Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 34
Sore pukul 15:30.
Karina pulang lebih awal dari tempat ia bekerja. Hari ini ia mendapatkan gaji pertamanya, dan berniat untuk mengajak makan malam Widia untuk pertama kalinya setelah sekian lama hubungan mereka tidak harmonis.
Namun baru saja sampai di halaman cafe. Karina di kejutkan dengan kedatangan Pramudya yang bermaksud mendekati Karina lagi, dan memintanya untuk rujuk kembali.
"Mas Pram?"
"Karina."
Karina terdiam sesaat menatap wajah Pram yang terlihat lusuh. Namun detik berikutnya Karina memutar arah ke kanan menghindari Pramudya yang selalu mencoba membujuknya untuk kembali. Karina tidak ingin hanyut dalam sandiwara Pramudya lagi.
"Karina!' seru Pramudya.
Tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Pramudya berlari menyusul Karina yang terus berlari menyusuri tepi jalan raya menghindari Pramudya.
" Karina!"
"Apalagi mas!" Karina menepis tangan Pramudya.
"Plakkk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Pramudya.
"Jangan ganggu hidupku lagi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu. Tidak akan pernah!!"
"Karina dengar, aku janji akan berubah dan menceraikan Zahra."
Karina langsung tertawa lebar mendengar pernyataan Pramudya.
"Kau pria terbodoh yang pernah kukenal, dan kumenyesal telah percaya padamu!"
Karina balik badan dan berlari menghentikan angkutan umum yang lewat. Ia sama sekali tidak ingin mendengar bualan Pramudya lagi. Hatinya tertutup sudah untuk pria itu. Kini ada satu nama yang tersemat di dalam hati Karina yaitu Alfarezi Kavindra.
Pramudya berdiri terpaku menatap kepergian Karina. "Aku tidak boleh menyerah, tidak satupun yang boleh memilikinya selain aku."
***
Karina duduk termenung di depan cermin, ia tidak habis pikir dengan tingkah Pramudya. Raut wajah Karina berubah tersenyum saat mengingat Ava. Meski tidak ada gambaran seperti apa wajah Ava. Namun suara lembutnya, tawa canda Ava terus terngiang di telinga Karina.
"Mas Ava, kau di mana? apa kau lupa padaku?" gumam Karina pelan. "Aku kangen mas."
Karina tersenyum menundukkan kepalanya, meremas tangannya sendiri.
"Kalian mau apa!"
Terdengar teriakan Widia dari luar rumah. Karina langsung berdiri dan berlari keluar rumah. Nampak Zahra dan Sumarni datang ke rumahnya dan memaki maki Widia.
"Apa apaan kalian!" seru Karina menghampiri mereka yang tengah adu mulut.
"Akhirnya kau datang juga, wanita munafik!" seru Zahra menghampiri Karina.
"Apa maksudmu? kenapa kau tidak berhenti menggangguku!" balas Karina.
"Kau mau balas dendam, bukan begitu Karina! sekarang mas Pram mau menceraikanku, apa kau puas!!" pekik Zahra.
"Kenapa kau menyalahkanku?"
"Banyak omong!" teriak Zahra yang sudah di kuasai amarah.
Wanita itu langsung menjambak rambut Karina dan menghempaskannya ke tanah hingga Karina tersungkur. Manusia selemah apapun jika sudah di kuasai amarah, tenaganya akan berlipat.
"Lepaskan putriku!" pekik Widia menarik tangan Zahra supaya lepas dari rambut Karina. Namun cengkraman tangan Zahra terlalu kuat hingga tubuh Karina ia timpa lalu di duduki dan membenturkan kepala Karina ke tanah. Sumarni hanya diam membiarkan Zahra melakukan kekerasan pada Karina.
Suara keributan di halaman memicu tetangga untuk melihat apa yang terjadi, tapi mereka enggan mendekat apalagi membantu kedzoliman yang terjadi pada tetangganya. Mereka memilih memperhatikan dan bergunjing.
'Lepaskan!"
"Tuan?" ucap Widia menoleh ke arah Alexis yang baru saja datang dan mengangkat tubuh Zahra lalu mendorongnya ke belakang.
"Jangan kau ikut campur!" seru Zahra pada Alexis.
"Karina ayo bangun."
Alexis mengangkat tubuh Karina yang mengerang kesakitan. Lalu menoleh ke arah Zahra dan Sumarni.
"Aku bisa memperkarakan kalian ke Polisi.'
" Aku tidak takut!" bentak Zahra semakin emosi.
"Sekali lagi aku mendengar kalian menganiaya Karina, kupastikan kalian mendekam di penjara." Ancam Alexis pada mereka berdua.
"Cuih!' Zahra menanggapi dingin kata kata Alexis. Memalingkan wajahnya menatap ke arah Sumarni.
" Ayo nduk kita pulang," sela Sumarni menarik tangan Zahra.
"Awas kau Karina, jika mas Pram berani menceraikanku dan menikahimu lagi. Sampai kapanpun, aku tidak akan terima. Jika aku hancur, kau pun sama!" ancam Zahra.
Kemudian mereka pergi meninggalkan rumah Karina tanpa merasa bersalah. Untuk malu pun tidak saat tetangga memperhatikannya.
"Terima kasih mas," ucap Karina sembari membenarkan rambutnya yang berantakan.
"Apa sakit?" tanya Alexis memegang tangan Karina.
"Tidak apa apa, nanti juga hilang." Karina menepis tangan Alexis lalu memutar tubuhnya meninggalkan mereka berdua di halaman.
"Mari masuk."
Widia mempersilahkan Alexis masuk ke dalam rumah, sebagai tanda terima kasih.
***
Jauh di Negara lain.
Yong Ma menatap marah anak buahnya yang berjajar rapi menundukkan kepala.
"Menjaga putraku saja kalian tidak becus!" seru Yong Ma marah. Karena Alfarezi telah pergi dari rumah setelah menggagalkan pernikahannya dengan wanita lain.
"Aku tidak mau tahu, kalian harus bisa membawa putraku kembali!" perintah Yong Ma pada anak buahnya
"Baik Tuan!" ucap mereka serempak.