bagaimana jika kalian ada di posisi ku, dimana aku di jodoh kan oleh orang tua yang posesif dengan seorang lelaki yang pernah kalian liat tengah bercumbu dengan wanita lain, dan parahnya lagi dia adalah seorang psikopat
rumit amat hidup ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34,persiapan
Ini adalah hari sabtu dimana pada besok Diana dan Julian akan bertunangan, tante dan Om, dan juga para sepupu diana sudah berada di Jakarta untuk ikut membantu acara pertunangan itu.
Diana dan Julian tengah berada di pemakaman umum, Diana berkunjung dan meminta restu pada kedua orang tuanya itu.
"Mah, pa, besok adalah hari yang kalian tunggu selama ini, besok aku dan Julian akan tunangan, aku sayang kalian, maafin diana yah kalau selama ini diana hanya nyusahin kalian, dan belum bisa bahagiain kalian, " lirih Diana sambil berusaha keras menahan air matanya.
Julian yang berada di samping Diana pun mencoba menguatkan Diana, dengan cara merangkul pundak diana dan mengelus nya.
"Mah aku sayang kalian, " ucap Diana kini air mata nya pecah, ia sudah tidak kuat lagi menahan air matanya.
Julian yang tidak tega melihat diana pun kini memeluknya, air mata Diana pun sudah mengenai baju kemeja Julian.
Diana menangis tersedu-sedu tanpa membalas pelukan nya, Julian pun mengecup rambut Diana dan mengelus nya.
Julian menjauh badan diana, "udah yah, katanya kamu kuat," ucap Julian manis.
Diana yang masih menangis pun mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya, dan menatap wajah Julian yang sedang tersenyum.
Julian mengangkat tubuh Diana yang terduduk lemas di samping makam ibu dan ayahnya.
Diana pun berdiri dengan ke adaan lemas, ia berjalan mengikuti tarikan dari Julian dengan mata yang masih menatap sayu ke arah makam ibu dan ayah nya tersebut.
Julian dan Diana sudah berada dalam mobil Julian memasangkan sabuk pengaman pada Diana, sementara diana masih dengan wajah yang sedihnya, ia hanya memandang ke arah depan.
Julian pun memajukan mobilnya, ia berniat untuk mengajak diana pulang, karena masih banyak urusan di rumahnya.
Setelah sampai di rumah Julian menatap ke arah Diana yang masih menatap ke arah depan.
"Baby, kamu kuat, " ucap Julian menyemangati Diana.
Diana yang mendengar suara dari ke kasihnya itu langsung berbalik dan menatap sendu pada Julian.
"Senyum dong, " ucap Julian sambil menaikan satu alisnya.
Diana pun tersenyum dengan terpaksa.
"Yang tulus napa,".
"Iya aku senyum, " balas diana ia tersenyum sangat lebar, sampai-sampai gigi putih nya itu bisa terlihat jelas oleh Julian.
Julian pun tersenyum dan mereka pun kini turun dari mobil, mereka berjalan sambil bergandengan masuk ke rumah Julian, yang di sana sudah banyak orang, yang menyiapkan dekorasi dan juga yang lainnya.
Diana pun sekarang sudah mulai tersenyum saat mendapati banyak orang di dalam.
"Tuh yang jangan sedih, masih banyak yang sayang sama kamu, " ucap Julian sambil menatap ke arah orang-orang yang tengah berlalu lalang mempersiapkan dekorasi dan juga yang lainnya untuk besok.
Diana pun mengangguk pelan sambil tersenyum, kini ia mulai melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, kini ia berjalan menuju ke arah Cherly dan Anggara yang asik dengan cemilan.
"Woy, " kaget Diana yang langsung duduk di sebelah Cherly.
"Aku ke sana dulu ya yang, " pamit Julian yang akan pergi dari sana, ada banyak hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
"Mau ke mana tu anak, " heran Cherly dengan mulut yang masih penuh dengan cemilan yang tadi di kasih oleh ibunya Julian.
"Tau ah mana gue pikirin, " acuh Diana yang kini malah fokus sama ponsel nya.
"Teman-teman Julian besok ke sini gak? " kepo Cherly, yang kini sudah selesai dengan cemilannya.
"Mungkin, " datar Diana dengan wajah yang masih tertuju pada ponsel nya.
"Ni anak napa sih? " heran Cherly sambil menatap ke arah Anggara,
Yang hanya di balas gelengan oleh Anggara.
Sementara Julian pergi ke kafe tempat para pengikut nya berada, setelah sampai ia masuk ke kafe itu dengan masih menggunakan pakaian serba hitam, karena tadi habis dari pemakaman.
Ia berjalan menuju ke arah dapur lalu ia menghampiri andi yang tengah asik dengan sebatang rokok di tangannya, Julian pun duduk di depan andi, andi yang melihat Julian duduk di depannya pun hanya menatapnya datar.
"Kenapa? " tanya andi datar.
"Besok gue mau tunangan dan, seminggu setelah tunangan gue bakalan nikah, " balas Julian.
"Terus,".
"Gue mau nyerahin mereka ama luh, lu urusin aja mereka, " ucap Julian.
"Ok, tapi kalau ada masalah yang besar lu bakal tetap turun kan? " tanya Andi yang kini mendekatkan wajahnya ke arah Julian.
"Kalau masalah itu masih bisa kalian selesaikan, gak usah bilang gue, tapi kalau kalian udah kewalahan, datang aja ke rumah, " santai Julian.
Andi pun kembali mundur dan mengisap rokok itu, "ouh iya si Jack kemana? " heran Andi pasalnya sudah beberapa hari ini Jack tidak terlihat sama sekali.
"Mati, " ucap Julian lancar, tanpa rasa bersalah atau rasa takut.
"Lu gak bercanda kan, " Andi tidak percaya dengan apa yang julian ucapkan padanya.
"Gak lah, emang gue lagi bercanda sekarang, " ucap Julian.
"Siapa yang bunuh? " Andi ingin tau siapa orang yang telah membunuh Jack.
"Gue, " balas Julian.
Andi yang mendengar pernyataan dari Julian pun sangat terkejut dan bola mata andi berhasil membulat sempurna.
"Kau gila Julian, " ucap Andi tak percaya.
"Dia yang gila, " santai Julian.
"Kenapa kau membunuh dia? " ia tidak habis pikir dengan Julian.
"Dia yang membunuh orang tua gadis ku, dan dia sudah membuat gadis ku sedih, aku sudah berjanji dengan langit dan bumi yang menjadi saksinya kalau aku akan membunuh orang yang membuat gadis ku terluka, " jelas Julian pelan namun sangat menakutkan kilatan matanya berubah menjadi kilatan mata yang siap untuk membunuh.
"Kenapa ia harus membunuh orang tua Diana? " Andi masih tidak mengerti dengan ini semua bahkan ia kini mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Karena ke jadian di tahun itu, " ucap Julian pelan, namun Andi tetap bisa mendengar ucapan dari Julian.
"Jangan bilang kalau orang yang bertanggung jawab atas ke jadian itu adalah orang tua Diana,".
"Ya begitu lah, " acuh Julian.
"Terus, kenapa ia tau kalau itu adalah ulah mereka?".
"Aku tidak tau,".
Andi kini sedikit paham dengan masalah yang sebenarnya terjadi, sebenarnya kedua orang tersebut sama-sama salah, tidak harus kan nyawa di balas dengan nyawa.
Sementara itu di rumah julian segara persiapan sudah selesai mulai dari dekorasi gaun, pokonya semuanya sudah siapa, kini mereka berniat menginap di rumah Julian.
Pasalnya ini juga sudah malam, Diana tidur bersama Cherly di ruang tamu sedangkan Anggara tadi berpamitan pulang.
Namun Diana masih duduk menunggu ke kasihnya di ruang tamu, ia menunggu sudah dari satu jam yang lalu, kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, semua pun sudah tertidur karena kecapean.
Diana menunggu Julian sangat lama membuat ia ketiduran di sofa, karena ia sudah sangat kelelahan.