NovelToon NovelToon
Suara Hati Aluna

Suara Hati Aluna

Status: tamat
Genre:Pembaca Pikiran / Si Mujur / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:247k
Nilai: 5
Nama Author: samudra lee

Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.

Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.

"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.


Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?



Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Kakak, apa kita akan mati?"

"Apa kamu takut?"

"Kata Bunda yang ada di panti, kematian setiap manusia itu sudah pasti dan tidak bisa dihindari. Hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya, karena hanya Sang Pencipta yang mengetahui."

"Lagian aku juga tidak punya orang tua, jadi untuk apa takut."

"Baiklah. Karena kamu tidak takut, bagaimana kalau kita saling berjanji?"

"Janjian apa?"

"Mm... Kita akan menikah saat dewasa nanti."

"Menikah? Apa itu menyenangkan?"

"Kalau kita menikah kamu akan punya orang tua karena orang tuaku akan bisa menjadi orang tuamu juga. Bagaimana?"

"Jadi, aku akan punya ayah dan ibu seperti anak yang lain?" tanya Bocah perempuan itu.

"Benar."

"Baiklah, kalau begitu kita akan menikah saat dewasa nanti."

Bocah laki-laki itu mengangguk. "Ohya, namamu siapa?" tanyanya.

"Aluna. Kamu?"

"Marvin, Marvin Kaisar," jawab bocah laki-laki yang bernama Marvin.

"Apin?"

"Marvin, Luna. Marvin, bukan Apin."

"Lebih lucu, Apin."

Suara obrolan anak laki-laki dan perempuan itu muncul di kepala Aluna. Diikuti siluet anak laki-laki dan perempuan.

Aluna menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sedangkan mulutnya bergumam tidak jelas. Membuat seseorang yang sedang duduk di dekat ranjang itu menggenggam erat tangan Aluna.

Aluna tersentak, matanya langsung terbuka dengan napas terengah.

"Luna, ada apa? Kamu tidak apa-apa, kan?"

Suara familiar itu membuat Aluna menoleh dan menatap ke arah sumber suara.

"Marvin, kamu kenapa ada disini? Dimana mama dan kedua kakakku?" tanya Aluna.

"Andi dan Armand pergi ke perusahaan, katanya ada meeting dadakan dengan klien. Kalau mamamu, dia sedang bersama bibik di dapur untuk menyiapkan makan malam," jawab Marvin.

Aluna menatap tangannya yang digenggam erat oleh Marvin.

"Maaf," ucap Marvin sambil melepas genggaman tangannya.

Kedunya kemudian sama-sama diam.

"E... Luna."

"Vin."

Keduanya berbicara bersamaan.

"Kamu duluan saja!"

Aluna mempersilakan Marvin untuk berbicara lebih dulu.

"Luna, aku mohon berjanjilah padaku bahwa mulai sekarang kamu akan menjaga dirimu dengan baik. Kalau memang butuh sesuatu, jangan ragu untuk bilang padaku. Kamu bisa mengandalkan aku," tutur Marvin.

Aluna mengangguk, mengiyakan.

"Kamu pasti lapar, apalagi kamu pingsan terlalu lama," lanjut Marvin ketika mendengar bunyi kruyuk dari perut gadis itu.

Wajah Aluna berubah merah menahan malu.

"Astaga kenapa pakai bunyi sih nih perut," rutuk Aluna dalam hati.

"Ohya, Luna.Kenapa kamu bisa pingsan tadi?" tanya Marvin.

Dia cukup penasaran dengan hal yang membuat calon tunangannya itu mendadak pingsan.

Aluna jadi ingat sesuatu. Gadis itu segera turun dari ranjang dan mencari sesuatu. Gadis itu merasa lega karena menemukan kotak berudu warna biru yang berisi kalung itu. Aluna ingat kalau kotak itu sudah diambilnya kemudian jatuh. Dan mungkin kakaknya lah yang mengembalikan kotak itu di sana.

"Aku lupa siapa yang memberikan kalung ini padaku. Tapi, aku merasa kalau kalung ini memiliki arti yang sangat penting di hidupku," ucap Aluna.

Gadis itu kembali mengeluarkan kalung dengan liontin berbentuk mahkota dari kotak tersebut.

Marvin sedikit terkejut ketika melihat kalung yang dimaksud oleh Aluna itu adalah kalung pemberian darinya. Dia senang karena ternyata Aluna masih menyimpan kalung itu, meski ingatannya hilang.

"Nona, Tuan Muda, Nyonya Aruan sudah menunggu kalian di meja makan."

Seorang pelayan datang memanggil keduanya.

"Iya, Bik. Kami segera datang," jawab Aluna. "Terima kasih ya, Bik," ucapnya dengan sopan.

"Ayo, Vin!" ajak Aluna.

Gadis itu melangkah lebih dulu. Marvin menggeleng sambil tersenyum. Pemuda itu kemudian berjalan mengikuti Aluna. Langkah Marvin terhenti ketika Aluna menggumamkan sebuah nama, nama yang tidak asing baginya.

"Apin."

***

Bunga baru saja kembali ke apartemen tempat ia dan Abimana tinggal. Bibir wanita itu terua mengukir senyum saat mengingat kebersamaannya dengan Sang Pujaan hati.

Jujur saja, sejak Abimana diusir oleh Aruan dan ikut tinggal bersamanya, waktu Bunga bersama Sang Pujaan hati jadi banyak berkurang karena ia juga harus melayani suami dari Aruan tersebut. Dan itu membutuhkan energi lebih, apalagi Abimana termasuk pria yang bugar, meski usianya tak lagi muda. Mungkin karena ayah dari tiga orang anak itu selalu rajin berolah raga.

"Dari mana kamu?"

Suara Abimana membuat langkah Bunga yang hendak menuju ke kamarnya terhenti.

"Mas, kok belum tidur?"

Bukannya menjawab, Bunga memilih untuk balik bertanya. Wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Aruan dan Abimana itu menghampirinya lalu duduk tepat di sebelah Abimana.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Bunga," tukas Abimana.

Bunga menghembuskan napas.

"Aku sedang berusaha mencari tempat tinggal baru untuk kita sebelum mantan istrimu itu mengusir kita dari apartemen ini," jawab Bunga penuh dusta. "Putra kita memang sudah bekerja di perusahaan besar. Tapi, tidak mungkin kan kalau kita merepotkannya? Apalagi dia baru sembuh dari penyakitnya."

Tak tik mempermainkan emosi memang keahlian Bunga. Selama ini dia selalu mempermainkan emosi Abimana untuk membuat pria itu merasa bersalah.

Iya. Awalnya, meski Bunga mengaku sudah memiliki anak bersama Abimana, tak serta merta membuat pria itu langsung menerimanya begtu saja. Meski pernikahannya dengan Aruan berawal dari pernikahan bisnis, tetapi hidup belasan tahun bersama wanita itu dan anak-anaknya membuat Abimana akhirnya benar-benar jatuh cinta kepada Aruan.

Wajah memelas Bunga dan kalimat-kalimat menyedihkan wanita itu membuat Abimana akhirnya merasa bersalah dan akhirnya kembali berhubungan dengan Bunga. Apalagi sebelum perjodohannya dengan Aruan, Abimana memang sudah menyukai Bunga sejak keduanya menjadi teman sepermainan.

"Benarkah?"

Dari nada bicara Abimana, Bunga bisa menyimpulkan kalau pria itu tidak benar-benar percaya dengan jawabannya.

"Mas Abi, kamu kenapa sih? Sikap kamu malam ini aneh," keluh Bunga.

Abimana mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. Membuka menu galeri lalu memberikan ponsel tersebut kepada Bunga untuk dilihat.

"Untuk apa ini?" tanya Bunga dengan wajah bingung ketika menerima ponsel Abimana tersebut.

"Lihat saja sendiri!" jawab Abimana setengah menyeru.

Bunga melihat ke layar ponsel di tangannya. Matanya membulat melihat foto yang ada di sana.

"Aku juga memiliki video kalian," tambah Abimana.

"Mas, kamu mengikutiku?!" sentak Bunga tak terima.

"Awalnya aku ingin memberimu kejutan. Tetapi, pada akhirnya justru aku yang terkejut," jawab Abimana. "Ternyata, kamu hanya mempermainkanku. Kamu hanya memanfaatkanku."

Bunga masih diam. Dia tidak menyangka kalau Abimana akan menangkap kecurangannya secepat ini.

"Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata kamu wanita berhati iblis. Kamu datang seolah menjadi korban kemudian menjeratku agar terus bersamamu. Kamu bahkan membuatku mengkhianati Aruan, wanita yang selama ini tulus terhadapku. Kenapa, Bunga? Kenapa?!" tanya Abimana dengan menaikkan volume suaranya.

"Karena sudah ketahuan, aku tidak akan berpura-pura lagi. Sejak awal, aku memang tidak pernah mencintaimu Mas Abi. Aku memang mendekatimu untuk menikmati hartamu dan juga.... mengambil alih Anggara Grup. Sayangnya, kamu malah menyerahkan semua asetmu pada ketiga anak-anakmu. Perbuatanmu ini membuatku harus menyusun rencana baru. Kamu benar, Mas Abi. Aku hanya memanfaatkanmu," ujar Bunga. "Ohya, ada hal yang juga harus kamu ketahui, hilangnya Aluna, itu juga perbuatanku."

"Jangan-jangan, Chika–"

"Ya, kamu benar. Chika juga masuk dalam rencanaku. Dia adalah anak yang sengaja aku pilih untuk menggantikan Aluna. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau kalian akhirnya menemukan putri kandung kalian," potong Bunga.

Dia menatap Abimana dengan tatapan meremehkan.

"Pengawal," panggil Bunga.

Dua orang bodyguard masuk dan langsung memegangi tangan Abimana.

"Buang dia melalui jendela itu. Buat seolah-olah dia bunuh diri!" suruh Bunga pada dua bodyguard yang memang dibawanya.

"Lepas! Lepaskan aku!"

Abimana berusaha meronta.

"Kamu tenang saja Mas Abi, istri dan ketiga anakmu akan mengira kalau kamu bunuh diri karena merasa bersalah. Aku akan buatkan surat berisi permintaan maafmu pada mereka."

"Lepaskan aku!" teriak Abimana.

"Cepat, lempar dia!" suruh Bunga setelah membuka jendela apartemennya.

Tanpa perlu dikomando lagi, dua orang itu langsung melempar Abimana dari jendela apartemen, tak lupa Bunga ikut melemparkan kertas yang berisi permintaan pria itu pada istri dan kedua anaknya.

Bunga segera mengirim pesan pada Sang Pujaan hati.

[Abimana sudah tahu tentang rahasia kita. Tapi, kamu tenang saja, aku sudah membuatnya seolah-olah bunuh diri. Sisanya aku serahkan padamu]

1
Kikin
bgs
Erna Masliana
cctv cek atuh
Erna Masliana
atuh kalian diem tangkap s Chika interogasi.. bego banget sih
Erna Masliana
kenapa nyuruh istri nya pulang sama s Nenek iblis
Erna Masliana
emang gak ada tombol??
Erna Masliana
enak bener selingkuh 10th gampang dimaafin
Erna Masliana
mantap
Erna Masliana
kenapa🤔 kamu nanyeak?? kamu juga pria iblis udah punya istri baik selingkuh
Erna Masliana
Lun yang bener dong.. gimana sih.. ini jadi susah mau ngambil tindakan apa
Erna Masliana
wajib tagih lah rugi banget
Erna Masliana
bukan gercep lagi kilat express
Erna Masliana
pelan pelan.. berdamai itu tidak bisa instan butuh proses dan waktu
Erna Masliana
heh reinkarnasi juga kah🤔
Erna Masliana
jelek 🤣🤣🤣🤣
Erna Masliana
🤣🤣🤣🤣mata kayak ikan koki lubang hidung kayak kerbau 🤣🤣
Erna Masliana
20th😱 masih di panti
Sulati Cus
👍🏻
Siti Solikah
wah Luna disekap semoga bisa ketemu
Siti Solikah
bagus
Siti Solikah
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!