Takdir seakan mempermainkan kehidupan Lintang Arjuna, ia yang dulu harus merelakan Danuar Anggara, kekasihnya untuk menikahi Libra, sang kakak, kini ia harus terlibat hubungan kembali dengan pria di masa lalunya.
Awalnya Lintang pikir Danuar datang menawarkan sejuta harapan dan cinta terpendam. Namun, siapa sangka Danuar justru kembali dengan misi membalas dendam atas rasa sakit yang Lintang torehkan di masa lampau.
Hari-hari bersama Danuar begitu menyesakkan. Dia bukan sekadar istri di atas kertas, dia adalah pengasuh kedua anak kembar Danuar yang harus selalu menuruti perintahnya tanpa dihargai sedikitpun.
Hingga akhirnya Lintang begitu sakit hati dan tidak tahan oleh perbuatan Danuar yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan serta merasa seperti istri murahan, ia memutuskan untuk diam-diam pergi dari kehidupan Danuar, saat itulah Danuar menyadari kesalahannya terhadap sang istri.
Bagaimana Kehidupan mereka ke depannya? Apakah ada kata damai atau justru perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Murka
"Kenapa Dita tidak boleh ikut?" tanyaku saat kami berdua duduk di dalam mobil Pak Samuel. Dia menghirup udara lalu menghidupkan mesin mobil. "Biar nggak biasa jadi ekor orang lain."
Aku hanya mendesis mendengar jawaban Pak Samuel padahal dengan adanya Dita di sisi kami akan membuatku lebih merasa nyaman. Jika berdua begini aku merasa kaku, walau bagaimanapun hubunganku dengan Mas Danu tetap saja diri ini adalah seorang istri.
"Katanya mau bicara tentang Libra dan Danu, tidak boleh ada orang lain yang tahu tentang kerumitan hubungan kami di masa lalu. Ini seperti aib bagi orang lain yang tidak berkepentingan."
Aku mengangguk-angguk setuju, Pak Samuel ada benarnya. Jika kami membawa Dita kami tidak akan leluasa berbicara. "Bisa ceritakan sekarang?" Aku yang sangat penasaran menjadi tidak sabaran.
"Lagi males bicara panjang lebar jika perut masih lapar. Nanti saja."
"Oke." Aku tidak akan memaksa, Pak Samuel mau bercerita saja aku sudah sangat berterima kasih. Pak Samuel menatap ke arahku lalu tersenyum.
"Ada yang salah dengan penampilanku?" Aku memeriksa pakaianku barangkali ada sesuatu yang harus dibenahi. Pria itu menggeleng membuatku semakin bingung.
Setelah itu, sepanjang perjalanan aku memilih diam dan menikmati pemandangan di luar kaca sedangkan Pak Samuel sendiri fokus menatap jalanan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai pada sebuah restoran bernuansa Jepang. Pak Samuel mungkin mempertimbangkan waktu agar tidak telat bagi kami kembali ke perusahaan nantinya.
"Di sini nggak apa-apa, kan?"
Sekali lagi aku mengangguk, tidak penting restoran dan menunya seperti apa, yang terpenting bagiku adalah kisah masa lalu antara Mas Danu, Kak Libra dan Pak Samuel yang sudah aku lewatkan.
"Restorannya meskipun kecil tapi ini rekomen banget. Biasanya tempat anak muda nongkrong, lihat saja desain interior maupun eksteriornya bergaya romantis."
Apa yang disampaikan Pak Samuel bagiku tidaklah penting, jadi tanpa menjawab aku langsung turun dan menutup pintu mobil. Pak Samuel pun ikut turun dan masuk terlebih dahulu ke dalam.
Menimbang waktu kami yang tidak banyak, Pak Samuel langsung memesankan makanan untuk kami berdua. Aku pun tidak keberatan dengan menu yang dipesannya karena memang tidak berselera untuk makan apapun.
Menu dengan cepat dihidangkan di atas meja. Kami segera menikmatinya dalam diam agar bisa makan dengan cepat.
"Wajahmu kok kusut banget sih dari tadi. Padahal pakaiannya sudah pas di tubuhmu tapi auranya kurang terpancar karena pemiliknya seperti tidak bergairah menjalani hidupnya. Ada masalah?"
"Ya," jawabku singkat.
"Boleh ceritakan barangkali aku bisa membantumu."
Aku menggeleng dan berkata, "Tidak penting, hanya masalah kecil. Sekarang waktunya Pak Samuel menepati janji."
Dia mengangguk, ketika hampir bicara ponselnya berbunyi. Dia mengangkat tangan sebagai tanda meminta waktu sebentar. Aku biarkan dia menerima telepon sampai selesai tanpa ada niatan untuk menyela atau menggangunya.
"Dari Bu Bos," terangnya dan aku menganggukkan kepala.
"Aku sudah izin tak apa katanya telat dikit."
"Tapi ada baiknya kita disiplin," ucapku mengingatkan.
"Ya kau benar, tapi aku nggak mau cerita sebelum kamu menceritakan kenapa murung sedari pagi."
Aku berdecak kemudian terpaksa menceritakan bahwa Mas Danu telah menyembunyikan putrinya dariku. Pak Samuel terkekeh dan berkata seharusnya aku tidak usah pusing memikirkan hal itu. Aku ingin memberitahu bahwa mereka sudah menjadi tanggung jawabku juga karena saat ini statusku bukan hanya tantenya, melainkan ibu tirinya juga.
Namun, aku mengurungkan diri tatkala mengingat hubungan buruk antara Pak Samuel dengan Mas Danu. Aku tidak ingin Pak Samuel membatalkan tentang cerita yang ia janjikan.
"Danu itu lucu ...." Pak Samuel memulai ceritanya tentang Mas Danu dan aku fokus mendengarkan. Sebelum bercerita ke arah hubungan mereka yang memburuk Pak Samuel terlebih dahulu menceritakan hal konyol antara keduanya. Ceritanya yang benar-benar kocak membuatku tidak mampu menahan tawa. Pak Samuel juga sama, dia tertawa lepas sebelum ceritanya itu mampu ia selesaikan.
"Jadi awalnya Mas Danu sama Bapak adalah teman baik, terus apa benar gara-gara Kak Libra hubungan kalian menjadi hancur berantakan? Ada cinta segitiga ya diantara kalian?"
Aku melihat wajah Pak Samuel mendadak tegang. Apakah karena pertanyakanku yang sensitif?
"Pak Samuel maaf kalau pertanyaanku tidak sopan tapi aku perlu tahu bahwa ...."
Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, aku menyadari tatapan Pak Samuel ke arah lain. Reflek aku mengikuti arah pandangannya.
Betapa terkejutnya aku ketika menyadari sesosok pria menatap tajam dan dingin ke arah kami seraya mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.
"Mas Danu," lirihku. Nyaliku menciut kala melihat wajah memerah dengan rahang tegas dan dahi mengkerut itu mengintimidasi. Mas Danu berjalan dengan langkah cepat ke arah kami.
"Samuel!" teriaknya bersamaan dengan derap sepatu yang seolah menghentikan waktu.
Bug, bug, bug.
Aku terlonjak kaget mendapati Mas Danu melemparkan bogeman pada Pak Samuel. Pak Samuel yang nampak terkesiap tidak siap dengan pukulan Mas Danu tidak berhasil menangkis tangan pria itu di wajahnya.
"Mas Danu hentikan!" Aku tak kalah berteriak melihat sudut bibir Pak Samuel mengeluarkan darah. Namun, Mas Danu tidak mau berhenti hingga terpaksa aku mendorong tubuhnya sampai terhuyung ke belakang.
"Apa salahku? Datang-datang kau memukul, dasar pria temperamental!" Pak Samuel mengelap sudut bibirnya lalu menyeringai.
"Apa salahmu? Masih bertanya? Kau tahu kan kalau Lintang ini istriku? Mau mengulangi kesalahan yang sama hah?!"
Pak Samuel terkejut sepertinya dia memang tidak tahu akan hubungan kami. "Istri?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Kembali Mas Danu menyerang membuat orang-orang yang sedari tadi hanya menyaksikan dalam diam berteriak histeris.
"Mas hentikan!" Aku menangkap tangan Mas Danu agar berhenti menyerang dengan membabi buta.
"Hentikan Lintang? Aku mau membunuhnya!" sentak Mas Danu dengan tatapan membunuh.
"Tidak boleh Mas, kamu tidak boleh membunuh orang." Aku benar-benar panik.
"Pak pergilah!" Aku harap Pak Samuel segera pergi dari tempat ini.
"Kamu boleh makan bersama pria manapun tapi tidak dengan dia!" Mas Danu menunjuk Pak Samuel dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Kamu pikir aku takut Danu." Bukannya pergi Pak Samuel malah menantang dan bersiap menyerang.
"Tolong! Kenapa kalian diam saja?!" Aku sungguh geram dengan orang-orang di sekitar yang tidak tidak berani mendekat. Setelah aku meminta tolong beberapa dari mereka langsung memisahkan keduanya.
"Awas kamu Sam, ini belum berakhir!" seru Mas Danu sambil menarik tanganku dengan kasar dan membawaku keluar dari restoran.
"Mas Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri." Tanganku yang dicengkeram terasa sakit sekali. Namun, Mas Danu yang murka mana mungkin mau mendengarkan. Ia semakin melangkah cepat membuatku semakin kesakitan. Usahaku untuk melepaskan diri sama sekali tidak berhasil.
Setelah membuka mobil dia langsung menghempaskan tubuh ini ke dalam dengan tenaganya yang kuat. "Berani sekali ya kamu berselingkuh dengan dia setelah menjadi istriku. Apa kamu belum juga paham kalau dia itu musuh besarku?!"
"Aku tidak berselingkuh Mas, aku hanya mentraktir dia karena telah membantuku menjadi seorang manager," terangku.
"Manager? Manager?" Dia seperti bertanya tapi sorot matanya semakin tajam. Dia langsung tancap gas dan mengemudikan mobil dengan kencang sehingga tubuh ini terombang-ambing di dalam badan mobil.
"Mau mati bersama?"
Wajahku memucat mendapatkan pertanyaan semacam ini.