Benci jadi Cinta. Mungkin itulah ungkapan yang bisa menggambarkan perasaan Dimas. Namun bagaimana bila cinta yang tengah bersemi itu datang di saat yang tidak tepat?? Bahkan bercokol dengan sangat dalam hingga menutupi semua akal sehat, logika, dan dosa.
Hasrat yang begitu pekat teraduk dengan begitu indah dalam naungan gelora asmara.
Bahagia namun khawatir.
Senang namun takut.
Ketakutan dan juga kekhawatiran itu seakan tak lagi berarti saat geliat yang terjadi membakar gairah sampai menghanguskan nurani.
Cinta yang muncul di kala keduanya berstatus sebagai ibu dan anak. Cinta yang dianggap tabu oleh masyarakat. Cinta terlarang yang tak bisa mereka gapai.
Batasan norma menjadi penghalang bagi hubungan keduanya. Luna sang ibu tiri harus memilih antara mempertahankan rumah tangganya, atau memilih cintanya?
"Aku akan membuatmu bahagia, Lun. Meski itu berarti harus membuat semua dunia membenciku." Tatapan lembut Dimas membius Luna, di antara tetesan air shower, pandangan mereka saling mengunci.
"Dikucilkan pun aku tak peduli, Mas. Asal kamu selalu bersamaku." Luna mencium bibir Dimas lekat.
Sebuah Cinta yang muncul di saat yang tidak tepat, apakah bisa membawa mereka pada kebahagiaan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devy Meliana Sugianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang Yang Mana?
"Seru banget, kalian ngomongin apa?" Surya yang mendengar gemerisik suara obrolan di dapur penasaran. Ia berdiri di bingkai penghubung dapur dengan ruang makan.
"Ini, Pa. Kami berdebat soal siapa calon ketua BEM berikutnya menggantikan Dimas. Kan Dimas sudah semester akhir, Pa. Sudah harus pensiun." Dimas tersenyum manis supaya Surya tidak curiga.
"Cuma berdebat pemilihan BEM kok kayak milih presiden, memangnya kamu ikut kampanye?" Surya duduk di kursi, menunggu masakan sang istri matang.
"Iya, donk. Dimas minta mama jadi ketua BEM gantiin Dimas." Dimas terkekeh. Luna melotot galak lalu menginjak kaki Dimas, membuat tawanya berganti denga ringisan kesakitan.
"Hah?? Luna jadi presiden BEM?!"
"Baru rencana kok Pa," jawab Dimas yang akhirnya memilih untuk duduk di depan sang papa.
"Sebentar lagi kamu lulus?"
"Iya."
"Jadi bisa bantu Papa bekerja?"
"Yup. Tapi Dimas pengen kerja cari pengalaman dulu di tempat lain, Pa. Biar mandiri. Dimas nggak mau bergantung sama Papa terus. Supaya Dimas kelak bisa menghidupi anak dan istri Dimas juga dengan kemampuan Dimas sendiri," ucapnya sembari menatap Luna dari belakang.
Luna yang sedang memotong kentang terhenti, ucapan Dimas membuatnya terpana. Bisakah ia menjadi istri dan juga mama dari anak pria yang ia cintai?? Luna terdiam sesaat lalu mengusir bayangan kemustahilan itu. Luna telah sah menjadi istri Surya, kesempatan menjadi istri Dimas adalah 0.000000001 persen alias tidak akan pernah terjadi.
"Ya, kamu benar. Ada baiknya kamu pergi mencari pengalaman. Toh Papa masih sehat dan bugar, masih bisa memimpin perusahaan sampai sepuluh tahun kedepan." Surya mengangguk, bahkan terlihat senang karena anaknya sudah dewasa. Dimas mampu berpikir lebih mandiri dari perkiraannya.
"Ayo makan." Luna datang dengan sepanci kecil sup ayam yang penuh gizi. Aromanya benar-benar menggugah selera. Seperti biasanya, Luna akan mengambilkan Surya terlebih dahulu sebelum Dimas.
"Mama sayang banget ya sama Papa. Selalu papa duluan yang diambilin." Dimas menyindir Luna, mirip anak kecil yang sedang merajuk. Yah, Dimas memang terbawa perasaannya yang cemburu buta pada sosok Surya.
"Jangan kayak anak kecil ah!!" tukas Surya.
"Kalau Papa lebih sayang mana? Mama atau Dimas?" tanya Dimas balik. Surya tercekat, pertanyaan apa itu? Tentu saja dia sayang semuanya. Sayang Dimas juga sayang Luna. Keduanya adalah keluarga Surya yang berharga.
"Sayang semua lah, Dim!! Kenapa sih kek anak kecil gitu??" Surya menghela napasnya menghadapi pertanyaan Dimas yang menurutnya sudah jelas apa jawabannya. Sayangnya rata, satu istri satu anak. Bobotnya sama.
"Gitu ya. Terus Dimas juga mau nanya. Kalau tiba-tiba Dimas melakukan kesalahan yang amat sangat besar. Apa Papa tetap masih sayang sama Dimas?"
"Sure, tentu saja. Bahkan papa akan menjadi tameng bagimu, meski sesalah apa pun perbuatanmu. Baru nantinya papa sendiri akan menghukummu di belakang agar tidak mengulanginya lagi. Karena selamanya kamu anak papa yang berharga," tutur Surya
Dimas mengusap kaki Luna dengan kakinya, berusaha memberi tahu Luna kalau Papanya mau memaafkan kesalahannya, kesalahan paling fatal pun Surya akan mengampuni Dimas.
Luna berdehem, ia langsung meminum air putih dan melotot pada Dimas agar berhenti menggosokkan kakinya pada kaki Luna.
"Kenapa sih nanya hal yang sudah jelas jawabannya??" Surya mengeryit curiga. "memangnya kamu salah apa??"
"Kan cuma seandainya, Pa. Seandainya Dimas membuat papa kecewa. Apa papa tetap akan sayang sama Dimas? Dimas hanya penasaran saja." Dimas terkikih.
"Pertanyaanmu ini aneh. Coba kalau papa balik, bila kamu ditanya mana yang lebih kamu sayang? Kamu jawab apa? Papa atau Mama??" Surya menatap tajam putranya dan bertanya balik.
"Siapa ya?" Dimas mengggosok dagunya menimbang-nimbang.
...-- BERSAMBUNG--...
lebih baik luma sembuh dan mereka berpisah.. jalani hidup masing2..