Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Jonathan memukul meja kerjanya, hingga buku jarinya mengeluarkan darah. Dia begitu marah, ingin rasanya memakan Elina hidup-hidup. "Apa ancamanku tadi tidak berpengaruh!" gumam Jonathan dengan dingin.
"Aku memintamu dengan baik, untuk tidak dekat dengan pria lain, tapi permintaanku kamu abaikan. Kamu semakin tidak menghargaiku, bahkan kamu tersenyum pada mantan kekasihmu!" gumam Jonathan, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Lihat saja nanti, aku akan memberimu pelajaran yang membuatmu menyesal telah melawanku!" batin Jonathan.
Ditempat lain, tepatnya di perjalanan, Elina dan Erlanda mengendarai mobil berdua.
"Elin, nanti malam ada acara perjamuan yang diadakan oleh Perusahaan Javelis. Apa kamu mau jadi pasanganku?" tanya Erlanda yang tiba-tiba mencairkan suasana yang mencekam, mereka berdua berada di mobil yang sama menuju rumah Elina.
"Pasangan?" tanya Elina tak paham, ia mengerutkan keningnya menatap Erlanda.
"Ke acara pertunangan suami kamu dan wanita muda itu," jelas Erlanda dengan santai. Ia melirik Elina sejenak, melihat bagaimana reaksi Elina mengenai pertunangan itu.
"Aku tidak ingin menghadiri acara itu," balas Elina. Ia menatap jauh keluar jendela. Tubuhnya terasa panas dibakar api cemburu, AC dalam mobil tak mampan untuk membuat rasa sakitnya menghilang.
"Elina, kamu baik-baik saja kan?" tanya Erlanda saat melihat Elina memejamkan mata namun ada bulir air mata yang hampir saja jatuh.
"Menurutmu apa yang harus ku lakukan?" tanya Elina menatap Erlanda.
"Baru kali ini aku melihatnya terpuruk seperti ini. Apa dia benar-benar mencintai suaminya? Jika memang iya, bagaimana denganku yang masih mengharapkan cintanya" batin Erlanda.
"Kamu harus hadir di acara itu. Buktikan padanya jika kamu tidak tersakiti dengan adanya pertunangan itu. Tunjukan padanya jika kamu bukan Elina yang lemah," balas Erlanda tersenyum manis pada Elina.
"Tersenyumlah, kamu membuatku cemburu!!" ketus Erlanda, ia memasang wajah cemberut.
"Hahahahaha, kamu jelek sekali jika cemberut seperti itu.." ujar Elina disertai tawa.
Kediaman Almero
Elina turun dari mobil, ia melambaikan tangannya pada Erlanda. "Jam 8 aku datang menjemputmu," ujar Erlanda lalu melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman Almero.
Di depan pintu rumah, terlihat Anjas dan Jivan sedang duduk menatap tajam Elina yang sedang berjalan menuju pintu utama.
"Apa kalian mau aku memotong gaji kalian!!" ketus Elina saat melihat tatapan tajam dari kedua sahabat barunya.
"Potong saja jika berani!!" ketus Anjas, ia memalingkan pandangannya ke tempat lain.
"Oke! Gajimu aku potong 30%" ujar Elina.
"Oke, aku permisi dulu" ujar Anjas kemudian membungkuk sejenak lalu pergi meninggalkan Elina yang berdiri mematung.
"Anjas... tunggu aku...!" teriak Jivan, ia sedikit berlari menghampiri Anjas yang tiba-tiba bersikap aneh.
Tangis Elina pecah. Seketika Anjas menghentikan langkahnya, begitupun dengan Jivan.
"Jangan tinggalkan aku, hikz hikz hikz... jangan seperti ini.." ujar Elina, ia mengucek matanya sembari menangis.
Semua pelayan yang bekerja di rumah Almero mulai berkumpul, menyaksikan majikan mereka yang sedang menangis seperti anak kecil. Anjas yang sudah menganggap Elina sebagai adiknya, merasa tidak tega jika harus meninggalkan Elina yang sedang menangis.
Anjas berjongkok mengulurkan tangannya pada Elina, Elina mendongak menatap sayu Anjas. "Jangan tinggalkan aku," pintah Elina.
"Ayo berdiri," kata Anjas sambil mengulurkan tangannya pada Elina. Elina membalas uluran tangan Anjas.
Terlihat Elina sesegukan. "Kalian berdua tidak boleh pergi, kalian harus bersamaku dimanapun aku berada, kecuali di kamar atau di kamar mandi" ujar Elina disertai tangis.
Semua pelayan menahan tawa saat mendengar kalimat terakhir majikan mereka. Bahkan Jivan dan Anjas pun hampir saja tertawa. "Kami berdua tidak akan pergi," ujar Jivan yang tiba-tiba menghampiri Anjas dan Elina.
"Kita bertiga sudah berjanji untuk menjadi sahabat, berhubung kami yang lebih tua darimu maka kami menganggapmu sebagai adik kami. Saat di Perusahaan kami akan memanggilmu Bos, dan saat di rumah kita akan seperti saudara" ujar Jivan.
"Aku setuju..." balas Elina. Mereka bertiga pun berpelukan selayaknya kakak dan adik.
"Ibu tidak sia-sia menjadikan kalian bodyguardku," ujar Elina dengan senyum. Anjas dan Jivan serta yang lainnya saling tatap, mereka yang tadinya hampir saja menangis kembali tersenyum.
-----------
Waktu menunjukan pukul 8 malam, Elina sedang bersip-siap di dalam kamar. Ia memakai gaun berwarna putih dengan desain bagian leher terbuka, rambut yang tertata begitu rapih. Terlihat jelas leher jenjangnya, ia begitu terlihat cantik.
Terdengar bunyi heels yang tingginya sekitar 15 cm. Semua pelayan terpenganga menatap takjub majikan mereka. Anjas dan Jivan yang sedang duduk di sofa sontak berdiri menatap Elina dari ujung kaki hingga ujung rumbut.
"Mari kita sambut, putri Elina santika Almero" ujar Anjas meniru gaya pembawa acara.
Prok... prok... prok... terdengar tepukan tangan yang meriah dari semua pelayan. Elina tersenyum malu saat menuruni anak tangga.
"Malam ini kamu begitu cantik. Aku yakin, kamulah yang paling cantik saat diperjamuan nanti" ujar Anjas, ia memuja kecantikan Elina.
Biiiiip... terdengar bunyi kalakson mobil.
"Aku pergi dengan Erlanda, jadi kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan aku" ujar Elina pada Jivan dan Anjas.
"Kami akan tetap ikut, jangan khawatir kami tidak mengganggu kalian berdua" kata Anjas yang dibalas senyum oleh Jivan.
"Terserah!" ketus Elina kemudian berjalan ke luar menghampiri Erlanda. Erlanda menatap Elina tanpa berkedip.
"Sadar!!" teriak Elina saat ia sudah berada di depan Erlanda.
"Hehehe, kamu terlihat cantik" ujar Erlanda tersenyum menggoda.
"Dasar mantan bangsat!!" ketus Elina lalu masuk ke dalam mobil.
Hotel New York Bowery
Sebagian orang-orang berlalu lalang, sebagian pula sedang bergurau dan tertawa bersama. Dari kejauhan nampak jelas seorang wanita tersenyum lebar, malam ini menjadi malam yang indah untuknya. Niza, ya wanita itu Niza. Niza tersenyum manis pada semua tamu yang hadir. Ia berdiri disamping Johathan. Jonathan mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu, sedangkan Niza mengenakan gaun berwarna cream.
Semua tatapan yang tadinya tersorot ke Niza kini berpindah keluar. Di luar, ada Erlanda dan Elina yang sedang bergandengan tangan. Dibelakang Elina dan Erlanda, ada dua orang pria yaitu Anjas dan Jivan. Terdengar bisik-bisik tetangga yang memuji kecantikan CEO muda Perusahaan Almero.
"Mereka sangat serasi," ujar seorang tamu.
"Iya, mereka begitu telihat serasi. Aku iri dengan wanita itu, dia mendapatkan pria yang begitu tampan" timpal salah satu wanita lainnya.
"Senang bisa bertemu dengan anda Nona Elina. Anda begitu cantik malam ini," ujar Niza. Ia tersenyum menatap Elina.
"Aku akan merebut suamimu. Kita lihat saja nanti" batin Niza tersenyum picik.
"Anda terlalu berlebihan, Nona. Anda jauh lebih cantik," ujar Elina dengan senyum ramah. Ia beracting sebaik mungkin.
.
.
.
.
Bersambung....
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...