NovelToon NovelToon
Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara
Popularitas:216k
Nilai: 5
Nama Author: NaraY

Skip tanpa alasan apapun bagi yang tidak tahan dengan konflik. Biasakan beri dukungan like, comment dan vote bagi author.

Berawal dari patah hati yang teramat dalam, tidak sengaja Lettu Sadewa Pulanggeni harus menikahi seorang gadis cantik adik dari seniornya.

Tidak ada rasa cinta di antara mereka. Pertengkaran demi pertengkaran selalu terjadi karena perbedaan sifat yang bertentangan apalagi bayang mantan kekasih masih menyelimuti hati Lettu Sadewa apalagi sang mantan kekasih masih ada di sekitar kehidupannya.

Hingga suatu ketika, terjadilah pertengkaran paling hebat di antara mereka. Untuk kedua kalinya Lettu Sadewa patah hati saat pria lain memberi perhatian lebih pada istrinya. Hanya ada dua pilihan.. bertahan dalam pernikahan atau mengakhiri semua.

Bagaimana mereka menghadapi biduk pernikahan yang sedang di uji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Kejutan.

Gita meremas perutnya, perutnya terasa begitu melilit. Sungguh rasanya ingin memuntahkan segala isi di lambungnya.

//

"Aaarrghh.. Astagfirullah hal adzim.." Bang Dewa memercing kemudian tiba-tiba saja Bang Dewa tumbang saat dirinya sedang menjadi pemimpin upacara.

bruugghh..

"Dewooo.. Woo.. Dewooo..!!" Pekik Bang Rawa berlari menghampiri littingnya, saat itu Bang Rawa sedang mengikuti daerah tugasnya. "Tolong bantu saya donk..!!"

Beberapa orang anggota membantu Bang Dewa untuk mendapatkan perawatan di mobil ambulans pihak kesehatan lapangan.

"Ngopo sih Wo, kok tumbang segala??" Tanya Bang Rawa. Ia memastikan betul bahwa Kapten Dewa masih dalam keadaan sadar meskipun tubuhnya lemas. "Nggak sarapan??"

"Sudah seminggu ini aku eneg banget lihat nasi putih, nggak doyan makan, rasanya aku hanya ingin tidur saja sepanjang hari." Jawab Bang Dewa.

Bang Rawa dan Bang Seba saling pandang.

//

Sakit yang dirasakan Gita sudah berangsur membaik. Bian membuatkan jahe hangat camilan untuk Gita agar sakitnya berkurang. Bian sangat cemas karena memang wajah Gita terlihat begitu pucat.

"Kita ke rumah sakit saja ya dek..!!" Ajak Bian.

"Gita sudah sehat mbak. Nggak usah ke rumah sakit lagi." Tolak Gita.

"Tapi dek, kamu juga demam. Sudah empat hari ini khan? Lebih baik cek darah biar kita bisa tau sakitnya apa..!!" Saran Bian yang memang pernah kuliah jurusan keperawatan.

...

Sore hari.

Bang Dewa yang sudah jauh lebih segar memarkirkan motornya di garasi rumah. Ekor matanya melirik Gita yang sedang mengepel lantai rumah. Sesekali Gita berpegangan pada apapun yang ada di sekitarnya.

"Sudah pulang Mas?" Sapa Bian.

"Assalamu'alaikum.. iya sudah. Ngomong-ngomong Gita kenapa dek?" Tanya Bang Dewa berbisik pada Bian.

"Wa'alaikumsalam.. Memangnya Mas nggak tak sudah empat hari ini Gita sakit demam. Badannya lemas, nggak mau makan sama seperti Mas. Cobalah Mas Dewo periksakan di rumah sakit. Jangan-jangan demam berdarah Mas." Kata Bian.

Sekelebat rasa cemas membayangi hati Bang Dewa.

"Nanti Mas bawa ke rumah sakit."

gubraaaakk..

Baru selesai berbicara, terdengar suara keras dari teras depan rumah.

Bang Dewa segera melompat pot pembatas teras lalu menghampiri Gita.

"Ya Allah Gitaaa.. kamu kenapa dek??"

Gita memercing memegangi perutnya. Saat itu pandangan mata Bang Dewa mengarah ke bawah rok Gita. Bak di sambar petir, mata Bang Dewa membulat besar lalu dengan tangannya menyentuh paha dalam Gita.

"Astagfirullah.. ini kenapa dek? Bilang jujur sama Mas..!!" Nada suara Bang Dewa sampai meninggi.

Gita terus memercing kesakitan.

"Deekk..!!" Bentak Bang Dewa.

Gita malah terisak-isak membuat Bang Dewa dan Bian ternganga bingung.

"Gitaa.. apa Mbak Bian salah.. kamuu...."

Gita mengangguk takut tapi karena rasa sakitnya semakin menjadi, ia hanya bisa bersandar di dada Bang Dewa. "Gita akan membawanya pergi....."

"Maaaass, cepat bawa ke rumah sakiiiit..!!" Pekik Bian.

"Ada apa dek? Mas nggak tau lukanya dimana? Ini darahnya di hentikan dimana??" Ucap Bang Dewa seakan tanpa dosa.

"Pastikan di rumah sakit Mas, kemungkinan Gita hamil..!!!!" Geram sekali Bian meladeni ucap Bang Dewa.

"Ya Allah Ya Tuhankuuu..!!!!" Secepatnya Bang Dewa membawa Gita ke rumah sakit."

...

Dokter memeriksa kondisi Gita kemudian menatap wajah Bang Dewa.

"Usia kandungan sepuluh minggu ya Pak Dewa. Alhamdulillah masih bisa di pertahankan. Ini gambaran calon bayi Pak Dewa di dalam kandungan." Tunjuk dokter pada layar USG. "Pak Dewo, ini hasilnya..!! calon bayi Pak Dewa berjenis kelamin laki-laki...... dan perempuan."

"Alhamdulillah Ya Allah." Bang Dewa mengusap wajahnya lalu mencium perut Gita yang ternyata memang sudah menyembul keluar.

"Pak Dewa, ada sedikit masalah dengan kehamilan istri bapak. Test darah ini menunjukkan........."

...

Sepanjang perjalanan Bang Dewa begitu mencemaskan keadaan Gita. Ia menyangga punggung dan perut Gita dengan segala bantal yang ada. Laju mobilnya pun amat sangat pelan sekali ibarat bekicot yang merayap di batu besar.

Klakson dari arah belakang terus berbunyi padahal Bang Dewa sudah mengambil jarak menepi.

"Heeeii.. bisa nyetir nggak??" Tegur seorang pria yang membawa mobil di belakangnya.

Bang Dewa tidak menggubris dan terus berjalan dengan konsentrasi agar satu kerikil pun tidak terinjak olehnya.

"Heeeeeeeiiii.."

Bang Dewa yang merasa terganggu segera turun dari mobil.

"Maas.. jangan Mas..!!" Gita berusaha mencegah Bang Dewa yang sudah tersulut emosi tapi Bang Dewa tak mau lagi mendengarnya.

"Saya sudah beri tanda agar bapak bisa lewat mendahului saya. Mobil yang lain bisa melintas." Kata Bang Dewa.

"Nggak usah banyak omong, kalau nggak bisa nyetir ya jangan nyetir..!!!" Bentak pria tersebut.

Karena situasi semakin tidak terkendali, Gita pun turun dari mobil. "Maas, jangan ribut lagi..!!" Suara Gita begitu halus membuat pria yang marah tersebut mengarahkan pandangan pada Gita. "Maaf ya Pak.. saya nyaris keguguran, jadi suami saya tidak bisa mengendarai mobil dengan kencang."

"Oohh begitu ya Bu. Maaf saya yang kurang sabar. Kalau begitu silakan di lanjut perjalanannya..!!"

Bang Dewa sampai melotot begitu mudahnya Gita mendinginkan hati pria lain.

"Kenapa bicara sama Mas Dewo mencak-mencak tapi sama pria lain bisa lembut begitu?" Tegur Bang Dewa memasang wajah kesal tiada tara. "Maaf ya Paak..!!!" Bang Dewa menirukan gaya bicara Gita. "Apaaa itu????"

"Mas cemburu??"

"Nggak." Jawab Bang Dewa malas.

.

.

.

.

1
Lita Pujiastuti
sebaik apa pun istri kedua, ttp sakit di hati. apa lagi ini terpaksa...maaf thor, saya tidak ingin lanjut baca. tujuan saya baca novel sebagai refresing, pengen baca novel yg tdk menyakitkan bgt². jadi maaf saya stop baca novel ini...🙏
NaraY_Kamanatha: Tidak usah di sebutkan ya kak. Sudah ada peringatan. mengandung KONFLIK dan silakan SKIP bagi yang tidak sanggup🙏
total 1 replies
Lita Pujiastuti
ini Bang Seba keluarga serdadu semua?
Mira Lusia
gita nih..dikit2 gak enak sama bian..kayak yg si bian nih ngekang bang dewo aja..
Mira Lusia
piye to om dewo iki
Mira Lusia
aku hargai pilihan bian..mundur akan lebih baik..gak ada kata ikhlas utk berbagi hati meskopun itu keinginan istri pertama..semoga bahagia ya bian..dgn pilihanmu
Mira Lusia
bian juga lebih sakit lo
Mira Lusia
selalu ada hati yg tersakiti😔😔
Mira Lusia
le mboco nganggo ilmu teteg ati..sebenere wegah baper..tapi yo piye meneh..😊😊
Mira Lusia
lama fokus di trahnya bang rama sakti jadi blm kenal sama trah lainnya..mana namanya byk yg aamaan to
Mira Lusia
hadir mbak nara..aku tuh kalau buka profilnya mbak nara jadi bingung mau baca yg mana dulu..pengennya sih yg nyambung sama karya mbak nara yg sebelumnya aku baca gitu..semangat berkarya ya mbaakkk..🥰
S
thor boleh kan saya ungkap unek2 saya,,mohon izin ya thor

apa mungkin gita itu cover nya aja buruk, tpi aslinya mah baik.. 🤔
Al Fatih
mas Dewo bingung yaaa,, bojo loro
Al Fatih
kenapa sih Kaka,,ceritamu itu slalu bikin baper aq ☺️
Al Fatih
aq mampir lagi ka Nara,, d karyamu yg slalu bikin aq tidur ga nyenyak,, jangan bosan yaaa
Fitriyanti Siregar
Luar biasa
Mutyanti Ummu Al Ghozi
iya ini sebelum cerita ini
cerita lain judulnya apa?
Sunarti Mantingan: nyawa di senapan
total 1 replies
Rahma 18
di tunggu dengan sanggggaaaattttt......kelanjutan ceritanya🤩
Iis Cah Solo
😍😍😍😍
Iis Cah Solo
waaahhh siwi pelakor janda....untung ketahuan...😀😀😀
Iis Cah Solo
bian mulai esmosi..😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!