Surya Aditama tak pernah menyangka bahwa upacara pemakaman aneh yang tak sengaja ia hadiri membuatnya menjadi pewaris seorang triliuner. Namun demi mencegah perhatian dari orang - orang yang tak diinginkan, ia harus menunggu selama seminggu agar bisa mewarisi kekayaan lima belas milyar dolar Amerika.
Kejadian ini menjadi titik balik kebangkitan siswa pecundang yang selalu jadi sasaran perundungan. Simak ceritanya untuk membalas setiap perbuatan buruk pada dirinya dengan cara yang elegan dan berkilau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djennar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdiri di Kaki Sendiri
"Terima kasih semua untuk kehadiran dan gift-nya. Nanti mampir lagi di live streaming selanjutnya. Salam beauty!"
Indriani melambaikan tangan ke arah kamera. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang manis dan dipoles dengan make up minimalis.
Sesaat kemudian kamera ia matikan dan senyum lebarnya lenyap seketika. Berganti dengan wajah lelah dan kusut. Gadis yang sebentar lagi berusia tujuh belas tahun itu menghela nafas lelah.
Sudah dua tahun terakhir ini dirinya berjualan beberapa produk beauty care. Usahanya cukup laris hingga kini tabungannya hampir mencapai tiga milyar rupiah.
Tentu saja jumlah ini belum seberapa dibanding kekayaan yang dimiliki sang kekasih. Ia tidak ingin berpangku tangan dan mendompleng pada Kak Surya.
Uang yang didapatnya dari beberapa kontes kecantikan dan uang saku dari ayahnya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit ia gunakan sebagai modal untuk berjualan.
Rumah yang saat ini ia tempati ini pun juga ia membelinya sendiri menggunakan uangnya. Hanya beberapa ratus juta dan ia tidak perlu berhimpitan menghuni kos atau mengontrak rumah.
Jemari lentiknya menarik beberapa lembar tisu untuk mengela keringat yang membanjiri kening, tengkuk dan lehernya.
Beberapa menit kemudian make up-nya sudah bersih dan ia juga sudah berganti pakaian tidur.
Setelah meminum segelas susu gadis itu membaringkan tubuhnya di queen size spring bed di kamar berukuran enam kali enam meter itu.
Ia mengecek ponsel pribadinya. Mata cantiknya membelalak lebar ketika notifikasi beberapa panggilan dari Kak Surya muncul.
Indri memang sengaja mensenyapkan panggilan telepon selama live jadi ia tidak tahu jika Kak Surya berkali kali mencoba menghubungi dirinya.
[Kamu di mana?]
[Kok nggak dijawab? Kamu ada masalah?]
[Angkat teleponnya, Sayang! Apa gerombolan Steve ganggu kamu lagi?]
Beberapa detik kemudian notifikasi panggilan telepon kembali muncul. Nama dan foto Kak Surya muncul menghiasi layarnya. Tak ingin menunggu lama dan membuat pujaan hatinya khawatir, Indri segera mengusap ponselnya dan panggilan tersambung.
"Halo, Indri." Terdengar suara khawatir Surya. "Kamu dimana?Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Halo, Kak. Maaf ya aku tadi lagi sibuk jadi belum bisa angkat telepon kak Surya." Kata Indri meminta maaf. "Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Mereka juga udah nggak menggangguku lagi beberapa minggu ini."
"Syukurlah kamu nggak apa-apa. Kukira kamu kena masalah lagi karena mereka." Terdengar suara Surya lebih tenang.
"Kak Surya mau video call?" Indri menawarkan. Bagaimana pun Surya sudah khawatir pada dirinya.
"Tidak usah, tidak perlu. Ini sudah malam. Aku sudah cukup lega kamu tidak terluka atau sedang diganggu orang."
Mendengar jawaban kak Surya sebenarnya ia merasa agak insecure. Apakah kak Surya tidak merindukan dirinya.
"Aku kangen, Kak."
"Aku juga merindukanmu. Tapi ini sudah malam jadi sebaiknya kamu istirahat saja. Besok kita bisa ketemu lagi. Oh ya, liburan semester ini aku sedang merencanakan liburan bersama, kalau ada tempat yang ingin kamu kunjungi, katakan saja."
Mata gadis itu melebar sempurna.
'liburan? Benarkah ini Kak Surya ngajak aku liburan?'
"Kak Surya serius?" tanya Indri mencoba meyakinkan diri sendiri.
"Tentu saja serius. Kamu ingin liburan ke mana?"
"Aku belum punya rencana liburan, Kak. Jadi belum ada tempat yang ingin aku kunjungi. Tapi kalau cuacanya bagus mungkin bisa ke pantai." usul Indri.
"Rencana yang bagus. Besok kita bicarakan lagi. Sekarang tidurlah ada beberapa rencana yang harus aku siapkan."
Mendengar Surya hendak memutus panggilan telepon, ekspresi Indri berubah muram. Bibirnya mengerucut sebagai tanda protes. Meskipun kak Surya tidak bisa melihatnya, jika kak Surya peka pasti bisa mengerti perasaannya.
Perasaannya masih terus ingin mengobrol dengan sang pujaan hati, tapi sisi logisnya percaya bahwa kak Surya pasti sedang sibuk. Pria dengan kekayaan puluhan triliun pasti tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk rebahan atau sekedar ngobrol dengan dirinya.
Tapi tetap saja sisi wanitanya ingin dimanja dan dirindukan oleh sang kekasih.
"Ya sudah kita lanjutkan besok saja." Kata Indri setelah hening beberapa saat. Niatnya hanya ingin berbicara biasa tepi yang keluar adalah kalimat bernada ketus.
Perasaan memang tidak bisa dibohongi.
"Kamu marah?"
Kenapa lelaki begitu tidak peka? Apakah begitu sulit memahami seorang gadis yang sedang merindu?
Indri nyaris berteriak karena kesal.
Indri menarik dan membuang nafasnya pelan beberapa kali untuk menenangkan hatinya. Seulas senyum ia hiaskan dibibirnya meskipun kak Surya tak bisa melihatnya paling tidak bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang.
"Nggak kok, Kak. Aku nggak marah."
"Bohong..."
"Kenapa harus bohong sih, Kak."
"Kenapa jawaban kamu kayak kurang antusias gitu."
Indri sebenarnya sangat kesal tapi sebisa mungkin ia tahan. Ia juga sedikit lelah karena baru saja usai live streaming.
"Nggak ada apa-apa kok, Kak." jawab Indri mencoba menenangkan sang kekasih.
"Meskipun kamu berkata begitu tetapi entah kenapa perasaanku tidak tenang." tukas Surya dengan nada berat.
'Itu tahu.' cibir Indri dalam hati.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" Kak Surya tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
"Baik." jawab Indri singkat.
"Aku berencana meluncurkan aplikasi online untuk pujasera dua hari lagi. Yah, mirip dengan G*jek atau G*ab jadi orang-orang bisa memesan makanan dari pujasera secara langsung lewat aplikasi itu."
"Dua hari lagi? Kenapa mendadak sekali?" Indri mengerutkan keningnya karena merasa kak Surya merahasiakan hal sepenting ini darinya.
'Dua hari lagi bertepatan dengan ulang tahunku. Kenapa Kak Surya malah bikin acara sendiri?' gumam Indri dalam hati
"Sebenarnya rencana ini sudah lama, tapi karena persiapannya sangat lama dan merepotkan jadi aku lupa mengabari kamu." Surya mengusap tengkuknya karena bulu kuduknya meremang.
"Oh."
"Jadi kuharap kamu bisa datang hari itu. Aku juga berharap nanti kamu bisa mendampingi aku di depan untuk peresmian. Selain Erina dan Ardhi aku tak punya keluarga lain lagi. Dan bagiku kamu adalah orang yang paling berharga."
Mendengar penuturan Surya, hati Indri bergetar. Sejenak ia lupa jika kak Surya adalah seorang yatim piatu. Gadis itu jadi merasa bersalah karena sudah memberikan jawaban yang begitu tak mengenakan hati.
Seharusnya ia bisa lebih bersikap dewasa dan lebih mengerti keadaan sang kekasih. Ia merasa bersalah karena sudah bertindak egois dengan mengabaikan perasaan kak Surya.
Di saat seperti ini kak Surya sangat butuh dukungan dari orang terdekatnya terutama dari dirinya.
Tanpa terasa air matanya meleleh. Ia membayangkan jika kedua orang tuanya sudah tiada. Uang mungkin bisa membeli sedikit kebahagiaan tapi tak bisa membeli kenangan.
"Kamu nangis, In?" tanya Surya dari seberang telepon.
Cepat-cepat Indri menghapus air matanya dan berdehem untuk menetralkan suaranya. Rasanya begitu berat di tenggorokan seperti ada yang menyumbat di sana juga di hatinya.
"Nggak kok, Kak. Aku biasa saja." pipinya bersemu merah karena gagal menyembunyikan suara seraknya.
"Ya sudah mungkin kamu capek. Jaga kesehatan, ya."
"Iya, Kak. Terima kasih. Kak Surya juga jaga kesehatan. Sampai ketemu besok."
"Selamat malam, sayang!"
"Selamat malam juga sayang."
Indri menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.
Tangisnya kembali pecah saat membayangkan tingkahnya tadi yang tak ubahnya seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk. Kalau orang biasa, mungkin akan dengan senang hati menghibur pacarnya. Sedang kak Surya adalah seorang yatim piatu banyak hal yang membebani pundak lebarnya dan ia tentu saja tidak mau menambah beban kekasihnya itu.
Oleh karena itu ia ingin menjadi mandiri dan bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Ia ingin dikenal sebagai Indri Sutedja, enterpreneur, pakar kecantikan atau apa pun cita-citanya nanti. Bukan karena kekayaan orang tua atau kekasihnya.
Dan yang paling penting dari itu semua adalah ia ingin memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan seorang Surya Adhitama triliuner dan orang terkaya di negeri ini.