NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Seutuhnya

WARNING!!!

Nggak usah dibayangin:)

***

Indra perlahan bergerak, menindih tubuh Tiwi yang tidak seberapa besar dibanding tubuhnya. Indra dapat merasakan tubuh tersebut menegang karena ulahnya.

Lalu bibirnya ia dekatkan ke telinga Tiwi. Membisikkan sesuatu yang semakin membuat tubuh di bawahnya menegang kaku.

“Kamu mau punya anak berapa?” Bisiknya dengan nada suara yang serak.

Tiwi mengerjapkan matanya beberapa kali. Memandang mata sayu milik Indra yang kini sudah berada tepat di atasnya.

Indra meniup membuat Tiwi reflek menutup matanya.

“Napas.” Ujar Indra menyeringai.

Tiwi mulai tersadar lantas memalingkan wajahnya ke samping. Menyedot banyak-banyak pasokan udara sampai memenuhi rongga paru-parunya.

Indra dapat merasakan dada Tiwi kembang kempis sebab pernapasannya sudah kembali normal. Lantas ia menarik dagu Tiwi agar mereka kembali bersitatap.

“Aku nggak perlu nunggu setahun kan sampai kamu benar-benar siap?” Indra bertanya lembut, tangannya tidak tinggal diam membelai pipi Tiwi.

Tiwi kembali merasa kaku. Namun kepalanya tetap reflek mengangguk, hal tersebut membuat senyum lebar merekah di bibir Indra.

Indra merubah posisi kepalanya, kini ia menenggelamkannya di ceruk leher Tiwi seraya menghirup aroma khas yang selalu melekat di tubuh istrinya.

“I want you tonight.” Bisik Indra parau.

Saat bibirnya hendak bersentuhan dengan kulit leher Tiwi, gerakan tangan wanita itu yang seolah mencegah membuatnya terpaksa berhenti.

Indra kembali menegakkan kepala dan alis yang saling bertaut pertanda bingung. “Kenapa? Kamu belum siap?”

Tiwi menggeleng. “Bu-bukan, a-ku mau ke kamar mandi dulu, pengen pi-pipis.” Ujar Tiwi gagap.

“Kamu jangan ngehindar atau sembunyi di kamar mandi, aku bisa aja ambrukin pintunya,” peringat Indra membuat Tiwi meneguk salivanya, menatap was-was sang suami.

Tiwi kembali mendatarkan wajahnya agar tidak tak disalah artikan oleh Indra. “Awas!”

“Ngusir?” Tanya Indra menaikkan satu alisnya.

“Ya kamu mau kalau aku pipis di sini?” Tiwi menunjuk ranjang dengan dagunya.

Dengan berat hati Indra berguling ke samping. Tiwi memanfaatkan situasi dengan helaan napas lega yang ia loloskan.

Indra yang mendengar helaan napas tersebut menyeletuk. “Dua menit dari sekarang kala—”

“OK!!” Pekik Tiwi lalu bangkit dari ranjang dengan gerakan yang sangat ia paksakan.

Indra tertawa dalam hati melihat Tiwi yang sesekali menghentakkan kakinya kesal saat berjalan menuju kamar mandi.

Indra membatin. Ngerjain kamu begini seru juga ternyata.

***

Setelah menyelesaikan buang air kecilnya, Tiwi tidak langsung keluar dari kamar mandi. Wanita itu berdiri di depan wastafel, memandang pantulan dirinya lewat cermin yang kini mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat.

Mata Tiwi beralih ke pintu, belum ada sama sekali tanda-tanda Indra akan menyusulnya. Ia ingat jelas pintu tersebut ia kunci sebanyak tiga kali putaran, antisipasi kalau Indra benar-benar nekat mendobrak pintu tersebut.

Tiwi tidak yakin sudah berapa lama waktu yang ia habiskan di dalam kamar mandi, sepertinya sudah lewat dari dua menit yang Indra intrupsikan.

Sayup-sayup terdengar suara televisi dari luar. Rupanya Indra mulai jenuh menunggu dirinya yang tidak kunjung keluar.

Tiwi menatap pantulan dirinya, seolah beradu tatap dengan orang sungguhan.

“Kalau lo menghindar terus, sampai kapan lo akan siap, Wi. Dulu lo memang bisa menolak karna lo dan Indra nggak saling suka. Sekarang udah beda. Lo harus bisa penuhi hak suami lo dengan ikhlas.” Ujar Tiwi seolah berbicara pada sosok perempuan yang mirip dirinya di cermin.

Tiwi mengangguk mantap. “Gue bisa. Gue ikhlas layani suami gue.”

Setelah meyakinkan diri, Tiwi mulai beranjak membuka pintu secara perlahan. Ia bisa melihat wajah frustasi Indra yang tengah menatap ke arahnya.

“Tujuh menit lewat dua puluh tiga detik. Kamu di dalam pipis atau pup?” Nada suara Indra ketus.

Tiwi meringis, mulai naik ke ranjang dan duduk menghadap Indra. “Meyakinkan diri setelah pipis.”

Indra paham situasi antara dirinya dengan Tiwi. Terburu-buru atau memaksa justru akan menimbulkan kesan buruk. Jadi biarkan semuanya terarah, Indra hanya perlu bersabar. “Jadi sudah ditahap mana yakinmu untuk menjadi istri seutuhnya?”

Tiwi menelan ludah tidak bisa menampik rasa gugup yang kembali hadir meski sudah memutuskan untuk yakin. Melafalkan basmalah dalam hati dan memancarkan senyum lebar, Tiwi menjawab. “Aku udah siap sesiap-siapnya.”

Indra ikut mengulas senyumnya mendengar jawaban Tiwi yang cukup meyakinkan.

“Sini mendekat.” Titah Indra. Tiwi mendekat sesuai arahan. Membaringkan dirinya saat Indra menariknya untuk melakukan posisi tersebut.

Saat Indra mulai mendekat dan hampir menyentuh bibir Tiwi, suara wanita itu kembali menahannya.

“Kenapa lagi?” Tanya Indra berusaha keras agar bersabar.

“Matiin lampunya dulu, Ndra, aku malu kalau terang-terangan gini.” Cicit Tiwi dengan wajah yang mulai merona.

Indra mengangguk, beranjak mematikan semua lampu, menyisakan satu lampu tidur yang di berdiri di nakas bagian kiri.

“Kamar udah dikunci kan? Mana tau ada yang datang, Ndra.” Ujar Tiwi was-was.

“Sekarang jam sebelas lewat, sayang. Semua pasti udah tidur, lagian di lantai tiga hanya diisi oleh kita berdua.” Ujar Indra lalu kembali menaiki ranjang, tepatnya merapatkan diri dengan istrinya.

Tak ingin membuang waktu lagi, Indra mulai mengecup mesra kening Tiwi, menyalurkan perasaan betapa ia sangat mencintai wanita itu.

Tiwi mengalunkan tangannya di leher Indra, lalu memejamkan mata saat wajah Indra mulai mengikis jarak di antara mereka.

Tujuh detik.

Delapan detik.

Tiwi sudah berhitung banyak sesuai dengan perpindahan detik ke detik berikutnya. Namun sapaan bibir Indra belum kunjung ia terima. Perlahan ia membuka matanya, mendapati Indra yang tengah tersenyum lebar.

Kening Tiwi terlipat. Bingung. “Kok?”

Indra tersenyum, mengelus lembut kepala Tiwi. “Niatin yang benar, sayang. Curahkan doa agar kegiatan kita ini menghasilkan sesuatu yang kita sudah nantikan.”

Tiwi tersenyum. “Udah kok, sayang.” Ujarnya mengeratkan pelukan pada leher Indra.

Indra merapatkan bibir mereka, melu*mat lembut bibir yang terasa manis itu. Tak tinggal diam, Tiwi yang terbuai pun mulai membalas luma*tan tersebut.

Napas keduanya sama-sama menggebu, luma*tan-luma*tan lembut kini mulai terasa panas.

Indra melepas ciu*man kala Tiwi kehabisan napas, ia berpindah ke area leher menciptakan karya-karya indahnya di sana.

Tangan Indra mulai menggerilya, menyusup ke dalam baju tidur Tiwi yang berjenis kaos. Ia mulai meremas sesuatu yang hanya dihalangi oleh tank top. Indra hapal sekali kebiasaan Tiwi yang satu ini, tidur dengan tidak menggunakan bra.

Desahan Tiwi lolos kala sensasi aneh menyerang tubuhnya.

Entah sadar atau tidak, keduanya sudah tidak lagi memakai apapun. Sama-sama polos.

Indra bisa melihat wajah memerah Tiwi yang terkena sorotan lampu tidur.

“Pelan-pelan aja, Ndra,” ujar Tiwi malu.

Indra tersenyum, mendaratkan satu kecupan mesra di kening Tiwi. “Tenang aja, sayang.” Ujar Indra seraya menarik selimut guna menutupi tubuh polos mereka.

Perlahan tapi pasti keduanya mulai menyatukan diri, berbagi perasaan, kenikmatan, dan kehangatan bersama.

Di malam yang panjang ini,

Ada sesuatu yang hilang tapi diikhlaskan.

Ada bahagia yang tak terukur besarnya.

Ada cinta yang kian menambah.

Dan,

Ada seseorang di balik pintu. Seseorang yang sudah mulai membuka pintu, namun mendengar desahan, orang itu mengurungkan niatnya.

Kembali berbalik setelah memastikan pintu terutup rapat. Orang itu melangkah pergi, satu tangan mengelus perut buncitnya, dan tangan yang lain memegang paper bag berisi sebuah gaun tidur terbuka yang mampu mengundang hasrat lelaki.

Yuna tersenyum lebar, mulai masuk ke dalam lift. Pikirannya mulai menerawang ke hari esok, apa jadinya bila ia menggoda pasangan suami-istri itu? Hm, sepertinya bakalan seru. Pikir Yuna

***

Tiwi terbangun kala jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Kegiatan mereka berakhir sampai jam satu tadi. Dengan kantuk yang masih terasa jelas, Tiwi mulai bangkit, memindahkan lengan Indra dari atas perutnya yang polos.

Tiwi meringis sakit pada area selangkangannya. Tak urung ia tetap berdiri. Melangkah menuju sakelar, menyalakan lampu kamar.

Betapa kagetnya ia melihat pakaian yang sudah tergeletak ke segala arah. Mengatur napas, ia mulai memungut satu-satu pakaiannya dan pakaian Indra, lalu memasukkannya ke keranjang baju kotor.

Tiwi masuk ke dalam kamar mandi. Wajah kantuk terlihat jelas di pantulan cermin, serta rambut yang urak-urakan. Namun arah matanya tidak lepas dari banyaknya bercak-bercak merah yang Indra buat.

Tiwi menggeleng takjub memandang semua itu. Baru tahu kalau ternyata Indra memiliki sisi yang liar.

“Astaga, Indra-Indra. Butuh waktu banyak untuk menutupi semua ini.” Gumam Tiwi meraba-raba lehernya. Setelahnya mulai mengguyur tubuh dengan air hangat.

Setengah jam, Tiwi keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju mandi dan handuk yang melilit rambutnya. Sensasi dingin dari AC menyapa kulitnya. Kalau saja ia tidak kotor, Tiwi tidak akan mandi sepagi ini.

Tiwi mendekati Indra yang masih pulas. Menepuk-nepuk pipinya agar terbangun.

Sensasi dingin di kulit wajahnya cukup mengganggu tidurnya. “Apa sih, yang?” Racau Indra dengan mata yang masih tertutup.

“Bangunlah. Sana mandi bersih, bentar lagi Subuh.” Ujar Tiwi.

“Lima menit lagi, yang.” Ujar Indra seraya menarik selimut sebatas dagunya.

Tiwi mengeluh. “Aduh, udah jam empat lewat loh, Ndra.”

“Iya sayang, iya!” Indra menyibak selimut dengan mata yang masih tertutup, perlahan-lahan mulai bangkit.

Namun teriakan Tiwi menghentikan pergerakannya.

“INDRAA!!!”

Indra reflek membuka mata dan mendapati Tiwi berdiri membelakanginya. “Jangan teriak napa, masih pagi begini. Kamu mau lombain ayam berkokok?”

Tiwi berkali-kali merapalkan istighfar dalam hati. “Jangan gitu dong, Ndra. Tutupin, nggak enak dilihatin.”

Indra yang sepenuhnya sudah sadar mengikuti arah unjuk Tiwi yang ke bawah. Matanya seketika melotot mendapati tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun, pantas saja ia merasa lebih dingin dari biasanya. Buru-buru ia menarik selimut, dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi tanpa bicara apapun.

Tiwi menghela napas lega. Mulai bergerak melepas kain alas tempat tidur dan juga bantal, sesudah itu ia memasukkannya ke keranjang pakaian kotor. Tiwi kembali mengambil seprai yang baru dan memasangnya. Beres.

Bertepan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka, memunculkan Indra yang sudah segar dengan lilitan handuk di pinggangnya.

Tiwi memalingkan wajah setelah tidak sengaja menyaksikan pandangan eksotis itu. Mukanya memerah mengingat kembali kilasan kegiatan mereka beberapa jam yang lalu.

“Matiin ACnya, yang. Dingin banget,” ujar Indra, setelahnya masuk ke walk in closet.

Sesudah mematikan pendingin ruangan itu, Tiwi ikut melangkah masuk ke walk in closet untuk memakai baju karena Adzan Subuh sudah mulai berkumandangan dari kedua ponsel mereka dan sayup-sayup terdengar dari mesjid.

***

tbc.

Like yuk Kak, komen juga..

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!