( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Adik Ipar ( Part 3)
Taani mengernyit, saat tangan pemuda di hadapannya itu perlahan memetik Snar gitar di pangkuannya. Netranya membulat saat dani mulai menyanyikan lagu yang di inginkan nya dengan fasih.
Tangannya terus bergerak menekan Snar sesuai instrument yang di hafal nya. Sementara teman temannya mengikuti dengan suara pelan.
Ya Tuhan, ini beneran mirip banget sama penyanyi aslinya. Taani Menyimak baik baik setiap kata yang keluar dari mulut Dani tidak ada yang salah.
Dulu ketika Dani memasuki Bus untuk memulai pekerjaannya sebagai pengamen mengucap salam berbasa-basi dengan penumpang.Tersenyum ramah mengabaikan tatapan sinis karena tidak suka dengan kehadirannya, atau penumpang yang sesekali menguap karena bosan. Bahkan ada saja yang menutup wajah takut terkena cipratan ludah dari pengamen di hadapannya. Namun ketika tangan itu mulai memetik senar gitar, suara merdunya terdengar sampai kursi paling ujung Bus.
Wajah wajah yang tidak peduli itu mulai mendongak menatap dani dengan kagum, tangan atau kaki mereka mengetuk ngetuk lantai bus mengikuti lagu yang dinyanyikan oleh Dani.
“Keren... Dani!” Taani bertepuk tangan, saat pemuda di dekatnya itu selesai menyanyikan lagu yang di inginkan nya.
“Wah, aku sampai salah mengira loh.” Taani nyengir merasa berdosa.
"Maaf, aku kira kamu nggak bisa nyanyi lagu itu," Taani melirik sekilas pada pria yang masih duduk di bawah pohon yang tak jauh dengannya.
“Kamu belajar dimana?”
Dani berdehem kemudian meletakan kembali gitar di sampingnya. "Kakak ipar mau mendengarkan ceritaku? Hanya sebentar kok.”
Taani mengangguk mantap, tentu saja aku ingin mendengarnya.
Dani membetulkan posisi duduknya, menatap pria yang tengah serius berbicara dengan Reyhan yang sudah seperti padi siap di panen, semakin lama semakin menunduk.
”Si bodoh anak Sultan itu, pasti tidak bisa tes lagi." Dani menunjuk Reyhan, tersenyum getir.
Kemudian menoleh menatap Taani sekilas.
“Kakak ipar, aku mengenal Bang Rizwan sekitar dua tahun yang lalu, aku ini pengamen jalanan Kak. Aku tidak mempunyai tujuan hidup. Aku hanya menjalani takdir yang sudah digariskan untuk ku, tidak pernah memikirkan hari esok, tidak pernah perduli tentang orang lain. Hidupku tidak pernah seberuntung orang lain kak, aku terlahir yatim piatu tidak tahu siapa orang tuaku. Dan aku hidup di panti sejak aku di lahir kan entah oleh wanita mana dan entah siapa yang menyimpan ku di halaman panti, menyedihkan memang” Dani tersenyum getir.
“ Tapi Bang Rizwan selalu bilang, aku harus berterimakasih pada wanita yang sudah mau melahirkan aku ke dunia ini, dan itu memang benar, aku bersyukur bisa dilahirkan di dunia ini, Kak.”
Dani menghembuskan nafasnya, menoleh ke samping menatap temannya yang juga menatap temannya seolah berkata ayo lanjutkan ceritamu, kisah hidup seorang pemuda bernama Dani, sahabat mereka, kisah yang sudah lama sekali tidak mereka dengar.
“Aku tumbuh menjadi anak yang nakal, penjaga panti tidak segan memukul ketika aku mencuri makanan atau mengambil barang barang milik temanku. Sebelumnya penjaga panti akan menyuruhku untuk mengakui perbuatan ku di ruangannya yang hanya ada aku dan dia, tapi aku tetap keukeuh bahwa aku tidak mencuri. Penjaga panti menceramahi ku bahwa mengambil hak orang lain bukanlah hal yang benar. Dan aku benci setiap ceramah yang keluar dari mulutnya.” Dani mengusak rambutnya.
“Tapi, itu dulu Kak, saat aku belum mengetahui kebenaran, saat aku benci dengan semua takdir yang seolah tidak adil ini. Hingga di suatu sore aku meyaksikan sendiri dengan mata kepalaku bagaimana sakitnya ketika hak kita di ambil orang lain secara paksa. Aku menyaksikan seorang Ibu yang menangis ketika tasnya di ambil paksa oleh orang yang tak dikenal, saat itu umurku baru dua belas. Aku tidak bisa apa apa hanya
menyaksikan pemandangan yang begitu memilukan.”
Taani menopang dagunya dengan tangan, menyimak baik baik.
Kita merasa seperti manusia yang paling menderita, terus merutuki takdir. Tanpa kita sadari di berbagai belahan bumi masih banyak orang yang jauh menderita tapi mereka tetap menjalaninya dengan lapang dada. Karena semuanya fana, sedih akan berganti bahagia begitupun sebaliknya. Semuanya fana, yang ada di dunia ini fana.
Kita akan terus di uji sampai ujian itu selesai dan masa kita di bumi ini pun selesai.
Dani berdehem, kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
“Sakit, ketika penyesalan menghampiri. Pagi itu aku terbangun saat suara gaduh terdengar dari luar, tubuhku terasa kaku ketika aku menyaksikan tubuh menjaga panti terbujur kaku di lantai bersimbah darah, orang orang mulai berdatangan membantu membereskan kekacauan”
Lihatlah, pemuda yang terlihat begitu ceria itu menangis. Menangisi penyesalannya.
“Penjaga panti dibunuh perampok kak, dan para bedebah itu adalah orang orang suruhan, para lintah darat yang sudah bertahun tahun mengincar panti asuhan untuk di jadikan klub malam. Dan yang membuatku menyesal, aku belum sempat meminta maaf padanya. Untuk semua sikapku yang selalu membuatnya jengkel.”
Taani mengeratkan jaket di tubuhnya menghalau angin malam yang mulai menusuk. Harum maskulin kembali menyeruak di hidungnya.
Kenapa dia lama banget, belajar apaan sih?
Taani tersenyum, menatap pria yang terlihat begitu serius dengan buku di tangannya. Kemudian kembali menopang dagu, mendengarkan cerita pemuda di dekatnya itu.
“Aku pergi dari panti setelah dua hari peristiwa memilukan itu, berbulan bulan hidupku terlunta-lunta, tidur di sembarang tempat, berhari hari menahan lapar hingga aku memutuskan untuk bekerja. Tapi siapa yang akan menerima pemuda yang tidak jelas identitasnya untuk bekerja.”
“Tapi bukankah Tuhan selalu memberikan pertolongan kepada hambanya yang benar benar membutuhkan. Memang tidak secara langsung, tapi pertolongan itu melewati hambanya yang lain. Tuhan mengutus manusia yang berhati malaikat untuk aku, Kak." Dani menunjuk pria berkacamata di bawah pohon, senyumnya mengembang.
"Dia manusia yang di utus Tuhan untuk menolongku. Pagi itu aku benar benar merasa akan mati karena kelaparan, aku sudah siap meninggalkan dunia yang tidak adil untuk ku."
"Tapi aku salah Kak, ternyata hidupku masih berlanjut, saat itu aku terbangun karena merasa ada yang menusuk nusuk pipiku, dengan senyum hangatnya malaikat itu membantuku untuk duduk. Menyuapiku, seolah tahu bahwa aku benar benar sangat kelaparan."
Suasana lenggang, suara deru kendaraan terdengar di ujung jalan.
“Bang Rizwan mengajakku untuk tinggal di rumah singgah yang di asuh oleh temannya, dia merawat ku seperti seorang Ayah." Dani membuang ingusnya kasar.
”Maafkan aku kakak ipar, aku lemah kalau udah ngebahas Bang Rizwan”
“Awalnya aku bosan tinggal di rumah singgah, hingga diam diam aku pergi dari rumah singgah membawa gitar usang milik si bodoh itu.” Menunjuk pemuda di bawah pohon, yang tengah serius dengan buku di tangannya.
“Aku mencuri gitar miliknya Kak, aku sudah beberapa kali bicara pada Bang Rizwan bahwa aku bosan berada di rumah singgah, setiap hari hanya belajar dan belajar, mungkin itu efek dari kehidupan bebas ku di jalanan selama berbulan bulan.”
“Hingga tanpa sepengetahuanku, takdir kembali berjalan tidak sesuai keinginanku." Dani menunjukan bekas luka yang sudah terlihat samar di lengannya.
“Pagi itu setelah aku memutuskan untuk kabur dari rumah singgah, Bang Rizwan menemukanku terkapar di dekat kantornya” Dani berdehem.
“Bang Rizwan kembali meyelamatkan nyawaku kak, sekuat tenaga aku berlari menghindarinya, tapi ketika takdir menggariskan bahwa hidupku untuk bergantung padanya, aku tidak bisa lari."
“Sampai saat ini aku masih tinggal di rumah singgah, aku belajar banyak hal darinya kak, Bang Rizwan selalu berkata jadikan lemon itu minuman yang manis.”
Taani mengernyit, menunggu penjelasan dari pemuda di sampingnya itu
“Ketika kamu mempunya segelas air lemon yang masam, maka kamu tidak perlu risau, kamu hanya perlu menambahkannya beberapa sendok gula. Agar air lemon itu terasa nikmat."
Taani menutup mulutnya, terkejut karena pemuda di sekitarnya serempak mengucapkan kalimat itu.
“Bang Rizwan yang mengajarkanku untuk berdamai dengan takdir ini Kak, sejatinya aku tidak membenci wanita yang membuang ku, aku hanya membenci ketidak berdayaan ku. Aku benci dengan semua keadaan, aku hanya melihat kehidupan ini dari kacamata ku, dari segi pandangan ku yang selalu menganggap bahwa hidupku tidak pernah ada artinya.
Tapi itu dulu, sebelum aku mempunyai tujuan hidup yang sesungguhnya”
Bersambung....
sukses
semangat