Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investasi Jangka Panjang
Pagi itu, Ren menatap pantulan dirinya di cermin. Dia masih mengingat kata-kata Lia semalam. Selama dua belas tahun terakhir ini, dia terjebak dalam pikiran sempitnya tentang makhluk bernama wanita. Ren merasa bahwa tanpa wanita dia masih bisa hidup, dia masih bisa merasakan kasih sayang dan penerimaan dari Arka, dia masih bisa melakukan banyak hal tanpa wanita.
"Kenapa aku begitu picik?" gumam Ren.
Dia menyadarinya saat itu, bahwa setiap manusia berbeda. Meski mereka terlihat melakukan hal yang sama, tapi mereka melakukannya karena alasan yang berbeda.
"Kenapa Vio melakukan itu dulu? Seharusnya aku meminta penjelasan lebih darinya. Seharusnya aku lebih mendengarkannya," gumam Ren, menyesali hal yang sudah berlalu jauh.
Ren berjalan gontai menuju kamar mandi. Air dingin membangunkan tubuh Ren yang masih layu. Semalam Ren sulit tidur. Kata-kata Lia terus berputar di kepalanya, membuat Ren memikirkan tentang hal-hal yang mungkin terjadi jika saja dia memiliki pemikiran seperti Lia.
"Sayangnya, aku bukan dia. Dan ini sudah takdirku," gumam Ren lalu mematikan kran shower.
Setelah selesai bersiap, Ren keluar dari kamarnya. Aroma salmon asap dan daging sapi panggang menyeruak seiring Ren keluar dari kamar. Lirih senandung Lia bercampur alunan musik slow rock terdengar dari arah dapur.
"Ah! Tuan, selamat pagi," kata Lia dengan ceria. Ren menarik kursi makan yang terhubung dengan dapur.
"Silakan, Tuan," kata Lia sambil menyodorkan kopi di hadapan Ren. Ren mengangguk datar.
"When I see you smile... I can face the world... Oh~ you know I can do anything... When I see you smile... I see a ray of light... Oh~ I see it shining right through the rain... When I see you smile... Baby, when I see you smile at me..." Lia bersenandung sambil menata sandwich salmon di atas piring.
Ren memperhatikan Lia yang sama sekali tak terlihat tertekan menjalani hidup sebagai seorang isteri dari orang yang sama sekali asing baginya. Lia bahkan terlihat menikmati perannya dengan membuatkan sarapan dan makan malam layaknya isteri yang sebenarnya.
"Silakan. Sandwich salmon. Sesuai permintaan Tuan kemarin," kata Lia sambil menyodorkan piring berisi sandwich salmon sama seperti yang Ren makan kemarin pagi.
Ren menatap sandwich di atas piring dalam diam. Dia tak percaya Lia benar-benar membuatkannya sandwich salmon lagi pagi itu.
"Kenapa, Tuan? Bukankah kemarin Tuan memintanya? Atau saya yang salah mengarti..."
"Tidak. Kamu nggak salah," kata Ren cepat. Lia menaikkan kedua alisnya.
'Eh? Kamu? Dia nggak salah ngomong kan?' pikir Lia.
"Saya memang berniat meminta ini lagi," lanjut Ren. Lia tersenyum.
"Syukurlah," kata Lia lalu kembali lagi ke dapur. Ren menatap sandwich salmonnya lalu kembali menatap Lia yang masih sibuk di dapur.
"Kamu nggak makan?" tanya Ren pada Lia. Lia yang sedang sibuk di dapur mengerutkan kedua alisnya.
'Kamu? Lagi? Sepertinya Tuan Muda sakit,' batin Lia sambil berjalan mendekat ke arah Ren.
Ren menatap heran pada Lia yang tiba-tiba berjalan ke arahnya dan berhenti di sampingnya. Lia menatap Ren lekat-lekat, membuat jantung Ren tiba-tiba berdegup lebih kencang. Dengan cepat Lia mengulurkan lengannya, lalu menempelkan tangannya pada dahi Ren, membuat kedua alis Ren mengerut, bingung.
"Hmm... suhu normal. Tapi wajah Tuan sedikit memerah. Apa mungkin akan demam?" gumam Lia sambil berpikir tanpa mempedulikan wajah Ren yang kebingungan.
"Saya sehat. Tidak ada masalah," kata Ren, membuat Lia menoleh ke arah Ren dan menyingkirkan tangannya dari dahi Ren.
"Sungguh?" tanya Lia pada Ren, memastikan. Ren mengangguk pelan, masih diliputi rasa bingung.
"Syukurlah. Saya kira Anda sakit karena sedari tadi terus menggunakan kata 'kamu' pada saya," kata Lia sambil berjalan kembali ke dapur. Ren tertegun. Dia bahkan tak sadar sudah mengatakan kata itu.
"Kopinya keburu dingin, Tuan. Tuan sarapan dulu, saya masih mempersiapkan sesuatu disini," kata Lia sambil sibuk lagi di dapur.
Ren berdehem pelan sebelum akhirnya menyantap sandwich salmon buatan Lia. Sudut bibir Ren sedikit terangkat ketika mengunyah sandwich salmonnya. Lia menatap Ren dari dapur dan tersenyum lalu kembali memberi sentuhan akhir pada apa yang sedang dia kerjakan.
"Yosh! Siap," guman Lia sambil tersenyum puas. Ren menoleh ke arah Lia dengan tatapan heran.
"Semalam, Nyonya Damaris sempat cerita kalau Tuan Muda jarang sekali makan siang," kata Lia sambil berjalan menuju Ren dengan membawa sebuah tas kecil berwarna hitam.
"Saya siapkan bekal untuk Tuan. Jangan lupa dimakan," kata Lia sambil meletakkan tas bekal di samping piring Ren. Kedua alis Ren terangkat, tak percaya.
"Bukankah ini membuang-buang waktumu? Kamu juga harus bekerja, tak perlu membuatkan saya..."
"Saya juga bawa," kata Lia sambil mengangkat tas bekal berwarna krem dan tersenyum.
Lia kemudian berjalan ke meja makan sambil membawa piring berisi sarapannya dan segelas susu.
"Menyiapkan makanan bukan buang-buang waktu, Tuan," kata Lia sambil meletakkan piring dan gelas lalu menarik kursi dan duduk.
"Melainkan investasi jangka panjang," kata Lia lalu menggigit sandwich salmonnya.
"Investasi jangka panjang?" tanya Ren, bingung. Lia mengangguk.
"Investasi kesehatan Tuan Muda. Tuan Muda bekerja dari pagi hingga sore tanpa makan siang. Itu sama saja membuat mesin terus bekerja tanpa ada pelumas dan bahan bakar yang kurang," jelas Lia sambil terus memakan sandwichnya. Lagi-lagi, Ren dibuat terkesan dengan wanita yang duduk di hadapannya.
"Jadi, kalau Tuan Muda makan dengan teratur, bukankah akan berpengaruh pada kesehatan yang akan mempengaruhi kinerja Tuan Muda juga?" tanya Lia lalu meminum segelas susu. Ren melirik tas bekalnya.
Lia berdiri, membereskan meja makan lalu berjalan ke dapur. Ren meminum kopinya sambil terus menatap tas bekal yang Lia siapkan. Bahkan mamanya tak pernah membawakan bekal untuknya. Sedangkan Lia, isteri yang dia pilih karena terlihat tak tertarik padanya, ternyata begitu mempedulikannya.
"Saya bersiap dulu. Tuan Muda tak perlu menunggu saya. Toh kita juga berangkat dengan mobil sendiri-sendiri," kata Lia sambil melepas apron dan menggantungnya kembali ke tempatnya.
"Ehem... Baik. Saya berangkat dulu," kata Ren sambil berdiri lalu memakai jasnya. Lia berjalan melewati Ren saat akan menuju kamarnya.
"Terimakasih..." ucap Ren, menghentikan langkah Lia. Lia menoleh ke arah Ren.
"Hm?"
"Bekalnya. Terimakasih," kata Ren sambil mengambil tas bekal dan tas kerjanya lalu berjalan pergi. Lia tersenyum.
"Hati-hati," kata Lia sambil melongok ke arah pintu depan saat Ren masih memakai sepatunya di depan pintu. Ren menoleh, lalu mengangguk pelan.
Ren bergegas menuju mobilnya sambil sesekali melirik ke arah tas bekal yang Lia siapkan untuknya. Sudut bibir Ren sedikit terangkat lagi.
'Investasi jangka panjang,'
***