Sekelompok preman datang setelah acara pernikahan sederhana digelar oleh Aditya dan Syahnaz. Mereka mengancam akan menyita rumah itu jika Aditya tidak mampu melunasi hutang dalam waktu tiga hari.
Mendengar masalah yang menimpa menantunya, ibu Syahnaz jatuh pingsan. Ternyata dia terkena serangan jantung. Dokter menyarankan agar segera melakukan tindakan operasi agar penyakit ibu Syahnaz tidak semakin parah.
Aditya teringat perbincangan atasannya di kantor yang sedang mencari seorang wanita untuk dijadikan simpanan dan melahirkan seorang anak. Aditya dengan gilanya memaksa Syahnaz menjadi PSK demi melunasi hutangnya dan biaya perawatan ibu di rumah sakit.
Akibat tidak punya jalan keluar lain, Syahnaz terpaksa menyetujui. Ia dijual kepada Jendra, pengusaha kaya yang menginginkan seorang wanita untuk menjadi penghangat ranjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Menyakitkan
"Kalian tunggu di sini saja, aku akan segera kembali."
Syahnaz turun dari mobil yang mengantarnya ke kantor Jendra. Ia meminta sopir dan seorang bodyguard yang menjaganya untuk tetap berada di mobil tanpa ikut masuk ke dalam.
Setelah mengetahui obat apa yang sebenarnya Jendra berikan, Syahnaz ingin segera menemui lelaki itu untuk meminta penjelasan.
Ketika melewati tempat resepsionis di lobi perusahaan, ia menunjukkan kartu identitasnya.
"Oh, Pak Jendra ada di ruangannya. Silakan menaiki lift khusus di sana untuk langsung menuju ke lantai ruangan Pak Jendra," ucap resepsionis yang bertugas di sana.
Tanpa menunggu lama, Syahnaz masuk ke dalam akses lift khusus. Ia tak mengalami kesulitan untuk bisa menemui Jendra meskipun ini lali pertamanya datang ke sana.
Apa yang Jendra katakan memang benar, dengan kartu identitas itu, ia akan langsung dikenali sebagai kerabat dekat Jendra.
Usai lift terbuka, ia keluar dan mendapati lorong lurus yang tepat di depannya merupakan ruang kerja Jendra.
"Mau sampai kapan kamu melakukan ini kepada Syahnaz?"
Syahnaz menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara yang familiar dari salah satu ruangan di sisi kirinya. Apalagi orang tersebut membawa-bawa namanya.
"Tentunya sampai aku puas."
Syahnaz tertegun, matanya membulat saat mendengar suara Jendra di sana. Perlahan ia mendekat ke arah pintu ruangan yang sedikit terbuka itu.
Saat ia mengintip ke dalam, sepertinya itu merupakan ruangan untuk rapat. Di sana ada Jendra dan Regi yang tengah berbicara.
"Aku rasa itu tidak adil untuknya. Kamu tetap harus menyampaikan hal itu," usul Regi.
"Dia tidak perlu tahu. Cukup itu urusanku saja."
"Hah! Kamu terdengar egois sekarang. Ingat tujuanmu di awal, Syahnaz kamu bayar untuk melahirkan anakmu."
"Iya, tentu saja. Tapi, saat ini aku belum terlalu membutuhkan anak. Kamu tahu aku sudah berpuasa selama tiga tahun. Kalau dia hamil, aku tidak bisa leluasa memakainya."
Syahnaz sampai menutup mulutnya mendengar ucapan Jendra barusan. Lelaki itu menganggapnya seperti barang yang bisa digunakan sesukanya.
"Apa? Memakai? Kamu kira dia pakaian? Gila ya, memang kamu sekarang! Kasihan Syahnaz, perjanjian kalian kan seharusnya hanya sekitar satu tahun."
"Aku akan membayarnya setiap bulan sesuai kesepakatan. Dia tidak akan rugi bersamaku, dari pada bersama lelaki sialan itu!"
"Selain kamu jadikan pelayan, dia juga kamu jadikan pelac ur pribadimu. Jendra, Jendra ...."
"Kalau aku sudah puas, baru aku akan membuatnya hamil dan melahirkan anakku. Selanjutnya, dia boleh pergi dari kehidupanku."
"Kamu terlalu kejam menyembunyikan semua ini darinya. Suatu saat, bisa jadi kamu menyesal, Jendra."
Tanpa terasa air mata Syahnaz mengalir sepanjang mendengarkan pembicaraan kedua lelaki itu tanpa sengaja. Ia tidak menyangka jika Jendra selicik itu memperlakukan dirinya.
"Ah, kenapa kita terus membicarakan hal ini? Aku mau cepat pulang dan bertemu Syahnaz. Kita selesaikan pekerjaan ini sekarang juga!"
"Ya sudahlah! Ayo kita ke ruanganmu. Menasihati orang mabuk kepayang itu memang tidak ada gunanya!"
Mendengar pergerakan dari dalam sana, Syahnaz memutuskan untuk pergi menghindar. Ia berjalan cepat menuju ke arah lift yang mengantarkannya tadi. Ia mengusap air matanya saat memasuki lift tersebut.
Sebelum pintu lift tertutup sempurna, ia sempat melihat Jendra dan Regi keluar dari ruangan itu.
Dada Syahnaz seakan dipenuhi amarah yang meluap-luap. Air matanya kembali menetes mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam.
Memang, dia tidak berhak untuk marah. Jendra sudah membayarnya, artinya ia memang wanita murahan. Tapi, mendengar sendiri ucapan Jendra, membuat hatinya sangat sakit.
Saat pintu lift kembali terbuka, ia menghela napas dan mencoba menenangkan diri. Ia seka air matanya dan berjalan dengan biasa agar tidak menarik perhatian orang. Ketika ia melihat ada tempat sampah, Syahnaz membuka tasnya dan mengambil botol obat dari dalam sana.
Sejenak ia memandanginya, benda-benda kecil yang ia kira bisa menyuburkan kandungan justru memberi efek sebaliknya. Tanpa ragu ia langsung membuangnya ke tempat sampah dan kembali berjalan menuju ke mobil.
"Pak, kita lanjut ke alamat di jalan XXX perumahan XXX, ya!" pinta Syahnas setelah kembali masuk ke dalam mobil.
"Baik, Nona."
Sang sopir kembali mengemudikan mobilnya. Mereka tidak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap Syahnaz.
Sementara, di kursi belakang Syahnaz tampak termenung sembari memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalanan.
Setibanya di dekat alamat rumah yang Syahnaz cari, ia meminta sopir dan bodyguardnya kembali menunggu di gang depan.
Sesaat ia merindukan jalanan yang selalu dilewatinya dulu. Setiap sudutnya masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Memang, kawasan itu terbilang sepi karena sebagian besar penghuninya merupakan kaum pekerja kantoran yang selalu berangkat pagi dan pulang malam.
Ada satu sudut yang mengalami perbedaan jauh drastis, yaitu rumahnya sendiri. Rumah yang dulunya terlihat halaman, kini menjadi rumah dengan pagar tinggi. Cat rumah juga masih kelihatan baru.
"Apa Mas Aditya yang merenovasi rumah ini? Kenapa tidak bilang aku waktu itu?" gumam Syahnaz heran.
Ia melanjutkan langkah untuk mendekat ke arah pintu pagar kayu yang tidak terkunci. Ia melongokkan kepalanya ke dalam, ada taman yang masih sama dengan bangunan rumahnya dulu. Begitu pula bentuk rumah, masih sama meskipun di beberapa titik mengalami renovasi.
"Permisi ... Permisi ...." serunya sambil tetap melangkah masuk ke rumah yang tertata rapi itu.
"Permisi ... Permisi ...."
Seorang lelaki bertangan kekar membukakan pintu. Lengannya dipenuhi tato sampai membuat Syahnaz takut. Saat lelaki itu menampakkan diri dengan rambut panjangnya yang tak pernah disisir, Syahnaz sangat terkejut. Lelaki itu adalah preman yang pernah datang ke rumahnya waktu itu.
Dia adalah preman yang menagih hutang kepada Aditya saat itu.
"Oh. Kamu ... Nona manis, apa perlumu datang ke sini?" tanya Lelaki bertato itu. Dia juga sepertinya masih mengingat Syahnaz.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu ada di sini?" Syahnaz bertanya balik dengan nada tegas dan ekspresi serius.
Preman tersebut tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Syahnaz. "Hahaha ... Maaf, aku hampir lupa kalau kamu istri Aditya. Apa dia tidak memberitahumu?" tanyanya.
Syahnaz terdiam, tak paham dengan apa yang lelaki itu katakan.
"Lelaki brengsek itu tidak sanggup membayar hutang. Makanya dia melepaskan rumah ini sebagai gantinya. Dan aku sudah membeli rumah ini dari bosku. Jadi, sepenuhnya rumah ini sudah resmi menjadi milikku," ujar si preman.
Syahnaz hanya bisa tercengang dan syok. "Itu tidak mungkin," lirihnya.
Si preman itu mengulaskan senyum seringai. "Coba tanyakan sendiri pada Aditya. Aku punya surat-surat lengkap tentang rumah ini. Kamu tidak bisa sembarangan ke sini lagi."
"Lalu, barang-barang dari yang ada di rumah ini kamu singkirkan kemana?" tanya Syahnaz menyerah.
"Aku tidak tahu, itu urusan Aditya. Kalau tidak salah, dia membawa barang-barang itu ke jalam XXX Alamatnya di daerah XXX."
Beban di hati Syahnaz terasa sangat berat. Padahal ia sedang berusaha mempercayai apa yang Aditya katakan waktu itu. Kenyataannya, lelaki itu terus menerus membuatnya kecewa. Bahkan rumah satu-satunya milik sang ibu kini sudah berpindah tangan tanpa sepengetahuannya.
ribet aja 🥺 bener mm Rania 😲
😡