lirih.
Langit memandangi ponselnya. Ia lalu mencari kontak Anggi. Lalu ia mengirim pesan padanya
Anggi yang sedang berada di kamarnya melihat ada pesan masuk ke ponselnya.
"Belum tidur? '
Pesan singkat dari Langit untuknya. Hatinya kembali merasakan kesedihan. Lalu ia membalas pesan itu.
Ponsel Langit bergetar saat ada pesan masuk.
"Belum."
Langit tersenyum, ia kembali mengetik.
"Nggak bisa tidur ya? Sama. "
Balasan dari Langit itu membuat Anggi semakin kalut.
"Bagaimana jika ia tahu bahwa kami sudah nggak mungkin bersama? Akankah ia terluka seperti saat ditinggalkan Embun dulu." batin Anggi.
Air matanya kembali menitik di kedua pipinya
drrrt drrrt drrrt
Ponsel Anggi berdering. Melihat siapa yang menghubunginya, Anggi ragu ragu untuk mengangkatnya.
"Assalamualaikum.!
" Mengapa belum tidur? ' suara Langit yang malam ini sangat lembut membuat Anggi memejamkan mata menahan debaran di dadanya.
"Belum ngantuk."
"Pelangi, besok aku akan menemui ayahmu. Seperti yang kau bilang, aku akan minta Pak Wahyu mengantarku menemui beliau. Bantu aku dengan doa ya! "
Hati Anggi terasa amat perih.
"Langit.... maafkan aku. '
Lalu Anggi memutus sambungan begitu saja. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia nggak mau Langit tahu.
" Kok, putus, "gumam Langit. Ia mencoba menghubungi Anggi lagi, namun gagal.
" Ponselnya mati. Mungkin kehabisan bateray. "
***
Keesokan harinya Langit membuat janji dengan Wahyu. Ia akan menemui Wahyu di sebuah cafe.
Saat ini Langit sudah berada di cafe yang ditunjuk Wahyu. Ia berjalan dengan penuh harap. Saat ia memasuki cafe tersebut, matanya menatap sekelompok orang yang sedang duduk di meja cafe.
Langit tercengang melihatnya. Kakinya berhenti berjalan. Ia sangat tegang.
"Kau sudah lihat kan? Pria paruh baya yang ada di samping Pelangi, adalah ayahnya. Dan yang duduk di depannya itu Reza. Ia calon suami Pelangi. " kata Wahyu yang tiba tiba ada di belakang Langit. Ditepuknya bahu Langit.
Saat aku di dekatmu. Kau buat dinding penghalang
Saat aku jauh darimu, kau tarik aku dengan rindumu.
Ketika aku menjangkaumu, kau hempaskan tanganku.... kau pupuskan harapanku.
Langit berbalik meninggalkan tempat itu. Tak terasa bulir bening menetes dari matanya yang kelam.
Inikah maksud kata maafmu semalam, Pelangi.
mngkin Amelia anak temannya mama senja