Abhi Athaillah. Seorang lelaki yang sedari kecil merawat ibu nya yang mengalami gangguan jiwa harus menikah dengan wanita yang juga mengalami gangguan jiwa. Siapakah wanita itu? Akankah Abhi mencintai wanita gila itu? Dan akankah wanita itu menerima Abhi sebagai suami nya setelah kembali sehat? Mohon like, and koment nya. Serta dukungannya ya 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Air Mata Abhi
Abhi yang baru pulang dari kediaman Imah cepat mencari Suryo. Suryo yang akan kembali ke Amerika harus merasakan amarah dari seorang sahabat baiknya. Abhi yang tiba-tiba datang dari arah luar kamar cepat menarik kerah baju Suryo. Ia cepat mendaratkan bogem mentah ke wajah tampan dan perut Suryo.
"Buuuughh."
"Buuuughh."
"Aaawwwhhh.Breng/sek kau Abhi."
"Kamu yang breng/sek."
"Bruuugh."
Abhi mendorong tubuh Suryo ke dinding. Ia sangat marah pada Suryo. Rasa sesak dihatinya ketika sang ibu yang meminta Tina agar melupakan dia dan terlihat jika ibunya berharap besar pada hubungan pernikahan nya dengan Tania. Abhi yang sangat menyayangi sang ibu hingga tak berani berucap. Ia bahkan meminta sebuah penjelasan dari perempuan yang hampir separuh hidupnya menderita karena menikah dengan lelaki yang harusnya ia panggil ayah.
Abhi duduk bersandar pada dinding kamar Suryo. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding itu. Kedua lututnya ia lipat hingga kepalanya sesekali ia benturkan ke lututnya.
"Ada apa Abhi."
Suryo ikut duduk duduk disebelah temannya itu namun dengan sedikit berjongkok.
Abhi mengangkat wajahnya menatap Suryo.
"Katakan satu alasan pada ku hingga aku harus bertahan dengan pernikahan gila ini."
Suara parau khas lelaki ketika menahan tangis terdengar dari Abhi.
"Apa yang tejadi Bhi. Ceritakanlah padaku."
Suryo menepuk pundak Abhi beberapa kali. Lalu ia usap pundak yang sangat kokoh itu.
"Aku dan Tina saling mencintai Sury. Dan kami mengetahui nya saat Tania hadir diantara kami. Siapa yang salah disini? Aku hanya kesal kenapa kamu dulu memilih aku Suryo."
"Ada satu yang aku pun tak bisa menjelaskan. Hanya Tania yang tahu Abhi. Aku memilih mu karena kamu punya cinta yang tulus. Buktinya kamu mampu membuat Tania membaik lebih cepat."
"Maksud mu?.,"
"UPS. Hampir saja kamu ini membuat singa betina itu akan kembali mengaum."
"Maksud ku. Kondisi Tania berangsur pulih. Tentu bukan karena obat saja melainkan perhatian mu yang tulus. Dan kamu hadir di hidupnya sebagai teman disaat orang-orang akan meninggalkan mereka yang terkena gangguan kejiwaan.
Maka aku bisa pastikan jika Tania sehat, kalian hanya butuh waktu untuk memberi kesempatan untuk hati kalian saling merasakan adakah rasa selama waktu yang dilalui bersama. Jalaran Seko kulino Bhi."
Abhi menarik-narik rambutnya. Dadanya sesak namun bibir tak mampu berucap pada sang ibu. Ketika kedua lelaki itu mendengar suara Ibu Kinan yang memanggil Tania membuat kedua lelaki itu hening seketika.
"Tania.... Jangan duduk dilantai nak. Kamu akan masuk angin."
Suryo berdiri dan sedikit membuka pintu kamarnya. Ia melihat dari balik pintu Ibu Kinan merapikan rambut menantunya yang sedikit berantakan.
"Coba kau lihat Bhi. Tak bisakah kamu membiarkan Ibu mu merasakan kebahagiaan dan senyum yang hampir tak pernah ada selama ini. Ia melihat Tania sama seperti dirinya. Maka besar harapan nya pada mu untuk mencintai Tania bukan menyakitinya."
"Dia tak akan tersakiti. Kamu bilang jika dia sehat dia tak akan memilih aku bukan?"
"Bagaimana jika Tania mencintai kamu?"
Deg.
"Tidak mungkin."
"Aku dokter spesialis jiwa Bhi. Aku melihat ada benih-benih cinta di hati dan tatapan mata Tania. Dan itu baru aku lihat saat dia bersama mu dan menatap mu."
"Ah aku tidak percaya lagi dengan bulan mu."
"Aku dan kamu lebih lama aku yang mengenal Tania. Tapi yang lebih paham dia itu kamu. Aku akan segera mengurus keberangkatan Tania agar bisa ke Amerika. Beri aku waktu 3 bulan kedepan. Kamu dan Tina terlalu sering bersama hingga cinta itu tumbuh.
Maka hal yang sama bisa tumbuh untuk Tania. Masalah nya kamu tidak pernah mencoba memfokuskan pikiran, hati dan waktu mu untuk Tania. Bisakah 3 bulan ini kamu fokus ke Tania.?"
Saat suara tawa dari sang ibu terdengar karena entah hal konyol apa yang membuat sang ibu begitu lepas tertawa membuat Abhi berdiri dan menelisik dari balik pintu kegiatan dua perempuan yang sedang asyik memakan sebuah pecel dengan satu bungkus berdua.
"Ibu.... Kenapa semua jadi begini. Sungguh Abhi tak mampu membuat Ibu kecewa apalagi menangis."
"Cepatlah aku akan antar kamu. Aku akan melakukan apapun untuk ibu ku Suryo. Sekalipun harus kembali memendam rasa untuk orang yang aku cintai"
Abhi keluar dari kamar. Ibu Kinan yang tak tahu jika Abhi tadi mengikuti sang ibu kerumah Imah.
"Abhi. Sini Nak. Tadi ibu beli ini. Tania suka sekali sepertinya."
"Aku suka karena tak ada nasi Bu. Tidak seperti Abhi dia akan menyuapi ku dengan porsi dia."
"Ibu sayang sekali pada menantu ibu. Bahkan berapa hari pulang ibu hanya memperhatikan Tania. Tidakkah ibu rindu pada ku."
"Kamu sudah ada Tania."
"Tapi dia-"
Ibu Kinan menempelkan satu jari ke depan bibirnya. Abhi tak jadi meneruskan kata-katanya. Ia mengambil sendok sang ibu dan mencicipi pecel yang tidak terlalu pedas itu. Tania hanya diam seribu bahasa. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga ia mengambil tablet yang Suryo berikan. Ia pura-pura menggambar agar dua orang di hadapannya tak sadar jika dirinya telah sehat dari sakitnya.
"Ibu darimana?"
"Dari jalan-jalan. Oya tadi ibu ketemu istrinya siapa yang sering membantu kita itu Bhi."
"Pakde Bambang?"
"Nah itu dia. Tadi dia mau kemari tapi ga jadi. Dia mengundang kita nanti malam acara pertunangan anaknya."
"Triiing."
Sendok yang yang Suryo pegang jatuh dari tangannya. pecel yang telah masuk kedalam mulutnya berhenti ia kunyah. Ada rasa sakit yang mengiris hati akan kabar yang dengar dari ibu Kinan.
"Ada apa Bhi?"
"Tidak ada apa-apa Bu. Kaget saja. Tina tidak pernah dekat dengan siapapun."
"Ia dijodohkan kabarnya."
Deg.
Abhi cepat meninggalkan Ibu Kinan dan sedikit berteriak seolah mengalihkan rasa sakit dan sudut matanya yang mau berair.
"Suryo cepatlah kita pergi. Atau kamu terlambat nanti! Abhi sepertinya tak bisa hadir Bu. Mungkin malam baru pulang dari mengantar Suryo."
Abhi berlalu dari hadapan Tania dan Ibu Kinan. Dua perempuan itu bermonolog setelah kepergian Abhi.
"Siapa Tina? Kenapa kamu begitu kaget?"
"Semoga kamu bisa menyadari jika rasa mu pada Tina adalah satu rasa yang harusnya tak kamu pertahankan Nak."
Abhi yang telah berada dibalik kemudi mobil berkali-kali memukul stir mobil. Ia menyandarkan kepalanya di kemudi mobil hitam yang akan ia gunakan mengantar Suryo ke bandara yang ada di kota.
"Tak pantaskah aku bahagia Tuhan? Apakah ini yang ingin kamu sampaikan Tin hingga Kamu mengirimkan pesan pada Abang. Apalah daya Tin. Abang tak mampu melompati pagar ini untuk rasa yang kita miliki."
Abhi membenamkan kepalanya di balik kemudi mobil dan berhenti menangis saat Suryo membuka pintu mobil.
kka sebutir debu.. maa syaaAlloh rindu akan ilmumu.. kak /Sob/ gmna kbarnya kka?? sejak tahu novel yg kka belum up sya gak buka noteltoon lagi.. tp sekarng bbrpa hri tiba2 mau buka lagi ternyata kka bkin karya baru..
makasih kak../Rose/
alhamdulillah ibu kinan bener" sdh sembuh