"Kau tangan kananku. Apa yang kau lakukan dengan kekasihku?"
"Maaf, Tuan, saya dan Anne saling mencintai. "
Raksa Saskara tak bisa mengelak saat skandalnya diketahui oleh atasan—Nero Morvion. Raksa sadar, segala perbuatan memang ada konsekuensi yang harus diterima, termasuk selingkuh dengan Keanne Syahira Dirgantara—calon tunangan Nero.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Licik Untuk Raina
Hingar-bingar musik terdengar memekakkan telinga. Berbaur dengan teriakan histeris dari pengunjung kelab, setiap kali DJ di atas sana menyapa dengan melambaikan tangan.
Malam ini, owner dari pemilik kelab tersebut memang mengundang DJ kondang yang banyak diidolakan oleh kalangan anak muda, baik laki-laki maupun perempuan. Bukan hanya karena kelihaiannya, melainkan juga karena wajah tampan yang konon katanya menyerupai member K-Pop.
"Kalian have fun ya. Kakakku mengundang dia khusus untuk merayakan hari ulang tahunku. Kalian mau joget, joget aja nggak usah ragu. Kakak udah membatasi pengunjung malam ini. Selain kita, nggak ada lagi yang akan ke sini," ujar Andini—sahabat Raina.
Lengkung senyum tak henti mengembang di bibir ranumnya. Andini merasa senang karena bisa mengundang teman-teman di hari istimewanya.
"Request minuman yang kuat dikit boleh nggak sih, Din? Biar makin have fun." Salah seorang teman laki-laki Andini menyahut dari meja seberang, sembari mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong.
"Jangan ngawur! Itu aja udah cukup. Kakak nanti bisa marah kalau salah satu dari kalian ada yang mabuk!" jawab Andini dengan sedikit mendelik.
Walau acara tersebut digelar di kelab malam, tetapi kakak Andini tidak mengizinkan mabuk-mabukan. Dia hanya menyediakan minuman dengan kadar alkohol paling rendah untuk para laki-laki dan non alkohol untuk perempuan. Dia tak mau ada kerusuhan yang nantinya akan berimbas pada adiknya sendiri.
"Na, kamu dari tadi kok nggak minum? Ini mocktail, nggak ada alkoholnya. Jangan khawatir mabuk," kata Andini sambil menyodorkan gelas mocktail kepada Raina.
Akan tetapi, lagi-lagi gadis cantik itu menolaknya.
"Nanti aja kalau udah haus."
Sebenarnya, bukan soal haus atau tidak. Raina hanya merasa tidak nyaman berada di sana.
Walaupun tidak ada mabuk-mabukan, tidak ada penari erotis, bahkan orang-orang yang datang juga tidak ada yang asing—semua adalah temannya, tetapi Raina merasa tak seharusnya berada di tempat tersebut. Terlebih lagi jika teringat bahwa dia tidak izin pada Raksa, Raina makin merasa bersalah. Tak sabar rasanya untuk segera hengkang dan kembali pulang. Sayangnya, ia juga tak enak hati karena acara belum kelar.
"Kita joget yuk! Musiknya enak bange nih. Kapan lagi coba Kakak ngasih nyiapin tempat ini buat kita have fun."
Andini mengajak teman-temannya untuk menari. Semua pun setuju, kecuali Raina.
"Sorry, Din, aku nggak ikut ya. Lagi dapet nih, nggak nyaman buat gerak-gerak bebas," tolak Raina.
"Tapi, kita semua mau ke sana loh. Kamu yakin sendirian di sini?"
"Iya, Ra, ikut aja yuk! Berdiri doang di sana juga nggak apa-apa, dari pada di sini nggak ada teman." Teman yang lain turut menimpali, membujuk Raina untuk turun dan ikut menari.
Namun, Raina tidak goyah. Ia tetap menolak dan memilih duduk sendiri sambil memainkan ponsel.
Tak lama setelah teman-temannya pergi—termasuk teman laki-laki yang ada di meja seberang, kakak Andini datang dan mengambil tempat di depan Raina.
"Kok nggak ikut mereka?" tanya lelaki yang bernama Nando.
Raina tersenyum tipis. "Nggak, Kak. Aku tunggu di sini aja."
"Nih, air mineral, masih baru. Aku lihat dari tadi kamu nggak ada minum apa-apa." Nando menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Raina, dengan senyuman lebar tentunya.
"Terima kasih ya, Kak." Raina pun meraih botol tersebut. Lantas, membuka dan meneguknya sedikit, sekadar untuk membasahi tenggorokan yang agak kering.
Tak jauh dari tempat Raina duduk—tepatnya di balik meja bartender, seorang lelaki memperhatikan gerak-geriknya sambil mengulas senyum licik.
Sejak beberapa menit yang lalu, sepasang mata itu tak beralih dari sosok Raina. Ia menelisik penampilan Raina yang tertutup dan kurang cocok untuk dipakai ke kelab—celana dan kemeja panjang, juga menilik wajah cantik, manis, dan polosnya.
"Hasil didikan yang istimewa. Tapi, entah akan sejauh mana keistimewaan itu," gumam lelaki itu sambil mengepulkan asap rokok.
Bersambung...