Di usianya yang baru menginjak usia tujuh belas tahun, Renzela Oskar harus di hadapkan dengan permasalahan rumit keluarga, keserakahan sang Papi yang tengah menguasai seluruh aset warisan dari sang Kakek untuk menghidupi wanita selingkuhannya membuatnya memilih jalan yang paling dia benci; Menikah di usia muda.
Demi mengambil kuasa atas semua aset yang Papinya kuasai, Renzela rela mengubur dalam-dalam kebahagiaannya dan menikah dengan seorang lelaki yang tidak pernah dia kenal. Hanya sebatas nama yang dia ketahui, yaitu Darrel Bastian Baskara; pengusaha mapan yang Om nya pilihkan.
Siapa sangka, saat pertemuan pertamanya dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya, Renzela malah di kaget kan dengan sebuah kontrak pernikahan yang harus dia tanda tangani.
Bagaimana perjalanan pernikahan mereka?
Mampukah Renzela memanipulasi hak walinya untuk menyadarkan sang Papi? Dan akankah Renzela mendapatkan kebahagiaan nya sendiri?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat.
Wajah Renzela terlihat berseri-seri setelah mendapatkan es krim yang dia sukai. Tidak hanya mencicipi langsung, dia juga membeli beberapa cup untuk di bawa ke rumah. Bukan hanya untuk dirinya dia juga membeli beberapa untuk suaminya.
"Aku akan memberikan ini sebagai tanda terima kasih ku." ucapnya dengan penuh semangat. Setelah beberapa langkah mau kembali, tiba-tiba dia terhenti. Ada pergerakan yang menarik ujung rok seragam nya membuat dia begitu kaget. "Astaga....." Dia kira itu siapa, ternyata seorang anak kecil yang sudah berkaca-kaca hampir menangis. "Anak siapa ini, kenapa sendirian?" hanya bisa membatin sambil celingukan sana-sini mencari orang tua bocah ini, tapi nihil tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
"Help me!"
Renzela sampai terhenyak mendengar rengekan anak kecil ini dan kembali menatapnya, dari tampilan nya, anak ini seperti orang lokal tetapi bicaranya begitu fasih berbahasa Inggris bak anak luar negeri, "Iya, apa sayang. Apa yang bisa Kakak bantu?" tanyanya dengan berbahasa Inggris mengimbangi anak kecil ini.
Dia penasaran, benarkah fasih, atau memang sedang belajar berbahasa Inggris, "Coba katakan, apa yang bisa Kakak bantu!" ucapan nya lagi dengan berbahasa Inggris, perlahan berjongkok mensejajarkan wajahnya. Dia bahkan langsung mengelus kepala anak kecil itu untuk menghibur nya. Bisa-bisanya dia malah di pertemukan dengan anak yang begitu menggemaskan dan memintanya pertolongan.
"Ania tersesat. Tolong bantu cari Daddy Ania!" Anak kecil itu bahkan tak ragu mengutarakan keluhannya. Bukan tanpa alasan, dari sekian banyak orang di dalam mall yang Ania temui, hanya Kakak ini yang menurutnya tidak menakutkan dan bisa di percaya. Bagaimana tidak, dia yang terbiasa hidup di wilayah berkebangsaan Inggris dengan mayoritas orang-orang berkulit putih dan berambut pirang, membuat nya merasa bertemu saudaranya sendiri. "Tolong ya, Kak!" rengek nya lagi.
Renzela sesaat sampai melongo, rupanya anak kecil ini benar-benar fasih berbahasa Inggris bak bule seperti dirinya, tapi terlepas dari itu, apa katanya tadi, "Tersesat?" Malah dia yang gugup. Bagaimana ini, dia harus bagaimana, dia bingung. Jangankan mencarikan Ayah anak ini, kenal sama anak ini saja dia tidak. "Ayolah kepala, berpikir?" batinnya malah mengomel sendiri. Dia kan baru mengalami hal seperti ini jadi tidak tahu harus bagaimana.
"Ayo sini Kak. Tadi Ania kehilangan Daddy di sebelah situ. Ayo bantu Ania!"
Renzela benar-benar di tarik, pikirannya benar-benar buntu dan mau saja mengikuti anak kecil itu padahal dia sendiri tidak tahu rute mall ini, tempat ini juga begitu asing untuk nya, "Adek, tunggu!"
...***...
Darrel mulai ketar ketir, meruntuti dirinya sendiri, memang hal bodoh dia menyuruh Renzela keluyuran seorang diri, terlebih gadis kecil itu tidak membawa ponsel hingga tak bisa di hubungi. Sudah dua puluh menit berlalu ponsel barunya pun sudah siap di gunakan dan bisa langsung di bawa pulang tapi sampai sekarang Renzela belum kembali juga.
"Aisst, bodoh kau Darrel. Kau malah menggali masalah mu sendiri."
Tanpa pikir panjang, Darrel langsung melangkah menuju ke arah Renzela pergi, seingatnya tempat yang menjual es krim tidak jauh dari sini. Setelah sampai di tempat penjual es krim, dengan cepat dia bertanya tentang Renzela karena tak menemukan nya di sana.
"Maaf, Mas. Apa tadi ada seorang wanita remaja membeli es krim ke sini. Dia memakai seragam sekolah, wajahnya cantik, putih, rambut nya panjang dan pirang?"
"Oh, Ada." Si mas penjual es sampai langsung mengiyakan, bagaimana tidak ingat, ciri-ciri yang lelaki ini ucapkan benar-benar seperti seorang bule yang baru saja memborong es krim nya.
"Setelah dari sini dia pergi ke mana?"
"Entahlah, saya tidak tahu. Yang jelas dia belum lama keluar dari sini."
Darrel sampai mengusap kasar wajahnya frustasi, lekas keluar untuk melakukan pencarian, Renzela benar-benar lebih aktif dari pada si kancil, sudah dia bilang langsung kembali, ini malah keluyuran entah ke mana.
"Renzela, kau di mana?" Darrel sampai memutar tubuhnya mengitari sekitar, mulai gelisah karena ujung pengelihatannya benar-benar tak melihat Renzela sama sekali. "Aisst, benar-benar merepotkan." Dia sampai menghela nafas, terus berkeliling tanpa kepastian akan lebih sulit dan memakan waktu, lebih baik dia langsung ke pos keamanan, setidaknya dia bisa meminta bantuan staf mencari pergerakan Renzela melalui cctv.
Sementara itu di sudut lain, Renzela dan Ania masih berjalan tanpa kepastian. Renzela hanya mengikuti langkah Ania mencari kebenaran Daddynya, sayangnya sudah beberapa kali mereka mondar-mandir belum juga ada hasil, Ania belum menemukan Daddy nya sama sekali.
"Ania cantik. Kita mau ke mana lagi?" Perasaan Renzela mulai tak enak, entah ke arah mana lagi anak kecil ini mengajaknya, dia bahkan tidak tahu harus kembali ke arah mana untuk menghampiri suaminya. "Apa mau duduk dulu, Ania pasti lelah kan?"
Ania malah menangis, ekspresi nya ternyata terlalu tinggi, padahal dia sudah berharap besar kakak cantik ini bisa menemukan Daddy nya, tapi nihil, mereka dari tadi hanya terus melangkah tanpa kepastian, "Ania takut, Ania mau ke Daddy."
Renzela malah semakin gugup, bagaimana ini? Kenapa malah menangis. "Cup... Cup... Sayang. Kita duduk dulu ya!" bujuknya dengan lembut. Pikirannya juga akan semakin kacau kalau anak ini malah menangis, dia tidak bisa berpikir jernih untuk mencari solusinya. Dia hanya yakin Om Darrel pasti akan mencarinya, dia dan Ania pasti tidak akan kenapa-kenapa. "Ini, apa Ania mau es krim?" ujarnya sambil mengeluarkan satu cap es krim. Iya, dia hanya bisa menenangkan nya dulu sambil menunggu.
Di pos keamanan, sepasang suami istri terlihat sedang berdebat kecil, putrinya yang hilang membuat sang ibu cemas dan tentunya menyalahkan Ayahnya yang bertanggung jawab menjaganya.
"Sudah kubilang jangan melepaskannya kan. Kau lihat Ania jadi tidak bisa di temukan."
"Alessandra, apa bisa kau tenang sedikit. Iya aku minta maaf. Tenanglah, Ania pasti ketemu." Leonardo sampai menyentuh kedua pundak sang istri, menjelaskan kalau dia juga sedang berusaha bertanggung jawab untuk menemukan putri istrinya ini.
Ok, Alessandra pantas marah karena mengira dia tidak menyayangi anak kecil itu karena dia bukan ayah biologis nya, tapi tetap dia juga sangat menyayanginya. "Kita serahkan kepada petugas, biar mereka mencari pergerakan Ania." tuturnya lagi sambil merangkul wanita itu. Mengajak nya untuk kembali fokus pada monitor yang memperlihatkan layar cctv di mall ini.
"Apa ini putri kalian?"
Fernando dan Alessandra langsung mendekat, memastikan dengan baik. Tidak mengira, hanya memperhatikan foto dan terakhir Ania hilang, petugas bisa langsung menemukan putri mereka.
"Iya, Pak. Itu putri kita." Alessandra kini bisa sedikit bernafas lega, dari layar monitor terlihat jelas kalau beberapa menit lalu putrinya itu sedang celingukan kebingungan mencari kebenaran mereka. "Tolong carikan di mana posisinya sekarang!"
"Iya, baik, Non. Tunggu sebentar."
Suara petugas lain dengan seorang pengunjung tiba-tiba terlihat sama-sama masuk ke ruangan itu, suaranya sampai memancing perhatian orang-orang di dalam terutama Alessandra. Sosok tak asing yang sudah hampir lima tahun tak ia temui kini benar-benar ada di hadapannya.
"Da-Darrel!" Alessandra sampai tak kuasa menahan keterkejutan itu sampai tak sadar memanggilnya.
Begitupun dengan Darrel, sesaat dia membeku, namun setelah dia langsung menyadarkan dirinya seolah dia tak pernah mengenal wanita yang ada di hadapannya itu, dan memilih mengutarakan maksudnya, "Pak tolong carikan istri saya, ini foto nya. Dia menghilang tiga puluh menit yang lalu di area lantai tiga."
kasian renzelanya dong Thor,kok dapet yg udah GK perjaka