NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 Mulai Jatuh Cinta

Aulia memasuki ruangan Hermawan, ia terus memaksa untuk pergi bersama, walau Aulia bisa melihat laki-laki itu tampak sibuk dengan pekerjaanya.

“Aulia sudah ku katakan beberapa kali, aku sudah menikah dan aku sedang berusaha menbangun rumah tanggaku dengan baik!” laki-laki itu menjelaskan tanpa mengalihan pandanganya dari laptopnya.

“Aku tahu kamu mencintaiku, jangan bohongi perasaanmu.” Jawab Aulia sambil menatap Hermawan, kedua tangan wanita itu meraup wajah Hermawan memaksa laki-laki itu untuk menatapnya.

“Mungkin dulu aku mencintaimu tapi sekarang tidak, aku tidak mencintaimu Aulia, percayala masih banyak pria lain yang mencintaimu!” jawab Hermawan tegas lalu menarik kedua tangan Aulia untuk melepaskan tanganya dari wajahnya.

Aulia merasa dadanya sakit, jantungnya seakan tertusuk belatih yang sangat tajam, sakit dan nyeri itulah yang Aulia rasakan. Begitu cepat Hermawan melupakanya hanya dalam hitungan bulan.

Aulia sangat yakin saat pertama kali bertemu Hermawan bahwa ia bisa menjalin kembali hubunganya dengan laki-laki tersebut, walau dulu Aulia sendiri yang meminta berpisah dengannya, tapi itu dulu sekarang Aulia ingin memperbaiki semuanya.

Dia sadar dulu, tepatnya sepuluh tahun yang lalu saat dia bertemu tanpa sengaja dengan Hermawan. Saat itu Aulia sedang berkencang dengan seorang laki-laki bernama Gali teman di kampusnya.

Aulia dan Gali pergi untuk megunjungi salah satu Mall yang baru saja buka, tanpa sengaja mereka bertemu, Aulia memperkenalkan Gali sebagai kekasihnya pada Hermawan.

Ia bisa melihat dengan jelas raut kekecewaan di wajah Hermawan. Tapi setelah itu semuanya berlalu begitu saja, Aulia memang memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan Hermawan. Karena saat itu ia meyakini jika ia akan bahagia bersama Gali, tapi keyakinan itu salah mereka hanya bertahan selama satu tahun sebelum akhirnya putus.

Aulia sadar, tidak ada laki-laki yang sebaik Hermawan, Aulia yakin akan bisa memperbaiki semuanya seperti dulu, seperti saat mereka sekolah dulu.

Keyakinan itu bertambah saat melihat sikap Hermawan yang tidak berubah sedikitpun padanya, masih sangat baik dan perhatian, serta senyum lembut yang selalu Hermawan berikan padanya selama ini.

Tapi sudah hampir dua bulan ini semua itu menghilang, semua yang menjadi milik Aulia itu menghilang begitu saja tanpa ia tahu alasan sebenarnya.

“Tapi aku mencintaimu. Kalau memang kamu sudah menikah apa buktinya dan dimana istrimu sekarang ha?!” Aulia mentap tajam bahkan matanya sudah memerah siap untuk menangis.

“Kamu sudah bertemu denganya dan kurasa aku tidak harus menunjukan bukti apapun, karena ini pernikahanku dengan dia, kamu tidak berhak mencampuri urusanku!” Hermawan pergi dari ruanganya tanpa memperdulikan jeritan dan tangis Aulia.

Mungkin Hermawan egois pada Aulia, tapi sudah cukup sepuluh tahun ia tersiksa akan perasanya yang tidak pernah berakhir pada Aulia, mungkin itu sudah tidak bisa di sebut cinta lagi itu seperti obsesi. Jika hanya yang di rasakan selama ini adalah rasa sakit, seharusnya cinta membuat keduanya bahagia, bukan menyakiti dan tersiksa.

Aulia pergi tanpa memberinya kabar selama sepuluh tahun dan tiba-tiba muncul begitu saja, awalnya ia sangat senang, benar-benar sangat senang. Tapi rasa itu bukan seperti sepuluh tahun lalu, lebih mengarah seperti perasaan teman lama yang bertemu kembali. Walau Hermawan terus berusaha membagun rasa yang sama, tapi gagal ia merasa getaran itu tidak sama sadikipun.

***

Aulia menangis terseduh di dalam ruangan itu, Hendra menghampiri wanita itu kemudian memeluknya. Hendra sedari tadi memperhatikan kejadian itu, tapi ia tidak mau mencampuri urusan peribadi Hermawan, ia tahu sahabatnya itu tidak akan menyukainya, tapi ia juga tidak tega terhadap Aulia.

“Dia berbohong Hen, Hermawan tidak mungkin menikah dengan orang lain, dia mencintaiku.” bisik Aulia.

***

Dean menghempaskan tubuhnya di kasur, ia benar-benar lelah dengan semua tugas kantor dan tugas kulianya pastinya, ia memang pintar untuk semua pelajaran, tetapi tetap saja itu cukup menguras tenaga dan pikiranya apa lagi bila menyangkut praktek memasak, Dean bahkan hampir saja menyerah untuk melanjutkan kulianya.

Hanya saja Hermawan yang selalu semangat mengantarkan ke kampus setiap hari sambil tersenyum manis dan selalu menyemangatinya, Dean bertahan hanya kerena itu, ia ingin selalu melihat senyum itu.

“Dean buka pintunya, makan malam sudah siap!” suaminya berteriak.

“Ya, sebentar!” sahut Dean, walau sebenarnya ia masih sangat lelah tapi ia masih perlu makan untuk melanjutkan hari esok.

Dean lagi-lagi tersenyum saat melihat berbagai macam lauk yang tersedia dia atas meja, sudah ada ikan di goreng dengan sambel merah yang ia yakin itu pasti sangat pedas, tapi ia menyukai rasa pedas itu, belum lagi ada cah kangkung dengan ebi dan itu masih sangat pedas, terdapat banyak irisan cabe merah di sana.

Selama Dean tinggal bersama Hermawan, laki-laki yang berstatus suaminya ini sangat pandai memasak makanan rumahan khas Indonesia, Dean tidak pernah bosan memakan menu makanan itu, walau terkadang ia merindukan makan Prancis yang sering di buat Edmond waktu masih hidup.

Dean sudah menyelesaikan makan malamnya, tanganya sedang sibuk mengeringkan piring, sedangkan Hermawan ia bertugas untuk mencuci piringnya.

“Wan, besok temani aku kerumah sakit ya.” Dean membuka suarahnya saat menyelesaikan piring terakhirnya.

“Apapun untuk istriku.” jawab Hermawan yang masih berdiri di samping Dean memperhatikan setiap gerak gerik istrinya, membuat Dean tersenyum malu. Tentu saja Dean malu karena akhir-akhir ini Hermawan selalu memperlakukanya dengan manis, bahkan ia selalu mengatakan bahwah Dean adalah istrinya.

”Aku suka saat kamu malu-malu seperti ini.” Hermawan mengelus wajah istrinya dengan lembut, lalu mengengam kedua tangan Dean membawa wanita itu ke ruangan televisi untuk memutar film kartun kesukaan Dean.

Keduanya larut dalam film itu bahkan sesekali tertawa bersama, Hermawan menarik Dean untuk bersandar di dadanya, tangan Hermawan sengaja ia lilitkan di perut rata Dean seakan takut jika Dean akan pergi darinya, wanita itu hanya menurut tanpa membantah apapun.

Hermawan sebenarnya tidak terlalu fokus dengan film itu, ia lebih fokus pada sosok Dean, beberapa kali Hermawan mencium puncak kepala Dean sambil menghirup aroma harum rambut Dean yang sangat mengoda.

“Apa kamu masih lapar hingga ingin memakan rambutku?”

Hermawan langsung tertawa mendengar pertanyaan Dean, bahkan Hermawan semakin senang saat melihat Dean molot padanya karena terus mengganggunya.

Hermawan langsung mencium kening Dean kilat saat wanita itu menatapnya dengan kesal, Dean semakin mengeram marah atas tindakan Hermawan tapi sepertinya Hermawan sama sekali tidak terusik, ia senang bahkan tidak memperdulikan rasa sakit di perutnya saat Dean mencubit perut sixpack-nya.

***

“Selamat sore Om?” Dean menyapa sambil memeluk Ahmad yang masih terbaring di rumah sakit, “Aku yakin Om, bisa melewati ini semua.” bisik Dean lalu mencium kening Ahmad lembut.

“Terimakasih sayang.” balas Ahmad sambil tersenyum lembut, tangan laki-laki paruh baya itu mengelus puncak kepala Dean, rasanya ia sudah lama tidak melakukan itu.

“Selamat sore pak.” ucap Hermawan menyapa Ahmad, dia binggung harus memanggil Ahmad pak atau Om mengikuti Dean.

“Her terimakasih, kamu sudah datang.” balas Ahmad sambil tersenyum.

Hermawan meletakkan parsel buah diatas meja yang sengaja ia beli bersama Dean waktu di jalan tadi, bahkan keduanya sempat bertengkar karena Dean meminta semua parser itu terisi apel, sedangkan Hermawan meminta agar parsel itu di isi dengan berbagai macam buah, dengan berat hati Dean mengalah.

Sudah tidak terhitung berapa kali ia menuruti semua kemauan Hermawan agar laki-laki itu senang, Dean bahkan tidak memperdulikan lagi apa yang ia rasakan, baginya yang terpenting adalah perasaan Hermawan.

“Meli, aku sudah bisa mengupas kentang dan bawang, besok aku akan belajar memotong wortel dan daging, tapi sepertinya aku tidak akan sangup melakukanya, aku tidak tega.” Dean bercerita dengan antusias, Meli, Ahmad dan Hermawan tertawa mendengarnya.

Dean selalu bercerita tentang perkembangan kulianya, hanya masalah kantor dia selalu menyimpanya sendiri, tapi Ahmad tahu semuanya berkat Zulfar yang mengabarkan perkembangan perusahaan padanya.

“Meli, dosen ku itu sangat kejam, dia selalu marah padaku karena aku tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan. Kamu tahu, aku tidak pernah melakukan apapun di dapur.” Dean bercerita dengan jujur.

“Karena itu kamu menikani Hermawan, karena ia bisa memasak untukmu?” Meli bertanya sambil duduk di samping wanita itu, Dean menatap Wawan-nya yang sedang berbicara dengan Ahmad, ada perasaan senang yang teramat besar saat melihat Hermawan bisa akrab dengan anggota keluarganya.

“Entahlah, aku hanya mengikuti kemauan Dad, ternyata Dad benar. Aku mulai jatuh cinta padanya, ia menjagaku dengan baik. Tapi aku ragu apa dia tulus melakukan itu.” Dean masih khawatir karena Wawan masih mencintai Aulia.

Dean terdiam saat laki-laki itu menoleh sambil tersenyum lembut padanya, Dean membalas senyuman itu walau sangat tipis ada perasaan nyeri dalam hatinya jika mengingat perasaan Hernawan padanya.

***

“Her, terimakasih sudah menjaga Dean dengan baik,” ucap Ahmad, “Dia memeng manja dan keras kepala, tapi dia juga pintar dan lembut, dia selalu tersenyum pada semua orang, Dean juga selalu mandiri. Aku tahu Dean sangat mencintaimu,” Ahmad melihat Dean yang masih sibuk bercerita bersama Meli. ”Aku harap kamu jangan membuat dia menangis lagi, dulu dia selalu menangisi mu.” Ucap Ahmad.

“Dulu? maaf pak tapi-” sebuah ketukan dari pintu membuat Hermawan memberhentikan ucapanya, seorang laki-laki berpakaian putih masuk, dengan tetoskop di lehernya, di temanin seorang suster.

“Selamat siang pak Ahmad bagaimana kabar anda sore ini?” Dokter laki-laki itu bertanya sambil tersenyum.

Hermawan melangkakan kakinya mendekati Dean dan Meli, ia memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa Ahmad. Hampir sepuluh menit dokter dan suster itu sibuk memeriksa Ahmad kemudian menjelaskan kondisinya mulai stabil, tapi Ahmad masih harus mendapat perawatan intensif karena oprasi yang dilakukan bulan lalu, terlebih Ahmad harus melakukan beberapa terapi untuk mengembalikan kondisinya seperti semula.

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!