NovelToon NovelToon
Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Pengganti / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:7.3M
Nilai: 5
Nama Author: Desy Puspita

Menjadi penyebab utama kecelakaan seorang wanita hingga berakhir buta, Yudha memutuskan untuk menikahi korbannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pernikahan yang dilandasi atas dasar kasihan, dengan rahasia yang ditutup rapat-rapat demi menjaga mental Kalila.

Keduanya bahagia, dan kepribadian Kalila berhasil membuatnya jatuh cinta hingga menjadikan wanita itu sebagai dunianya. Namun, sebaik apapun bangkai disimpan pada akhirnya akan tercium juga. Saat Yudha setengah mati mencintai istrinya, Kalila mengetahui bahwa Yudha adalah penyebab kehancuran dunia dan mimpinya.

Lantas, bagaimanakah pernikahan mereka? Mampukah Kalila menerima pria yang telah menghancurkan dunianya? Atau justru memilih pergi dan turut menghancurkan dunia Yudha?

......

Follow ig : desh_puspita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - Sama Kerasnya

Kalila yang pemaaf, dipertemukan dengan Yudha yang pembohong. Terdengar seperti sebuah candaan. Padahal, memang benar adanya dan Yudha tidak bisa menolak fakta. Bukan dengan maksud membodohi, tapi sama seperti yang Kalila katakan bahwa tidak semua hal perlu diutarakan kebenarannya dan cukup menjadi rahasia.

Alasannya jelas, Yudha khawatir terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan. Rahasia Yudha bukan sebuah rahasia kecil, sekalipun sang istri pemaaf, tapi untuk kenyataan bahwa dirinya yang merenggut dunia Kalila bisa saja jadi pemicu perpisahan.

Tentang perpisahan, Yudha memang takut. Dia berpikir setelah hadirnya setitik nyawa di rahim Kalila, maka dia akan tenang. Namun, yang terjadi kini berbeda dan ketakutan Yudha justru berlipat ganda.

Sejak istrinya hamil, rasa sayang Yudha benar-benar menggelora dan tidak lagi bisa dia ungkapkan dengan kata. Detik demi detik dia lewati untuk terus berada di sisi sang istri, posesifnya Yudha membuat Kalila bingung sendiri.

"Jaga pandangan kalian."

"Nora, jangan lakukan apapun selama saya di sisinya."

"Jack, kuminta kau tunggu di luar ... kenapa ikut masuk?"

Hampir setiap hari Kalila mendengarnya sampai hapal di luar kepala, sebagai wanita yang dulunya mengemis untuk dikasihi jelas saja dia bahagia. Jangankan bisa didekati, siapapun yang memandang ke arah Kalila sedikit lama saja dia tidak suka.

Padahal, Kalila bahkan tidak bisa melihat apa yang terjadi. Bagaimana cara orang lain menatapnya, selama apa dan apa alasannya Kalila tidak tahu. Bisa jadi memang kebetulan punya mata, tapi anehnya Yudha sangat sensitif selama satu minggu terakhir.

Sayang, posesifnya Yudha lama-lama membuat Kalila bosan. Ruang geraknya sangat terbatas, bertemankan Nora yang begitu setia di sisinya. Andai saja Raja ataupun Arjuna datang, mungkin Kalila tidak akan sesepi ini.

Yudha memberikan segalanya, tapi Kalila merasa terpenjara. Sejak satu bulan belakangan, dia seolah tidak diizinkan keluar melewati gerbang utama. Jujur saja, sekalipun tidak bisa melihat dia juga ingin merasakan udara segar di luar sana.

"Nora, aku bosan sekali ... pusing," keluh Kalila menghela napas pelan, dia memelas lantaran bingung sendiri apa yang hendak dia lakukan demi mengusir rasa bosannya.

Andai tidak buta, mungkin dia bisa membaca buku atau menonton televisi. Namun, jika sudah begini harus bagaimana? Jika hanya berkeliling halaman rumah, dia sudah malas. Terlebih lagi, kedua orang tuanya menunda keberangkatan ke Semarang hingga lusa.

"Mau jalan-jalan, Nona?"

"Hm? Mau, tapi dilarang." Kalila mencebik, sebal sekali jika dia ingat bagaimana Yudha melarangnya.

"Tenang, Nona, untuk kali ini saya sudah izin dan tuan bilang tidak masalah asal tidak terlalu jauh," jawab Nora seketika membuat Kalila berbinar, kaki dan tangannya yang seolah dirantai menemukan kebebasan hingga dia berteriak kegirangan.

"T-tapi kamu tidak berbohong? Yakin sudah izin?" Kalila memastikan lebih dahulu, dia khawatir telanjur bahagia dan patah nantinya.

"Tidak, Nona ... ayo kita pergi."

Mendengar pernyataan Nora, Kalila iya-iya saja. Dia bahkan menurut kala Nora menuntunnya lewat pintu belakang. Bagaimana tidak menurut, lagi pula yang dia lihat hanya gelap.

Memang tidak ada yang Kalila bisa saksikan dengan pergi keluar, tapi setidaknya dia bisa merasakan suasana yang berbeda di setiap langkah kakinya.

Sudah begitu lama dia tidak merasakan kebebasan semacam ini. Setelah kecelakaan sore itu, Kalila yang terbiasa menghabiskan waktu dengan perjalanan kesana kemari hanya bisa berdiam diri layaknya balita.

"Nora, kamu dimana?" tanya Kalila dengan tangan yang kini meraba tanpa arah.

Tongkat yang dia gunakan seakan tidak cukup sebagai penuntun arah, mungkin karena dia terbiasa bergantung pada Yudha hingga ketika dilepas paniknya luar biasa.

"Saya di sini, Nona ... jangan khawatir."

Kalila tersenyum lega kala mendengar ucapan Nora. Suara itu memastikan jika dia tidak sendiri dan Nora masih berada di sisinya hingga Kalila kembali melangkah tanpa ragu.

Terlalu menikmati, Kalila sampai tidak sadar jika mereka sudah berjalan cukup jauh. Tiga puluh menit tepatnya, meski langkah Kalila cukup pelan bisa dipastikan langkahnya sudah sangat panjang.

Hingga, ketenangan Kalila terusik kala menyadari sebuah mobil berhenti mendadak di sisinya. Dalam keadaan panik, Kalila mencari tangan Nora sembari berteriak cukup kuat.

"Aaarrgghh!!"

Detak jantung Kalila hampir terhenti kala merasakan seseorang mengenggam tangannya. Secepat mungkin dia berusaha menepis lantaran yakin jika yang menggenggam tangannya bukan Nora, melainkan pria.

"Mau kemana? Hm?"

"Ya, Tuhan, Yudha?" Napas Kalila masih terengah-engah, tidak stabil sama sekali dan baru membaik setelah mendengar suara sang suami.

Tangan Yudha yang tadi sempat dia tepis kini Kalila rasakan dengan baik. Kedatangan Yudha begitu cepat hingga membuatnya panik, dia juga tidak sempat berpikir jernih ataupun mengenali aroma parfum suaminya.

"Kenapa bisa sejauh ini? Siapa yang_"

Yudha mengelilingkan pandangannya, baru dia sadari jika Nora tampak memantau Kalila dari jarak yang cukup jauh. Rahang Yudha mengeras, melihat wajah pucat Nora yang perlahan menghampirinya semakin membuat Yudha murka.

.

.

"Maaf, Tuan, saya hanya kasihan karena nona terlihat sangat bosan."

Yudha tidak diam, kecerobohan Nora yang membawa Kalila cukup jauh jelas saja membuatnya marah. Lebih marah lagi, kala Yudha mendengar jika wanita itu mengatakan sudah mendapatkan izin hingga Kalila mengira benar-benar dia izinkan.

Padahal, sedikit saja Yudha tidak pernah menerima pesan singkat dari Nora. Andai dia izin secara terang-terangan, demi apapun Yudha takkan pernah memberikan izin karena sejak awal yang boleh menemani Kalila keluar adalah dirinya sendiri.

"Kau sadar atas tindakanmu? Andai terjadi sesuatu pada istriku bagaimana? Kau mau bertanggung jawab?" tanya Yudha dingin dengan tatapan yang seolah hendak menguliti Nora hidup-hidup.

Entah apa yang Nora pikirkan hingga berani sekali bertindak lancang. Beralasan kasihan, jika hanya tentang itu siapapun yang melihatnya jelas saja kasihan.

Nora berulang kali meminta maaf, wanita itu berusaha meyakinkan Yudha jika dia hanya menempatkan posisi sebagai Kalila dan tahu bagaimana stresnya. Oleh karena itu, dia masih mempertimbangkan kesempatan kedua untuk Nora.

Usai membuat batin Nora tertekan, pria itu kembali ke kamar demi menenangkan Kalila yang sempat terkejut dengan sikapnya. Mungkin terkesan kasar, tapi yang dia lakukan hanya untuk sang istri dan kemarahan Yudha pada Nora juga bukan tanpa alasan.

"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut," ucap Yudha mengusap rambutnya begitu lembut.

"Kupikir kamu berbeda, ternyata sama kerasnya," gumam Kalila seraya menggigit ujung jemarinya, sebuah cara yang sejak dahulu Kalila lakukan untuk menenangkan diri di antara rasa takutnya.

"Aku panik, Kalila ... Nora membawamu tanpa izinku, bagaimana mungkin aku bisa menahan diri jika kejadiannya sudah begini?"

Marahnya Yudha dapat dia pahami, tapi pergelangan tangan Kalila masih menyisakan sakit akibat amarah Yudha. Terbawa emosi akibat perbuatan Nora, Yudha tidak sadar telah menyakiti istrinya.

Mungkin hal itu berlebihan, tapi firasat Yudha sangat buruk setelah ini. Hingga, di tengah keheningan keduanya ponsel Yudha bergetar dan memperlihatkan notifikasi pesan dari nomor baru yang sama sekali tidak dia kenal.

Terlambat lagi, kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk bisa bicara dengannya?

Jantung Yudha seolah terbakar ketika melihat pesan tersebut. Tidak lupa pengirim juga melampirkan foto Kalila yang tengah dia peluk di tepi jalan, tepat beberapa saat setelah Yudha tidak sengaja menemukan sang istri.

"Jallang ini mau apalagi?"

"Jal-jallang? Siapa yang kamu maksud, Jal-lang?"

.

.

- To Be Continued -

1
Linda Febri
bagusss
Ucio
kama kamu ikuti Tami
sukur🤣🤣🤣
Ucio
kama ini gurunga Raja ya Yudh Nye belin sumpqh🤣🤣🤣
Ucio
Tami² ad aj mulutnya 🤣🤣🤣
Ucio
Sapi bengkak Ya Yudh🤣🤣🤣
Ucio
Wanita aneh itu istrimu? Tami🤣
Ucio
Tami² ente si suka curi²
Ucio
Bang Tami,,ayoo semangat 😄
aku baru
ko terputus ceritanya....
ida nurhidayah
👍😘♥️
Gintania nia
selalu menarik sampai titik terakhir
Ririn Nursisminingsih
soraya reseh banget mnding jujur aja yud..
Ririn Nursisminingsih
bukan orang tua kalila yg munta soraya tpi yuda sendiri yg ingin nikahin kalila yaa
Soeryono Tangerang
yudha sosok lelaki lemah......thoor buat dia perkasa
Naja Naja nurdin
raja tanpa mahkota memang bisa di banggakan
Naja Naja nurdin
aq senang kalo kama muncul bikin gemezzz
Naja Naja nurdin
ih si raja tanpa mahkota curi perhatian kakak ipar baru toh
Yus Warkop
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yus Warkop
ooh udahhan yah apa masih afa lanjutannya?
Yus Warkop
akibat apa itu teh yah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!