NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Kota Para Monster

Gudang tua itu mulai terbakar.

Api menjalar cepat di dinding kayu dan peti-peti penyimpanan, membuat asap hitam memenuhi lorong belakang tempat Arda berdiri.

Tubuh pria bertopeng yang baru saja terbunuh masih tergeletak di lantai dengan darah mengalir pelan dari lehernya.

Arda menatap mayat itu tanpa suara.

Ia mulai terbiasa melihat orang mati.

Dan itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.

Darius masih mengarahkan pistol ke pria bertopeng misterius di ujung lorong.

“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya tegang.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tetap tertuju pada Arda.

Dingin.

Tajam.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

“Kalian tidak punya banyak waktu,” katanya akhirnya.

“Orang-orang Nero sudah mengepung area pelabuhan.”

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan kembali terdengar dari ruangan utama gudang.

Jeritan menggema.

Ravian masih bertarung di depan.

Darius menggertakkan gigi.

“Aku tidak percaya padamu.”

Pria bertopeng itu terlihat tidak peduli.

“Aku juga tidak memintanya.”

Lalu tanpa peringatan—

BOOOOM!

Ledakan besar mengguncang seluruh gudang.

Langit-langit lorong retak.

Api langsung membesar.

Debu beterbangan ke mana-mana.

Arda refleks menutup kepalanya.

“Kita harus keluar sekarang!” teriak Darius.

Namun sebelum mereka bergerak—

Tiga pria bersenjata muncul dari ujung lorong belakang.

Mereka langsung mengangkat pistol.

“ITU PEWARISNYA!”

DOR!

Pria bertopeng bergerak lebih cepat dari suara tembakan.

Pisau hitam melesat dari tangannya.

Satu pria langsung roboh sambil memegang mata berdarahnya.

Dua lainnya panik membalas tembakan.

Namun pria misterius itu menghilang ke balik asap.

SWOOSH!

CRAAK!

Suara tulang patah terdengar mengerikan.

Salah satu penyerang terlempar menghantam dinding.

Sementara pria terakhir mencoba kabur—

DOR!

Peluru dari Darius menembus punggungnya.

Tubuh pria itu jatuh tepat di depan Arda.

Mata mereka sempat bertemu beberapa detik sebelum nyawanya hilang.

Arda membeku.

Darah terus mengalir mendekati sepatunya.

Darius segera menarik Arda mundur.

“Jangan lihat.”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Arda sudah melihat terlalu banyak malam ini.

Pria bertopeng muncul kembali dari balik asap.

Bahkan napasnya tidak berubah sedikit pun setelah membunuh tiga orang.

Seolah itu hal biasa.

Dan mungkin memang biasa baginya.

Ravian akhirnya muncul dari ujung lorong sambil membawa senapan.

Wajahnya penuh darah dan jelaga.

Begitu melihat pria bertopeng itu…

Tatapannya langsung berubah tajam.

“Kau lagi.”

Pria misterius itu diam.

Api mulai menyala di antara mereka.

Suasana terasa semakin panas.

Ravian perlahan mengangkat senapannya.

“Aku tidak punya waktu untuk bermain teka-teki.”

“Kalau mau membunuh Arda…”

Tatapannya berubah dingin.

“…kau harus melewatiku dulu.”

Arda menatap Ravian pelan.

Ini pertama kalinya seseorang benar-benar berdiri di depannya seperti perisai.

Namun pria bertopeng hanya menatap Ravian datar.

“Kalau aku ingin membunuh anak itu…”

“Kalian semua sudah mati.”

Sunyi.

Tidak ada yang membantah.

Karena semua orang tahu ucapan itu benar.

Pria misterius itu bergerak terlalu cepat.

Terlalu mematikan.

“Lalu kenapa kau terus mengikuti kami?” tanya Ravian tajam.

Beberapa detik hening.

Lalu pria bertopeng menjawab pelan—

“Karena anak itu tidak boleh mati.”

Kalimat itu membuat Darius dan Ravian langsung saling pandang.

Arda sendiri mulai bingung.

Semua orang memburunya.

Namun pria ini justru melindunginya.

Kenapa?

“Tuan!”

Salah satu anak buah Ravian tiba-tiba berlari mendekat dengan panik.

“Gedung depan sudah ditembus!”

“Orang-orang Nero makin banyak!”

Suara tembakan kembali menggema dari luar.

Mereka mulai kehabisan waktu.

Ravian langsung mengambil keputusan.

“Kita pergi sekarang.”

Darius mengangguk cepat.

Namun saat Ravian hendak menarik Arda—

Pria bertopeng itu tiba-tiba bicara lagi.

“Jangan ke rumah lama.”

Ravian langsung berhenti.

Tatapannya berubah berbahaya.

“Kau tahu tempat itu?”

“Victor juga tahu.”

Kalimat itu membuat udara terasa dingin.

Darius terlihat terkejut.

“Itu mustahil…”

“Tidak ada tempat aman lagi untuk pewaris Valdarez.”

Suara pria bertopeng tetap tenang.

Namun justru itu yang membuatnya menyeramkan.

Ravian menatapnya beberapa detik.

Seolah mencoba membaca pikirannya.

“Kalau begitu ke mana?”

Pria misterius itu menoleh sedikit ke arah Arda.

“Ke tempat yang tidak akan pernah dicari siapa pun.”

Arda menggigit bibirnya pelan.

Entah kenapa…

Ia merasa pria ini tahu terlalu banyak tentang keluarganya.

Terlalu banyak untuk orang asing.

BOOOOM!

Ledakan lain menghancurkan sebagian lorong.

Api mulai menutup jalan belakang.

“Brengsek!” Ravian mengumpat.

Mereka tidak punya pilihan lagi.

Ravian akhirnya menatap pria bertopeng itu dingin.

“Kalau ini jebakan…”

“Aku akan membunuhmu sendiri.”

Pria itu tidak menjawab.

Ia langsung berjalan melewati mereka menuju jalur samping lorong.

Seolah yakin mereka akan mengikutinya.

Dan anehnya…

Ravian memang mengikuti.

Mereka bergerak cepat melewati jalur sempit di bawah gudang yang bahkan Darius tidak tahu keberadaannya.

Lorong itu gelap.

Sangat gelap.

Hanya suara langkah kaki dan napas berat yang terdengar.

Arda berjalan di tengah sambil terus memegang cincin hitam Valdarez.

Pikirannya kacau.

Ayahnya mati.

Orang-orang memburunya.

Dan sekarang ia mengikuti pria misterius bertopeng yang bahkan tidak diketahui namanya.

Semua terasa seperti mimpi buruk.

“Tuan muda…”

Suara Ravian terdengar pelan di sampingnya.

Arda menoleh sedikit.

“Jangan jauh dari saya.”

Anak kecil itu mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian…

Mereka akhirnya sampai di ujung lorong.

Sebuah pintu besi tua berdiri di sana.

Pria bertopeng membukanya perlahan.

Dan saat pintu terbuka—

Arda langsung membeku.

Di hadapannya terbentang kota malam yang dipenuhi lampu neon, asap, dan hujan tipis.

Kota itu terlihat hidup.

Namun juga mengerikan.

Di kejauhan terdengar sirene polisi.

Beberapa gedung tampak terbakar.

Mobil-mobil hitam melaju cepat di jalan raya seperti pemburu.

Dan untuk pertama kalinya…

Arda benar-benar melihat dunia ayahnya.

Dunia mafia.

Dunia para monster.

Pria bertopeng berdiri di depan kota itu sambil berkata pelan—

“Mulai malam ini…”

“Seluruh kota akan mencoba membunuhmu, Arda Valdarez.”

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!