Setiap manusia pasti memiliki harapan dan cita-cita yang tinggi, indah, tapi apalah daya jika Allah sudah berkehendak.
Nafisa, wanita cantik, pandai, tapi kehidupannya di bawah rata-rata. Akan tetapi dia anak yang selalu bersyukur dengan keadaan apapun hingga suatu hari Allah mengangkat derajatnya hasil dari kesabaran dalam menjalankan ketentuan Allah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon surya mafaza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
"Terima kasih, Kak," ucap Nafisa sebelum keluar dari mobil.
"Sama-sama, Naf," balas Gilang.
Setelah mengucapkan terima kasih Nafisa turun dari mobil melangkah menuju rumahnya. "Assalamualaikum," ucap Nafisa di depan pintu sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas Bu Anjani dari dalam.
"Lho, Naf. Kamu kenapa malam-malam begini pulang? Kamu bertengkar dengan Ghazy?" Bu Anjani langsung menghujani pertanyaan saat membuka pintu terlihat putrinya yang berdiri di depan.
"Satu-satu, Bu nanya nya," ucap Nafisa. Baru datang, belum juga masuk atau duduk Ibunya sudah mengajukan pertanyaan.
"Maaf," balas Ibu.
"Kamu sendirian?" tanya Bu Anjani sambil menggandeng putrinya masuk ke dalam duduk di sofa ruang tamu.
"Iya, Bu," balas Nafisa.
"Jadi begini, Bu untuk beberapa hari Nafis akan tinggal di rumah karena tadi sore Mas Ghazy dapat telpon yang mengharuskan beliau berangkat ke luar kota. Nafis takut sendirian di apartemen." Nafis terpaksa berbohong demi menutup aib rumah tangganya.
'Maafkan Nafis, Bu.Nafis nggak bermaksud membohongi Ibu, tapi Nafis nggak mungkin menceritakan yang sejujurnya pada Ibu,' batin Nafisa. Dia melakukan semua itu semata-mata hanya tidak ingin Ibunya khawatir.
"Oh, begitu. Ya sudah sekarang kamu istirahat sudah malam!" Bu Anjani menyuruh putrinya agar segera istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Iya, Bu." Nafis beranjak dari duduknya melangkah masuk ke dalam kamar.
Setibanya di kamar Nafis langsung menuju ranjang merebahkan tubuhnya.
'Pantas saja kamu membiarkan ku pergi ternyata ada kekasih mu, Mas. Aku memang tidak sebanding dengannya. Dia wanita berkelas, lebih cantik, modis, kaya, tidak seperti diriku yang hanya sebagai OB.' Nafis sadar dengan dirinya yang tidak selevel dengan mereka.
______
Kembali ke apartemen
Ghazy masih berusaha agar Azkia pulang.
"Kia, ini sudah malam tidak baik berduaan dalam satu ruangan," ucap Ghazy.
Entah kenapa dia ingin sekali Azkia segera pulang dari apartemennya, padahal dulu Ghazy sangat bahagia jika Azkia berkunjung ke apartemennya, tapi kini sebaliknya Ghazy merasa tidak nyaman jika Azkia berlama-lama di apartemen.
"Bukankah sudah biasa kita berduaan seperti ini? Kamu kenapa sih, Beb?" Azkia merasa Ghazy berubah.
"Tidak apa. Aku hanya tidak enak dengan tetangga jika ada yang lihat," jawab Ghazy.
"Orang kan tidak tahu jika kita masih pacaran. Paling mereka mengira jika kita itu pasangan suami istri. Makanya, Beb lebih baik kita segera menikah supaya kita bebas melakukan apapun," ujar Azkia sambil bergelendot manja di lengan Ghazy, menyandarkan kepalanya di bahu Ghazy.
"Tidak segampang itu, Ki," balas Ghazy.
"Kenapa, Kamu masih mencintaiku kan, Beb?" tanya Azkia menyelidik.
"Iya," jawab Ghazy singkat.
"Kamu jawabnya seperti tidak semangat gitu. Apa kamu sudah tidak cinta lagi denganku?"
"Bukan begitu, Ki," jawab Ghazy.
'Maafin aku Ki. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba hatiku tak merasakan ke indahan dan kenyamanan lagi. Apa mungkin karena kekecewaan yang pernah kamu berikan padaku sehingga merobohkan cintaku padamu,' batin Ghazy.
"Ah ... sudahlah. Kamu berubah, Gha. Kamu sudah tidak cinta lagi denganku. Kalau begitu lebih baik aku pergi saja," ucap Azkia.
Dia berdiri dari duduknya menyambar tasnya yang berada di atas meja kemudian melangkah keluar. 'Satu, dua, tig __. Panggil aku Gha, aku yakin pasti akan menahan ku." Azkia berharap Ghazy memanggilnya tepat saat hitungan ke tiga dan menahannya supaya tidak pergi, seperti biasanya. Akan tetapi itu hanya harapannya, karena Ghazy tak bersuara hingga Azkia akan melangkah keluar.
Kecewa karena Ghazy tidak menahannya. Azkia pun berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.
'Kamu benar-benar berubah, Gha. Tidak biasa nya kamu membiarkan ku pergi dalam keadaan marah seperti ini. Biasanya kamu akan merayuku hingga aku luluh kembali, tapi sekarang sebaliknya,' gumam Azkia.
"Gha, Azkia mana?" tanya Gilang.
Setelah mengantarkan Nafisa pulang Gilang kembali ke apartemen Ghazy.
"Pulang," jawab Ghazy tanpa menoleh ke arah Gilang. Dia sibuk dengan layar laptop di depannya.
"Lha tumben tuh anak pulang kagak nginep," ucap Gilang.
"Ada urusan," jawab Ghazy berbohong.
"Oh."
"Lu kenapa nggak bilang sih kalau mau kesini dengan Azkia?"
"Eh ... Bambang sejak kapan gue main kesini harus ngabarin, Lu dulu. Biasanya juga gue langsung datang nyelonong masuk. Kalau tentang Azkia tadi kesini gue nggak tahu. Gue ketemu dia di depan pintu, Lu. Saat gue tiba Azkia sudah tiba lebih dulu." Gilang menjelaskan yang sebenarnya. Dia ada niatan mengajak Azkia, apalagi yang hilang tahu Ghazy dan Azkia sudah putus.