"Pernikahan kita palsu, Liam!" Hazel Elizabeth.
"Tergantung bagaimana kau menganggapnya!" Liam Xanders.
Berawal dari pernikahan palsu, Hazel dan Liam akhirnya bekerjasama untuk menciptakan kebohongan besar dalam hidup mereka. Tentu, dengan keuntungan masing-masing yang mereka dapat.
Bukankah tak ada yang gratis di dunia ini!
"My Fake Husband" adalah kisah tentang cinta yang terlahir dari kesepakatan, kepercayaan yang diuji oleh bayang-bayang masa lalu, dan perjuangan untuk menemukan cahaya di tengah kegelapan. Dapatkah Hazel dan Liam menemukan cara untuk mengatasi ketakutan dan menemukan kebahagiaan di antara badai yang mengancam? Bergabunglah dalam perjalanan mereka yang penuh emosi dan ketegangan, di mana setiap keputusan bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat untuk Menjadi Pewaris
Kabar tentang perseteruan antara Hazel dan Alan ternyata sampai juga ke telinga Papa Andrew. Alih-alih menunjukkan kekhawatiran, Papa Andrew hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Di satu sisi, ia merasa puas melihat Hazel yang begitu berambisi sekarang—suatu sikap yang dulu tak pernah ia lihat, terutama setelah putrinya itu menolak mentah-mentah perannya di perusahaan.
Sore itu, Papa Andrew duduk di ruang kerjanya, merenungi perkembangan yang terjadi. Ia tahu bahwa meskipun Hazel sekarang terlihat serius berjuang demi perusahaan, kendali sepenuhnya masih berada di tangannya. Ia tak akan begitu mudah menyerahkan perusahaan yang telah ia bangun bertahun-tahun ini pada siapa pun, termasuk putrinya sendiri.
"Kalau Hazel benar-benar ingin mengambil alih perusahaan ini, dia harus membuktikan kesungguhannya," gumam Papa Andrew sambil menyilangkan tangan di dada.
Baginya, persaingan ini adalah ujian—sebuah cara untuk melihat seberapa besar komitmen Hazel. Setelah sekian lama Hazel menolak posisi dan tanggung jawabnya, Papa Andrew ingin melihat apakah tekad Hazel kali ini bisa bertahan dan sekuat apa usahanya mempertahankan posisinya, apalagi dengan adanya Alan yang juga berambisi besar.
**
Keesokan harinya, Papa Andrew memanggil Hazel dan Alan ke ruang kerjanya. Tatapan matanya yang tajam membuat keduanya sadar bahwa ada sesuatu yang serius dalam pertemuan kali ini.
"Kalian berdua sepertinya sudah sibuk dengan persaingan yang... menarik," ucap Papa Andrew, senyum tipis di bibirnya. "Aku dengar dari beberapa orang tentang ketegangan di antara kalian."
Hazel dan Alan saling melirik, lalu menatap Papa Andrew dengan sikap yang sedikit kaku.
"Tapi aku justru senang melihat bagaimana kalian berusaha," lanjut Papa Andrew. "Terutama kau, Hazel. Aku ingat dulu kau bahkan tak tertarik sedikit pun pada perusahaan ini."
Hazel menelan ludah, berusaha membaca maksud tersirat dari kata-kata sang ayah. "Papa, aku tahu mungkin dulu aku salah, tapi sekarang aku benar-benar ingin membuktikan bahwa aku peduli pada perusahaan dan keluarga."
Papa Andrew mengangguk, lalu memandang Alan. "Dan kau, Alan, tentu tak asing dengan ambisi. Aku suka ambisi dalam porsi yang tepat, karena itu menunjukkan kesungguhan. Namun, ingatlah bahwa aku akan mengawasi setiap langkah kalian."
Alan tersenyum tipis, meskipun jelas ada ketegangan dalam sorot matanya. "Tentu saja, Papa. Saya di sini untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan ini."
Papa Andrew menghela napas panjang. "Kalau begitu, kuharap kalian bersiap. Aku ingin melihat hasil nyata, bukan sekadar pertengkaran. Buktikan siapa di antara kalian yang pantas dipercaya dan diandalkan."
Hazel dan Alan keluar dari ruang kerja Papa Andrew dengan berbagai pikiran berkecamuk di benak mereka masing-masing. Bagi Hazel, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan dedikasinya yang sesungguhnya, meskipun ia tahu jalan di depan akan penuh dengan tantangan, terutama dengan Alan yang terus-menerus menempatkan dirinya sebagai lawan.
Sementara itu, Alan menyadari bahwa persaingan ini bukan lagi soal posisi semata, tetapi tentang pengaruh dan kepercayaan yang ingin ia kuasai. Kini ia tahu bahwa perseteruan dengan Hazel tidak akan mudah, tetapi ia juga tak akan mundur.
Dengan ambisi yang semakin menguat di antara keduanya, persaingan ini baru saja dimulai.
*
Di perusahaan, bukan hanya Alan yang menunjukkan ambisi besar untuk menguasai ET Group. Beberapa kerabat lain pun memiliki keinginan yang sama untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan, termasuk Tante Mea—sosok yang diam-diam menyusun rencana dengan caranya sendiri.
Tante Mea, seorang wanita berusia setengah baya dengan pengalaman panjang di perusahaan, selalu punya cara untuk mempermainkan orang-orang di sekitarnya tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan senyum ramah dan sikap yang penuh perhatian, ia tampak seperti anggota keluarga yang peduli dan netral. Namun, di balik topengnya, Tante Mea sangat peka terhadap peluang untuk memperluas pengaruhnya.
Selama ini, ia berusaha mendekati Alan dengan maksud terselubung, mengamati langkahnya sambil menanamkan ide-ide yang bisa menguntungkannya di kemudian hari. Sebagai orang yang lihai, Tante Mea tahu cara menarik simpati Alan, bahkan membantunya untuk menghadapi Hazel tanpa tampak mencampuri terlalu jauh. Dengan begitu, dia bisa menjaga posisi netralnya sambil memastikan bahwa rencana Alan tetap berada di bawah kendalinya, tanpa menimbulkan kecurigaan Papa Andrew.
Hazel menyadari bahwa kehadiran Tante Mea menambah kerumitan di perusahaan. Meski Tante Mea tak terang-terangan menunjukkan ambisinya, Hazel mulai merasakan ada sesuatu yang aneh setiap kali mereka berinteraksi. Tante Mea kerap memberikan komentar yang seolah mendukung, namun selalu disertai nada meremehkan yang tak kentara. Hazel merasa Tante Mea ingin memperlemah posisinya secara halus, membuatnya terlihat ragu-ragu dan tak berpengalaman.
Di sisi lain, Alan yang merasa mendapat dukungan diam-diam dari Tante Mea, semakin percaya diri dalam menjalankan rencananya. Mereka saling bertukar pandangan, dan setiap percakapan kecil mereka selalu diwarnai dengan sindiran halus tentang posisi Hazel dan siapa yang lebih layak mengendalikan perusahaan.
Suatu siang, saat Hazel sedang mempresentasikan ide barunya di hadapan para pemegang saham, Tante Mea menyela dengan senyum manis, mengajukan pertanyaan tajam yang membuat Hazel sejenak kehilangan arah.
"Apakah ini bukan terlalu berisiko bagi kita, Hazel?" ujar Tante Mea dengan nada peduli namun menyindir. "Sebagai perusahaan yang besar, mungkin kita harus mempertimbangkan keamanan finansial di atas segalanya, bukankah begitu?"
Hazel menahan diri, berusaha tidak terpancing oleh sindiran tersebut. Ia tahu, pertanyaan Tante Mea hanya bertujuan untuk meragukan kemampuannya di hadapan yang lain.
"Terima kasih atas masukannya, Tante Mea," jawab Hazel dengan senyum tenang, "namun setelah mempertimbangkan semua data dan tren pasar, saya percaya ini langkah terbaik untuk kemajuan kita."
Para pemegang saham tampak mengangguk-angguk mendengar jawabannya, meskipun Tante Mea hanya tersenyum samar, menyadari bahwa Hazel tak semudah itu digoyahkan. Namun, bagi Hazel, ini hanyalah awal dari langkah panjang yang harus ditempuh untuk membuktikan bahwa ia adalah penerus yang layak—meskipun harus menghadapi Alan, Tante Mea, dan mungkin lebih banyak lagi lawan di kemudian hari.
*
Malam itu, suasana makan malam di rumah megah kediaman Papa Andrew terasa hangat dan penuh keakraban. Di tengah percakapan ringan, Papa Andrew melontarkan sebuah guyonan yang langsung menarik perhatian semua orang di meja makan.
“Kalian sepertinya terlalu bersusah payah menunjukkan kemampuan kalian di perusahaan,” ucap Papa Andrew sambil tersenyum penuh arti. Semua mata tertuju padanya, termasuk Alan dan Hazel yang tampak waspada terhadap arah pembicaraan ini.
"Padahal," lanjutnya, dengan nada santai namun penuh teka-teki, "ada cara yang jauh lebih mudah untuk mendapatkan perusahaan ini."
Eva yang duduk di sampingnya menatap penuh antusias, penasaran dengan kelanjutan kata-kata ayahnya. “Maksud Papa?”
Papa Andrew terkekeh sambil meletakkan gelas minumnya dan menatap semua yang hadir di meja makan. “Sederhana saja,” katanya, “siapa pun di antara kalian yang terlebih dulu memberi Papa seorang cucu laki-laki, perusahaan ini akan otomatis menjadi miliknya.”
Ruangan itu langsung hening sejenak, dan semua orang terkejut dengan pernyataan tiba-tiba tersebut. Ekspresi Hazel dan Alan tampak berubah. Alan, yang biasanya penuh percaya diri, tampak berpikir keras, sementara Hazel berusaha menahan keterkejutannya, meski hatinya tak sepenuhnya menyetujui syarat itu.
Eva tersenyum, menatap Alan dengan tatapan penuh harapan. Bagi Eva, ide Papa Andrew terdengar seperti sebuah kesempatan untuk mempererat hubungan mereka dan menjadi bagian penting dari masa depan perusahaan. Namun, Alan tampak terdiam, berusaha mencerna peluang baru ini dan menyusun rencana di balik wajah tenangnya.
Setelah keheningan itu, Mama Anet terkikik, berusaha mencairkan suasana yang mulai canggung. “Ya ampun, Andrew, syarat yang aneh sekali,” ucapnya sambil tersenyum geli.
Namun, di balik guyonan itu, Papa Andrew menatap putra-putrinya, seolah mengisyaratkan bahwa meskipun itu hanya candaan, dia serius tentang pentingnya kelanjutan garis keluarga dalam memimpin ET Group. Dan tanpa mereka sadari, pernyataan itu perlahan-lahan menambah ketegangan baru di antara mereka—ketegangan yang mungkin akan membawa dampak besar pada hubungan dan ambisi mereka di masa mendatang.
Bersambung >>>
semangat thor