"Kamu tahu, terkadang waktu yang singkat memiliki kenangan yang hebat."
Gadis cantik dengan bulu mata lentik itu tersenyum kecut tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sudah lelah menggantungkan harapan pada pria yang selalu mengumbar kata sayang, namun sikap dan usahanya tak menunjukkan hal demikian.
"Maafkan aku, kutahu ini sakit bagimu. Tapi ini juga sulit untukku," lirih Joe sungguh-sungguh.
Bagaimana bisa pria itu menahan seseorang, ketika ia masih mengharapkan cinta dari yang lainnya. Dia tak ingin melepas salah satunya. Dan Shena tau itu. Tapi bodohnya, Shena tak kuasa untuk mundur sebab rasa cintanya sudah terlanjur dalam.
"Bersamamu aku sakit, tapi jika tidak denganmu aku hancur."
Ini kisah Shena Morghia yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, Joe Mafarulls. Seorang pria dewasa dengan kisah hidupnya yang rumit. Trauma akibat ditinggalkan kekasihnya di masa lalu, membuat Joe kesusahan membuka diri pada orang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Di batas kesabaran
"Kamu?"
Shena mengerutkan kening, saat tiba di depan gedung apartemennya ia melihat ada sosok pria berbadan tinggi dengan jaket hitamnya berdiri bersandar di sebuah mobil mewah jenis SUV warna hitam.
Pria tampan itu melempar senyum ramah, kemudian berjalan perlahan mendekati Shena.
"Hai," sapanya mengangkat sebelah tangan.
"Hai," balas Shena tersenyum samar. "Dari tadi, atau baru sampai?" tanya Shena pada laki-laki itu.
"Baru aja kok, kamu habis dari luar ya? Jam segini baru sampai apartemen?" tanyanya balik.
Shena mengangguk-anggukkan kepalanya, sedikit heran dengan kedatangan Elios yang tiba-tiba. Meski penasaran dengan maksud pria itu menemuinya, namun Shena memilih untuk menunggu Elios berbicara tanpa harus ia tanya. Entahlah, malas rasanya berinteraksi berlebihan dengan orang-orang di saat perasaan tengah tidak nyaman seperti sekarang ini.
"Kedatanganku nggak ganggu, kan?" tanya Elios, sadar betul respons didapatkannya dari gadis yang ditemuinya ini tidaklah seperti harapannya. Walaupun ia sudah menduganya sebelum berangkat tadi, akan tetapi tetap saja rasanya sedikit ngilu.
Shena terkesan acuh tak acuh, sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran dirinya. Bahkan sekedar menawarinya untuk masuk ke unitnya saja tidak gadis itu lakukan.
Ahh, benar ... seperti ini saja sudah merupakan bentuk penolakan, bukan? dan ini untuk yang ke sekian kalinya. Poor, Elios.
"Enggak, santai aja." Shena berusaha mengukir senyum ramah saat menanggapi pertanyaan yang terdengar sungkan dari laki-laki di hadapannya. Semoga saja wajahnya tidak terlihat aneh, karena terkesan memaksakan.
"Kalau begitu, boleh aku ikut masuk? Maksudku ... antar kamu sampai pintu apartemen," ralat Elios merasa tidak enak. Pria itu ingin tetap menjaga kesopanan, lantaran tak ingin dianggap pria yang tidak bisa menghargai seorang wanita.
Meski begitu, tetap saja Elios berharap Shena sedikitnya bisa peka akan situasi ini.
Tolong Shena, berbasa-basilah sedikit saja.
"Boleh," putus Shena kemudian. Ia tidak mungkin membiarkan pria lain memasuki apartemennya, sementara kini hubungan dirinya dan Zoe sudah resmi berpacaran. Sudah seharusnya ia menjaga sikap, bukan?
Keduanya berjalan beriringan memasuki lift yang akan mengantar keduanya ke tempat tujuan. Sesekali ekor mata Elios mencuri pandang pada gadis yang berdiri di sampingnya, Shena tampak baik-baik saja dari luar, namun mata yang sedikit sembab itu menjelaskan keadaan sang gadis yang sebenarnya.
Apa ini lagi-lagi tentang pria badjingan itu? ya, siapa lagi kalau bukan Zo Mafarulls—sahabatnya sendiri. Hal menyakitkan apalagi yang sudah dilakukan si brengsek Zoe sampai-sampai Shena harus selalu terlihat menyedihkan setiap harinya.
Andai Shena mau lepas dari segala perasaan yang menyesakkan itu, dan mau menerimanya, Elios tentu akan menyambut dengan sepenuh hati. Ia akan menggantikan semua kepahitan itu dengan kebahagiaan paling manis di dunia ini. Untuk Shena, hanya untuk Shena.
Tentu kita semua tahu, ketika seorang pria menginginkan seorang wanita. Ia akan berusaha melakukan yang terbaik sekuat yang ia bisa, hanya saja ... wanita yang sudah hancur hatinya tak lagi bisa membedakan mana yang sungguh-sungguh dan mana yang tidak.
Mereka cenderung stuck di satu luka menganga yang sukses membelenggunya. Pada akhirnya mengalami yang namanya trust issue dan tidak bisa memilah mana yang tulus, dan mana yang hanya main-main saja.
Alasannya hanya satu, yakni harapan. Harapan jika saja sewaktu-waktu si pria bisa berubah, dan berpikir ulang mengenai perasaannya. Meninggalkan setiap wanita di sekelilingnya dan membuat dirinya jadi wanita satu-satunya. Namun seringnya, ia tetap jadi salah satunya.
"Kamu tahu kan, Na. Aku punya voucher liburan ke Bali, di sana juga aku ada villa, letaknya pun gak jauh dari pantai kuta."
Pada akhirnya, Elios kembali berbicara setelah keduanya sampai di depan pintu apartemen milik Shena. Ia ingin segera mengutarakan maksud tujuannya ke sini, namun lidahnya sejak tadi teramat kelu, sebab Shena terus saja diam dan bersuara jika saja dirinya bertanya.
"Terus?" tanya Shena terdengar ketus di telinga Elios.
Sontak saja Elios mendadak gugup, pria itu sampai-sampai menelan salivanya dengan paksa, hingga jakunnya bergerak dengan sangat jelas.
"Ma-mau liburan bareng aku nggak?"
...*...
...*...
Suara dentingan gelas beradu pertanda mereka menikmati makan malam bersama. Zoe dan juga Franda segera kembali ke villa saat matahari terbenam, lelah dengan segala aktivitas yang mereka geluti seharian akhirya Zoe mengajak Franda untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan mereka esok hari.
"Kira-kira besok kita ke mana lagi ya, Zoe?" tanya Franda setelah menyesap minuman berwarna merahnya secara perlahan.
"Duuuhh, yang masih semangat jalan-jalan," goda Zoe seraya tersenyum mendengar pertanyaan Franda yang menandakan wanita itu senang dan masih bersemangat untuk menghabiskan waktu dengannya.
"Jangan random lagi, harus terencana." Franda tersenyum lebar, sudah tidak sabar dengan hari esok.
Keduanya kemudian mengobrol membicarakan mengenai kemana saja, dan kegiatan apa saja yang sudah mereka lalui seharian tadi. Suara tawa terdengar keras di dalam villa yang sepi itu, sesekali ada pelayan yang datang membawakan minum dan makanan penutup sebagai pencuci mulut.
Selesai makan malam, keduanya memilih untuk kembali ke kamar masing-masing.
"Nda," panggil Zoe lembut. Entah sejak kapan nama panggilan khusus itu tersemat begitu saja, mungkin setelah obrolan panjang dan seru mereka tadi memberi dampak yang cukup signifikan bagi kedekatan keduanya.
"Ya?"
"Kalau ada apa-apa panggil aku aja, kamar kita 'kan sebelahan." Joe menunjuk pintu kamarnya.
Franda pun mengangguk, seraya melipat bibirnya. "Makasih ya, udah buat liburan aku kali ini jadi lebih menyenangkan," ungkap Franda jujur. Ia sungguh bersenang-senang selama ada di sini bersama dengan Zoe, bisa Franda akui ... ia sudah memilih orang yang tepat sebagai partner liburannya.
"Sama-sama, Nda. Aku juga seneng banget bisa nemenin kamu, makasih banyak," balas Zoe terenyum manis.
Mereka berdua saling terdiam, berdiri di depan pintu kamar masing-masing dengan ekspresi canggung dan kebingungan.
"Selamat malam, Zoe," bisik Franda. Gadis itu membuka pintu kamar, namun ia merasa ada yang menarik tangannya. Ialah Zoe, laki-laki tampan dengan kemeja putihnya itu menatap Franda dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Franda menatap Zoe dengan wajah keheranan. "Ada apa?" tanya gadis itu pelan, nyaris tak terdengar.
Tersadar dengan tingkah yang dirasanya kurang sopan, Zoe menarik tangannya dan mundur satu langkah ke belakang. Ia khawatir Franda terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Maaf," ucap Zoe cepat-cepat.
Mereka berdua kembali terdiam dengan posisi yang sama, saling berhadapan, terdiam, dengan detak jantung yang semakin tidak beraturan. Dan hal itu pun sama dirasakannya oleh Franda.
Seolah sudah memahami apa yang tubuh keduanya inginkan, Zoe mendekatkan wajah dan mencium Franda dengan penuh perasaan. Gadis itu pun memejamkan matanya, kedua tangannya saling terkepal seraya menahan napas.
Seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh Zoe, ia tersengat dengan sensasi ketika ia mendapat balasan dari Franda, bibir yang sudah lama ia pandangi diam-diam ini, sekarang menjadi miliknya.
Langkah kaki Franda memundur ke belakang dan otomatis melebarkan pintu kamar, dengan segera ia mengalungkan kedua tangannya ke leher milik Zoe.
Sementar tangan Zoe mengusap punggung Franda di tengah kegiatannya, pria itu menendang pintu kamar dengan ujung kakinya hingga menimbulkan suara dentuman tanda pintu sudah sepenuhnya tertutup.
Zoe sangat menikmati malam itu, hingga tidak menyadari ponselnya terus berdenting pertanda bahwa ada yang menghubunginya.
saking dalamnya dia menoreh kan luka di hatimu /Grievance/
makanya jangan nyepelein wanita klo lagi cemburu 🤣🤣🤣🤣
keren nih cowok kere 🤣🤣🤣
weh orang mah bawa ke hotel ini di mobil 🤣🤣🤣🤣
kamu lupa klo shena yg skrg bukan Shena yg dlu lagi yg bisa kamu permainkan, ya wlopun perasaan kamu ke Shena skrg emg sungguhan.tapi buat Shena susah buat percaya lagi sama kamu zoe.dan kita liat sejauh mana perjuangan kamu buat dapetin lagi hati Shena.
hadeuh ko tamat sih teh 🙄
lanjut ke part 2 ya🙄🤔
kuy lah mrapat ke part 2 nya 🤣🏃🏃🏃
it's too late Zoe!!
eh bner teu sih bhsa inggris na🙄 sieun salahan ke gagal keren atuh 🤭🤣🤣🤣🤣
maklum sarapan na sampeu teh Anna lain roti lapis kotak"..🤣🤣🤣
Harry klo Shena ga maw sama kamu ,yuk maen sini yuk ke krawang aku ikhlas ry jadi tempat mu bersandar apalagi jdi tmen bobo kamu ry,ikhlas bgt aku 😳😳😳🤭🤭🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃
paksu ga baca novel ini kan 👀👀
🤣🤣🤣🏃🏃🏃