Lean si gadis tomboy yang digosipkan sebagai penyuka sesama jenis oleh orang tak bertanggung jawab, dan membuat citra keluarga besarnya hampir jatuh, membuat kedua orang tuanya terpaksa menikahkan Lean dengan anak sahabatnya untuk menampik gosip tersebut. Mampukah Lean si gadis tomboy yang urakan hidup bersama Agam si pria sempurna yang cuek?, akankah perasaan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andry kumala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Padang
Di ruang kerja Agam.
Melirik wajah Agam masih merah penuh amarah, Lean tak berani menatapnya secara langsung, melainkan hanya melirik dengan sesekali. “gila!, vibes Agam horor parah kalau lagi marah!” gumam Lean dalam batin sembari terus menunduk. Takut jika saat ini tiba waktunya bagi Agam untuk memarahinya, Lean terus menunduk sambil memainkan jari – jari tangannya dengan gugub.
“lu gak papa kan Lei?” tanya Agam dengan nada merendah sembari menghampiri Lean yang sedari tadi terus menunduk. Bukan omelan maupun cacian yang Agam layangkan, melainkan pertanyaan bernada rendah yang sedikit menggetarkan hati Lean, hingga membuat ia pun mendongak kaget.
“lu gak marah?” tanya Lean penasaran. Agam tak langsung menjawab pertanyaan Lean, melainkan berjalan mendekat dan duduk menyebelahi Lean dengan ekspresinya yang nampak sedikit kecewa. Melihat ekspresi Agam saat ini, perasaan tak enak pun mengganggu hati Lean.
Sembari mengelus lembut rambut Lean, Agam pun berkata “gua gak marah!, tapi gua juga gak membenarkan perilaku yang lu lakukan tadi!. Tapi yang paling bikin gua marah, ketika ngeliat istri gua ditindas sama orang lain!” ucap Agam dengan nada merendah sembari terus membelai lembut rambut Lean. Begitu lembut perkataan yang Agam ucapkan. Namun kata berintonasi rendah itulah yang menancap sekaligus menggetarkan hati maupun perasaan Lean.
Merasakan getaran pada hatinya, tanpa Lean sadari ia pun melayangkan pelukan pada tubuh Agam dengan kedua mata berkaca. Dengan lemah lembut, Agam pun meneruskan ucapannya “jangan biarkan istri seorang Agam Mahendra ditindas oleh orang lain!, mengerti?” Agam bertanya sambil menatap kedua mata mat Lean yang masih berkaca. Menjawab pertanyaan Agam, Lean pun mengangguk patuh.
“emangnya tadi siapa yang ngubungi?” Agam penasaran. “Bima!, dia tadi tanya gua mau makan apa!, jadi gua bales dua bungkus nasi padang deh!” sahut Lean dengan polos. “pffttt!, 2 bungkus?, lu kelaperan atau rakus sih Lei?” ucap Agam sambil menahan tawa. “ya kali gua makan sendiri!, 2 bungkus tuh buat gua sam elu!” Lean menyahut guyonan Agam dengan ketus. “drrrtttt!!” ponsel Lean bergetar, “waaah!, nasi padaaang!” teriak Lean dengan antusias sembari bangkit dari posisi duduknya.
Dengan penuh kebahagiaan, Lean pun berjalan keluar menemui Bima yang telah menunggunya di luar perusahaan. Melihat tingkah lucu Lean yang terus tersenyum hanya karena sebungkus nasi padang, Agam pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. “hanya sebungkus nasi padang, dia bisa sebahagia itu!, Lean – Lean!, gumam Agam dalam batin.
Di luar perusahaan.
“cepet banget lu keluarnya!, ngapain aja lu di dalem?, jangan – jangan cuma main ponsel ya?” tuduh Bima menggoda Lean. “gua habis dapet konflik internal Bim!” sahut Lean dengan nada merendah sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. “uh kasihan!, terus gak lu sikat?” ucap Bima penasaran. “apanya yang disikat?” sahut Lean sambil menatap aneh ke arah Bima. “giginya!, ya orangnya Lei!, gak lu kasih pelajaran tipis – tipis?” sahut Bima dengan nada meninggi. “lu mau tanya atau ngajak gelut sih!” Lean menyahut ketus. “cepet ceritain!, jangan bertele – tele!, hufftt!” sahut Bima sambil menghela nafas panjang menahan emosi.
“nanti gua ceritain di telepon!, kalau gua cerita di sini, bisa – bisa waktu makan siang gua habis buat gosip sama lu!, udah balik sana!, gua mau ker-ja!” ucap Lean sambil meraih kantong keresek berisi pesanannya tadi. “dasar!” gerutu Bima sambil tersenyum dan berlalu diiringi lambaian tangan yang Lean berikan. Dari sudut tak jauh dari Lean berada, nampak beberapa orang yang menatap penuh curiga pada Lean.
“dilihat dari kedekatannya, pasti tuh laki – laki pacarnya deh!” bisik salah satu orang sembari menunjuk ke arah Lean. “terus Pak Agam siapanya dong?” sahut teman lainnya dengan penasaran. “tapi gak modal banget sih cowoknya!, mana cuma beli nasi bungkusan gitu doang!, kalau gua sih ogah!” gerutu salah satu perempuan menyela pembicaraan teman – temannya.
Sembari menenteng keresek dengan nasi bungkus di dalamnya, Lean berjalan masuk ke dalam perusahaan sambil terus tersenyum bahagia. Konflik batin yang telah ia alami tadi, seolah menguras seluruh tenaga Lean, hingga membuat lambungnya terus meronta kelaparan. Tak sabar melahap nasi padang yang dibawanya, Lean mempercepat langkah kakinya menuju kantor Agam.
Melihat anak magang dengan nasi bungkus di tangannya, beberapa orang nampak menahan tawa seolah meremehkan Lean. Ada pula yang berbisik sembari menatap sinis ke arah Lean, hingga ada pula yang terang – terang menertawainya. Namun dengan rasa percaya diri, Lean terus melangkah tanpa mempedulikan sekitarnya, meskipun ia tahu persis topik pembicaraan mereka semua adalah dirinya.
Hampir sampai di ruangan Agam, langkah Lean pun terhenti karena Rere bersama beberapa temannya mencegat Lean sambil terus menahan tawa. “anak magang, lu bawa apa tuh?” ucap Rere sambil menahan senyum. “nasi padang!” ucap Lean dengan datar. “ohh nasi padang!” sahut Rere sambil terkekeh. Tak lagi menjawab atau basa – basi, Lean beranjak pergi tanpa mengucap permisi.
Melihat Lean yang berani pergi tanpa pamit, ekspresi Rere dan beberapa teman lainnya berubah seketika. “heh anak magang!, kalau mau makan di pantry!, tuh di sana!” ucap Rere dengan nada yang sedikit meninggi, sambil menunjuk ke arah pantry. “saya makan di ruangan Pak Agam kok!” sahut Lean sambil tersenyum sembari menghentakkan kantong keresek yang dibawanya.
Mendengar jawaban Lean, ekspresi Rere pun semakin kesal. “dasar anak magang!, kurang ajar!” gerutu Rere dalam batin. “gila!, berani banget tuh cewek!” gumam Fitri menghampiri Rere yang tengah mematung menahan emosi.
Di kantor Agam.
Tak ada lagi kata canggung diantara mereka berdua, hingga Lean pun makan menggunakan tangan sambil menaikkan salah satu lututnya ke atas dengan posisi bertongkat lutut, layaknya sedang makan di rumah sendiri. Meskipun sedang berpakaian formal, Lean tak membuang kebiasaan urakannya di depan Agam saat mereka sedang berduaan.
Agam yang selalu menjunjung harkat maupun martabatnya tinggi – tinggi, seperti telah terkontaminasi oleh Lean yang begitu apa adanya dan sederhana. Agam yang selalu membiasakan diri makan dengan sendok dan garpu, kini terbawa kebiasaan Lean yang makan dengan tangan. Meskipun masih kaku, Agam nampak menikmatinya. “tok!, tok!, tok!” terdengar ketukan dari luar ruang kerja Agam. “masuk!” teriak Agam sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
Belum sempat Lean menarik kakinya untuk turun, Fahmi tiba – tiba masuk ke dalam ruang kerja Agam. Melihat atasannya tengah makan nasi padang bersama istrinya menggunakan tangan yang terkesan sederhana, bagai tertampar wajah Fahmi. Pasalnya Fahmi yang selama ini enggan membeli makanan di pinggiran, bagai mendapat pencerahaan, rasa gengsinya seketika sirna karena pukulan keras oleh kesederhanaan yang dilihatnya saat ini.
“apa apa?” tanya Agam penasaran. “maaf pak, setelah bapak selesai makan siang, saya akan kembali lagi!” sahut Fahmi sambil menunduk dan keluar dari ruang kerja Agam. Tak ingin ikut campur urusan suaminya, Lean memilih diam tak berani bertanya.
Di apartemen.
“aaaaa capek!, gerutu Lean sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tanpa berganti pakaian. “Lei, ada yang mau gua bicarain” Agam menghampiri Lean yang tengah tengkurap sembari menarik ulur melemaskan kakinya. “apa?” Lean menyahut sambil mendongak. Melihat ekspresi Agam yang nampak sedih tak bersemangat, Lean pun membenarkan posisinya dan segera duduk.