Selamat datang di karyaku yang ke-18
Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.
Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Di Sini
Kekasih Bayaran Bagian 34
Oleh Sept
Sore hari yang sepi, di sebuah rumah sakit. Arjun sedang terbaring dengan lebab di mana-mana. Sebenarnya tidak perlu dirawat inap, hanya saja Hanum tidak tega melihat putranya dengan kondisi yang seperti itu.
"Makan ini!" titah Hanum. Ia mengulurkan sepotong apel untuk putranya.
Arjun menggeleng, menolak. Rahangya sakit kalau untuk mengunyah. Om Jonathan cukup keras tadi saat menghajarnya.
"Makanlah Arjun! Jangan membuat Mama khawatir!"
"Sudah! Dia sudah besar! Tidak akan mati hanya karena tidak makan sehari!" celetuk Gadhi yang masih marah pada putranya. Masalahnya, ia tidak punya muka lagi saat nanti bertemu Jonathan dan madam Li. Bagaimana bisa ia mendidik anaknya jadi laki-laki brengsekkk seperti ini? Memalukan!
"PAAA!" sela Hanum. Hanum kemudian menyentuh kaki Arjun. Dan bisa merasakan anaknya meringis saat kakinya disentuh. Sedangkan Gadhi, pria itu medesis kesal. Bagaimana bisa ia gagal mendidik putranya itu.
Malam harinya, Hanum tidur di rumah sakit. Sementara Gadhi, pulang ke rumah. Selama di rumah sakit, Hanum menghubungi semua anak-anaknya, meminta mereka semua segera pulang. Ada yang perlu mereka bicarakan.
Arjun sendiri malah banyak melamun, barulah ketika ponselnya berdering ia baru bersemangat. Apalagi yang menelpon adalah Olivia.
"Iya, hallo?" sapa Arjun, sebelumnya berdehem sebelum menjawab telpon dari Olivia tersebut.
Hanum yang duduk di sofa, melirik. Ia mencuri dengar obrolan keduanya. 'Apa sedang bicara dengan Olive?' batin Hanum sambil pura-pura main smartphone miliknya.
"Apa sudah berobat?" tanya Olivia yang sepertinya khawatir. Andai Olivia tahu, Arjun mendapat bonus tambahan dari papanya sendiri.
"Sudah!" jawab Arjun kaku. Keduanya tidak pernah telpon membahas sesuatu di luar pekerjaan. Dan ini sangat aneh, ketika mereka harus bicara di telpon dengan menanyakan kabar.
"Oh ... baiklah. Aku tutup telponnya."
"Jangan! Jangan tutup," sela Arjun dengan spontan. Keduanya pun menelan ludah di tempat berbeda.
'Astaga ... kenapa dia kaku sekali? Bukannya mereka sudah tidur bersama?' batin Hanum yang masih menguping.
Arjun lantas melirik Hanum yang ada di sofa, ia kemudian turun dari ranjang.
"Mau ke mana?" tanya Hanum.
"Ke luar, Ma."
"Sudah ... di sini saja. Mama nggak dengar!"
Arjun langsung kembali, ia hanya memelankan suara agar mamanya tidak dengar.
"Apa yang terjadi?" tanya Olivia.
"Bukan, bukan apa-apa."
'Bukan apa-apa apanya?' gerutu Hanum dalam hati.
"Katakan pada Oliv, pulang dari rumah sakit Mama dan papa akan ke rumah," sahut Hanum dengan suara keras. Membuat Olive bisa mendengar.
Arjun menatap ibu kandungnya tersebut, sebab mereka belum membicarakan hal ini lebih jauh. Tapi sang mama sepertinya akan melamar Olive untuknya.
"Hallo ... hallo ... Olive, kau masih di sana?" tanya Arjun.
"Hem ..."
"Kau dengar apa kata mama barusan?"
"Hemm."
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi. Pulang dari rumah sakit kami akan ke sana."
"Iya." Olivia masih shok, bingung mau merespon bagaimana.
"Aku matikan ponselnya."
"Iya."
"Selamat malam."
"Malam."
Tut Tut Tut
Melihat bagaimana cara Arjun bicara di telpon, Hanum hanya bisa mengusap wajahnya.
"Arjun, kau sedang bicara dengan rekan kerjamu atau dengan calon istrimu? Hemm? Jika kau terus terusan begini, Mama gak jamin rumah tangga kalian akan bahagia. Ini pernikahan, bukan bisnis."
Arjun hanya diam. Masalahnya ia memang tidak ahli dalam hal asmara.
"Kenapa kau begitu kaku sekali? Ayahmu saja dulu begitu hangat!" celetuk Hanum lagi. Dan Arjun yang canggung, hanya memijit pelipisnya.
"Oh ya, Kavi ke mana ini? Katanya OTW tapi kok belum datang."
"Tidak usah, Ma. Tidak usah minta Kavi datang. Dia besok juga harus bekerja."
"Mana bisa begitu, abangnya di rumah sakit malah tidak ada. Ke mana anak itu?"
'Sibuk pacaran, Ma!' jawab Arjun dalam hati.
Dan benar saja, Kavi dan Winda memang lagi pacaran. Pacar bayaran tepatnya. Karena seharian ini Winda dapat bayaran karena menemani Kavi.
Keduanya sedang istirahat di sebuah pom bensin. Setelah mengisi bahan bakar, mereka minum sebentar di mini market yang ada di sebelah pom tersebut.
"Ikut ke rumah sakit ya, kalau balik ke apartment dulu makan waktu. Lain arah soalnya."
"Memangnya pak Arjun sakit apa kok sampai dibawa ke rumah sakit?" Winda kepo.
"Nggak tahu, mama gak bilang."
Winda manggut-manggut.
"Ya udah. Aku turun di sini, terus cari taksi aja."
"Jangan. Ikut saja."
"Aku? Nggak ... nggak enak."
"Gak apa-apa, lagian mas Arjun taunya kamu pacar aku."
Winda langsung melotot, dan Kavi hanya tersenyum tipis.
"Bentar aja, habis lihat mas Arjun kita langsung balik."
Winda pun akhirnya pasrah. Ini karena uang 150 juta juga. Mungkin takut tidak dibayar. Kan lumayan bisa untuk nyicil hutang.
***
Rumah sakit
Saat Kavi dan Winda sampai di rumah sakit, Arjun sudah tidur. Mungkin habis minum obat. Di kamar juga tidak ada orang. Mereka pun akhirnya kembali. Tapi saat melewati lorong, tiba-tiba ada yang memanggil.
"KAVIII!"
Mendengar namanya dipanggil, Kavi pun berbalik.
"Mama," ucap Kavi lirih.
'Mamanya?' batin Winda.
"Kav! Aku duluan. Aku tunggu di lobby," bisik Winda yang langsung berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Seettt ...
Kavi meraih tangan Winda, membuat perempuan itu kaget.
"Tetap di sini!" gumam Kavi pelan, tapi terdengar jelas di telinga Winda.
Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu