NovelToon NovelToon
Buku Merah Maroon : Pembunuhan Di Perkemahan

Buku Merah Maroon : Pembunuhan Di Perkemahan

Status: tamat
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dendam Kesumat / Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:91k
Nilai: 5
Nama Author: bung Kus

Buku Merah Maroon seolah menebar kutukan kebencian bagi siapapun yang membacanya. Kali ini buku itu menginspirasi kasus kejahatan yang terjadi di sebuah kegiatan perkemahan yang dilakukan oleh komunitas pecinta alam.

Kisah lanjutan dari Rumah Tepi Sungai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gudang Belakang

Bunyi pintu besi dibuka terdengar nyaring. Seperti teriakan bocah yang hendak menangis. Suasana malam di tengah hutan yang tenang menambah suasana mencekam. Lampu teras belakang rumah Bu Anggun berkedip sesaat.

Anggoro berdiri di luar pagar belakang rumah. Ada sebuah mobil pick up terparkir di bawah kanopi dengan empat tiang penyangga. Terdapat bekas roda mobil lain di sebelah pick up. Roda itu mengarah keluar dari rumah, menapaki jalanan berlumpur.

Tidak jauh dari tempat mobil pick up terparkir, terdapat pintu besi berwarna merah marun yang tengah dibuka oleh Mak Ijah. Anggoro berdiri di belakang Mak Ijah. Sedangkan Bu Anggun masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan di balik pintu merah.

Beberapa detik berikutnya, Bu Anggun kembali berdiri di hadapan Mak Ijah menyodorkan kantong plastik transparan berukuran besar. Dengan cekatan Mak Ijah mengeluarkan mayat Gery dari selimut yang membungkusnya. Tubuh besar itu tampak belum mengalami kekakuan atau rigor mortis. Tetapi kulitnya memucat, tak lagi seperti manusia.

Mak Ijah memperlakukan mayat Gery seperti manekin. Anggoro akhirnya dapat melihat luka di paha Gery. Ia bergidik ngeri. Salah satu tulang besarnya tampak mencuat menembus daging merah. Ada serpihan-serpihan putih dari pecahan tulang yang sepertinya sangat tajam.

"Dia terjatuh dari menara itu," ucap Bu Anggun menunjuk menara kecil untuk pemancar wifi.

"Sepertinya dia terkejut saat melihatku di bawah sini sedang mengurus mayat," sahut Mak Ijah santai. Anggoro memelotot mendengarnya.

"Siapapun pasti akan terkejut jika demikian. Bagiamana mungkin, ada orang dengan tenang membungkus mayat dengan plastik di tengah hutan begini? Kegilaan yang tak terbayangkan," sergah Anggoro kesal.

"Bukankah sudah jelas, di dalam hutan setiap saat datang kematian. Celeng yang diterkam anjing hutan. Bahkan seekor semut yang disantap trenggiling pun juga kematian. Apakah hatimu bersedih melihat yang demikian itu?" balas Mak Ijah sinis. Anggoro tidak menjawab. Bu Anggun tersenyum.

"Jangan merasa spesial karena kamu manusia, Nak. Kita memang lebih sempurna soal akal dan budi. Tapi yang namanya kematian saat datang takkan bisa diakali. Jatuhnya bocah ini dari menara pun sudah bagian dari seleksi alam," lanjut Mak Ijah merasa menang.

Anggoro merasa kesal sebenarnya karena merasa kalah berdebat dengan perempuan tua di hadapannya.

"Artinya di dalam ruangan ini kalian menimbun mayat? Apakah penghuni rumah ini juga melakukan pembunuhan?" tanya Anggoro penuh selidik.

Bu Anggun tiba-tiba saja tergelak. Tawanya pecah dan terdengar nyaring. Bahunya yang kecil berguncang dengan dadanya yang naik turun, masih terbungkus piyama berenda.

"Rasanya seharian ini aku harus menjelaskan hal yang sama berkali-kali. Kami tidak pernah melakukan apapun yang membuat orang lain ataupun makhluk lain kehilangan nyawa. Memang benar di dalam sini adalah tempat menimbun mayat untuk dijadikan pupuk kompos, diawetkan untuk pakan ikan ataupun hewan sejenis anjing hutan. Tapi kami tidak pernah menghilangkan nyawa. Kami hanya memungutnya. Corpse collector," jelas Bu Anggun bersungguh-sungguh.

"Apakah kamu penasaran dengan kondisi bagian dalam gudang ini? Silahkan masuk dan lihatlah. Lalu tanyakan pada hati kecilmu, apakah tempat ini mengerikan? Atau malah sebaliknya, tempat yang nyaman untuk hidup menyatu dengan alam?" Bu Anggun mendekatkan wajahnya pada Anggoro. Seolah merayu, memantik rasa penasaran di hati remaja jago pelajaran IPA itu.

Sedikit ragu, Anggoro mengayun langkah masuk ke dalam ruangan berpintu merah marun. Bu Anggun mengekor di belakang. Mak Ijah masih sibuk menggulung mayat Gery pada plastik.

Kegelapan menyergap indera penglihatan Anggoro. Sedangkan indera penciumannya seolah tersengat aroma anyir yang tajam. Untuk sesaat berhasil membuat Anggoro merasakan pusing. Namun beberapa detik setelahnya dia mulai terbiasa. Anggoro sendiri cukup terkejut bagaimana tanpa sadar adaptasi inderanya sangat cepat.

Bu Anggun meraih saklar lampu di dinding. Saat lampu LED menyala terang, Anggoro mengernyit sesaat. Sinar berwarna putih bersih menghujani netra. Seperti tirai pertunjukan yang terbuka lebar, Anggoro ditunjukkan deretan mayat dalam wadah plastik transparan yang digantung berjejer. Lalat hijau beterbangan mengerubuti dan menempel pada plastik.

Anggoro tertegun. Dia terkejut. Bukan karena melihat mayat-mayat di hadapannya termasuk tubuh Nana dengan dadanya yang penuh noda merah, melainkan Anggoro merasa tidak apa-apa melihat hal itu. Bukankah seharusnya ia takut? Mual? Atau bahkan jatuh pingsan. Tidak, Anggoro malah merasa berdebar.

"Tubuh yang sudah berbau, akan kami timbun bersama dedaunan. Untuk pupuk hutan. Sedangkan bagian-bagian yang tidak utuh disimpan pada lemari pendingin," jelas Bu Anggun santai.

"Mayat siapa saja ini? Kenapa tidak pernah ada orang, teman, ataupun keluarganya yang mencari?" tanya Anggoro penuh selidik.

"Kebanyakan mereka memang mengakhiri hidupnya sendiri di hutan ini. Orang-orang yang sudah merasa lelah dengan hidupnya. Kenapa tidak ada yang mencari? Tidak ada jawaban pasti. Mayat tidak bisa ditanyai. Tetapi mungkin karena mereka memang tidak memiliki orang ataupun keluarga yang peduli. Sudah kukatakan bukan, hubungan antar manusia itu rapuh. Hanya didasarkan pada unsur kepentingan dan keuntungan saja," balas Bu Anggun. Anggoro tidak membantahnya.

"Bagaimana mungkin Anda memiliki fasilitas seperti ini di tengah hutan? Listrik, pemancar wifi, bukankah hal seperti itu membutuhkan uang yang besar? Mungkin soal makan hutan bisa menyediakannya. Pembantu yang tidak perlu dibayar juga tidak masuk dalam hitungan. Namun, Anda tetap butuh uang dalam jumlah yang banyak? Pagar batas hutan, pembangunannya dengan uang pribadi bukan?" sergah Anggoro. Rasa penasarannya menggeliat, mendesak keluar melalui mulutnya.

"Oh, soal uang? Semua ini warisan Zainul Rich Man. Royalty buku merah maroon juga masih berjalan setiap bulan. Aku hanya menjalankan uang miliknya sesuai wasiat yang dituliskan," jawab Bu Anggun tanpa keraguan.

"Lagipula soal pembangunan pagar hutan aku hanya mengeluarkan uang untuk materialnya saja. Sepuluh pekerjanya tidak meminta bayaran," lanjut Bu Anggun. Anggoro menoleh, ekspresinya terlihat aneh.

"Apa maksudnya?" tanya Anggoro penasaran.

"Aku memilih sepuluh pekerja yang tinggal sendirian, baik itu perjaka yang tidak punya orangtua. Ataupun para duda yang ditinggalkan anak istrinya," jawab Bu Anggun. Anggoro semakin merasa bingung. Bu Anggun tersenyum puas melihat ekspresi Anggoro.

"Sepuluh pekerja itu tewas. Jadi aku tidak perlu membayar mereka."

"Hah? Bagaimana bisa?" pekik Anggoro.

"Sebenarnya bagian hutan di luar pagar masih terdapat hewan liar. Anjing hutan, bahkan mungkin macan. Siapa yang tahu. Saat pengerjaan pagar hampir selesai di bagian selatan, tubuh sepuluh pekerja itu penuh luka, tercabik-cabik."

Anggoro mengernyit mendengar penjelasan Bu Anggun yang terdengar tidak masuk akal. Pada saat itu Mak Ijah masuk menyeret mayat Gery di dalam plastik.

"Sehari sebelumnya aku nggak sengaja membuang sekitar tiga ember darah kambing di lokasi sekitar pembangunan pagar. Kambing-kambing itu disembelih untuk memberi makan para pekerja," sahut Mak Ijah sambil lalu.

"Gila," gumam Anggoro spontan.

1
Tia Supriyanto
Teror Author kok tiba2 menghilang?
estycatwoman
ceritanya bkin ngelus dada ,anak sekloah dah tau balas dendam se ngeri ni serem yakkk 😓
estycatwoman
nice
Alexander
aku merasa novel ini ditamatkan dengan agak tergesa gesa sehingga ada beberapa detail yang lepas.

terima kasih banyak atas karyanya.
Alexander
walaupun sudah diskenario sedemikian rupa, polisi seharusnya menangkap banyak kejanggalan. dari jenis mobil nya saja sudah berbeda.
Alexander
bagaimana dengan bastian ?
Alexander
tetap saja akan meninggalkan jejak rumput yang terbakar.
Alexander
tapi harus diingat bahwa rombongan itu berangkat dengan menggunakan minibis berwarna hitam, bukan mobil bak terbuka.
Alexander
kalau IIk nya memilih bungkam, mau seperhatian apapun seorang kakak, tetap tidak akan tahu isi hati adiknya.
Alexander
kenapa tidak kabur saja ? menjauh dari keluarga. cari uang sendiri, masak sendiri , makan sendiri, tidurpun sendiri.
Alexander
mereka pembunuh yang pintar memainkan kata kata 🤣
Alexander
mungkin sebenarnya ada yang mencari, tapi si Anggun menutupi fakta
Alexander
jika dimakamkan dengan layak, juga akan menjadi pupuk.
Alexander
tentu saja orang normal tidak akan pernah mengerti jalan pikiran orang gila. 🤣
Alexander
orang berpikiran sempit bernama anggun.
Alexander
di bab awal narasinya rambut mereka memiliki potongan yang sama.
Alexander
itu bukan cinta. itu obsesi.
Alexander
posisi mereka kan ada di halaman belakang ? pak dolah berdiri di bawah tiang pemancar wifi. kok bisa ada meja makan ?
Alexander
geng bocah ini tidak ada sopan santunnya sama sekali kepada orang yang lebih tua.
Alexander
kuku yang masih kuat menempel di jari mana bisa lepas hanya karena memasak, utuh pula.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!