Patah hati terhebat adalah, mencintai seseorang yang sudah tak ada lagi di dunia ini.
Walau 10 tahun telah berlalu, faktanya hati Luna belum mampu merelakan kepergian Evan, kendati 6 tahun sudah ia menjalin kasih dengan Nathan.
Ketika Luna sudah berpasrah dengan takdir diri dan cintanya, semesta seolah kembali berhasil mengaduk perasaannya.
Tiba-tiba ia kembali di pertemukan dengan pria dengan wajah dan suara menyerupai Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34•
#34
Ketiganya diam mematung, berbicara dalam angan dan pikirannya masing-masing, ada rasa yang tak bisa dijabarkan maknanya. Begitulah, karena jika menyangkut masa lalu, ada saja salah, serta khilaf. Namun untuk memundurkan sang waktu tentu tidaklah mungkin.
Hubungan rumit pernah terjalin diantara ketiganya, namun bukan hanya satu orang saja yang patah dan terluka. Erina pernah terluka karena Kevin pergi meninggalkannya, begitu pula Gadisya yang juga merasakan sakitnya perpisahan. Tapi apakah Kevin baik-baik saja? Kevin pun pernah ikut merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tuanya. Jadi pada akhirnya ia justru mengarahkan kebenciannya pada orang yang salah, yakni cinta pertamanya.
Pada akhirnya cinta memang tak bisa dipaksakan, tapi cinta bisa hadir karena sebuah kebiasaan, terbiasa melalui semua hal bersama-sama. Waktu yang tak mungkin berulang, tapi perasaan yang pernah tumbuh bisa kembali mengakar dengan sempurna, bahkan abadi di dalam sana.
“Apa kabar, Dokter Erina,” sapa Gadisya lebih dahulu, sahabatnya semasa kuliah itu sama sekali tak menanggapi senyum dan sapaan Gadisya, ia hanya menyambut uluran tangan Gadisya sebagai basa-basi semata. Tapi kemudian seolah ingin membalas perlakuan Erina pada sang Istri, Kevin pun menyambut uluran tangan Erina sekedarnya. Bagi Erina rasanya bukan hanya dingin dan hambar, tapi juga teramat menyakitkan.
“Apakah, kamu masih tak ingin menyapaku?” tanya Erina pada mantan kekasihnya, yang kini jadi suami sahabatnya.
“Untuk apa? Bertanya kabar? Kamu pasti baik-baik saja kan, hingga bisa hadir dan mewakili Rumah Sakit tempatmu bekerja.” Sungguh sambutan yang menyakitkan namun Erina berusaha tersenyum.
“Iya, kamu benar.” Erina melangkah memasuki Auditorium, tapi kemudian ia berbalik. “Oh, Iya, ada titipan salam dari Lucas, Dan Peter. Mereka ingin kita berkumpul lagi lain waktu, seperti ketika malam terakhirmu di Jerman.”
…
“Mama, jangan lupa ya, nanti bawa makan siang ke kantor Papa.”
Kalimat perpisahan Pelangi terus terngiang-ngiang di benak Luna. Gadis kecil itu, benar-benar mendambakan sebuah keluarga sempurna. Ada Papa, Mama, dan Juga anak. Tiga orang asing yang tiba-tiba bersama, berusaha membangun sebuah keluarga. Unik, tapi nyata, walau secara tidak langsung, Pelangi ada hubungan darah dengan Mike. Tapi biar bagaimanapun, ketiganya tetap berasal dari orang tua berbeda.
Dan seperti halnya dengan khayalan keluarga sempurna ala Pelangi, maka Luna dan Mike pun tanpa sadar mengikuti alur yang sudah Pelangi siapkan. Termasuk diantaranya siang ini Mike tiba-tiba terpikirkan untuk meminta Luna datang, dan menemaninya bekerja.
"Apa-apaan, Big No ... aku masih harus menyelesaikan tulisanku." Penolakan yang jelas dan tegas, ketika jelang makan siang Mike meminta Luna datang dan menemaninya bekerja. Namun bukan Luna namanya jika ia menerima begitu saja, ajakan Mike.
"Tulisan? memang apa yang di kerjakan si putri kesayangan Dokter Kevin?" tanya Mike iseng, boleh juga menggoda istrinya di tengah-tengah penatnya pekerjaan.
"Jangan memulai pertengkaran," sindir Luna.
"Mana ada aku memulai pertengkaran, aku hanya sedang bertanya apa pekerjaanmu, bukan ingin meminta uangmu, apalagi mengajakmu bertengkar," bantah Mike, ia bersandar di singgasananya yang nyaman, sembari memainkan dasi yang sudah ia longgarkan.
"Ibu Peri," jawab Luna singkat.
"Waah jadi pekerjaanmu, menolong Cinderella?"
Luna mengurut pelipisnya yang mendadak berdenyut, sebenarnya Mike ini kenapa lagi? sikap Mike yang berubah manis tak lantas membuat Luna senang, justru Luna merasa keheranan.
"Bukan, aku Ibu Peri," jelas Luna lagi.
"Iya, iya, aku tahu kamu Ibu Perinya anakku, jadi kamu bisa kan, datang ke kantor? kalau kamu tak mau makan siang bersamaku, seperti permintaan Pelangi, tak masalah, makanlah dahulu sebelum kamu datang, oke, aku tunggu di kantor." Tak menunggu jawaban Luna, Mike pun mematikan sambungan teleponnya.
“Aku pasti sudah Gila.” Monolog Luna ketika mematikan mesin mobilnya. Ia merapikan rambut serta memastikan riasannya, bahkan seperti sebuah kebiasaan, Luna bahkan menambahkan polesan lipstik di bibirnya. Tapi ketika menyadari perbuatannya, Luna buru-buru memasukkan kembali lipstiknya ke dalam tas. “Tak salah lagi, kamu memang benar-benar gila.”
Luna menyambar tas berisi perlengkapan kerjanya, sampai-sampai ia tak berselera makan hanya gara-gara memikirkan kenapa dirinya tiba-tiba di suruh datang ke kantor Mike.
“Selamat siang, Nona, ada yang bisa saya bantu?” Sapa seorang Security.
“Siang, Pak, saya mau bertemu Pak Mike.”
“Oh, sudah ada janji sebelumnya?”
“Tidak, tapi tadi beliau meminta saya datang," jawab Luna.
“Baik, saya akan meminta resepsionis menghubungi ruangan beliau.”
Luna mengangguk, kemudian memilih duduk di kursi ruang tunggu.
Tapi kemudian seseorang yang baru keluar dari Lift, tergopoh-gopoh menghampiri Luna, “selamat siang, Nyonya,” sapa Sandi.
“Selamat siang, Sandi, kenapa kamu memanggilku Nyonya?” tanya Luna dengan suara berbisik, tak ingin menarik perhatian.
“Ah, tak apa, Anda memang istri Tuan Mike, jadi wajar jika Saya memanggil Anda dengan sebutan Nyonya," jawab Sandi dengan suara yang satu tingkat lebih keras ketimbang suara sebelumnya. Hal itu tentu segera membuat Security dan Resepsionis terdiam, merasa bersalah karena sudah menahan istri sang pemilik perusahaan.
"Mari, Nyonya, saya antar ke ruangan Tuan Mike, beliau masih di ruangannya sedang bersiap untuk rapat jam dua, siang ini."
"Hah? rapat!? tapi jelas-jelas tadi dia memintaku datang," protes Luna, susah payah datang ke kantor, justru dirinya akan ditinggalkan ke ruang rapat.
"Tak apa, Nyonya, rapat bisa di tunda, jika Tuan Mike menginginkannya." Sandi menjawab pertanyaan Luna, ia harap Luna bersedia menjadi istri Mike untuk seterusnya. Karena ia pun muak dengan tingkah Valerie yang sok berkuasa.
Luna membeo menatap Sandi, "Hentikan, Nyonya, tak perlu menatapku begitu, saya sungguh senang jika Tuan Mike, memprioritaskan Anda, karena Anda memang Istri Tuan Mike."
Luna hendak membalas perkataan Sandi, namun pintu Lift sudah terbuka.
"Silahkan, Nyonya."
Sekretaris Mike berdiri menyambut kedatangan Sandi, dan wanita yang baru ia lihat untuk kali pertama.
"Resa, kenalkan, ini Nyonya Luna, Istri Tuan Mike."
"Oo … halo, Nyo …"
Resa tak sempat menyapa Luna karena Sandi buru-buru membawanya masuk ke ruangan Mike. Padahal, Luna pun sudah mengulurkan tangannya, hendak membalas uluran tangan Resa.
"Sandi … kamu apa-apaan? aku bahkan belum sempat menyambut uluran tangan Resa." Protes Luna.
"Anda bisa melakukannya lain kali, karena Saya yakin, anda akan sering ke tempat ini," jawab Sandi sekenanya, entah kenapa ia sudah tak sabar mempertemukan Mike dengan sang istri. Mungkin ini karena untuk kali pertama Sandi merasa bahwa Mike tidak hidup dalam kendali seorang wanita seperti seperti Valerie.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Terdengar suara Mike, mempersilahkan Tamunya masuk. sepertinya Mike sudah tahu siapa yang akan datang tanpa pemberitahuan, karena …
"Sandi, aku memerlukan dokumen yang sudah kita siapkan kemarin lusa, untuk persiapan rapat nanti siang," ujar Mike Tanpa menatap Sandi, hingga kemudian ia menyadari, kenapa Sandi hanya diam tak bersuara.
Mike menelan ludah, diam tak bisa melanjutkan kalimatnya, "Silahkan masuk Nyonya … Tuan Mike sudah menunggu."
“Jangan khawatir, Tuan, karena saya pastikan dokumen tersebut sudah siap,” lanjut Sandi sambil berjalan kembali ke pintu,
Untuk kali pertama, Mike merasa gugup hanya karena berhadapan dengan Luna, padahal mereka kerap berhadapan, hanya saja suasananya berbeda.
“Apakah, aku tak dipersilahkan duduk?” Tanya Luna dengan suara lirih.
Namun Mike, seperti tak mendengar pertanyaan tersebut, ia hanya diam mematung. Berusaha mengingat kembali, memori ketika dahulu menjadikan Luna sebagai Ratu di hatinya.
“Mike … ?? Apa kamu mendengarku??”
baru runut ke semua nya