"Kematian adalah kepastian. Kabar baiknya, kau bisa menentukan bagaimana cara kau akan mati. Apakah dengan cara terhormat, ataukah terlaknat."
#Arsyelin
Arsyelin Wangsaguna adalah sorang detektif muda berbakat. Lulusan akademi detektif ternama dengan reputasi yang diakui seluruh dunia. Dalam petualangannya mengasah kemampuan, ia bertemu dengan sosok jin yang menyeretnya paksa untuk menemukan pembunuh teman manusianya. Sialnya, sosok jin dengan paras rupawan itu tak mau pergi meninggalkannya meskipun kasus kematian temannya telah berhasil ia ungkap.
Dan sungguh diluar dugaan, ternyata kasus kematian dengan organ yang hilang itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan dalam. Yang mana kasus-kasus itu membawanya bertemu dengan sosok pangeran terbuang yang pernah dilelang di perdagangan budak.
Petualangan seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis yang merupakan turunan dari bangsawan Jawa itu?
Ikuti kisah mereka hanya di The Death Blossom.
Nb: source materials cover from Pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richa Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34. Prince Secret III
Demi mendengar pernyataan pria yang sorot matanya
tampak membara penuh tekad yang begitu kuat itu, Asryelin seketika terbeliak. Mencoba mengulangi perkataan pria itu dalam benaknya secara perlahan.
Hanya untuk memastikan gelombang bunyi yang ditangkap oleh gendang telinganya itu bisa dicerna dengan baik oleh sel syaraf otak yang bertugas menterjemahkan gelombang bunyi itu menjadi informasi utuh.
Yang sialnya, Arsyelin merasakan otaknya seakan
berhenti bekerja. Membuatnya merasa gagap dalam menterjemahkan maksud dari pria yang kini tersenyum ke arahnya itu, yang mana pria itu terlihat tengah menikmati kebingungan akibat gelombang kejut yang baru saja diterimanya.
“Apa kau terkejut?” tanya pria yang kini menggulung lengan kemejanya hingga ke siku itu begitu melihat
gadis di hadapannya tak menunjukkan respon apa pun, selain mata besar yang terbeliak dengan sangat lebar, seakan sama sekali tak mempercayai apa yang baru saja dirinya katakan.
“Apa kau sedang berusaha untuk mengelabuhiku? Kau ingin aku bergabung dengan organisasi sialan yang merusak itu? Bagaimanapun juga, kau adalah bagian dari mereka,” tegas Arsyelin seraya menyeringai penuh selidik.
Lalu, seakan ingin mempertegas ucapannya, gadis itu sedikit mencondongkan tubuh ke depan dengan kedua mata menyipit tajam.
“Apa kau sedang berusaha menyingkirkan ancaman dengan cara membuatku percaya padamu? Agar kau bisa mengukur sejauh mana hambatan-hambatan yang mungkin akan kau dapatkan kelak di masa depan ketika kau menjadi pemimpin resmi mereka?” ucap Arsyelin dengan nada penuh tekanan pada setiap kata yang terucap oleh lisannya. Membuat pria bernama Allen itu seketika tertegun. Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis ini akan sedemikian
waspada dan berpikir tentang suatu kemungkinan sampai sejauh itu.
“A-aku. Aku sungguh tak bermaksud seperti itu. Aku
memang bagian dari mereka. Tetapi, bukankah sudah kukatakan bahwa aku memiliki tujuan? ” ucap pria itu sedikit terbata. Terkekeh pelan dengan bola mata
bergerak-gerak seakan sama sekali tidak percaya gadis itu bisa melontarkan tuduhan yang begitu menjijikkan padanya. Karena sungguh, ia bahkan tidak pernah terpikirkan cara-cara yang sedemikian licik demi memuluskan masa depannya.
Sementara itu, Arsyelin menatap pria di hadapannya itu semakin lekat. Mencoba sekali lagi meyakinkan dirinya bahwa pria ini tidak sedang mencoba menjebakknya.
“Oh, benarkah?” pancing Arsyelin, sama sekali tidak
berniat menyurutkan tatapan tajamnya.
Di sisi lain, setelah Allen berhasil menguasai dirinya. Pria itu mengikuti cara Arsyelin dengan mencondongkan tubuh ke depan dan melempari gadis itu dengan tatapan lekat. Berujar dengan nada pelan namun syarat akan ketegasan.
“Kau ingin aku membuktikannya dengan cara apa? Kau tahu, pisau lipat yang kau gunakan untuk memotong ikan itu sebetulnya adalah sebuah
tanda pengenal untukku, sebuah simbol kekuatan, sebuah mahkota yang hanya akan dimiliki oleh penerus tahta. Yang tentu saja tidak akan diperoleh dengan cara membuka kotak hartu karun. Melainkan dari darah dan pertaruhan nyawa.”
Setelah berkata demikian, Allen bisa melihat kilat
keterkejutan dari manik sewarna madu di hadapannya, yang seolah tengah tersadarkan dari sesuatu yang sempat terlupa, yang entah apa.
Yang Allen tidak tahu, reaksi Arsyelin itu muncul karena gadis itu sungguh merasa bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu benar-benar sebuah kejujuran yang lahir dari kenyataan.
Namun, Allen tidak ingin berhenti sampai di sana. Ia
ingin menekan keyakinan gadis itu sampai tak menyisakan lagi titik keraguan di dalamnya.
“Dan kau tahu, pisau lipat itu sekarang berada di
tanganmu. Aku membiarkan kau memilikinya. Tidakkah kau menyadari betapa aku bersungguh-sungguh dengan segala ucapanku barusan? Aku ingin kau membantuku menuntaskan misi ini. Setidaknya, aku ingin mati dalam keadaan yang direstui
Tuhan. Karena aku tidak ingin tersungkur dalam siksaan kemurkaan-Nya. Aryelin, kumohon, pertimbangkan permintaanku,” jelas Allen dengan sorot meredup penuh permohonan, tanpa sekalipun mengalihkan tatapan lekatnya dari gadis yang kini
tampak mulai goyah di hadapannya. Menegaskan betapa dirinya benar-benar tidak sedang bermain-main dengan segala yang dikatakannya.
Di sisi lain, Arsyelin jelas sekali mampu menangkap
kesungguhan dari perkataan pria yang kini tampak menunggu jawabannya itu. Dirinya bahkan tidak menyangka bahwa pria ini memiliki keyakinan terhadap keberadaan Tuhan. Suatu fakta yang entah bagaimana membuatnya merasa sedikit lega.
Karena menurutnya, siapa pun manusia yang memiliki
kepercayaan terhadap kehadiran Tuhan, yang senantiasa menyertainya di mana pun dirinya berada, maka ia akan betul-betul memperhatikan setiap tindakan yang hendak ia lakukan.
Sebuah fakta yang membuat Arsyelin tidak lagi heran jika ternyata pria ini memiliki pengendalian yang cukup kuat terhadap kehendaknya.
Bahkan di saat kesadarannya nyaris ditenggelamkan oleh kabut hasrat, pria ini masih mampu memenangkan akal sehatnya. Suatu kesadaran yang tiba-tiba saja membuat Arsyelin merasa aman saat bersama pria ini.
Selain itu, kepercayaan gadis ini terhadap Allen juga
semakin menguat ketika pria itu menjelaskan tentang riwayat pisau lipat yang kini bersamanya itu.
Yang mana meskipun Arsyelin tidak tahu pasti bagaimana riwayat pisau lipat itu, namun ia memilih mempercayai penjelasan pria di hadapannya ini.
Karena gadis yang kini tampak tengah berpikir keras
itu ingat sekali, ketika pertama kali ia mengeluarkan pisau lipat itu untuk mengancam anak buah pria ini di atas yacht, efeknya sungguh luar biasa. Ia bisa
merasakan tatapan-tatapan penuh tanya yang berbalur dengan keterkejutan yang sangat dari mereka. Seakan ia tengah mengeluarkan benda yang sangat berharga
dan terlarang. Yang mana seketika itu juga Arsyelin tahu bahwa pisau lipat yang ia keluarkan kala itu bukanlah benda biasa.
Meskipun demikian, ia sungguh sama sekali tak berpikir jika benda itu memiliki nilai yang setara dengan sebuah mahkota yang menjadi simbol betapa berkuasanya seseorang. Yang mana keberadaannya sungguh disegani dan memiliki pengaruh yang besar yang mampu mengendalikan banyak hal.
Ketika dirinya mendengarkan penjelasan pria rupawan
bernama Allen itu, Arsyelin akhirnya bisa memaklumi respon anak buah pria ini yang di matanya kala itu terlihat sangat berlebihan.
Namun, meskipun dirinya mempercayai apa yang baru saja dijelaskan oleh pria yang kini menatapnya penuh harap itu, bukan berarti dirinya akan dengan mudah mengikuti skenario yang telah ditulis pria ini di dalam kepalanya. Ia tidak akan serta merta mengangguk setuju dengan segala rencana yang mungkin telah
disusun dengan sangat sempurna oleh pria ini. Tidak sebelum ia benar-benar mengetahui jalan pikiran pria di hadapannya ini.
“Hey, katakan pada─”
“Allen. Panggil aku Allen. Bukan ‘hey’, karena aku
memiliki nama yang bagus. Kau tahu apa arti kata Allen? Allen berarti tampan. Pria tampan yang memiliki keteguhan hati yang kuat yang mana tak akan pernah
menyerah sebelum tujuannya tercapai,” sela Allen cepat seraya tersenyum lebar dengan sangat menawan. Membuat Arsyelin memutar bola matanya bosan. Karena baginya, hal yang paling membosankan sedunia adalah ketika ia harus mendengar seseorang
membual tentang kehebatannya. Benar-benar menjemukan.
“Aku tidak tertarik dengan arti nama yang kau miliki. Satu hal yang kutahu, Allen itu berarti batu. Batu keras menjengkelkan,” sahut Arsyelin seraya menyeringai mencemooh.
Yang mana sebetulnya, gadis ini tahu bahwa Allen
memiliki arti sebagaimana yang pria itu katakann. Namun, oh ayolah, dirinya sungguh tak memiliki waktu seluang itu untuk mengkaji karakter pria ini dari
namanya. Karena pria ini telah berada di hadapannya, buat apa ia harus susah payah membaca karakteristik pria ini dari namanya? Yang sudah sangat jelas bisa
saja keliru.
Dimana baginya, membaca perubahan gestur wajah jauh lebih akurat daripada hanya dari sebuh nama.
Sementara itu, jawaban Arsyelin yang terdengar begitu jengkel itu seketika membuat Allen tertawa. Di atas segalanya, dari sekian banyak arti yang bagus, kenapa gadis ini memilih batu? Jelas sekali bahwa gadis ini tengah dengan begitu sengaja ingin mencemoohnya.
“Terserah kau saja bagaimana memaknainya. Satu hal yang pasti, aku ingin kau memenggil diriku dengan nama. Bukan lagi seperti benda asing yang terdengar begitu berjarak,” tukas Allen seraya menyeringai lebar. Yang mana dirinya tahu, bahwa saat ini ia telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari gadis keras kepala di hadapannya ini.
padahal ini cerita yang paling aku suka.
aku sampai membaca ulang beberapa kali sambil nunggu cerita ini di lanjutin, karna cerita ini memang seseru itu
selamat membaca 😊😊
good job outhor.. 👍👍
kapan-kapan
*SELESAIKAN APA YG SDH KAMU MULAI *
BIAR GK ADA HUTANG DIANTARA KITA ,
HABIS AQ CEK KARYA AUTHOR NGEGANTUNG SMUA ... ENK TU FINISH 1 BKIN LAGI IGAN LONCAT2 ,BIAR GK BERSA SAKIT DITINGGL PAS SYNG2NYA wkwkwkwk...😁
OVERALL NICE STORY , SO IM WAITING UR UPDTE OKAY ,,,,😊
THANKS BE4