Adzkiya Zanna Myesha, putri dari Rasya Bramantio dan Tazkia Shafia. Adzkiya memiliki satu orang adik perempuan Zakia Afza Almahrya, jarak umur antara adik kakak ini hanya 2 tahun.
Adzkiya tumbuh dengan kasih sayang Nenek dan kedua orang tuanya, tetapi kasih sayang orang tuanya perlahan mulai memudar sejak suatu insiden yang menimpa keluarganya. Adzkiya harus menelan pahit pahit apa yang sudah menjadi takdirnya, ia dijauhi sang Bunda tercintanya.
Tetapi inilah Adzkiya yang selalu berusaha membahagiakan Ayah dan Bundanya,mengorbankan semua waktunya dimana saat semua anak seumurannya sibuk dengan dunianya tetapi tidak dengan Adzkiya, ia menjadi remaja yang pintar, cerdas, kuat, tangguh, cantik dan penuh prestasi.
Inilah kisah Adziya dari mula semua yang ada perlahan memudar dan ia harus bangkit menjadi dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arti_pen00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
...****************...
Brum
Adzkiya yang baru sampai di pekarangan rumah, melepaskan helm dan berjalan menuju teras rumah. Adzkiya melirik jam tangan nya, hari sudah petang tetapi ia baru saja pulang. Adzkiya ingat janji nya pada Nenek bahwa akan langsung pulang, tapi ia melanggarnya.
"Dah lah pasrah." ucap Adzkiya yang berjalan masuk. Saat pintu terbuka Nenek Fatma menyambutnya tepat di depan pintu.
"Nah, kena kamu Adzkiya." gumam Adzkiya nyaris tak terdengar. Adzkiya tau apa yang harus ia lakukan. Hanya meminta maaf lah yang harus ia katakan, tidak bisa pembelaan lain. Adzkiya melangkahkan kaki nya menuju Nenek Fatma.
"Assalamu'alaikum Nek." ucap Adzkiya yang menciun tangan Nenek Fatma.
"Wa'alaikumussalam." Nenek Fatma masih tetap di tempatnya, duduk di kursi roda dengan tatapan datar ke arah Adzkiya.
Adzkiya tau jika begini, berarti nenek nya sedang marah. Adzkiya tertunduk"Nek, maafin Adzkiya."
"Untuk apa?." ucap Nenek Fatma dengan nada Acuh.
Perkataan Nenek Fatma membuat Adzkiya terperanjat, Adzkiya mendongak kan kepalanya menatap Nenek nya.
Dengan penuh ancang ancang Adzkiya bersuara dengan satu tarikan nafas. "Maafin Adzkiya karena ga langsung pulang. Adzkiya bosen dirumah! Adzkiya juga mau istirahat, cape dirumah yang panas ini."
"Nenek tidak marah, hanya kecewa. Sekarang lebih baik mandi." Nenek Fatma memutar roda, dan berjalan menjauh dari Adzkiya.
Adzkiya melihat nenek nya yang sudah berjalan jauh dari nya, ia tak ambil pusing lalu langsung pergi menuju kamar.
Sekitar 30 menit Adzkiya sudah selesai mandi, dan sudah mampu meredam lelahnya. Adzkiya menyandarkan tubuh nya di dinding rangjang, mendongakkan kepalanya lalu menutup matanya dalam dalam, sesaat terhadap tenang seakaan akan beban menjadi hilang, namun itu tak berlangsung lama ketika ia teringat akan semua yang terjadi padanya.
Adzkiya membuka matanya , lalu merebahkan tubuhnya, memeluk bantal guling dengan erat erat dengan berusaha menutup matanya.
"Memang pantas Nenek kecewa, aku memang biang dari semua masalah." Adzkiya terus meracau sebelum matanya benar benar menutup, dengkuran halus keluar dari mulut Adzkiya.
Dengan penuh usaha, akhirnya Adzkiya berhasil menutup semua yang mangganggu nya untuk hari ini.
...****************...
Hari ini Adzkiya bersiap untuk sekolah, ia tidak mau mengecewakan nenek nya lagi. Walau nenek nya masih belum sepenuhnya memaafkan Adzkiya.
Adzkiya berjalan menuju kamar Nenek nya, akan tetapi ia tidak menemukan nenek nya disana. "Mungkin sudah menunggu di bawah." setelah itu Adzkiya berjalan turun menuju ruang makan.
"Di mana Nenek?." gumam Adzkiya yang tidak menemukan nenek di ruang makan, Adzkiya menoleh ke arah bu yuyun yang sedang lewat.
"Bu!." panggil Adzkiya yang melambai lambaikan tangannya sebagai isyarat. tetapi bu Yuyun masih belum tersadar bahwa dirinya di panggil.
"Bu! Bu Yuyun." panggil Adzkiya sekali lagi, dan berhasil membuat bu Yuyun menoleh dan berjalan menghampiri Adzkiya.
"Ada apa Non Adzkiya?."
"Nenek kemana?." tanya Adzkiya yang sembari menoleh ke kiri kanan mencari nenek nya.
"Tadi pagi pagi Oma sudah keluar bersama pak Uzar dan bu Lela." ucap Bu Yuyun.
Adzkiya mengerutnkan kening nya, penasaran tidak seperti biasanya Nenek Fatma tidak berpamitan dengan nya, apa karena ia telah mengecewakan Nenek, oleh karena itu Nenek pergi tanpa memberitahu ucap Adzkiya dalam hati.
"Non." panggil Bu Yuyun yang melambai lambai kan tangannya, Adzkiya segera berkedip dan tersadar.
"Eh iya bu, makasih! ibu bisa lanjut lagi."
Bu Yuyun mengangguk dan bergegas berlalu dari ruang makan. Sedangkan Adzkiya hanya menatap sajian makanan di atas meja dengan rasa malas. Adzkiya menarik kursi lalu mengambil 2 lembar roti tawar setelah itu mengoleskan selain cokalat. "Sudah lah mungkin ini memang pantas untukku." Adzkiya menarik ransel nya, dan berjalan sambil memakan roti menuju ke garasi.
Adzkiya mendorong pintu garasi, ia melirik ke arah motornya. Tapi hari ini tidak akan membawa motor melainkan mobil, Adzkiya akan menepati janji dengan Nenek nya untuk tidak membawa motor beberapa waktu karena pelanggan yang di lakukan Adzkiya.
"Adzkiya mengeluarkan mobil sport milik nya yang sengaja di berikan dari Rasya untuk dirinya pada beberapa hari yang lalu, ia melajukan mobil nya menuju sekolah.
...****************...
Di sekolah Adzkiya tidak pernah terlepas dari masalah yang melanda, selagi ada kehadiran Yesa, Letta dan Azrina hidup Adzkiya di sekolah ini tidak akan damai.
Pagi pagi seperti ini, mereka sudah memulai kerusuhan di parkiran, karena ketidak sengajaan mereka bertemu di sana. Suasana parkiran menjadi riuh. Adzkiya yang terus meng klakson mobilnya begitu pula Yesa, mereka berebut lahan parkir. Di tempat yang tidak terlalu panas, di tutupi pohon nanti menjulang dan sedikit rimbun hanya tersisa satu tempat mobil, membuat Yes dan Adzkiya memperebutkan nya.
Adzkiya menurunkan kaca mobilnya, mengeluarkan kepalanya dan berteriak sekencang kencangnya. "Woy! saya duluan!."
"Enak aja, saya duluan." ucap Yesa yang tidak terima.
"Enak aja! engga pokok nya tempat gua!." Adzkiya terus meng klakson, dan membuat Yesa ikut terpancing. Yesa turun dari mobil dan tidak lupa dengan dua anak buahnya yang selalu membuntuti Yesa.
"Heh! turun lu!." ucap Yesa yang menggedor mobil Adzkiya.
Tentu saja ini membuat Adzkiya marah, seenak nya saja menggedor mobil orang, Adzkiya turun dari mobil. "Pikir kamu saya takut?engga deh ya!." ucap Adzkiya yang tersenyum miring.
Seperti biasa terjadilah perdebatan diantara mereka berdua, seketika bunyi riuh berhenti kala 15 motor beriringan menghampiri mereka.
"Haddeh ini lagi." gerutu Adzkiya dalam hati.
Pemimpin dari geng motor itu, yang biasa dikenal Sultan, ya Varo namanya. Varo turun dari motor dan melepaskan helm nya dan mengibaskan rambutnya, Adzkiya dan Yessa hanya memberikan ekspresi yang menjijikkan, sedangka para siswi lain berteriak salah tingkah.
"HUWAA!!."
"SUMPAH GANTENG BANGET!."
"MLEYOT KALAU BEGINI!."
kurang lebih seperti itu teriakan para siswi, Adzkiya yang jengkel pun masuk kedalam mobil. kali ini ia lebih memilih mengalah saja dan memarkirkan mobilnya di tempat lain. Begitu juga Yessa, ia menarik tangan Ke dua teman nya, lalu melangkah masuk kedalam mobil, mereka memilih mengalah memarkirkan mobil di tempat lain.
Varo melirik ke arah kedua mobil yang terparkir berlawanan arah, satu di timur dan satu di barat, "ternyata jitu juga, ga perlu buang buang energi." ucap Varo di dalam hati.
...****************...
Dengan langkah besar Adzkiya berjalan memasuki kelasnya, ia menghemoas badannya di kursi membuat semua orang yang di sana terkaget.
Termasuk Dara, dan Aurel yang satu kelas dengan Adzkiya ikut kaget.
"Kenapa kiy?." tanya Dara yang Haran dengan Adzkiya.
"Engga." ucap simpel Adzkiya, Dara dan Aurel mengangguk mereka tidak tertarik untuk mencari tau lebih ditail, mereka pikir dari pada Adzkiya murka lebih baik diam.
Tuk... tuk... tuk...
suara derapan menggema di teras kelas, dua orang perempuan yang berlari lari dan berhenti di depan pinter dengan nafas terhengal hengal. Mereka berdua menatap Adzkiya dengan cepat mereka menghampiri.
"Adzkiya! kamu berantem lagi? ga apa apa kan?." tanya Qiara dan Karla yang panik. Pasalnya mereka berdua mendapat kabar dari teman nya yang kebetulan berada di lokasi parkiran.
Adzkiya menatap dengan wajah datar. "Tidak apa apa, sekarang gau usah banyak tanya." Adzkiya berkata dengan sangat tenang, penuh penekanan terasa sekali aura garang Adzkiya.
Dara, Karla dan Aurel mengangguk setelah itu saling bertatap tatapan, padahal mereka sangat penasaran pasti mereka akan banyak bertanya, tetapi karena sudah di peringatkan Adzkiya akhirnya mereka memilih diam dan mengubyr rasa penasarannya.
"Beneran? soalnya tadi katanya Varo ikutan juga." ucap Qiara yang tidak takut dengan Adzkiya, di antara mereka hanya Qiara yang tidak memiliki rasa takut bukan karena pemberani melaikan polos dirinya.
"ssst." Dara, Aurel dan Karla berusaha memberi kode kepada Qiara untuk diam.
Qiara lekas dengan cepat menutup mulutnya."Ops maaf! kamu sakit gigi nya kiy?."
Lagi lagi Qiara berulah, Adzkiya menoleh kearah Qiara, Qiara yang melihat tatapan Adzkiya akhirnya ia tertunduk.
"Aku ga papa sekali lagi nanya, aku sambelin mulutnya." ucap Adzkiya yang membuka tas nya , mengeluarkan semua buku buku nya di atas meja.
Adzkiya merogoh saku nya, mengambil 3 buah permen. Adzkiya terus mengemut permen itu secara bersamaan. Mereka ber empat teman teman Adzkiya hanya menggelang gelang kan kepalanya tidak berani berkutik, takut menyinggung hati Adzkiya.
...****************...
^^^Oktober 2022^^^
^^^Gaga^^^
Semangat kak🥳
jangan ke lupa mampir juga🙈