Senja Aprillia Farnanda, gadis cantik yang kerap kali dapat perlakuan tak pantas dari teman-temannya. Diumurnya yang masih sangat kecil, ia sudah merasakan perceraian orang tua dan tontonan tidak baik dari kedua orang tuanya yang bertengkar. Gadis itu menjadi pendiam, gelap dan selalu murung. Belum lagi saat ia harus menerima tekanan dari teman-temannya yang tak menyukainya.
Namun dari sisi hangat seorang anak lelaki yang menghibur, Senja dapat tersenyum kembali dan mulai melupakan kisah hidupnya yang kelam. Berselang saat ia mulai tenggelam dalam kisah persahabatan yang ia jalin bersama seorang anak lelaki itupun berakhir. Ibundanya meminta agar rumah pemberian ayahnya itu disewakan dan mereka pindah ke Bandung, semata-mata agar mereka melupakan kejadian tragis itu.
Langit Prasetya Prawiradinata, seorang anak lelaki yang tumbuh ceria semenjak kehadiran gadis kecil yang selalu menangis. Ia sangat menyayangi gadis itu, sebab karenanya ia menjadi pribadi yang lebih hangat dan ceria. Setelah sebelumnya ia ditinggal oleh orang tersayang, papanya.
Dibawah pohon rindang itu ia duduk dikursi taman yang biasa ia duduki bersama gadis kecil itu. Namun sampai jingga datang, Senja tak kunjung menampakan diri. Hingga ia pun pulang dengan perasaan hancur dan kecewa.
Berhari-hari ia datang mengunjungi taman itu. Sampai pohon rindang yang biasa menyejukan tempat itu, daun-daunnya telah menguning, melepaskan diri dari tempatnya bergantung dan akhirnya pasrah biar angin yang membawa daun- daun itu pergi. Sama halnya dengan Langit, tanggal di kalender itupun membawa Senja pergi.
Apakah mereka menyadari bahwa selama ini mereka dekat dan bertatap muka setiap hari?
Mau tau kenapa judulnya masa lalu dan takdirku? Ikuti alurnya ya? Semoga kalian suka😁
Since Des 2019📌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hani Aprilliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
...
...
^^^10.30^^^
Asap mengepul, aroma khas kopi asli terhirup indra penciuman. Tok! Tok! Suara sendok yang selesai mengaduk larutan kopi. Ia meletakkan secangkir kopi di nampan dan membawanya kepada pria tampan.
"Silahkan diminum. Kopi ini aman kok buat Kakak." Senja dengan membawa senyumnya.
"Eum, makasih." Diseruputnya kopi hitam itu.
"Senja?" teriak Ibundanya memanggil.
"Iya Bun."
"Bentar ya Kak!" ucapnya kepada Arkan.
Arkan hanya mengangguk. Senja berlari menuju Ibundanya, Arkan yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Bagaimana tidak? Gadisnya itu lupa membawa kue yang dibuatkan khusus untuk Arkan.
"Ah iya Bun, lupa!"
"Saking senengnya ya Arkan dateng?" goda Ibundanya.
"Bun.." Senja dengan pipi yang merah merona.
Kring!
Lonceng yang terdapat diatas pintu berbunyi. Membuat semua orang yang ada di dalam toko kecil penuh estetika itu mengarahkan pandangan kepada lelaki itu.
"Langit?" gumam Senja.
Langit berjalan ke arah Senja dan mencium punggung tangan Bunda Gina. Arkan sedari tadi hanya menatap Langit bingung, begitupun Langit.
Senja pun menyilakan Langit duduk di hadapan Arkan. "Tunggu aja. Risa pasti sebentar lagi datang," ujar Senja memberitahu Langit.
Padahal Langit kesana bukan untuk menemui Risa, melainkan gadis yang tengah menyuruhnya menunggu.
Senja menggigit bibir bawahnya. Mengapa mereka saling bertatapan seperti itu?
"Eum, Langit lo mau minum apa?" tanya Senja mengalihkan situasi.
Langit menunduk. "Cappucino," jawabnya singkat sambil menatap Senja.
"Oh oke. Sebentar! Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu."
Keduanya saling membuang muka. Ah Senja! Bukan-bukan. Ini bukan salah Senja, ini salah Risa, kemana anak itu?
"Halo Bun!" Risa menyapa Ibundanya.
Senja lega. Akhirnya Risa datang. Risa pun membantu Senja menyiapkan makanan untuk kedua lelaki itu. Gadis-gadis imut itu kemudian duduk bersama Langit dan Arkan.
Senyap, jikalau terdapat jangkrik mungkin hanya suara jangkrik itu yang terdengar. Senja menatap Risa yang ada di hadapannya, memberi isyarat untuk memulai percakapan.
"Ehem.. ehem.." Senja lega, akhirnya Risa berbunyi.
"Eum, Kak Langit udah lama di sini?" tanya Risa kepada Langit.
"Baru."
Risa hanya mengulum senyum dan kebingungan ingin bertanya apalagi.
"Eum di minum! Makan juga kue nya," kata Senja.
Arkan hanya mengangguk, begitu pun Langit. Kemudian mereka meminum minuman yang tersedia diatas meja. "Kak? Apa yang mau Kakak omongin?"
Senja, ini masalah. Haruskah Arkan berbicara di depan mereka juga? Sangat percuma.
"Eum.. ini soal.."
Semuanya menatap Arkan. Langit dengan tatapan menusuk, begitu Arkan melirik, ia buru-buru membuang muka. "Soal.. Liburan. Kakak mau ajak kamu liburan sama-sama."
Senja sedikit kaget. "Liburan kemana Kak?" tanyanya.
"Eum, kamu maunya kemana?"
Omong-omong, Langit dan Risa menjadi nyamuk sekarang.
"Kak? Gimana kalau kita liburan sama-sama?" Risa mengusulkan.
Kemudian Langit dan Arkan merasa tertekan. Usulan dari Risa ini sangat merusak rencana keduanya.
"Boleh juga." Risa mendapat 1 suara.
Langit dan Arkan berdeham. "Gimana kalau kita touring?" Anak ini, cerdas memang.
"Gimana? Mau?" tanya Risa ingin memastikan.
Ketiganya hanya menunjukkan wajah kebingungan.
****
Setelah sibuk merencanakan liburan, akhirnya sepasang couple ini berpencar. Senja dan Arkan berjalan-jalan di sekitaran taman, mereka berjalan santai sembari mengobrol perihal untuk besok.
"Eum,, Senja?"
Senja melirik. "Iya, kenapa Kak?"
"Mau beli es krim?" tanyanya. "Es krim?" Beo Senja.
"Iya, itu di sana!" Sembari menunjuk tukang jualan es krim yang tengah melayani anak kecil yang membeli.
Senja menggeleng pelan. "Enggak Kak, aku gak suka es krim."
Arkan mengerutkan dahinya. "Loh? Kenapa? Biasanya perempuan suka sama es krim."
"Itu mereka, bukan aku Kak."
Arkan membungkuk dan menatap gadisnya dalam-dalam. "Kenapa? Apa yang buat kamu gak suka sama es krim? Hm?"
Senja tersenyum kecut, "Aku gak suka aja Kak. Karena es krim, terlalu manis."
Arkan terkekeh. Gelagat Senja sangat menunjukkan bahwa ia berbohong. Ia mencubit pangkal hidung Senja, membuatnya geli dan tersenyum bahagia.
"Namanya juga es krim, pasti manis sayang.."
Deg
Mata Senja setengah terbelalak, ia tak menyangka Arkan memanggil sebutan yang manis itu. Sayang? Apa ia tak salah dengar? Pipinya memerah, jantungnya berdendang sangat kencang, sungguh itu membuat pendiriannya lemas.
Senja menghela nafas. "Eum kalau gi.. gitu, ayo beli es krim, hehe," ujar Senja sembari melangkah. Ia sedang salah tingkah sekarang ini.
Terlalu cepat Senja berjalan, membuat Arkan berlari kecil mensejajarkan langkahnya dengan Senja. "Kok tiba-tiba? Udah suka sama es krim? Iya?"
Senja menahan tawanya dan semakin mempercepat langkahnya. "Sayang?" Arkan semakin menggoda Senja.
Senja berhenti dan mencubit pelan pinggang Arkan, sampai si empunya merasakan sakit. "Aw!"
"Eh.. Kak, kenapa?" Senja panik, spontan ia menyentuh tangan Arkan yang tengah memegang pinggangnya.
"Kak? Tapi aku kan.. cuma pelan-pelan tadi."
"Bukan ini yang sakit."
"Terus? Yang mana?" tanya Senja kebingungan.
"Ini.." sembari menunjuk bagian wajah.
Deg
Senja semakin meleleh. Apa maksud Arkan? Senja mencubit pinggang, bukan pipinya. Tapi ia terlampau peka dan tahu apa yang dimaksud kekasihnya itu.
"Apa sih? Mau aku cubit lagi?" Sembari bersiap-siap untuk mencubit.
"Eh, eng, enggak..-"
Cup! Tepat mengenai pipi Arkan.
Tepat setelah melakukan itu, Senja berlari bebas untuk menghindari Arkan. Kini lelaki itu yang berdesir malu, ia tak bisa menahan gelora hatinya. Benar-benar cinta yang mendapatkan tempatnya. Ia memegang pipinya. "Senjaaa?" pekiknya lalu berlari mengejar Senja.
****
Sementara Langit dan Risa mengobrol di bangku pinggir lapangan basket. Sedari tadi Risa merasa tak nyaman di dekat Langit yang terus bungkam tak berkata, rawut wajahnya pun datar tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Kak?" Risa membuka percakapan.
Langit menengok sebentar, "Hm?"
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Eum,, sebenernya apa hubungan Kakak sama Kesya?" tanya Risa belalakan.
"Kenapa? Dia ganggu kamu?" tanya Langit.
Risa meneguk, sungguh gentleman. "Eng, enggak. Aku cuma tanya aja Kak."
Sebenarnya... iya. Namun Risa tak ingin menimbulkan masalah, apalagi Langit bukanlah kekasihnya. Selama Risa bisa menangangi ini, maka itu tak menjadi masalah.
"Keysa.. dia mantan."
Teriris, hati Risa sangat sakit mendengar pengakuan itu. Matanya hendak berkaca-kaca, namun segera ia tegarkan dirinya.
"O-oh.. mantan? Pantes aja."
"Jangan bohong, bilang kalau dia ganggu!"
"Enggak Kak, dia gak ganggu aku kok. Kakak tenang aja."
"Keysa sering frustasi, jadi kita pacaran karena terpaksa."
"Jangan salah paham," sambungnya. Bahkan Risa bukan siapa-siapa seorang Langit, namun lelaki itu menjelaskan seolah-olah takut Risa sakit hati.
Siapapun akan bangga memiliki pacar seperti Langit. Sudah tampan, peka, baik, dingin, dan sekali dia berbicara, siapapun akan percaya. Langit seorang yang bertanggung jawab, ia juga sangat pengertian. Jikalau Risa yang frustasi, akankah Langit juga bersedia menjadi kekasihnya?
Jika tahu itu yang menjadi pemicu mereka berpacaran, mungkin perempuan seantero sekolah rela mengalami frustasi, bahkan depresi.
"Kalau aku yang frustasi, apa Kakak mau jadi pacar aku?" tanya seorang Risa yang membuat Langit tak percaya.
...****...
...🔱...
Kasihan guru nya,pasti capek dan bosen lihat mereka telat Mulu
eh salah kagak masuk nominasi
Yuk mampir di novel perdanaku
" 100 hari pertama menjadi janda"
Kisah novel yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Perjuangan mempertahankan kewarasan dari cengkraman kesulitan ekonomi pasca diceraikan oleh suami. mendapatkan tekanan mental dari keluarga mantan dan masyarakat.
100 hari pertama harus dilalui seorang janda agar ia dapat benar-benar bangkit menjadi pribadi yang baru dan siap menjalani hari berikutnya.
Ikuti kisahnya ya🤗 jangan lupa like dan comment untuk mendukung penulis❤️ terimakasih