Seorang siswa yang terlambat ke sekolah berpindah ke dunia lain bersama dengan dua orang yang tak dikenalnya, setelah mereka ditabrak truk secara tidak sengaja.
Menurut suara misterius yang mereka dengar saat baru sampai di dunia itu, mereka harus menyelamatkan dunia itu dari kekacauan.
Kehidupan mereka berubah sejak mereka bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai orang terkuat di dunia itu dan mereka belajar tentang keabadian dari orang itu.
Ikuti perjalanan mereka di dunia yang tak terduga, penuh darah, pertarungan, dan pengkhianatan itu.
[1 chapter untuk satu hari, dimohon bersabar...
Ada beberapa adegan garing, kalo gk lucu dimohon jangan ketawa...
Apabila terdapat kesamaan nama orang, lokasi, ataupun jurus, mohon maaf karena itu adalah ketidaksengajaan, beberapa disengaja ;)
Original story by Slitherio/Rio Andriana]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slitherio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Misi pertama II
Ray melompat dan ia mengalirkan Mananya ke pedangnya. Warna hitam di pedangnya berubah menjadi warna sedikit keunguan.
Jurus Black Cuts adalah jurus dasar untuk sepuluh jurus dari Antonios. Baru tiga yang diajarkan oleh Antonios dan tujuh lagi harus dipelajari saat Ray sudah menjadi praktisi World Foundation.
Ray menebas kepala Wind Wolf yang ada di depannya lalu ia melesat dan melakukan hal yang sama pada tujuh Wind Wolf yang ada di dekatnya.
Agus mengayunkan tongkatnya dan tongkatnya seolah memanjang saat ia mengayunkannya.
Agus sudah mencapai penguasaan senjata penjelmaan dan ia bisa membuat tongkatnya seolah memiliki ilusi.
Tongkatnya terlihat memanjang, tetapi dasarnya memang memanjang. Itu adalah satu kemampuan unik Golden Staff, yaitu Endless Staff.
Tiba-tiba, Ray teringat sesuatu, “Oh ya, jangan memakai mana!”
Ray menghentikan Mananya dan ia menyerang dengan tebasan biasa. Yah, meskipun tanpa Mana, ia bisa menghabisi dua Wind Wolf dalam satu tebasan.
Darah berwarna merah menyelimuti Black Dragon Sword yang awalnya berwarna hitam dan kini berubah warna menjadi merah darah. Begitu juga Golden Staff milik Agus yang awalnya berwarna emas berubah menjadi merah darah di setiap ujungnya.
Keduanya bergerak menjauh setelah berhasil menghabisi separuh Wind Wolf dan separuhnya lagi mulai menjauhi keduanya.
Kemampuan Ray dan Agus sudah meningkat pesat, keduanya bahkan tidak terkena serangan serigala sedikitpun meski dikeroyok 30 Wind Wolf.
Hanya Ray yang jubahnya robek oleh serangan Wind Wolf yang gagal mengenai perutnya. Ray tak bisa membayangkan kalau perutnya sampai tercakar Wind Wolf.
“Oke, selanjutnya apa?” tanya Agus sambil berbisik.
“Tunggu mereka maju, barulah kita maju...” Ray mengeluarkan satu pedang lagi, “Aku akan mencoba teori yang baru kupikirkan....”
Sebuah pedang berwarna biru keluar dari Dimentional Ring. Pedang itu adalah Blue Thunder Sword.
Agus menaikkan alisnya, “Apa kau yakin akan memakai dua pedang tingkat Heaven sekaligus?”
Ray mengangguk, aku ingin mencoba teori yang baru kubuat tadi saat aku berpikir kalau memakai satu pedang tidak akan membuat misi ini cepat selesai...”
Agus manggut-manggut saja, menurutnya apapun yang dilakukan Ray pasti akan berhasil. Kali ini ia berpikir kalau Ray akan berhasil lagi.
Sekelompok Wind Wolf itu melolong panjang. Bukan hanya satu, tetapi seluruh Wind Wolf itu melolong.
Ray dan Agus memasang posisi, kalau hanya satu yang melolong mereka bisa mengatasinya, kalau sebanyak ini, mereka ragu kalau bisa mengatasinya.
Tak lama, tiga orang muncul di belakang Ray dan menepuk pundaknya, “Bagaimana?”
Ray berbalik dan ia melihat Shirao, Kuro, dan Mira berdiri di belakangnya. Ray menaikkan alisnya, “Kenapa kalian kemari?”
“Kami mendengar suara lolongan dan kami langsung kemari...” Shirao melirik satu pedang yang ada di tangan kiri Ray, “Bagaimana situasinya?”
“Seperti yang ka-...” Ray berbalik dan ucapannya terhenti.
Tanpa mereka sadari, saat Ray dan Shirao sedang berbincang sejenak, ternyata sekelompok Wind Wolf datang dan mengepung mereka.
“Kalau ini bukan baik namanya...” Ray merapatkan giginya, ia tak pernah setakut ini sejak enam bulan lebih lalu.
“Ray, ini adalah kesempatan!”
Secara tiba-tiba, suara terdengar di telinganya. Ray menaikkan alisnya dan ia mencoba menajamkan pendengarannya.
“Ray, ini aku! Antonios!”
Ray menaikkan alisnya dan ia semakin bingung, sampai akhirnya ia sadar kalau ia berada di sebuah ruangan berwarna putih.
“Ini aku, Antonios! Aku ingin memberitahumu sesuatu.”
Seorang pria berjubah hitam berjalan mendekat dan Ray mengenali wajahnya. Itu adalah Antonios.
“Ada satu lagi teknik pengendalian Mana. Kau sudah bisa mengalirkan Mana ke seluruh tubuh, tetapi kau sebenarnya bisa mengalirkan dua Mana yang berbeda elemennya ke kedua pedangmu...”
“Aku tidak akan melakukannya...” Ray mendengus, “Dan juga, ini dimana?”
“Alam bawah sadarmu. Aku bisa mengakses tempat ini karena Black Dragon Sword selalu menempel pada tubuhmu dan aku bisa masuk ke alam bawah sadarmu...”
“Kalau begitu, aku akan keluar sekarang...” Ray kemudian menghilang.
Ray membuka matanya dan ia melihat kalau sekelompok Wind Wolf itu sudah bergerak.
Kuro dan Mira mengepalkan tangan mereka dan maju dengan cepat lalu bertarung dengan tangan kosong.
Mira bisa dibilang menguasai ilmu tangan kosong dari Tianyun dan Zon. Meski memakai tangan kosong, Mira bahkan mampu membuat kepala Wind Wolf pecah karena pukulannya.
Ray dan Shirao berdecak lalu mereka melesat maju, menyerang lawan dengan oedang masing-masing.
Karena Ray kini memakai dua pedang, ia bisa menghabisi lima lawan sekaligus dengan dua pedangnya itu.
Shirao tak kalah hebatnya, ia memenggal banyak sekali kepala Wind Wolf dan pedangnya yang awalnya berwarna putih kini berubah warna menjadi merah saking banyaknya Wind Wolf yang terbunuh di tangannya.
Kalau Agus, ia memilih untuk menyerang dengan cepat dan dalam waktu singkat saja, ia bisa menghancurkan banyak sekali tulang Wind Wolf yang menyerangnya.
Kombinasi kelimanya berhasil membuat sekelompok Wind Wolf itu tak berdaya dan hanya bisa pasrah memilih dihabisi oleh pukulan Mira yang sekeras batu, pukulan Kuro yang sekeras logam, dua pedang Ray, tebasan mematikan Shirao, atau ayunan maut tongkat Agus.
Sekitar lima Wind Wolf yang tersisa memilih melarikan diri karena yakin tidak akan bisa mengalahkan lima orang ganas ini hanya dengan lima Wind Wolf saja.
Ray dan empat temannya tidak mengejar mereka melainkan mengambil Life Core semua Wind Wolf yang mereka kalahkan.
“Bagaimana, mau lanjut?” tanya Shirao. Semuanya mengangguk cepat.
Mereka membereskan sisa pertarungan sebelum berjalan meninggalkan bekas pertarungan mereka tadi.
***
Matahari kini berada di atas kepala saat mereka berhasil menyelesaikan misi ke-11 mereka.
Mereka kini sedang duduk beristirahat sambil memakan sepotong Rati yang tadi pagi Mira beli untuk mereka.
“Rotinya terasa manis di luarnya dan lembut di dalamnya...” komentar Kuro, “Seperti roti manis...” ujar Kuro saat pertama menggigit roti itu.
“Namanya memang roti manis, bodoh...” Agus melirik Kuro dengan datar. Mereka kini teman, jadi Agus tidak ragu untuk mengusili Kuro ataupun Shirao, meski mereka baru kenal kurang dari sebulan.
Tapi nyatanya, Kuro tidak tersinggung oleh ucapan Agus karena baginya, Agus hanya memberi tahu nama roti itu, tidak lebih.
“Tapi entah kenapa, aku merasa familiar dengan rasa roti ini...” ujar Kuro. Ia lalu menghembuskan napas berat.
Ray, Agus, dan Mira menatap Kuro lebih dalam. Ada kemungkinan kalau Kuro ini adalah orang yang terpental ke dunia ini.
“Kalau ia mengatakan kalau ia berasal dari sebuah desa yang diserang, artinya dia adalah penduduk asli dunia ini...” gumam Mira.
Tapi itu hanya pemikiran berdasarkan cerita keduanya, tetapi tidak diketahui kalau Shirao dan Kuro sebenarnya berbohong.