Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
“Apa kau yakin ingin pergi?”
“Hmm... tidak ada pilihan untuk tidak pergi.”
“Sendiri?” tanyaku lagi
“Apa yang harus aku takutkan. Semua akan baik-baik saja,” jawabnya dengan sangat yakin.
“Kamu yakin ingin kembali pada Revan? Kamu sudah memikirkan semua akibatnya?”
Nara menatapku sejenak dengan tanda tanya.
“Maksudku... Saat kamu kembali pada Revan dia akan mencoba mengendalikan kamu melalui anakmu.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Bukankah pada akhirnya seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya.”
“Nara, aku bisa membawa kamu pergi jauh dari sini, dan aku akan menganggap anakmu seperti anak kandungku sendiri.”
“Lalu setelah kita pergi jauh, apakah kita bisa menutupi semua kebenaran. Aku tidak ingin hidup penuh dengan ketakutan. Takut jika suatu saat Revan datang mengambil anakku begitu saja dan ketika anakku tahu kebenaranya, aku takut dia akan membenciku.”
Mata Nara berkaca-kaca dan aku memang melihat rasa ketakutan yang dia hadapi nantinya. Namun tidak
bisakah dia mempercayaiku kali ini saja. Bahkan aku akan membawa dia keujung dunia sekalipun jika dia meminta.
“Baiklah, jika ini yang kamu inginkan. Aku akan antar kamu ke Rumah Sakit.”
Ya, hari ini adalah hari dimana yang diinginkan Revan untuk membawa Nara melakukan pemeriksaan kehamilan. Walaupun Nara sudah mengatakan padaku bahwa dia memang sudah mengandung. Namun, Nara belum terlalu yakin. Bisa saja iya atau tidak.
Saat kami sampai di loby rumah sakit, aku melihat Revan sudah datang lebih dulu. Nara melarangku untuk turun dan meminta agar aku kembali ke apartement, aku menurutinya karena tidak ingi menyulitkan Nara disana.
“Terima kasih untuk semua pertolonganmu dan maaf aku selalu mengecewakan, semoga kamu dapat pasangan yang tidak kalah baiknya seperti kamu.”
Nara melontaarkan senyumnya. Ya, mungkin ini terakhir kalinya dia tersenyum setulus itu padaku, setelah ini entah aku bisa bertemu denganya atau tidak.
“Jangan bilang begitu aku bisa berubah pikiran dan menginjak pedal gas dan menculikmu sekarang juga.”
“Hahaha. . . kamu mau cari mati, ya”
Kami tertawa terbahak. Walaupun kami sama-sama tahu ini semua hanya tawa palsu untuk saling menguatkan satu sama lain. Entahlah atau aku saja yang merasa begitu.
Nara turun dari mobil dan masuk ke rumah sakit dan diikutti Revan setelahnya.
Aku melajukan mobilku membelah keramaian jalanan. Pikiranku melayang entah kemana tanpa tujuan. Haruskah aku menangis meraung-raung saat ini, tapi rasionalku masih berjalan mau di bawa kemana muka ini jika aku menangis di jalanan. Rasa sakit ini sungguh menyesakkan dada dan aku mengalami ini untuk kedua kalinya.
Miris. Sangat miris kisah cintaku.
Aku menghentikan mobilku di depan sebuah rumah yang minimalis dan terlihat asri dengan bermacam-macam bunga bermekaran dan tnaaman hijau lainya.
Terlihat wanita yang sudah terlihat begitu ringkih menyiram bunga-bunga itu.
Aku mendekatinya perlahan lalu memeluknya dari belakang.
“Dasar anak nakal. Kalau ibu kena serangan jantung gimana?”
“Ya, Ferdian bawa ibu ke rumah sakit.”
“Dasar anak durhaka, rasakan ini.” Ibu membalikan tubuhnya dan mencubit lenganku.
“Sakit Bu, ya maaf gak gitu lagi.”
“Tumben kamu pagi-pagi begini datang, biasanya waktu weekend saja.”
Aku mengajak Ibu duduk dibangku taman dan kembali memeluknya. Hatiku terasa sangat tenang saat memeluknya, beban terasa hilang seketika.
“Bu, apakah seorang Ibu akan selalu berkorban untuk anaknya?”
“Kenapa tanya begitu?” tanya ibu
Aku menegakkan tubuhku dan bersandar di sandaran bangku, “Ada seseorang yang baru saja bilang gitu dan aku kecewa”
Ya aku akui. Aku sangat kecewa mendengar keputusan Nara yang memilih kembali pada Revan.
“Dari awal kamu sudah salah, Nak. Bagaimana pun dia sudah bukan milikmu tapi kami masih saja berharap.”
Aku mengerutkan dahiku dan terkejut dengan pernyataan Ibu. Sepertinya Ibu sangat mengerti apa yang sedang aku bicarakan.
“Jangan kaget, Ibu sudah tahu semuanya dari pamanmu.”
“Ternyata Ibu diam-diam mengawasi aku.”
Aku menarik napas panjang. Aku tidak percaya ternyata selama ini paman yang terlihat acuh dengan kehidupa pribadi ku selalu memberi laporan terkini pada Ibu.
“Seorang Ibu pasti melakukan apapun untuk anaknya, jika Ibu jadi Nara ini pilihan terbaik tentunya.”
“Jadi Ibu juga berpikir aku bukan pilihan terbaik?” tanyaku
“Saat menjadi seorang Ibu, wanita harus siap kehilangan kebahagianya sendiri dan bisa juga Nara melakukan ini karena tidak ingin menyakiti kamu. Mungkin Nara tahu perasaan kamu padanya.”
“Lalu... sekarang aku harus melakukan apa, Bu?”
“Hiduplah dengan sebaik-baiknya dan hilangkan rasa penyesalan atau kekecewaan karena Ibu yakin, Nara juga ingin kamu bahagia. Jangan memendam perasaan dan terjebak untuk membenarkan hatimu agar terus berharap.”
***
“Tuan, kami sudah mencari keseluruh ruangan tapi kami tidak menemukan Nyonya.”
“Sial! Kau benar-benar menguji kesabaranku Nara!”
Revan menendang tempat sampah di lorong rumah sakit dan mengeluarkan suara kegaduhan, beberapa orang mulai berkumpul dan mencari sumber suara itu.
Jhon segera menghampiri Revan dan membawanya untuk segera meninggalkan rumah sakit untuk mencegah pemberitaan yang tidak perlu.
“Lepas, brengsek!!”
Jhon melepaskan genggaman tangannya di lengan Revan saat menariknya menjauh dari kerumunan orang-orang dirumah sakit.
“Maaf tuan, tapi ada harus lihat ini.”
Jhon memberikan sebuah rekaman cctv pada Revan yang menunjukkan keberadaan Nara.
“Bawa aku kesana sekarang juga.” Perintah Revan pada Jhon
Revan masih tidak menyangka Nara akan mengelabuinya. Dia memang tidak melakukan penjagaan ketat karena Nara terlihat tidak keberatan dengan semua pemeriksaan yang dianjurkan oleh dokter bahkan dia terlihat sangat senang.
Namun, Revan kehilangan jejak saat Nara pergi dengan seorang suster untuk melakukan pemeriksaan
lanjutan dan suster itu meminta agar Revan tetap menunggu diluar ruangan. Setelah tiga puluh menit berlalu tidak ada tanda-tanda Nara keluar dari ruangan itu. Revan pun membuka pintu ruangan tersebut dan tidak ada seorang pun disana.
“Nyonya, sepertinya sudah memperhitungkan semuanya sejak awal. Nyonya sudah berada di ruang tunggu penerbangan hanya beberapa menit sebelum keberangkatan.”
“Sebaiknya kau diam saja! Aku semakin kesal saat kalian selalu saja gagal mengawasi seorang wanita. Lakukan apapun agar penerbangannya dibatalkan, berapapun akan aku bayar!”
Revan mengeratkan jari jemarinya. Dia sudah sangat yakin bisa memiliki Nara kembali dan calon bayinya.
“Tuan, kita sudah terlambat, pesawat yang akan dinaiki Nyonya sudah berangkat 10 menit lalu.” Salah satu bodyguardnya memberi laporan pada Revan.
“Mulai sekarang aku tidak ingin melihat wajah kalian, pergi dari hadapanku!”
Revan kembali memasuki mobilnya. Jhon masih setia mengikuti tuannya. Revan duduk di kursi penumpang dan hanya terdiam seribu bahasa.
“Besok pagi aku akan pergi menyusulnya, urus semuanya jangan sampai ada kesalahan. Satu hal lagi cari tahu siapa saja yang membantu Nara merencanakan semua ini.”
Jhon mengangguk dan pergi dari hadapan Revan.
“Selamat ya, akhirnya kamu sudah menjadi seorang Ayah. Ups! Sepertinya itu hanya sesaat,” ucap Mona yang menhampiri Revan yang terduduk lesu di sofa kamarnya
“Apa ini semua perbuatanmu?” tanya Revan
“Aku memang meminta seseorang untuk mengawasi Nara. Bahkan aku tahu mereka tinggal bersama selama ini. Tapi tentang kepergiannya hari ini sungguh diluar dugaan,” Mona duduk disamping Revan dan memberikan beberapa lembar foto “Mau lihat sesuatu?”
Revan melihat foto yang diberikan Mona. Disana terliha jelas bagaimana Nara terlihat begitu bahagia dengan Ferdian.
“Lihat, di saat kamu sibuk mencarinya dia memilih untuk tinggal bersama mantan kekasihnya dan sekarang kamu masih ingin mengejarnya. Kamu yakin, bayi yang dia kandung anakmu? Bahkan orang bodoh saja tidak akan percaya.”
Revan tersenyum sinis pada Mona, “Ya, aku juga sedikit ragu. Tapi, waktu akan membuktikan siapa Ayah dari bayi itu.”
Revan merobek foto itu sampai kebagian terkecil dan menaburkan dihadapan Mona.
“Berpura-pura sakit dan meminta aku untuk menikah lagi. Sekarang apa lagi yang akan kamu rencanakan?”
“Ya, aku melakukan itu agar mendapat perhatian dari kedua orang tuamu dan menerima aku sebagai menantu tapi ternyata Nara sudah menghancurkan semua rencanaku. Tentunya aku harus mengganti strategi, bukan?”
***
Seperti biasa Ferdian memulai harinya dengan mengurus dokumen-dokumen perusahaan yang tentunya dia harus banyak bertanya pada pamannya tentang pengambilan keputusan dan masalah lainya. Baginya dunia bisnis sangat memusingkan dan menyita waktu, bagaimana pun juga dia harus giat belajar untuk bisa meneruskan perusahaan ini agar berkembang pesat.
Fokusnya kini memang sedikit terbagi. Nara. Gadis itu benar-benar membuatnya gila, seharusnya kini Ferdian menepati janjinya. Ya, janji pada dirinya sendiri untuk berhenti memikirkan Nara karena wanita itu sudah memilih jalanya sendiri.
Bahkan Ferdian sempat ingin menghubungi Nara. Namun, akal sehat mengentikannya.
Tiba-tiba Ferdian dikejutkan dengan kedatangan sekertarisnya yang tergesa-gesa, “Pak, ada seseorang yang ingin....”
Pandangan Ferdian tertuju pada sosok pria yang berada dibelakang sekertarisnya.
“Tinggalkan kami!” ucapnya
Sekertaris Ferdian melakah pergi dan segera menutup pintu. Mereka saling terdiam sejenak.
“Ada perlu apa anda kemari? Saya tidak merasa perusahaan kita memiliki kerja sama.”
“Katakan dimana Nara!”
Ferdian terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Revan. Namun dia merasa perlu untuk sedikit membuat Revaan kesal.
“Ternyata Nara kabur lagi? Sangat di sayangkan jika saja dia mengajakku pastinya sekarang kami sedang menertawakan kebodohanmu”
“Keparat!” Revan menarik kerah kemeja Ferdian dengan tangan kanannya mengepal ingin menghantam wajah Ferdian.
“Tenangkan dirimu. Kamu lihat aku disini di ruang kerjaku. Jika aku tahu dia pergi kemana, tentu saja saat ini aku memilih untuk menghindari pertemuan ini.”
“Jangan terus bermain-main denganku. Tidak mungkin Nara merencanakan semua ini sendiri.”
“Entahlah, aku juga tidak tahu dia dimana sekarang. Tapi harapanku cuma satu, aku harap dia tidak pernah bertemu denganmu lagi.” Ferdian menarik tangan Revan dan kembali duduk di kursi kerjanya.
“Kau ingin aku memohon?” tanya Revan
Ferdian tersenyum, “Memohon? Wah, seorang tuan Revan memohon! Aku sangat senang mendengarnya, tapi sayang aku tidak tahu keberadaan Nara saat ini.”
Revan meninggalkan ruangan Ferdian dan segera mengutus seseorang untuk terus mengawasinya.
Ferdian menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya. Dia mengembangkan bibirnya tersenyum semakin lebar dan di sambut dengan gelak tawa. Menggema seisi ruangan tertutup itu.
“Nara, seharusnya aku tidak pernah meragukan keputusanmu. Kau memang benar-benar luar biasa.”
Dimana pun kau saat ini hanya satu yang aku harapkan. Bahagialah dan jalani hidup mu. Lakukan yang kau inginkan dan yang kau senangi. Jangan pernah kembali. Jangan pernah melihat kebelakang, teruslah melangkah, pilihlah jalan yang paling engkau inginkan. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu.
“Sepertinya mulai sekarang aku harus fokus pada pekerjaan yang membosankan ini.” Ferdian merapikan dasi dan kemejanya yang sedikit kusut karena ulah Revan dan dia kembali bekerja.
Revan dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya menelusuri anak tangga yang tersusun rapi dan sekelilingnya dihiasi dengan bunga-bunga bermacam warna dan jenis.
Ya, sudah sangat lama dia tidak mengunjungi tempat ini. Penyesalan sudah pasti ada di benaknya.
Revan menghentikan langkahnya tepat di halaman rumah sederhana yang didalam sana dihuni oleh orang-orangnya yang penuh kasih sayang dan kebahagian. Perlahan Revan memberanikan diri mengetuk pintu kayu berwarna coklat tua itu.
Tok..tok..
Saat Revan akan mengetuk pintu itu lagi terdengar sahutan di dari dalam rumah itu agar dia menunggu. Revan tetap berdiri tepat didepan pintu. Sungguh dia sangat ingin mendobrak pintu itu karena tidak ada siapapun yang muncul dan membukakan pintu. Revan mulai resah dan ingin mengetuk pintu itu lagi. Tapi pintu itu sudah terbuka dan Revan pun melangkah mundur.
“Revan”
Revan sedikit canggung lalu dia meraih tangan wanita tersebut dan menciumnya.
“Kamu kesini sendiri? Nara?” tanya wanita paruh baya itu pada Revan
Jantung Revan berdegub saat mendengar pertanyaan dari Ibu mertuanya yang menandakan bahwa mereka tidak tahu apapun tentang menghilangnya Nara.
“Iya Bu, saya sendiri. Nara sedang ada urusan yang sangat penting” Revan menjawab sekenanya saja. Dia berharap ibu mertuanya percaya dan tidak melontarkan pertanyaan lain berkaitan dengan Nara.
Mereka berbincang sudah beberapa menit. Namun Revan masih enggan untuk menceritakan tentang masalahnya dengan Nara. Sebenarnya dia sangat ingin mengorek informasi apapun yang ibu mertuanya dapatkan karena Revan sangat yakin Nara pasti menghubungi keluarga sebelum semua rencana ini dia mulai.
“Bu, maafkan saya. Saya benar-benar telah gagal, saya melanggar semua janji dan sumpah pernikahan bahkan tanpa ragu saya menjadikan rumah tangga kami seperti neraka untuk Nara”
“Sebagai seorang ibu yang sudah membesarkan anaknya dengan penuh cinta dan pengorbanan tentu ibu sangat marah dan kecewa sama kamu Revan, bahkan ibu sangat benci sama kamu tapi semua itu ibu serahkan pada Nara. Jika Nara bisa memaafkan semua kesalahan mu dan memulai semuanya dari awal ibu hanya bisa mendoakan kalian agar bahagia”
Bulir-bulir bening mengalir di pipi ibu Nara. Memang sangat berat baginya melihat an ak kesayangannya
mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya.
“Semuanya sudah terlambat bu, Nara sudah meninggalkan saya” Revan menceritakan semua kejadian dimana Nara memulai semua rencanya untuk kabur keluar negeri. Memang beberapa hari sebelum Nara pergi dia menghubungi ibu dan ayahnya melalui telpone. Namun, menurut penuturan orang tuannya Nara tidak
mengatakan apapun pada mereka perihal kepergianya bahkan yang mereka bicarakan hanya perbincangan biasa.
Sebelum Revan meninggalkan rumah Nara. Keluarga Nara berpesan agar tidak mencari keberadaan Nara mereka berpikir bahwa ini benar-benar yang Nara inginkan.
Revan tak henti-hentinya mengotak-atik ponselnya menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Nara. Ya, dia tidak menuruti keinginana mertuanya agar melepaskan Nara dan tidak mencarinya.
Suatu penghinaan untuk harga dirinya jika sampai tidak menemukan Nara. Sampai akhir pun dia masih menjunjung tinggi keegoisan yang sudah menghancurkan dirinya dan segala hal yang berada disisinya.
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...