"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Suara deru mobil mewah milik Pakde Kalim perlahan-lahan menjauh dan menghilang di ujung gang, meninggalkan keheningan yang luar biasa pekat di dalam ruang tamu rumah Arumi. Suara knalpot yang mulus itu seolah menjadi penanda berakhirnya sebuah babak kutukan masa lalu yang mengikat rantai kehidupan keluarga Pak Praga. Di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk dan berayap di beberapa sudutnya, tumpukan uang tunai cash sebesar dua ratus juta rupiah di dalam amplop cokelat tebal serta sebuah buku tabungan biru berisi saldo fantastis dua miliar rupiah masih tergeletak diam. Benda-benda mati itu seolah memancarkan kilau yang begitu menyilaukan, memantulkan berkas cahaya sore yang menembus kaca jendela berdebu, dan mengubah atmosfer rumah tua peninggalan almarhum Pak Praga dalam sekejap mata. Ruangan yang biasanya terasa sempit, pengap, dan dipenuhi aura kecemasan finansial, mendadak terasa begitu berwibawa.
Arumi masih terduduk lemas di sofa kain yang busanya sudah mengempis di sana-sini. Kedua tangannya yang masih menyisakan getaran halus pasca-ledakan emosinya tadi, kini merangkul erat tubuh Bintang dan Langit. Kedua anak laki-lakinya itu kini sudah mulai tenang, napas mereka teratur, dan tangis mereka telah sepenuhnya berhenti setelah ditenangkan oleh usapan lembut tangan sang ibu. Pandangan mata Arumi terpaku lurus, melekat tanpa berkedip pada tumpukan uang dan buku tabungan di hadapannya.
Otaknya mendadak mati rasa, sulit mencerna kecepatan takdir yang sedang mempermainkan jalannya hari ini. Baru kemarin subuh ia dihina habis-habisan, dicaci maki dengan kata-kata binatang, dan disumpahi akan menjadi pengemis kurus yang kelaparan di pinggir jalan oleh Ibu Pras dan Pras sendiri. Baru tadi siang ia harus menarik napas panjang, bersusah payah menghitung lembaran uang bonus dari editornya dengan teliti demi bisa mendaftarkan gugatan cerai di Pengadilan Agama tanpa harus berutang. Namun sore ini, belum sempat matahari terbenam sempurna, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan cara yang paling tidak terduga dan paling mutlak. Roda nasibnya tidak hanya sekadar berputar pelan, melainkan melesat cepat ke atas lambung awan, melampaui apa yang pernah terlintas dalam mimpi terliarnya sekalipun.
Pak RT, Bu RT dan Bu Ida masih setia duduk di sekeliling Arumi, membentuk barisan pelindung tak kasat mata. Ketiganya juga sempat terpaku dalam keterdiaman yang panjang, memandangi tumpukan kekayaan yang kini resmi menjadi hak milik utuh wanita berdaster batik lusuh yang selama ini mereka kenal sebagai sosok buruh cuci gosok yang rajin, tidak pernah mengeluh, dan selalu menundukkan kepala bila berjalan.
"Rum..." Bu Ida akhirnya membuka suara terlebih dahulu, memecah keheningan yang sempat membekukan ruangan dengan nada suara yang masih menyiratkan rasa tidak percaya yang teramat sangat. Matanya berkedip berulang kali, memastikan bahwa penglihatannya di usia senja tidak sedang menipunya. "Ibu tidak sedang bermimpikah ini, Rum? Tolong cubit lengan Ibu sejenak. Itu... uang dua ratus juta rupiah cash nyata di depan mata kita, dan di dalam tabungan biru itu tertera angka dua miliar rupiah? Ya Allah, Gusti Yang Maha Membolak-balikkan nasib... rezeki anak yang salehah dan berbakti kepada orang tua memang tidak pernah keliru alamatnya!"
Arumi menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sore mengisi rongga dadanya yang sempat sesak, mencoba mengumpulkan kembali seluruh kesadarannya yang sempat terbang melayang. Ia melepaskan perlahan pelukan kedua anaknya, lalu menatap ketiga tetangga yang sudah ia anggap jauh lebih dari sekadar kerabat orang-orang yang telah menjelma menjadi sosok pengganti orang tuanya sendiri dengan pandangan yang sarat akan rasa bimbang dan meminta petunjuk.
"Pak RT, Bu RT, Bu Ida... saya benar-benar bingung dan gemetar," aku Arumi dengan jujur, nada suaranya masih agak serak sisa tangis histerisnya menghadapi Pakde Kalim tadi. "Uang tunai dua ratus juta ini saja sudah membuat tangan saya kaku, apalagi ditambah uang dua miliar yang ada di dalam rekening ATM atas nama bapak saya ini... jumlah ini terlalu masif, terlalu besar buat saya yang biasanya harus memutar otak hanya untuk membeli satu kilogram beras. Saya tidak pernah melihat, apalagi memegang uang sebanyak ini seumur hidup saya. Menurut Bapak dan Ibu, sebaiknya uang ini saya alokasikan untuk apa terlebih dahulu? Saya tidak ingin salah melangkah. Saya ingin meminta pendapat, arahan, dan nasihat dari orang-orang yang selama ini paling tulus menjaga dan membela saya di kampung ini."
Mendengar pertanyaan yang begitu tulus, rendah hati, dan penuh penghormatan dari Arumi, Bu Ida langsung menegakkan punggungnya yang semula bersandar pada sandaran kursi. Wanita paruh baya itu menepuk permukaan meja kayu dengan pelan namun gerakan itu dipenuhi oleh semangat yang menggebu-gebu, mencerminkan rasa gemas dan keadilan yang akhirnya terpenuhi.
"Kalau menurut pendapat Ibu pribadi ya, Rum... tanpa mengurangi rasa hormat pada rencana-rencana masa depanmu, hal pertama dan paling utama yang harus kamu lakukan tanpa menunda waktu adalah merenovasi total rumah ini! Atau kalau kamu mau, sekalian saja kamu beli satu unit rumah mewah yang besar di perumahan kluster elite di luar sana yang dijaga satpam siang malam!" cetus Bu Ida dengan sepasang mata yang berbinar-binar penuh tekad dan rasa puas yang membuncah.
Bu Ida mendekatkan posisi duduknya, suaranya terdengar menggebu-gebu saat melanjutkan, "Kamu ingat tidak bagaimana sombong dan congkaknya mulut nenek sihir itu kemarin pagi saat bertamu ke sini? Dengan ringannya dia menghina rumah peninggalan almarhum Pak Praga ini sebagai gudang kumuh yang reyot, sempit, dan membawa sial bagi karier anaknya! Dia merasa anak laki-lakinya itu sudah menjadi orang paling kaya, paling sukses sejagat raya hanya karena punya jabatan kantoran biasa dan bisa memamerkan rentengan gelang emas yang kita semua tahu itu cuma pinjaman dari saudaranya! Kamu harus buktikan, Rum! Buktikan sampai matanya terbelalak lepas, tunjukkan pada keluarga mantan suamimu yang kikir dan berhati busuk itu kalau kamu bisa hidup seribu kali lebih mapan, lebih mewah, dan lebih terhormat tanpa perlu mengemis sepeser pun uang dari mereka!"
Bu RT yang duduk di sebelah Arumi langsung mengangguk-angguk setuju dengan gerakan yang sangat kompak, seolah sudah satu komando dengan Bu Ida. Ia menyenggol pelan lengan suaminya, Pak RT, agar sang suami ikut memberikan dukungan moral yang sama kuatnya.
"Betul sekali apa yang dibilang Bu Ida itu, Rum! Ibu setuju seratus persen, bahkan kalau bisa seribu persen!" timpal Bu RT dengan wajah yang memerah karena sisa kejengkelannya pada kejadian kemarin ikut bangkit kembali.
"Kemarin dada Ibu rasanya mau meledak, sakit hati sekali mendengar setiap bait sumpah serapah yang keluar dari mulut mertuamu itu. Dia dengan teganya mengutuk hidupmu akan terlunta-lunta dan anak-anakmu, Bintang dan Langit, akan kelaparan menjadi gelandangan setelah bercerai dari Pras. Sekarang, lihatlah! Tuhan tidak tidur, Rum. Tuhan langsung kasih kamu modal tunai tunai tanpa perantara. Kamu harus bangun tempat tinggal yang layak, rumah yang kokoh dan megah, biar harga dirimu, martabat mendiang orang tuamu, dan masa depan anak-anakmu tidak akan pernah bisa diinjak-injak atau direndahkan lagi oleh keluarga parasit macam mereka!"
Pak RT tersenyum sangat bijak, mengelus jenggot tipisnya yang sudah mulai memutih, lalu ikut menimpali dengan nada suara bariton yang berat namun sangat mendukung penuh keputusan tersebut.
"Secara analisis psikologis dan tatanan sosial di masyarakat kita, pendapat Ibu-ibu ini ada benarnya dan memiliki dasar yang kuat, Nak Arumi. Harta yang kamu pegang hari ini bukanlah hasil dari cara yang salah, melainkan mutlak hak waris bernilai sejarah yang halal dari keringat bapakmu. Rumah tua ini adalah saksi bisu dari seluruh tetesan air mata dan perjuangan almarhum Pak Praga saat pertama kali menapakkan kaki di kota ini. Daripada kamu memilih pindah ke perumahan mewah di luar sana dan harus menguras energi lagi untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang belum tentu sewarga dan sekompak kita, merenovasi tanah ini menjadi tempat tinggal yang sangat aman, nyaman, luas, dan kokoh untuk pertumbuhan mental serta fisik Bintang dan Langit adalah sebuah pilihan yang sangat bijaksana. Dan tentu saja, secara tidak langsung, ini akan menjadi tamparan keras dan jawaban paling telak atas segala bentuk hinaan yang menimpamu kemarin," urai Pak RT panjang lebar dengan analisisnya yang logis.
Arumi mendengarkan setiap bait masukan, nasihat, dan analisis dari para tetangganya itu dengan saksama. Kata demi kata yang keluar dari mulut orang-orang tulus itu meresap jauh ke dalam lubuk dadanya, menyalakan sebuah percikan ambisi baru yang sangat positif dan terarah di dalam benaknya. Benar, pikir Arumi. "Mengapa dia harus melarikan diri? Mengapa dia harus bersembunyi atau pindah menjauh dari tanah kelahiran dan rumah peninggalan bapaknya sendiri yang penuh dengan memori ini? Lingkungan gang sempit ini adalah tempat di mana ia dibesarkan. Tetangga-tetangga di sini adalah malaikat tak bersayap yang selama bertahun-tahun selalu mengulurkan tangan melindunginya dari amukan Pras, warga di sini adalah manusia-manusia tulus yang tidak pernah memiliki sifat julid, dengki, atau iri hati jika melihat tetangganya mendapatkan kesuksesan."
Sebuah senyuman penuh keyakinan, ketegasan, dan kepuasan yang mendalam kini terukir dengan sangat indah di wajah Arumi yang tampak kian cerah sore itu.
Aura kegagahan, kemandirian, dan wibawa seorang wanita yang telah merdeka dari belenggu pernikahan beracun memancar kuat dari sorot tatapan matanya.
"Baik... kalau begitu saya sudah memantapkan hati dan setuju dengan pendapat Bapak dan Ibu semua," ucap Arumi dengan nada suara yang lantang, bersih, tegas, dan dipenuhi oleh semangat membara yang menggebu-gebu. Ia berdiri dari sofanya, memandangi sekeliling dinding ruang tamunya yang catnya sudah mengelupas. "Saya memutuskan tidak akan pernah pindah dari gang ini. Saya tidak akan menjual tanah ini. Saya akan tetap tinggal di sini, hidup berdampingan bersama kalian semua yang sudah saya anggap sebagai keluarga kandung saya sendiri. Tetapi, saya akan merehab total rumah peninggalan bapak saya ini. Saya tidak hanya akan memperbaikinya agar tidak bocor lagi, tetapi di luar dugaan dan perkiraan mereka semua... saya akan membangun rumah ini kembali dari nol menjadi sebuah rumah yang paling mewah, paling besar, megah berlantai tiga, lengkap dengan fasilitas terbaik dan garasi yang luas di seluruh kampung ini!"
Mendengar keputusan Arumi yang begitu berani, visioner, dan spektakuler itu, Pak RT dan Bu RT justru meresponnya dengan sangat baik, hangat, dan penuh sukacita yang meledak-ledak. Tidak ada sedikit pun riak rasa iri, tidak ada gurat kedengkian, atau cibiran sinis yang keluar dari wajah-wajah tulus mereka.
Sebaliknya, wajah Pak RT dan Bu RT tampak dipenuhi rasa kepuasan batin yang luar biasa, seolah-olah kemenangan Arumi adalah kemenangan mereka bersama.
"Hahaha! Bagus! Luar biasa! Itu baru namanya Arumi, anak kandung dari Pak Praga yang bermental baja dan berdarah pejuang!" seru Bu RT sambil tertawa lepas dengan sangat bahagia, menepuk kedua tangannya berulang kali dengan rasa bangga yang tidak disembunyikan. "Ibu sangat mendukung keputusanmu, Rum! Seratus persen Ibu dukung! Kita bangun istana di sini, biar sekalian melek itu mata si Pras dan ibunya kalau mereka tidak sengaja lewat di depan depan gang sini! Biar mereka tahu dengan mata kepala mereka sendiri, kalau mantan istri yang selama sepuluh tahun ini dia jatah seratus ribu per tahun dengan sombongnya, sekarang bisa membangun istana megah bertingkat di atas tanahnya sendiri tanpa butuh uang receh miliknya!"
"Benar sekali, Rum!" timpal Pak RT dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah tegasnya. Beliau mengangguk-angguk paham, otaknya sebagai ketua RT langsung bekerja merencanakan hal teknis. "Urusan legalitas perizinan bangunan atau IMB ke kelurahan, pembuatan desain arsitektur yang modern, sampai urusan pencarian kontraktor bangunan atau kepala kuli yang jujur, amanah, dan tepercaya, biar nanti saya pribadi yang turun tangan bantu urus semuanya untukmu sebagai ketua RT di sini. Saya akan pasang badan dan pastikan proses pembangunan istana barumu ini berjalan dengan sangat lancar, aman, tanpa ada gangguan atau pungutan liar dari pihak mana pun. Kita akan buat rumah barumu ini menjadi ikon kebanggaan baru di gang dan kampung kita!"
Bu Ida bahkan sudah ikut heboh dan sibuk sendiri dalam pikirannya, membayangkan bagaimana gemparnya reaksi warga kampung lainnya nanti saat pembongkaran rumah dimulai. "Wah, kalau rumah tingkat tiga ini sudah jadi yang paling mewah di seluruh kampung, saya adalah orang pertama yang akan ikut mengurus acara syukuran paling depan, Rum! Kita akan pasang tenda besar menutup jalan gang, kita undang semua warga dari ujung ke ujung untuk makan-makan besar merayakan kebahagiaan ini. Biar keluarga si kikir dan mantan mertuamu itu makin kejang-kejang dan tersiksa lahir batin setiap kali mendengar kabar kesuksesanmu yang makin melesat tinggi!"
Melihat respon yang begitu hangat, pelukan yang tulus, dan tawa kegembiraan yang tumpah ruah dari para tetangganya, air mata haru kembali menetes perlahan di sudut mata Arumi. Namun kali ini, tidak ada lagi rasa perih atau sesak di dadanya; hatinya telah dipenuhi oleh rasa damai, aman, dan keyakinan yang teramat sangat. Di dalam rumah sederhana yang sebentar lagi akan diruntuhkan untuk bertransformasi menjadi sebuah istana megah berlantai tiga ini, Arumi tahu bahwa masa depannya bersama Bintang dan Langit telah berada di tempat yang aman sepenuhnya. Langkah awalnya untuk merebut kembali harga diri yang sempat diinjak-injak selama sepuluh tahun kini telah dimulai dengan pondasi finansial dan dukungan sosial yang sangat kokoh, dahsyat, dan tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun lagi. Perang baru saja dimulai, dan Arumi telah memenangkannya di awal langkah.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏