Lin Yue terjatuh dari tebing dan mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat asing, dimana gedung pencakar langit dan hal-hal yang belum pernah dia lihat di dunianya.
Bagaimana kah kehidupannya di dunia modern?
Slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Veil Asvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Regina, Veronica, Yin Ho dan Wang Yuan menonton drama kolosal live di hadapannya. Sesekali Regina melirik jam tangan sambil menguap, seakan menantikan akhir cerita yang menegangkan.
Veronica dan Wang Yuan tersenyum puas setelah berhasil membongkar wajah asli gadis itu. Lihatlah, Rong Selva berlutut memohon agar mereka mempercayainya serta mengeluarkan seribu alasan agar perjodohan tidak di batalkan.
Yin Ho hanya melemparkan cengiran sambil memakan cemilan yang dia dapat entah darimana. Bahkan pria itu menawarkan kepada Regina dan dua temannya yang di sambut suka cita.
"Mau minum apa?" Tanya Yin Ho tanpa melepaskan pandangan dari siaran langsung itu.
"Tidak perlu. Aku sudah membawanya di dalam tas. Biar aku ambilkan." Ucap Regina sambil merogoh tas slempang nya, mengeluarkan minuman soda dari cincin ruangnya tanpa curiga. Gadis itu mengeluarkan empat buah minuman soda dan membagikannya kepada tiga orang yang masih setia menonton drama live itu tanpa kedip.
"Wah, cemilannya sudah habis." Veronica berkata dengan kecewa saat tangannya meraba bungkus cemilan yang sudah kosong.
"Ini." Wang Yuan mengeluarkan empat bungkus cemilan dan membagikannya pada Regina, Veronica dan Yin Ho. Tentunya di sambut suka cita oleh mereka.
"Aku tak menyangka jika drama live dadakan ini begitu seru." Komentar Yin Ho, tangannya sibuk membuka bungkus cemilan, mengambilnya sebiji dan mengunyah penuh perasaan.
"Malah akan lebih seru kalau kita mendapatkan tempat duduk yang pas. Tapi kalau berdiri juga tidak masalah." Veronica mengomentari.
Regina dan Wang Yuan memilih menonton sambil ngemil, tak ingin ikut berkomentar. Ternyata drama dadakan di dunia ini begitu seru. Berbeda dengan di kehidupan yang sebelumnya, dimana para selir meributkan harta dan perhatian suami. Sementara di hadapan mereka, berbagai umpatan terlontar begitu saja.
Dan tanpa dosa, keempatnya kompak meminum minuman sambil menonton sang tuan rumah yang sedang syuting drama dadakan. Saat Tao Jin menatap ke arah mereka, dengan kompak keempatnya melemparkan cengiran tak bersalah dengan wajah polos tanpa dosa serta masing-masing memegang sebuah cemilan dan sebotol minuman, membuat Tao Jin tak habis pikir dengan tingkah keempatnya.
Wah, apakah mereka ketularan Yin Ho yang bangsat atau Regina yang keparat? Rasanya Tao Jin ingin menangis detik ini juga!
Dan Yin Ho menahan tawa saat melihat wajah memelas Tao Jin yang terlihat seperti ingin menangis detik itu juga. Lihatlah seorang dengan julukan pebisnis kejam itu, pria yang selalu berekspresi kejam tengah mengeluarkan ekspresi yang super langka!
Kapan lagi coba, Yin Ho melihat ekspresi Tao Jin yang seperti itu? Bahkan Regina pun sudah membungkukkan badan sambil memegang perutnya yang kesakitan akibat menahan tawa yang siap meledak.
Veronica dan Wang Yuan? Keduanya berdiri kompak dengan tubuh bergetar hebat menahan tawa. Mereka tidak berani mengeluarkan tawa, mengingat keduanya berasal dari kalangan bawah. Bisa terancam hidup mereka.
Sementara Zhu Zuho hanya menatap menantu dan tamunya dengan datar, menonton drama buatan mereka. Pria sepuh itu enggan ikut campur dengan urusan mereka. Dia hanya ingin Tao Jin memilih jalan hidupnya sendiri dan tak ingin memaksa kehendak.
Kebahagiaan Tao Jin adalah kebahagiaan nya juga. Dan dia tak ingin terlalu terburu-buru yang bisa mengakibatkan kehancuran cucu satu-satunya.
🐾
Siaran live buatan Yin Ho seketika menjadi viral. Dalam hitungan menit, nama baik walikota Dyrhan dipertaruhkan.
Banyak masyarakat menuntut sang walikota turun jabatan, mengingat tingkah putri sang walikota begitu memalukan.
Ada yang mengatakan jika gadis itu menjadi simpanan pria-pria kaya, maupun perusak rumah tangga orang, bahkan tak sedikit orang yang mengatakan jika putri sang walikota sangat angkuh dan arogan.
Tidak ada yang membela putri dari sang wali kota, mengingat mereka juga takut ketahuan oleh pasangan mereka. Bahkan beberapa orang-orang terpaksa perang dingin dan bercerai dengan istri, serta beberapa membatalkan pertunangan saat Tao Jin tak sengaja mengungkapkan siapa saja pria yang menghabiskan waktu bersama Rong Selva.
"Wah~ Regina benar-benar luar biasa! Dia bahkan menyelesaikan banyak kasus dalam sekali tembak. Padahal aku tidak sedang menugaskan dia untuk menyelesaikan misi." Komentar Lui Ahin senang sambil menyeruput tehnya.
"Setidaknya tugasmu berkurang, Komandan." Celetuk Xia Ra santai sambil menonton live di sebuah akun sosial media.
"Bagaimana jika kita memberikan kompensasi pada Regina? Bukankah dia selama ini sudah sangat banyak membantu?" Zhu Dai angkat suara.
"Bagaimana dengan cuti? Sepertinya dia perlu meliburkan diri selama beberapa waktu." Lui Ahin memberikan usul yang langsung di setujui oleh orang-orang yang berada di sana.
"Ide bagus!" Seru mereka kompak. Lalu mereka kembali menonton adegan live tersebut melalui laptop.
Terdengar komentar sang perekam bersama tiga orang dengan suara berbeda. Dua suara laki-laki dan dua suara perempuan. Dan diantara suara itu, terdengar suara Regina yang berkomentar dengan heboh di sambut dengan komentar lainnya.
"Lihat, dia menangis. Aku rasa urat malunya putus." Suara familiar di telinga Lui Ahin dan beberapa petugas kepolisian terdengar di sana. Sudah pasti itu suara Regina.
"Heii... Dia mengumpatiku. Dulu, sebelum aku bercerai, dia menfitnah ku begitu kejam dan bermesraan dengan mantan suamiku secara terang-terangan. Bahkan dia terus memaksaku bercerai." Terdengar suara wanita mengomentari dengan sinis.
"Sungguh? Sangat kejam sekali. Bahkan sekarang dia mengincar tuan Tao Jin setelah mendekati Wang Kei. Malang sekali." Suara pria terdengar.
"Tidak heran, sih. Mengingat ayahnya seorang walikota, mungkin dia merasa milik seseorang adalah miliknya juga." Komentar suara pria lainnya.
"Ini adalah acara live yang paling heboh yang pernah aku tonton! Aku penasaran dengan endingnya!" Seru Xia Ra bersemangat.
Semua orang yang berada di sana mengerubungi laptop milik Ahin, mengabaikan pekerjaan mereka demi vidio live viral itu. Dan mereka bahkan tak perlu bersusah payah mencari bukti-bukti lagi.
Beberapa saat kemudian;
"Sepertinya kita perlu menjemput kesayangan kita dengan damai sentosa di kediamannya." Ucap Lui Ahin seraya bangkit dari kursi kebesarannya.
Mereka yang berada di sana seketika bingung dan bergumam kompak, "Kesayangan?"
"Ya, tentu saja. Kesayangan. Walikota Dyrhan. Bukti yang kita dapatkan sudah cukup."
"Siap, Komandan!"
🐾
Viralnya vidio live buatan Yin Ho membuat beberapa stasiun televisi menayangkan siaran langsung dan menjadi trending topik di negara C. Seketika banyak awak media menyiarkan langsung di saluran televisi negara itu.
'Praangg!!'
"Dasar anak tidak berguna itu!!"
Teriakan diiringi suara barang pecah belah menggema di sebuah rumah mewah berlantai tiga. Seorang pria paruh baya membanting beberapa barang yang ada di dekatnya, membuat ruangan yang semula rapi kini berubah menjadi kapal pecah.
"Beraninya dia menghancurkan reputasi ku?!" Geramnya marah setelah tak sengaja melihat siaran langsung di salah satu siaran televisi. Dia tak menyangka jika putri kesayangannya, Rong Selva menggunakan kekuasaan serta latar belakangnya untuk mencapai keinginannya.
Pria itu mengacak rambutnya frustasi. Dia mendudukkan diri di sofa yang terdapat di ruang kerjanya dengan lunglai. Bahkan dia mengabaikan ponselnya yang terus berdering di saku celananya.
'Tok' 'Tok'
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, segera dia menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk ke ruangannya.
Setelah mendapatkan ijin, terlihat seorang pria memasuki ruangan itu dengan wajah panik.
"Tuan, gawat! Awak media telah berkumpul di depan gerbang rumah!"
Pria itu, Rong Shanxi menatap pria yang merupakan orang kepercayaannya dengan gamang, "Apa katamu?"
"Benar, Tuan! Beberapa bodyguard tengah menahan mereka di depan gerbang. Sepertinya berita itu telah menyebar ke seluruh penjuru negeri." Ucap pria itu membuat Rong Shanxi terperanjat. Buru-buru dia berdiri dan berjalan menuju jendela yang menghubungkan dengan gerbang depan.
Dan benar saja, terlihat banyak awak media berkumpul di depan rumahnya. Segera dia kembali melangkah menuju sofa dengan kesal.
Jika saja Rong Selva tidak membuat kekacauan, pasti hal seperti ini tak akan terjadi. Dan sudah pasti dirinya masih menjabat sebagai walikota Dyrhan.
"Tao Jin? Apa bagusnya pria yang bekerja sebagai manager perusahaan kecil itu? Rong Selva bisa mendapatkan anak dari penerus perusahaan besar kalau dia mau." Gumamnya sambil mengigit ibu jari nya.
Sementara di luar sana, Lui Ahin bersama beberapa anggota polisi lainnya tampak mengendarai mobil dinas mereka dengan santai menuju kediaman Rong Shanxi. Begitu tiba di depan kediaman mewah itu, Ahin menatap sekumpulan wartawan dengan terpana.
"Wow~ Bahkan berita itu menyebar dengan cepat. Sepertinya berita ini lebih menarik daripada gosip seorang selebriti." Celetuknya sambil melepas kaca mata hitamnya.
"Berita semenarik ini, siapa yang tidak tertarik?" Balas Xia Ra sambil melepas seatbeltnya.
"Baiklah, anggota ku sayang~ Sebaiknya kita menjemput idola tampan yang sedang menyamar menjadi Rapunzel. Dia pasti mengurung diri di salah satu ruangan dalam rumah besarnya sambil memasang wajah frustasi. Oh~ Apa kita perlu memasuki cerobong asap?"
Beberapa anggota seketika menatap sang komandan dengan aneh.