Novel ini merupakan sekuel dari Novel author yang sebelumnya, berjudul Cinta Dalam Diam,
Kelanjutan cerita dari kisah Nabila, putri dari Nuna dan Almarhum Dimas Adiwijaya yang kini menjadi putri kesayangan Dika Pratama, ayah sambung Nabila.
Meskipun Dika merupakan ayah sambung tapi perlakuannya melebihi seorang ayah kandung, wajar saja karena Dika yang membantu Nuna selama dia mengandung Nabila..
Bagaimana kisah selanjutnya? Nabila yang sudah beranjak dewasa? akan kah serumit kisah cinta sang Mama????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"aa..aku tidak bisa menjawabnya sekarang!" akhirnya Nabila bisa juga berkata kata setelah detik terdiam.
"baiklah.. aku akan menunggu jawaban darimu dan selama kau memikirkannya jangan pernah dekat dengan Bian atau lelaki manapun juga!" sahut Arga mewanti wanti Nabila.
"teman lelakiku bukan hanya Bian bahkan dengan Kevin pun aku berteman, apa jadinya jika tiba tiba aku menjaga jarak dengan mereka?" ujar Nabila dengan gusar.
"setidaknya jangan terlalu dekat dengan Bian! aku tidak mau kau berhubungan dengan laki laki brengsek seperti dia!" kecam Arga.
"kau selalu mengatainya brengsek tanpa menceritakan kebrengsekan apa yang telah di perbuat nya padamu!!!" sungut Nabila.
"aku pasti akan menceritakannya tapi tidak sekarang!!" ujar Arga.
Nabila melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya, dia semakin penasaran dengan masa lalu Bian yang disebut brengsek oleh Arga.
huh.. rahasia apa sebenarnya yang kau simpan Bian?? aku penasaran.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Dika dan Nuna melarang Nabila ke kampus karena menurut mereka Nabila masih harus banyak bed rest untuk memulihkan staminanya.
"lalu apa yang harus Nabila lakukan di rumah Pah?? Nabila bosen!" ujar Nabila pada Dika.
"kau bisa menonton TV atau drama korea kesayanganmu itu sampai puas!" jawab Dika memberi solusi pada putrinya.
"tapi Bila sedang tidak mood nonton Pah!" sahut Nabila.
"tidur saja kalau begitu! kau masih belum fit benar jadi sebaiknya di rumah dulu ya!" bujuk Dika.
"huh!!" Nabila mendengus kasar karena perkataan Dika tidak bisa di bantahnya.
"jangan membantah lagi, ini semua juga demi kebaikanmu sendiri!" ucap Dika lagi menasehati Nabila.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Bian kini di rumah sakit sedang mengantar Mira periksa ke dokter langganannya.
Dokter yang bekerja sama dengan Mira untuk mengelabui Bian tentang penyakit yang di deritanya selama ini.
"kau mau ikut masuk ke dalam atau menunggu di luar??" tanya Mira dengan ekspresi yang dibuat buat seperti orang kesakitan.
"aku akan ikut ke dalam untuk menemanimu!" sahut Bian dengan raut wajah khawatir.
"baiklah..." sahut Mira dengan begitu lirihnya membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasa miris dengan keadaan Mira.
Bian tidak tega dan memapah tubuh Mira masuk ke dalam ruang periksa.
"selamat datang Nona Mira!" sambut dokter cantik bernama Anastasia.
"hallo dokter.. kita bertemu lagi!" balas Mira sambil mengedipkan sebelah matanya.
"silahkan langsung berbaring, saya akan melakukan USG!" ujar Dr. Anastasia pada Mira.
Dan Bian langsung membaringkan tubuh Mira di atas brankar, tampak seorang perawat mengoleskan gel di perut Mira, benar benar situasi yang sangat meyakinkan Bian.
Sambil di periksa, Dr Anastasia menjelaskan perihal kondisi Mira saat ini pada Bian dan Bian mendengarkannya dengan seksama.
"bagaimana kondisi Mira dok?" tanya Bian harap harap cemas.
"kanker di rahimnya mulai membesar namun masih bisa dilakukan terapi!" jawab Dr. Anastasia.
"apa tidak sebaiknya di operasi saja dok?" ujar Bian yang semakin cemas dengan keadaan Mira.
"sementara kami akan melakukan kemoterapi, sehingga tidak perlu tindak operasi karena resiko pasca operasi sangatlah besar!" kata Dr. Anastasia dengan begitu meyakinkannya
"resiko seperti apa maksud anda dok?" tanya Bian penasaran.
"jika kita melakukan tindak operasi maka secara otomatis rahim Nona Mira harus di angkat dan itu berakibat sangat fatal karena Nona tidak akan pernah bisa hamil!" jawab Dr. Anastasia lagi memberikan berusaha memberikan penjelasan pada Bian yang terlihat gusar dan penasaran.
"apa?? sefatal itu kah dok?" ujar Bian yang semakin gusar dan merasa bersalah pada Mira.
Sedang Mira mulai menangis, air mata buaya dan sayangnya Bian mempercayainya.
"kami akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Nona Mira! jadi saya sarankan sebaiknya anda selalu berada di samping Nona untuk terus menyemangatinya dan jangan membuatnya sampai stres karena hal itu akan memicu kanker semakin cepat berkembang!" ujar Dr. Anastasia.
" baik dok.. saya akan berusaha menjaganya lebih baik lagi!" jawab Bian.
Seusai di periksa, Bian mengantar Mira pulang ke rumah.
"sebaiknya kau istirahat dan jangan lupa minum obat!" pesan Bian sebelum pergi meninggalkan Mira.
"apa kau tidak masuk dulu?" tanya Mira.
"tidak.. aku harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan!" jawab Bian sambil tersenyum.
"tapi setelah selesai, kau kemari lagi ya! aku kesepian, Papa dan Mama sedang berada di luar negeri!" ujar Mira memelas.
Bian tak kuasa menolak karena wajah memelas yang di tampilkan Mira padanya.
"hem... nanti aku kesini lagi!" jawab Bian lalu mencium kening Mira.
Mira membalas dengan mengecup singkat bibir Bian,
"aku mencintaimu!" lirih Mira.
"hem..." Bian hanya menanggapi singkat.
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya benar benar kalut dan ingin segera sampai di kantor.
Bian masuk ke dalam ruangannya dengan wajah gusar, Han yang melihatnya tampak bingung dan penasaran dengan apa yang sedang di alami sahabatnya tersebut.
Han menghampiri Bian di ruangannya.
Ruangan Bian sudah bak kapal pecah, semua barang barang Bian yang biasa tertata rapi di atas meja kini berserakan di lantai, Bian menjambak rambutnya karena frustasi sambil berteriak tidak jelas.
"apa yang terjadi Bian?" tanya Han penasaran.
Bian tidak menanggapi, dia malah menangis.
Han mencoba mendekati Bian,
"menangis lah jika itu bisa membuatmu tenang!" ucap Han sambil menepuk pelan bahu Bian.
Bian semakin sesenggukan.
Cukup lama Bian menangis dan Han dengan setia menemaninya.
"Han..." lirih Bian setelah tangisnya mulai mereda.
"hem.." sahut Han menanggapi dengan cepat.
"apa yang harus kulakukan sekarang??" tanya Bian sambil menatap kosong.
"lakukan yang hatimu katakan!" jawab Han dengan pasti.
"apa mungkin?? aku mencintainya Han!" ujar Bian yang kembali menitikkan air mata kerapuhan.
"Nabila? apa gadis itu menolak mu?" tanya Han.
"meskipun dia belum menjawab, apa bisa aku bersamanya? sementara Mira...!" ujar Bian menggantungkan kata katanya.
"sementara Mira keadaannya semakin parah??" kata Han melanjutkan kata kata Bian.
"aku baru saja mengantarnya ke dokter!" jawab Bian yang beralih menatap Han.
"lalu apa yang dokter katakan?" tanya Han yang mulai cemas.
"kankernya berkembang biak dengan cepat!" jawab Bian dengan putus asa.
"bagaimana dengan pengobatannya selama ini?" tanya Han lagi.
"pengobatan itu hanya untuk menghambat pertumbuhan kankernya bukan menyembuhkan!" sahut Bian.
"apa kau yakin dengan hasil pemeriksaannya?"
"aku ada di sana saat Mira di periksa, aku menemaninya!" jawab Bian semakin frustasi.
Han menghela nafas panjang karena tidak tahu harus berkata apalagi pada Bian,
"aku mencintai Nabila Han!!" ujar Bian lagi.
"aku tahu.. tapi bagaimana dengan Mira?"
"aku bingung Han!! aku tidak bisa menahan perasaanku pada Nabila tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Mira begitu saja?" teriak Bian semakin frustasi.
"sebaiknya kau tenangkan dirimu! kau harus jujur pada Nabila!" sahut Han.
"jujur tentang apa? perasaanku? atau tentang Mira??" jawab Bian.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔
tinggal lanjut di cerita yang lain
makasih Thor untuk karya nya, sangat menghibur.
ditunggu karya selanjutnya, semangat selalu othor ku💪💪❤️❤️
tp kalau aq pikir2 dlu 😁😁😁😁😁😁😁
seharusnya foto Han sedang marah..kok itu senyum..bikin pangling aja😄😄😄