Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
"Kenapa elo mau aja sih, Jen? Harusnya elo nolak dia langsung." Daffin menatap tajam gadisnya.
"Ck, sini! Gue pengen lihat aja apa yang akan elo lakuin kalo ada yang nyatain cinta ke gue." jawab Nara seraya menarik tangan Daffin untuk duduk bersamanya.
Daffin memutar bola matanya malas "Untung gue gak langsung bogem."
"Gue seneng elo mulai bisa ngendaliin amarah lo. Ya walaupun sedikit." Nara tersenyum kemudian ia merebahkan kepalanya di pundak Daffin.
"Itu karena elo keburu nyebut nama gue, Kalo engga udah hajar habis habisan tuh bocah ingusan." Daffin mengusap rambut belakang Nara, sepertinya ia masih berapi-api mengingat kejadian tadi.
"Gak semua masalah bisa di selesai-in dengan amarah dan kekerasan, Boy." terdengar Daffin mendesah.
"Iya. Tapi awas aja elo ngerjain gue kayak tadi." sahutnya tapi dengan nada mengancam.
"Hm." Nara menutup matanya. Bibir Daffin tersenyum seraya mengusap pipi gadisnya "Gue ke toilet bentar ya, sebelum pulang."
"Jangan lama-lama." Nara berlalu dari hadapan Daffin yang masih duduk di kursi taman belakang sekolah.
~
Nara mencuci tangannya di wastapel setelah selesai menunaikan hajatnya.
"Akh.." pekik Nara karena tiba-tiba tubuhnya terdorong ke belakang.
"Elo masih berani deketin Daffin ternyata. Brengs*k!!" geram Nana menatap Nara tajam.
Dara tersenyum sinis di belakang Dara, ia tahu jelas kalo Nara sudah tidak dekat lagi sama Baim tapi entah kenapa dia masih saja benci pada Nara.
"Hhh.." Nara menarik nafas pelan "Gue sama Daffin itu pacaran jadi elo gak bisa minta gue ngejauhin dia seenaknya aja." kali ini Nara tidak mau lagi mengalah.
"Berani lo ya sekarang?" Nana mengangkat tangannya hendak menampar Nara, namun dengan cepat Nara menepis dan berbalik memegang pergelangan tangan gadis itu "Aw.. Aw.."
"Elo itu junior 'kan? Seharusnya elo itu lebih hormat sama senior lo.. " Nara mendekatkan wajahnya yang mulai geram.
"Cih.. Gak sudi, nyesel gue gak langsung dorong elo sampai ke dasar jurang waktu itu." Tangannya yang bebas menjambak rambut Nara membuat Nara meringis.
Brakk
Tiba tiba pintu di dobrak dengan kencang.
"Daffin."
"Kak Daffin."
"Lepas! Berani elo nyakitin cewek gue?" bentak Daffin, menarik paksa tangan Nana.
"Aw.. Kak sa-sakit, lepas kak, kakak nyakitin aku. Tadi itu kak Nara duluan yang mulai." mendengar gadis itu memutar balikkan fakta, Nara membulatkan matanya ia menggeleng pelan, membuat Daffin semakin menggeram marah.
Brukk
Daffin melempar Nana hingga jatuh ke lantai, air matanya meluncur seketika. Ia tidak menyangka kalau Daffin akan berani memperlakukannya dengan kasar.
Dara yang sedari tadi diam di tempatnya dengan perasaan was-was. Gadis itu bergerak membantu Nana berdiri.
Murid-murid mulai berdatangan mengerumuni tempat itu.
"Untung elo cewek, kalo bukan udah gue habisin lo saat ini juga." Daffin menunjuk Nana dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
"Njjir gak nyangka gue. kalian itu cewek kok bisa sih berbuat kriminal kayak kemarin?" ucap Tama yang kebetulan sudah berada di situ.
"Adik kelas lagi? Ck-Ck.. Enaknya diapaain nih, Fin?" Remon ikut menimpali ucapan Tama.
Mata Daffin masih memancarkan amarah ia seperti ingin menelan bulat-bulat kedua gadis itu.
"Kita apain nih guys?" teriak Tama dengan lantang.
"Diskors."
"Dikeluarin."
"Dibalas aja hal yang sama."
"Laporin polisi aja, Kak."
Jawab mereka semua saling bersahutan.
"Diskors ringan banget. Dikeluarin dari sekolah rasanya kurang." Remon mendekati kedua gadis itu dan sebelah tangannya menjepit dagu Nana dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Yup, betul tuh. Masalahnya dia hampir saja menghilangkan nyawa orang loh." Tama menjentikan jarinya setuju akan ucapan Remon.
Ucapan kedua sahabatnya membuat Daffin semakin terprovokasi. Kedua tangannya semakin mengepal kuat.
"Shitt." geram Daffin ia melayangkan tinjuan mendarat tepat pada tembok di samping telinga Nana.
"Aaaaa.. Ampun kak, aku minta maaf." Nana berlutut di depan Daffin begitupun Dara, kini mereka berdua berpelukan sambil menangis.
"Fin. Cukup. Kasihan dia dan gue juga gak pa-pa kok." Nara memegang tangan Daffin erat.
"Elo bilang gak pa-pa. Setelah elo hampir celaka gara-gara dia, elo masih belain mereka." Daffin mengacak rambutnya prustasi.
"Hati elo terbuat dari apa sih Nara? Kenapa bisa elo masih sebaik ini terhadap orang yang udah nyelakain elo?" Daffin merasa geram sendiri.
"Gue cuma kasihan aja lihat mereka. Mereka hanya dibutakan oleh perasaan." Nara mengusap lengan Daffin dan pemuda itu mendengus kasar.
"Ada apa ini? Nara, Daffin kalian kenapa?" tanya Baim, ia menerobos masuk ke dalam kerumunan.
"Nah bagus elo datang. Mereka yang udah nyelakain Nara waktu di perkemahan dan tadi mereka kembali berniat ngelakuin hal yang sama." Daffin menunjuk kedua gadis yang tengah ketakutan itu.
"Beneran Ra. Tapi sekarang elo gak pa-pa 'kan?" Baim menghampiri Nara tapi dengan cepat Daffin menghalanginya.
"Urusan Nara biar gue yang urus. Elo urus aja tuh mereka!" Daffin menatap tajam Baim.
Baim berdecak tapi menurut, ia menarik kedua tangan Dara dan Nana membawanya ke ruang Bk diikuti Nara dan Daffin.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.