Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar Hebat
Tak lama Celo pun kembali dengan membawa kotak bekal berisi sisa steak ditangannya. Dia duduk dengan tenang di sampingku.
Tak ingin menundanya lagi aku segera bertanya tentang bercak yang ku lihat di leher belakanganya. "Sayang, aku lihat ada ber..."
Tring...Tring...
Dering ponselnya membuat bibirku tak melanjutkan pertanyaan, karena dia dengan cepat beralih untuk mengangkatnya.
"Bentar ya princess, aku harus angkat telepon karena ini client yang cukup penting jadi aku harus mengangkatnya di luar sebentar saja." Celo kembali keluar, tetapi kali ini dia justru berlari.
Aku berdecak tak percaya dengannya. Bisa-bisanya dia lebih memilih mengangkat telepon daripada mendengarkan sampai aku selesai mengatakan sesuatu yang aku rasa lebih penting bagi kelangsungan hubungan kita.
Rafka yang duduk di seberangku terpantau tak pernah berkedip memperhatikan sikapku, sepertinya dia mengerti jika aku dalam kecemasan. Dia juga terlihat sedang bermain dengan ponselnya, dan tak lama sebuah pesan masuk ke ponselku.
(Lu kenapa? Overthinking lagi dengan Celo?)
Pandanganku kini semakin terfokus kepadanya, ternyata dia sedari tadi sibuk dengan ponselnya karena ingin memastikan kondisiku.
Barangkali jika tidak ada orang, Rafka berani langsung saja menanyakannya padaku.
Aku tak ingin membalas pesannya, tetapi lagi dan lagi dia mengirimkan beberapa pesan, tetapi kali ini tatapannya semakin nyata tertuju jelas ke arahku.
(Kat, tolong jawab. Apa yang lu curigai sekarang dari Celo?)
(Gue tahu lu pasti belum terlalu nyaman kan sama gue karena Celo adalah sahabat gue, justru dari itu gue ingin kisah percintaan sahabat gue dan pasangannya tetap terlihat baik-baik saja.)
Pesan-pesan dari Rafka cukup menggangguku dan akhirnya aku balas untuk menghindari spam chat yang sepertinya akan dia kirimkan.
(Gue lihat di lehernya ada bercak kemerahan, gue curiga itu bekas ciuman dari seseorang.)
Rafka tampak syok setelah membuka balasan chat dariku, tetapi layaknya seorang pria dewasa dia selalu saja mampu menyembunyikannya di balik wajah tenangnya itu, sebelum beberapa saat kemudian dia kembali fokus ke layar ponsel.
(Sabar dulu, nanti setelah Celo datang baru kamu bisa langsung menanyakannya.)
Tanpa membuka aplikasi chat, aku hanya membaca pesan balasannya kali ini dari notifikasi yang muncul dari sisi atas ponselku.
Aku pun kembali menatap Rafka dan tersenyum yang aku anggap sebagai balasan chat terakhirnya.
Bunda rupanya juga menyadari pancaran wajahku yang terlihat bad mood, beliau kemudian berpindah duduk ke kursi Celo. Beliau juga mengambil gelas jus yang ada di depanku.
"Kayanya enak nih jusnya, bunda mau deh." Bunda pun segera meminum jusnya.
"Ish... Bunda ini, aku pikir tadi mau ngambilin buat Katty ternyata mau di minum sendiri, padahal kan bunda punya minuman sendiri." Kerucut di bibirku tak mampu ku tahan.
''Habisnya bunda lihat ada jus nganggur sih, terus tolong dong bibirnya biasa aja, gak usah monyong gitu. Malu tuh di lihat calon mertua dan calon ipar." Ledek Bunda dengan meletakkan kembali jus ke meja.
"Bodo amat, biar mereka tahu jika kedua orang tuaku nakal." Bibirku masih cemberut diimbangi dengan kedua tanganku yang terlipat di dada.
Semua orang yang menyaksikan interaksimu dengan Bunda hanya bisa tertawa, tetapi hal ini mampu membuatku sedikit lebih tenang.
Aku tahu jika beliau sebenarnya tidak suka jus mangga apalagi beliau memiliki riwayat sakit asam lambung hanya saja beliau sengaja menggodaku agar anaknya ini kembali ceria.
Perlahan keceriaanku kembali, aku bisa ikut berbincang dengan mereka.
Rani yang duduk tepat menghadap pintu utama restoran berteriak dan menunjuk ke arahnya. ''Kak Celo, akhirnya kembali. Cepetan sini kita mau foto sebentar lagi."
Aku menoleh ke belakang dan ternyata benar terlihat Celo melambaikan tangan ke Rani, tetapi jalannya terlihat santai karena memang jarak meja makan kita yang tak terlalu jauh dari pintu.
Sesampainya di meja makan, Celo kembali meneruskan kegiatan santap siangnya. Rani pun kembali berkomentar.
''Ck... Sibuk banget punya kakak satu. Mau foto aja harus nunggu dia selesai makan, bukan selesai makan sih lebih tepatnya dia telat makan karena ngutamain client."
Mendengar ungkapan Rani rupanya memancing rasa penasaranku tentang bercak di leher belakang pria di sebelahku itu.
Tak ingin terpotong lagi kali ini aku langsung menanyakannya. "Sayang, lehermu kenapa?"
"Maksudnya kenapa? Aku sungguh gak ngerti sayangku." Jawab Celo dengan tetap santai menikmati makanannya.
"Merah, seperti bekas ciuman seseorang. Jangan bilang bekas Lady!" Aku mengeluarkan ponsel untuk menunjukan foto lehernya.
"A- Apa maksudnya sayang? Ini kemarin aku hanya ke cakar kucingnya salah satu client di sana." Celo terlihat gugup saat menjawab.
"Wow... Seorang pengusaha muda bisa ke cakar kucing, alasan apa lagi ini Celo?!'' Nada bicaraku tak bisa ku tahan lagi kali ini, aku benar-benar marah.
Prang!!!
Celo membanting sendok dan garpu yang sedang dia gunakan. "Kamu kenapa jadi gak percaya sama aku, kamu pikir aku main api gitu sama Lady?!"
"Kalau memang bukan main apa? Kenapa kamu bohong sedetail ini? Lady kamu anggap sepupu padahal jelas bukan, parfum dia nempel di bajumu dan kamu berdalih kehabisan parfum."
"Aku sangat paham Celo kamu paling gak bisa kehabisan parfum dan pasti langsung nyari ke supermarket dan ini bercak merah di leher katanya bekas cakaran, mana ada Celo bekas cakaran bentuknya begitu!" Emosiku meledak hingga menjadi pusat perhatian semua pengunjung restoran.
Ayah mencoba menjadi penengah untukku dan Celo. "Udah Katty jangan marah terus beri kesempatan Celo menjelaskan selesai makan."
"Ayah diam, dari tadi dia juga setiap menjawab pertanyaanku sambil makan." Bantahku.
Celo berusaha memelukku, tetapi aku menepisnya kali ini. Kekecewaan yang ada di hatiku selama ini akhirnya meluap. Keluarga Celo hanya bisa diam saat melihat aku maki-maki anak laki-laki kebanggaan mereka.
"Sa- Sayang, aku minta maaf ya jika aku sempat emosi. Aku mau menjelaskan nanti semuanya, tetapi benar kata ayahmu lebih baik nunggu aku selesai makan." Kata Celo dengan tangan yang kembali mencoba menyentuh bahuku.
"Terserah!" Jawabku sembari berlari keluar restoran.
Ku putuskan untuk memesan taksi, tetapi bukan taksi online karena aku juga belum mengetahui pasti kemana tujuanku kali ini.
Dalam pikiranku hanya kabur dari Celo dan juga orang-orang yang ada di dalam. Saat aku mengungkapkan keluhan-keluhan tentang kedekatan Celo dan Lady bahkan tak ada satupun dari mereka yang berusaha untuk membelaku.
"Kita mau kemana mba?" Tanya supir taksi.
Aku menunjukan maps yang titik lokasinya adalah butikku. Mungkin saat ini hanya di sana aku akan mampu menenangkan pikiran.
"Baik mba, tetapi coba mba perhatikan sepertinya mobil belakang dari awal kita pergi selalu mengikuti kita." Ucap supir taksi kembali.
Untuk memastikannya aku pun mengintip dari kaca belakang dan ternyata benar ada sebuah mobil yang mengikuti. "Iya pak, benar."
"Mba kenal siapa kira-kira yang ada di dalamnya?" Tanya supir taksi.
Aku hanya menggeleng, tetapi yang jelas itu bukan mobil Celo ataupun Ayah karena aku hafal keduanya.
..