NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Pecahan Kaca

...

Matahari baru saja terbit, tetapi ketegangan di koridor rumah sakit VIP itu sudah terasa mencekam. Zidan berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke area parkir bawah, kedua tangannya tenggelam di saku celana bahan yang mulai tampak kusut. Matanya merah, tidak ada lagi kilau ketajaman seorang CEO narsis yang biasa memandang rendah dunia. Di dalam kepalanya, bayangan senyuman lepas Pamela di teras Kedai "Selasih" kemarin siang terus berputar, bergantian dengan raungan kemarahan ayahnya.

Semua itu menjelma menjadi pecahan kaca yang bertebaran di dalam benaknya, menggores dinding egonya hingga berdarah.

Cklek.

Pintu ruang rawat Papa mertua terbuka. Dokter spesialis jantung keluar bersama dua perawat, wajahnya tampak lelah namun menunjukkan ekspresi yang sedikit lebih santai dibanding kemarin. Zidan langsung membalikkan tubuhnya, melangkah cepat dengan aura dingin yang dipaksakan.

"Bagaimana kondisi Papa saya, Dok?" tanya Zidan, suaranya terdengar berat dan kaku.

Dokter itu menghela napas, melepas kacamata minusnya sejenak. "Secara fisik, kondisi jantung Tuan Besar sudah mulai stabil setelah kita sesuaikan dosis obatnya berdasarkan catatan medis yang Anda bawa kemarin. Beruntung sekali catatan itu sangat mendetail, Pak Zidan. Kalau tidak, kita harus melakukan tes lab dari awal dan itu membuang waktu kritis beliau."

Zidan merasakan ulu hatinya seperti ditusuk. Catatan itu... buatan Pamela.

"Tapi," lanjut Dokter itu, menatap Zidan dengan pandangan menyelidik, "kondisi psikologis beliau yang mengkhawatirkan. Beliau terus menolak makan. Tadi pagi suster mencoba menyuapi bubur rumah sakit, tapi beliau malah menepis mangkuknya sampai pecah. Beliau terus menuntut bertemu dengan... menantunya, Ibu Pamela. Jika beliau terus menolak asupan nutrisi, obat-obatan kuat ini justru akan merusak lambungnya."

"Saya mengerti, Dok. Terima kasih," jawab Zidan pendek, rahangnya mengencang.

Setelah dokter pergi, Zidan melangkah masuk ke dalam kamar rawat. Di sudut ruangan, Mama duduk meringkuk di sofa kulit, matanya sembap dan rambut sanggulnya yang biasa rapi kini tampak berantakan. Sementara di atas ranjang, Papa memalingkan wajahnya ke arah dinding, mengabaikan sisa-sisa bubur yang berceceran di lantai marmer.

"Pa..." panggil Zidan pelan.

Papa tidak bergerak. Suara napasnya yang berat dibantu selang oksigen terdengar begitu menyedihkan. "Kalau kamu datang bukan membawa Pamela, lebih baik kamu keluar, Zidan. Papa tidak mau melihat wajah anak durhaka yang sudah menghancurkan rumah tangganya sendiri."

"Zid... tolong lakukan sesuatu," bisik Mama dari sudut sofa, suaranya bergetar menahan tangis penyesalan yang kini datang bertubi-tubi. "Mama gak kuat kalau Papa kamu begini terus. Rumah kita hancur, Zid... Karina gak bisa dihubungi, Keysha di rumah cuma bisa menangis karena gak tahu cara mengurus keponakannya. Mama bener-bener gak tahu harus bagaimana lagi..."

Kekerasan emosional yang selama ini mereka pupuk di dalam rumah mewah itu kini berbalik arah, menyerang mereka tanpa ampun. Keangkuhan keluarga kaya itu telah pecah menjadi serpihan tak berguna. Zidan tidak tahan lagi mendengar keluhan ibunya. Dengan emosi yang mendidih di dada, dia berbalik dan berjalan keluar dari kamar rawat dengan langkah lebar, membanting pintu kayu itu hingga menimbulkan bunyi dentuman keras yang menggema di lorong sunyi.

...

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya, suasana subuh di pinggir pantai terasa begitu menyejukkan jiwa. Pamela baru saja menyelesaikan batch pertama kue mangkok mekar pandan suji miliknya. Uap wangi dari daun suji asli dan gurihnya parutan kelapa muda memenuhi seluruh sudut dapur Kedai "Selasih".

Pamela berdiri di depan meja konter, menata kue-kue yang merekah sempurna itu ke dalam wadah bambu dengan gerakan yang sangat telaten. Senyumannya tipis namun tulus. Tidak ada lagi beban berat yang menekan pundaknya, tidak ada lagi ketakutan akan suara langkah kaki suaminya yang pulang malam membawa aroma parfum wanita lain.

"Wah, wangi sekali, Pamela. Kue mangkokmu selalu mekar dengan cantik. Pelanggan langganan kita yang biasa datang subuh-subuh pasti senang ini," puji Ibu Sarah yang baru saja masuk ke dapur membawa teko kopi yang baru diseduh.

"Terima kasih, Bu Sarah. Ini semua karena bahan-bahannya segar. Santan dan daun sujinya benar-benar pilihan," jawab Pamela ramah, menyeka sedikit keringat di keningnya dengan ujung celemek bunga matahari miliknya.

Ibu Sarah berjalan mendekat, menatap wajah Pamela dengan pandangan keibuan yang dalam. Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, dia bisa melihat ada ketegaran yang luar biasa di balik sikap dingin dan tenang Pamela. Wanita muda di hadapannya ini seperti sebilah baja yang baru saja keluar dari tempaan api yang sangat panas terluka, namun kini menjadi begitu kuat dan mandiri.

"Pamela, nanti siang setelah jam istirahat kedai, kamu mau ikut saya ke kota kabupaten? Saya mau mengambil beberapa pasokan kopi baru dari gudang pusat, sekalian saya ingin mengenalkanmu pada beberapa rekan bisnis kuliner di sana. Siapa tahu, ke depan kamu bisa menitipkan kue-kue kering buatanmu di toko mereka," tawar Ibu Sarah penuh perhatian.

Pamela tertegun sejenak, matanya berbinar haru. Alur lambat kehidupannya yang merdeka kini terus membuka jalan-jalan baru yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya saat masih menjadi tawanan di rumah mewah Zidan. "Apakah tidak merepotkan, Bu? Saya tentu sangat mau."

"Sama sekali tidak merepotkan, Neng. Kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri sejak melihat cara kerjamu yang jujur di dapur ini," kata Ibu Sarah tulus sambil menepuk bahu Pamela lembut.

Langkah demi langkah, Pamela mulai menyusun kembali pecahan hidupnya yang sempat dihancurkan oleh keluarga Zidan. Dia menyadari bahwa harga dirinya sebagai seorang wanita tidak ditentukan oleh seberapa mewah rumah tempat dia tinggal atau seberapa kaya pria yang menikahinya, melainkan dari seberapa mampu dia berdiri di atas kakinya sendiri dengan terhormat.

...

Kembali ke pusat kota, jam menunjukkan pukul dua siang ketika Zidan kembali ke rumah mewahnya untuk mengambil beberapa dokumen perusahaan yang tertinggal. Begitu dia melangkah masuk melalui pintu utama, suasana sepi yang mencekam langsung menyambutnya. Rumah itu terasa begitu luas, namun terasa sangat kosong dan mati.

Di ruang tengah, Keysha duduk di lantai dikelilingi oleh tumpukan baju kotor. Wajahnya yang biasa dipenuhi riasan tebal kini tampak kusam, matanya merah karena frustrasi. Di sampingnya, Ryan dan Riana sedang menangis berebut sebuah mainan robot yang patah, tanpa ada yang menenangkan.

"Kak Zidan! Akhirnya Kakak pulang!" jerit Keysha frustrasi begitu melihat kakaknya. "Kak, tolong suruh Bi Sumi atau siapa pun buat beresin baju-baju ini! Keysha gak tahu cara pakai mesin cuci yang baru, baju sutera Keysha malah robek semua! Terus anak-anakmu dari tadi gak mau diam, mereka nyariin mamanya terus!"

"Papa! Ryan mau Mama! Ryan gak mau makan masakan Bi Sumi, rasanya gak enak!" tangis Ryan pecah sambil berlari memeluk kaki celana Zidan.

Zidan menatap adiknya dan kedua anaknya dengan pandangan yang teramat dingin dan tajam. Emosi yang tertahan sejak di rumah sakit membuat rahangnya mengeras. Sifat narsisnya yang dulu selalu menganggap dirinya mampu menyelesaikan segala hal kini benar-benar diuji sampai ke titik nadir.

"Keysha," suara Zidan terdengar begitu rendah dan menusuk, membuat adiknya seketika terdiam ketakutan. "Kamu sudah besar. Selama tujuh tahun ini kamu menikmati semua fasilitas di rumah ini tanpa pernah mengeluarkan keringat sepeser pun karena ada mama kamu yang mengerjakan semuanya untukmu. Sekarang, jalani hidupmu sendiri. Jangan mengeluh seperti anak kecil di depan papa."

Zidan menyentak kaki celananya dari pelukan Ryan dengan dingin, meskipun hatinya sendiri terasa seperti diremas melihat air mata anaknya. Pria itu berjalan cepat menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya, mengabaikan jeritan tangis anak-anaknya yang semakin histeris di lantai bawah.

Di dalam ruang kerja yang sunyi, Zidan menyalakan laptopnya. Tangannya bergerak membuka sebuah folder tersembunyi yang berisi foto-foto lama pernikahannya dengan Pamela foto-foto yang hampir tidak pernah dia lihat selama bertahun-tahun karena dia terlalu sibuk memuja dirinya sendiri dan bermain api dengan Karina.

Di dalam foto itu, Pamela tampak tersenyum malu-malu mengenakan kebaya putih sederhana, menatap Zidan dengan pandangan penuh cinta dan kepatuhan yang buta. Zidan menyentuh layar laptopnya, merasakan dadanya mendadak terasa begitu kosong dan sesak. Penyesalan yang lambat kini telah berubah menjadi sebuah lubang hitam yang siap menelan seluruh kewarasannya.

Dia baru sadar, selama tujuh tahun ini dia tidak pernah benar-benar melihat Pamela sebagai seorang istri yang berharga, melainkan hanya sebagai bayangan yang bertugas memastikan hidup mewahnya berjalan tanpa cela. Dan kini, setelah bayangan itu pergi membawa seluruh ketenangan rumahnya, Zidan dipaksa berdiri sendirian menghadapi kenyataan bahwa tanpa Pamela, dia dan seluruh keluarganya tidak lebih dari sekadar pecahan kaca yang rapuh dan menyedihkan.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!