JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023
Prequel dari Rumah di tengah Sawah.
Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.
Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigangdasa Tigo
Nama Wira kian kondang kawentar. Kisahnya mengusir puluhan preman tersiar dari mulut ke mulut hingga ke desa, bahkan kecamatan lain. Kisah yang dilebih-lebihkan dari cerita yang sebenarnya. Wira dikatakan seorang diri membuat babak belur lima puluh orang. Ada juga versi lain, Wira dibantu pasukan tak kasat mata hasil dari 'ngilmu' membuat nyali puluhan preman ciut.
Ketenaran Wira mengkerdilkan kepemimpinan Mbah Lurah. Semakin masif desakan-desakan agar Wira mengambil alih pucuk pemerintahan desa. Dan kini hubungan Mbah Lurah dan Ki Mangun pun terasa renggang. Terkadang perebutan kekuasaan dipicu oleh fanatisme para pendukung.
Malam pagelaran wayang tiba. Mbah Lurah tidak menampakkan batang hidungnya. Meskipun balai desa riuh ramai tapi sang pemimpin merasa kurang dihargai. Dia tidak hadir untuk menyambut warganya. Wira yang pada akhirnya memberikan sambutan. Sorak sorai warga desa bergema melihat Bayan baru mereka yang gagah, cakap, dan tersohor.
"Kita wajib bersyukur atas suburnya tanah desa Karang, melimpahnya sumber daya alam. Dengan gotong royong, bersama-sama kita bisa membuat desa ini berkembang dan setara desa-desa lain. Mari kita pupuk kerukunan, agar kehidupan damai, aman tentram, loh jinawi bisa terwujud. Ingat pepatah, rukun agawe santoso cah agawe bubrah. Tidak perlu memantik perselisihan. Tidak perlu saling menjatuhkan. Yang paling penting bagaimana caranya membuat desa kita tercinta ini lebih maju, lebih makmur," ucap Wira menutup pidatonya.
Langgam campursari terdengar merdu. Suara gamelan menentramkan batin. Pertunjukan wayang memang dimulai cukup larut. Sebelumnya dibuka dengan lagu-lagu campursari yang membuat warga desa terhanyut dalam suka cita.
Balai desa penuh sesak. Penonton yang datang membludak, bahkan dari luar desa. Semua terpana dengan indahnya suara musik gamelan. Termasuk Sugeng dan Tarno yang duduk di belakang panggung.
"No, kamu kemarin malam benar-benar ndak lihat to pasukan memedi yang datang menyusul?" tanya Sugeng setengah berteriak agar Tarno bisa mendengar. Suara tabuhan gong memang terdengar cukup kencang dari tempat mereka duduk.
"Ndak. Tapi aku ya percaya dengan ceritamu Geng. Lha wong preman jumlahnya puluhan ndak ada angin ndak ada hujan lari ngibrit ndak jelas," sahut Tarno.
"Seumur-umur aku ikut ngabdi ngawulo ke Ki Mangun belum pernah aku lihat begituan. Kira-kira semua itu rewangnya Ki Mangun atau Mbak Narsih ya No?" tanya Sugeng penasaran.
"Huus! Jangan bahas masalah itu di keramaian. Kita kan sudah janji sama Ki Mangun Geng. Yang penting desa aman, tentram, makmur," bentak Tarno meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Sugeng manggut-manggut. Memang benar apa yang dikatakan Tarno. Mereka berdua sudah berjanji untuk tidak membahas soal Narsih, apalagi di tempat umum.
"Aku mau beli jagung bakar," ucap Tarno beranjak dari duduknya.
Sugeng mengedarkan pandangan. Penglihatannya tertuju pada sosok Wira yang berdiri di sebelah kiri panggung. Di sebelahnya ada Narsih yang nampak manja berpegangan erat pada lengan suaminya.
Sekilas pandang, semua orang pasti setuju jika Narsih dan Wira adalah pasangan serasi, nyaris tanpa cela, hampir sempurna. Sempat terbersit di benak Sugeng, suatu saat ingin memiliki pasangan seperti Narsih. Namun saat dia berkedip, samar-samar nampak sesuatu yang janggal tepat di belakang Narsih.
Sugeng menyipitkan mata. Ada bayangan sosok berwajah merah menempel di pundak Narsih. Sugeng menepuk-nepuk pipinya, berharap bayangan aneh itu hilang. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Semakin terlihat jelas wajah semerah darah melotot ke arah Sugeng. Buru-buru Sugeng membuang muka, mengalihkan pandangan.
Sementara itu, Narsih tengah takjub dengan pertunjukan yang sedang dia saksikan. Narsih merasa baru pertama kali melihat sebuah pementasan seni. Mungkin di masa lalu dia pernah melihatnya, dan sekarang sudah terlupa, siapa yang tahu.
Mbok Ginah datang memanggil Wira saat Narsih sedang asyik menyimak langgam campursari. Wira meminta Narsih tetap diam di tempat, sedang dirinya menemui Mbok Ginah. Narsih pun menurut. Pandangannya tertuju pada para sinden yang terlihat cantik bersuara merdu.
Cukup lama Narsih sendirian di samping panggung. Berbaur dengan warga yang juga tengah asyik menikmati alunan musik gamelan. Hingga akhirnya dia merasa Wira pergi sudah terlalu lama.
"Kemana sih Mas Wira tadi?" gumam Narsih penasaran.
Narsih meninggalkan kerumunan warga. Berjalan menuju ke belakang panggung. Dia melihat ada Sugeng sedang duduk disana. Narsih mengira mungkin saja Sugeng tahu kemana Wira pergi. Namun saat dipanggil, Sugeng malah berlari menjauh.
"Kenapa sih Sugeng?" gerutu Narsih.
Tiba-tiba saja pundak Narsih ditepuk dari belakang. Perempuan itu menoleh dan bertemu pandang dengan sosok laki-laki asing yang mengenakan blangkon batik di kepalanya.
"Siapa?" tanya Narsih.
"Ka-kamu Narsih kan?" pekik laki-laki asing dengan suaranya yang tergagap.
"Iya. Njenengan siapa? Maaf saya belum hafal semua warga desa." Narsih tersenyum ramah. Dia mengira laki-laki di hadapannya adalah salah satu warga desa Karang.
"Kamu lupa denganku? Apa 'dia' yang membuatmu menjadi seperti ini Sih? Dia menyembuhkanmu?" Laki-laki asing itu terlihat takjub memandangi Narsih dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apa maksudmu?" Narsih kebingungan.
Ki Mangun datang dengan tongkat yang mengetuk tanah. Kemudian mendorong laki-laki asing agar menjauhi Narsih menggunakan ujung tongkatnya. Tarno mengekor di belakang Ki Mangun.
"Nduk, aku nanggap campursari sekaligus wayang untukmu lho. Awalnya kemarin aku menawarimu salah satu dari pertunjukan seni. Tapi kemudian kupikir, kamu akan suka keduanya. Jadi, untuk apa kamu disini? Kamu harus menikmati pertunjukannya," ucap Ki Mangun dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Tarno temani Narsih! Minta Sugeng untuk mencari Wira. Kemana bocah itu pergi? Dasar tidak punya tanggungjawab."
Tarno mengangguk ketakutan. Meski ucapan Ki Mangun kalem tapi Tarno tahu betul, saat ini sesepuh itu tengah murka.
"Tapi Pak. Laki-laki ini mengenalku," sela Narsih.
"Lhah, siapa yang tidak mengenalmu Nduk? Semua juga kenal kok. Dia tamuku. Kamu lihat pertunjukan saja. Nurut sama Bapak," perintah Ki Mangun. Narsih pun menurut. Berjalan kembali ke depan panggung, ditemani Tarno.
"Ta tapi,. . ." Laki-laki asing mencoba menyusul Narsih. Namun tongkat Ki Mangun di bentangkan untuk menghalangi.
"Pilihanmu hanya ada dua. Ikut ke rumahku, dan kita bisa berbicara dengan nyaman. Mungkin juga beberapa makanan enak akan kuhidangkan. Atau kamu memilih tetap menyusul Nduk Narsih, tapi tidak dapat kujamin hidupmu tenang setelahnya," ucap Ki Mangun lirih. Ekspresi Ki Mangun datar namun tatapan matanya tajam membuat laki-laki asing itu gemetar ketakutan. Aura Ki Mangun benar-benar mengintimidasi.
"Siapa namamu Nak?" tanya Ki Mangun sambil menyeringai.
"Ah a kulo Tejo Ki. Kulo dari desa Tumpakpiring," jawab laki-laki bernama Tejo itu terbata-bata.
"Mari ikut denganku," ajak Ki Mangun. Tanpa mempedulikan wajah kebingungan Tejo, Ki Mangun langsung memutar badan dan melangkah pergi. Pada akhirnya Tejo merasa tidak punya pilihan. Dia berjalan, mengekor Ki Mangun.
Suara dalang memulai pertunjukan wayang terdengar menggelegar. Suara yang lantang, penuh wibawa, dan bertenaga.
Bersambung___