Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Dengan Bismillah, aku menerima tawaran kamu.
Hasna, Afnan dan Afkha menoleh ke arah sumber suara. Aftha dengan menyeringai tengah berdiri di ambang pintu koridor yang yang menghubungkan ke arah ruang keluarga.
"Wa'alaikum salam warahmatullah!" sahut Afnan dan Hasna.
Aftha mengekeh. "Assalamualaikum Mimma, Biyya, Aa Kha." Aftha menghampiri mereka dan kini ia duduk di sebelah ibunya. Ketiga orang yang ada di ruang tengah tersebut kembali menjawab salam.
Aftha merebahkan kepalanya di bahu sang Ibu. "Sayang, tidak baik menyela pembicaraan orang lain 'kan, lupa ya? Mimma dan Biyya selalu mengingatkan itu loh." Peringatan dari Hasna dengan lembut. Kini sebelah tangannya membelai pipi Aftha.
"Maaf Mimma. Tadi Aaf mendengar pembicaraan kalian dengan tak sengaja, saat setelah menaruh Onet di tempatnya. Ya Aaf hanya membantu jawab, karena Aa Kha dari semalam nampak murung dan bingung. Jadi daripada menyibukkan diri dalam ketidak pastian. Mengapa tawaran Kak Shanum tidak di terima saja. Mungkin alasan Kak Shanum meminta Aa menikah lagi terdengar menyebalkan. Akan tetapi niat Kak Shanum mulia." Aftha menghela napas sejenak.
"Jika saja Aa hanya mempertanggung jawabkan nona Zetha dengan membiayai perawatan, memberikan tempat tinggal di tempat berbeda. Pasti suatu waktu Aa Kha akan menemui dia sebagai orang lain dan bukan Mahram Aa Kha, bukankah suatu saat pasti akan ada saja masalah yang timbul, misal fitnah dari pandangan orang lain, belum lagi Aa Kha dan nona itu akan terlibat kedekatan entah proses pengobatan ataupun misal perhatian kecil. Menanyakan keadaan orang itu, nah apakah itu tidak akan menimbulkan fitnah iman? Walupun tipis tetapi nyata, Biyya, Mimma." Aftha berbicara dengan nada tajam dan pasti.
Suasana hening untuk beberapa saat. Hingga Afkha duduk dan ia bersila menghadap ke arah ibu dan adiknya. "Kalau kamu ada di posisi Aa, apakah Kamu masih akan berpikir seperti itu?" tanya Afkha, hanya ingin meyakinkan hatinya dengan jawaban sang adik yang kadang absurd, namun selalu membantu menemukan solusi.
"Tentu! bukankah niat mulia seorang istri, telah menunjukkan dia istri shalihah. Itu berarti sebagai suami telah berhasil membawa istrinya dalam menggapai tiket ke Jannah. Niat mulia istri yang di dasarkan keimanan yang kuat, bukankah merupakan ladang pahala juga untuk suami? nah maka terima dan kerjakanlah, tidak boleh ditunda-tunda dan harus di segerakan," ucap Aftha.
"Tapi Aa Kha 'kan tidak ada niatan menikah lagi apalagi poligami. menikah dengan satu istri saja tidak mudah, apalagi dengan dua istri yang berbeda kepala dan beda keinginan."
"Aku pikir itu takdir, walaupun Aa Kha memang tidak pernah berniat menikah lagi. Tapi 'Kan Kak Shanum sendiri yang memintanya dan kesempatannya ada yaitu menolong seseorang. Kalau Aa Kha menerima dengan ikhlas hati, walaupun tanpa rasa cinta dan terpaksa pada awalnya, bukankah menolong nona Zetha yang tak berdaya itu bernilai ibadah? maka aku yakin suatu saat Aa Kha akan berterima kasih kepada Kak Shanum," ucap Aftha.
"Betul, akan tetapi, bagaimana kedepannya? aku takut tidak bisa adil terhadap kedua istriku." Afkha menghela napas berat.
"Kak Shanum itu bukan orang bodoh dan teledor di setiap tidakannya. Aku yakin permintaannya telah ia pikir mantang dan melibatkan Allah di dalamnya, melalui doa-doanya." Balas Aftha.
Afnan dan Hasna saling pandang, mereka membiarkan kedua anaknya saling berdebat dan saling beradu argument. Bukan tidak mau melerai, namun mereka sedang mencerna perkataan yang mana yang menurut mereka lebih bisa masuk akal dan logika.
Posisi Afkha pun kini siam. Ia sedang berpikir ulang, memang tidak salah setiap kata yang dilontarkan oleh adiknya itu betul adanya, bahkan ia belum pernah mencicipi rumah tangga sekalipun namun dihadapkan dengan permasalahan seperti ini ia memiliki pemikiran dan logika yang bisa di acungi jempol.
"A, sepertinya ini hasil Salat semalam. Allah membalas melalui dik Aaf," ucap Afnan
"Maaf Biyya, Mimma. Kalau Aaf lancang bertanya, bagaimana kalau Biyya dan Mimma ada di posisi Kak Shanum dan AA Kha?" tanya Aftha.
Afnan dan Hasna nampak berpikir. Ini pertanyaan yang sulit. Afnan mengesah pelan, lalu ia menatap istrinya. "Kalau itu permintaan Mimma, Biyya Insya Allah akan menerima, itu demi rasa cinta Biyya terhadap Mimma. Berarti Mimma sudah ridho dan ikhlas meminta Biyya untuk menikah lagi dengan orang lain yang sedang tidak berdaya dan membutuhkan pertanggung jawaban, bukan hanya sekedar biaya hidup tapi juga sentuhan fisik untuk membantunya bergerak. Memang Biyya pernah mengatakan tidak akan pernah ada wanita lain untuk di jadikan istri, memang betul 'kan Biyya tidak mengundang wanita lain itu atau tidak mencari wanita lain itu tapi Mimma sendiri yang memintanya. Ya mungkin awalnya memang dia pun akan berpikir kuat-kuat apa yang harus dilakukan akan tetapi jika memang ridho dan baik untuk kedepannya, kita jalani saja bersama, bagaimana baiknya kita cari pembelajaran dari semua. Pasti suatu saat akan ada hikmah di balik semua itu..Menurut Mimma?" tanya Afnan kemudian.
Hasna diam, semua pertanyaan yang membingungkan sebetulnya. Di sisi lain ia tidak pernah mau memiliki suami yang menikah lain, tapi di sisi lain ia kini diminta agar menempatkan diri sebagai Shanum. "Seperti yang Dik Aaf katakan, pasti Shanum sudah memikirkan hal itu dengan baik dan niatnya itu mulia. Niat untuk ibadah, maka bila memang ada di posisi salon mungkin akan melakukan hal yang sama." Final Hasna.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, keempat orang serempak menoleh lalu Hasna berdiri sebentar, ia mau melihat siapa yang datang. "Mimma lihat dulu siapa yang datang," ucap Hasna.
"Ia Sayang." Afnan yang membalas, Hasna tersenyum seraya berjalan kearah depan.
"Rumah Oom kok sepi Biy? mereka pada kemana?" tanya Afkha. Afnan dan Aftha saling pandang.
"Tuh ada yang nyamar jadi Jinman semalam. Siapa yang makan nangkanya, Biyya yang kena getahnya. Harus menenangkan Oom dan sekarang ada di rumah Abba dan Umma." Afnan melirik ke arah Aftha yang nampak cuek dengan menyalakan layar ponselnya.
"Hem, Jinman nya di sebelah ya Biy," ucap Afkha dengan melirik ke arah Aftha dan kini nyengir kuda.
"Ya sepertinya. Mana bolos sekolah lagi, tadi pagi Mimma di telepon pihak sekolah, menanyakan keberadaannya."
"Ish, pihak sekolah genit. Masa setiap Aku tidak sekolah pasti nelpon Mimma. Modus itu Biyya, jangan percaya, dengan alasan menanyakan aku tahunya mau mengobrol sama Mimma."
"Hush, sembarang! bisa memicu fitnah tuh, pantas pihak sekolah nelpon menanyakan keberadaan kamu, orang satu minggu aja kamu ini sudah bolos empat kali dengan 53 jumlah tugas yang belum di kerjakan dari setiap mata pelajaran. Kemana coba tadi? Sampai bolos lagi sekolah hari ini?" tanya Afnan.
"Aku ikut Zikir semalam sama Aa Kha. Selepas Subuh malah ketiduran di pelataran Masjid." Kekeh Aftha dengan entengnya.
"Betul A?" tanya Afnan.
"Betul, Zikir sebentar, selebihnya mainan ABC lima dasar sama kelompoknya, yang kalah di oles blao." Jujur sang Kakak.
"Astaghfirullah, Adik!" Afnan menarik napas. Aftha hanya nyengir, ini baru protes dari sang ayah. Dari sang Ibu ia belum mendapatkan jatah protesnya, biasanya lebih berabe hukumannya.
Sedangkan di ruang tamu, Hasna membuka pintu, ternyata Shanum sudah berdiri di depan pintu rumah tersebut. "Anum Sayang, dipikir siapa, pakai ketuk pintu segala. Biasanya setelah salam juga langsung masuk," ucap Hasna.
"Maaf Mimma. Anum hanya mencari Aa Kha, soalnya di Masjid juga tidak ada."
"Oh ada didalam, mari masuk, Sayang!"
Hasna masuk kedalam rumah dengan merangkul bahu Shanum. "A, Anum cari Aa nih," ucapnya.
Kini tatapan Shanum bertemu dengan tatapan sang suami yang menatapnya sendu. "Kita pulang ya, aku kesepian," ucap Shanum dengan sedikit sungkan.
Aftha melirik ke arah kakaknya. Lalu ia berbisik, "lihat! begitu bucin-nya istri Aa. Kalau Kak Shanum orang yang egois, mungkin ia hanya ingin memiliki Aa seorang tanpa meminta Aa menikah lagi, apapun yang terjadi dengan nona Zee. Pikirkan sekali lagi, setidaknya lakukan demi cinta Aa terhadap Kak Shanum."
Afkha menghela napas pelan. "Terima kasih Dik! Aa begitu mencintai Kak Shanum, maka akan berpikir ulang tentang permintaannya."
"Good. Pulanglah, bahagiakan Kak Shanum dan habiskan waktu kalian dengan baik baik tanpa pertengkaran." Tandas Aftha dan Afkha mengangguk.
"Mari pulang, Cinta." Afkha berdiri dan kini ia merangkul bahu istrinya dengan sayang untuk diajak pulang, Mereka pun berpamitan kepada orang tua dan adiknya, Aftha. Lalu keluar dari rumah tersebut setelah salam.
***
Di rumah utama.
Tak ada pembahasan apapun tentang pernikahan dengan Zethasa. Kini Afkha dan Shanum menghabiskan sore hari dengan memadu kasih di hiasi indahnya senja di langit sore pesantren.
Hingga malam tiba Afkha tidak pergi ke Masjid untuk berjamaah, ia memilih berjamaah bersama sang istri dan menghabiskan waktu berdua, dengan Murojaah, menonton tausiah di live streaming, berjalan-jalan ke manapun Istrinya mau, serta makan di luar. Sampai pun pada waktu Salat Isya berikutnya mereka berjamaah kembali di rumah, bercinta lagi setelahnya dan barulah keesokan harinya Afkha membuka suara perihal permintaan sang istri.
"Aku sungguh mencintai kamu. Aku sudah memikirkan mengenai permintaan kamu, Cinta. Dengan Bismillah, demi cintaku padamu karena Allah. Aku menerima tawaran kamu. Dengan syarat, saat kamu merasa cemburu. Maka tambahkan lagi kadar cintamu padaku."
"Sungguh Bie?" tanya Shanum.
"Sungguh, bidadariku," ucap Afkha dengan berkaca-kaca seraya mengecup kening istrinya.
"Terima kasih Bie. Aku akan memastikan pernikahan kita akan selalu dalam kebahagiaan, aku percaya Albie akan mampu membahagiakan kami."
"Insya Allah, support kamu akan selalu aku butuhkan." Afkha kini berlinangan air mata.
"Jangan menangis. Kamu pasti mampu adil Bie, aku yakin." Shanum mengusap lembut air mata suaminya yang mulai mengalir ke pipi, dengan tersenyum. Afkha semakin deras mengucurkan air matanya, ia begitu terharu dengan ketulusan sang istri yang memiliki hati bak malaikat.
ah coba Afka dengar