Badut Tampan? Benarkah itu?
Gak percaya, baca aja kisah antara Sheila dan Widi si badut tampan yang menghibur Sheila di kala Sheila di tinggal selingkuh oleh pacarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adhilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 34
Ekhem.
Batuk Rahman membuat kedua saudara yang tidak saling mengetahui itu menoleh ke arahnya.
"Ada apa nih kok peluk pelukan gitu?" tanya Rahman pura pura tidak mengetahui, agar mereka tidak curiga kalau dirinya sudah melihat mereka berdua sedari tadi.
"Iih papa bikin kaget aja deh, Erika lagi pelukan sama kak Roman karena kangen sama kak Roman," jawab Erika agar Roman tidak di salahkan.
"Maaf tuan," ucap Roman meminta maaf, dia yakin pasti sebentar lagi dia akan kena marah karena sudah memeluk putri tuan Rahman tanpa seizinnya.
"Pa bolehkan aku menganggap kak Roman sebagai kakak aku?" ucap Erika meminta izin pada Rahman.
"Maaf tuan, saya yang salah karena sudah mengizinkan Erika memeluk saya," sambung Roman kembali meminta maaf.
"Sudah kamu mandi dulu di kamar tamu, nanti kamu pakai pakaian yang ada di sana saja, habis itu kita makan bersama," ucap Rahman yang tidak menghiraukan apa yang kedua anak muda itu katakan, dia takut kalau sampai dia malah keceplosan.
"Iya tuan, kalau begitu saya permisi dulu," balas Roman yang tak ingin membantah perintah dari Rahman.
"Hmm," balas Rahman dan Roman pun langsung pergi ke kamar tamu yang tadi di tunjuk oleh Rahman.
"Pa," pangil Erika mendekati Rahman dan langsung memeluk lengannya.
"Hmm," balas Rahman menatap putrinya, dia tahu kalau Erika sudah dalam mode seperti itu, itu tandanya dia menginginkan sesuatu.
"Boleh ya apa yang tadi Erika bilang, pliss Erika kepengen punya kakak," ucap Erika mengulangi apa yang dia katakan tadi.
"Sudah nanti saya di bahasnya, sana kamu pergi bantu mama siapin makanan, biar bisa cepat cepat makan bersamanya," balas Rahman mengalihkan perhatian Erika.
"Huh baiklah," balas Erika dan langsung pergi meninggalkan Rahman dengan keadaan wajah yang cemberut karena takut kalau Rahman tidak mengizinkannya.
"Nanti kamu juga akan bahagia sayang," gumam Rahman menatap kepergian putrinya.
Setelah itu Rahman pun langsung pergi ke ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan yang masih tersisa sebelum nanti dia akan makan bersama keluarganya dan juga membuka amplop yang berisi hasil tes DNA di hadapan semua anggota keluarga termasuk Roman yang bersangkutan.
Sedangkan Roman yang berada di kamar mandi itu tengah memandangi wajahnya di dalam cermin kamar mandi, dia menggerutuki kebodohannya karena sudah mengizinkan Erika memeluk dirinya tanpa berfikir kalau pasti tuan Rahman akan marah kepada dirinya karena sudah lancang memeluk Erika.
"Apakah nanti setelah makan tuan Rahman akan memarahi ku?" gumam Roman bertanya tanya.
"Kalau iya gimana, terus nanti kalau dia pecat aku dari perusahaan gimana?" lanjut Roman yang over tingking.
"Ah gue sih kenapa bodoh banget sih, harusnya tadi gue gak menerima pelukan Erika begitu saja, harus gue sadar diri tadi," lanjut Roman lagi.
"Tapi kalau lihat wajah Erika yang seperti itu aku merasa ikutan sedih juga, aku gak tega membiarkan dia merasakan kesedihan karena menginginkan pelukan seorang kakak seperti ku," lanjut Roman lagi.
"Mungkin kalau aku anak orang kaya juga aku tidak akan merasa over tingking seperti ini, karena mungkin tuan akan mengizinkan aku memeluk Erika kalau aku kaya,"
"Ehh tapikan selama ini tuan Rahman tidak pernah memandang orang lain dari status sosialnya."
"Ah sudahlah banyak banyak berdoa saja semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi," lanjut Roman lagi mengakhiri lamunan nya.
Dia pun segera membersihkan tubuhnya sebelum nanti akan makan bersama keluarga Rahman.
...***...