"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAP BERANGKAT BERSAMA PAPA
Di ruang tengah, Arkana tampak sangat sibuk dan bersemangat. Bocah kecil itu memasukkan robot besar dan beberapa balok lego pilihan ke dalam tas ransel dinosaurusnya dengan riang.
Sementara itu, Alana melangkah masuk ke dalam kamar tidur utamanya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti Arkana. Kamar itu tidak besar, hanya berisi satu kasur, lemari kayu sederhana, dan meja rias kecil. Namun, suasananya sangat rapi dan wangi.
Baru saja Alana membuka pintu lemari, ia mendengar langkah kaki yang berat namun tenang mendekat. Saat ia menoleh, sosok Samudera sudah berdiri di ambang pintu, lalu melangkah masuk dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Kehadiran Samudera seketika membuat kamar yang sempit itu terasa semakin sesak. Aura dominannya seolah memenuhi seluruh ruangan.
"Samudera? Ada apa lagi? Arka sedang di luar," ucap Alana sedikit gugup, menghentikan aktivitasnya melipat baju.
Samudera tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Alana, matanya menyapu sekeliling kamar yang selama empat tahun ini menjadi saksi bisu perjuangan Alana membesarkan putra mereka sendirian tanpa dirinya. Ada rasa sesak dan bersalah yang kembali mencubit dada pria itu.
Samudera berhenti tepat di belakang Alana. Ia tidak menyentuh wanita itu, namun jarak mereka begitu dekat hingga Alana bisa mencium aroma parfum maskulin Samudera yang familier.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu sebelum aku pergi membawa Arkana," bisik Samudera, suaranya berat dan terdengar begitu dalam di keheningan kamar. "Kamu benar-benar tidak apa-apa tinggal sendiri di sini beberapa hari ke depan?"
Alana membalikkan badannya, bersandar pada pintu lemari yang terbuka untuk menatap Samudera. "Aku sudah biasa sendiri selama empat tahun, Samudera. Ini rumahku, tempat teramanku. Kamu tidak perlu cemas."
"Dulu berbeda, Alana. Dulu aku tidak ada di sini," potong Samudera cepat, sepasang matanya berkilat tajam namun sarat akan kekhawatiran. "Sekarang, setelah aku tahu di mana kamu dan anakku berada, meninggalkanmu sendirian di rumah sewa sekecil ini membuatku tidak tenang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Bagaimana kalau ada orang jahat?"
Alana menghela napas pendek, mencoba tersenyum tipis untuk menenangkan pria di hadapannya. "Lingkungan di sini aman. Tetangga-tetangga di sini sangat baik kepadaku."
Samudera terdiam, menatap lekat wajah wanita yang masih sangat dicintainya itu. Perlahan, ketegangan di wajahnya mencair. Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa lembar kartu kredit hitam dan seikat uang tunai ke atas meja rias di samping Alana.
"Aku tidak bisa memaksamu ikut hari ini. Tapi tolong, jangan tolak ini," ujar Samudera dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Gunakan untuk semua keperluanmu selama aku tidak ada. Dan pegang ponselmu setiap saat. Aku akan menghubungimu setiap jam untuk memastikan keadaanmu."
Alana menatap benda-benda mewah di atas meja riasnya, lalu kembali menatap Samudera. Kali ini, ia tidak mendebat. Ia tahu, membiarkan Samudera memberikan proteksi ini adalah satu-satunya cara agar pria itu mau melangkah keluar dari rumah ini bersama Arkana tanpa rasa cemas yang berlebihan
"Ibuuu! Arka sudah selesai!"
Suara melengking Arkana dari ruang tengah seketika memecah ketegangan yang sempat menyelimuti kamar sempit itu. Panggilan polos sang putra seolah menjadi penyelamat bagi Alana dari tatapan intens Samudera yang menguncinya sejak tadi.
Alana berdeham pelan, memutuskan kontak mata dengan Samudera, lalu bergegas merapikan sisa pakaian Arka yang sudah ia lipat ke dalam tas jinjing kecil.
"Iya, Jagoan! Ibu keluar sekarang!" sahut Alana sedikit meninggikan suaranya agar terdengar sampai ke luar.
Ia menoleh sekali lagi ke arah Samudera yang masih berdiri bergeming di dekat meja rias. "Ayo keluar. Arka sudah menunggu," ajak Alana pelan seraya melangkah mendahului pria itu membuka pintu kamar.