Sequel Wanita Simpanan CEO
"Aku menyayangimu, aku mencintaimu tapi bukan sebagai kakak melainkan perasaan seorang gadis yang mencintai lelaki, aku ingin menjadi kekasihmu, aku ingin menjadi pendampingmu, aku ingin jadi istrimu kak, tidak bisakah kau mencintaiku". - Abel
"Maaf selama iini aku hanya menganggapmu sebagai adikku".-Excel
Saat kecil Abel dan Excel mereka tumbuh bersama seperti kakak dan adik namun karena suatu hal Excel harus pergi karena ikut orang tua kandungnya dan meninggalkan Abel, saat mereka dewasa dan Excel kembali apakah perasaan mereka sebagai adik kakak masih sama ataukah berubah, dan apakah mereka masih ingat janji masa kecil mereka ?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubah Betina
Abel pulang ke rumah dengan wajah lelah, ingin rasanya ia mengguyur tubuhnya dengan air hangat lalu langsung tidur. Namun rencananya gagal karena Alvin yang langsung masuk begitu saja ke kamar Abel ketika melihatnya pulang.
"Mer kata papa lo tadi ketemu Excel ?". Tanyanya.
Ya mulai hari itu Abel meminta agar anggota keluarganya tidak lagi menggunakan sebutan Abek melainkan nama Merry di rumah dan Mariana di kantor. Walau mendapat pertanyaan mengapa ia mengganti nama tentu Abel tak menceritakan hal ini kepada papa Rey, cukuplah Alvin dan mama Dina yang tau.
"Iya". Jawabnya singkat dan kesal, mengapa tidak di kantor ataupun di rumah ia selalu mendengar nama itu. Alvin yang jadi penasaran kini duduk di ranjang Abel, menunggu kelanjutan cerita dari adiknya itu. "kok bisa ?".
"Orang ketemunya juga gara-gara masalah kerjaan". Alvin mengernyit dan semakin ingin tau, bahkan kini ia mengambil bantal untuk menumpu tangannya, "masalah kerjaan apa ? lo kan udah nggak kerja di perusahaannya".
"Proyek kerja sama papa itu lo kan sekarang aku yang nanganin". Alvin membelalakkan mata mendengar cerita yang semakin seru menurutnya, "terus terus lo gimana kontraknya langsung lo tanda tanganin ? Enak banget dia".
"Ya nggak lah". Jawabnya cepat, "seenggaknya nggak segampang itu, aku suruh dia revisi proposal pengajuannya dalam jangka waktu 3 hari baru aku kasih jawaban". Alvin mengangguk namun ia kembali menoleh ke arah Abel.
"Trus kalau dia berhasil revisi tuh proposal sesuai sama yang lo mau lo langsung tandatangani ?".
"Ya kalau emang tu proposal udah sesuai kenapa nggak lagian mau dia satu kantor, satu kerjaan ataupun satu ruangan sama aku udah nggak ada artinya lagi buatku", Abel mengambil bantal yang ada di pangkuan Alvin dan menatanya kembali.
"Udah ah sana kak Alvin keluar aku mau mandi". Ujarnya lalu melangkah memasuki kamar mandi meninggalkan Alvin yang kesal, "sok sok'an bilang nggak ada artinya entar lihat deket sama cewek lain aja mewek lagi lo".
********
Abel menaruh tas jinjingnya di meja dan sejenak menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, masih pagi dan ia sudah jenuh melihat tumpukan berkas di mejanya yang seolah minta untuk di kerjakan. Suara ketukan pintu membuat perhatiannya teralihkan, "masuk".
"Oh ada apa Lusi ?". Tanyanya pada sang sekertaris yang membawakan teh juga catatan jadwal Abel. "Hari ini nona akan ada meeting dengan pak Bambang dan model iklan mengenai iklan produk yang baru di buat".
Abel mengambil cangkir tehnya dan sedikit mengesapnya, setelah mendengar rentetan jadwalnya lalu menyuruh Lusi untuk keluar dan mengerjakan tugasnya. Sampai tak terasa sudah berjam-jam Abel berkutat dengan tumpukan berkas hingga tiba waktunya untuk meeting.
"Nona sudah waktunya untuk meeting dengan pak Bambang". Abel mengangguk dan beralih ke ruang meeting karena tempat mereka meeting memang masih di perusahaan, juga agar menghemat waktu mengingat biasanya macet di jalan.
Namun kala sedang berjalan ia tiba-tiba tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang ia sangat kenal, ia yang tadinya hendak meminta maaf langsung tak jadi dan wajahnya pun berubah kala mengetahui siapa yang bertabrakan dengannya.
"Ma.....Kau apa yang kau lakukan disini ?". Tanyanya sedikit ketus karena Abel sangat tidak menyukai wanita di hadapannya itu.
Namun berbeda dengan wanita itu yang terlihat menampilkan senyumnya, membuat Abel sangat muak dengan semua kepalsuan yang di perlihatkan. "Abel lama ya kita nggak ketemu". Ujar Jennie.
"Ya". Jawabnya singkat.
"Kau sudah banyak berubah ya sekarang terakhir kita bertemu saat acara pertunanganku iya kan ?". Abel rasanya ingin mengakhiri perbincangannya dengan Jennie saat ini juga, bahkan ia penasaran untuk apa Jennie datang ke kantornya.
"Jennie aku menunggumu kenapa lama sekali". Ujar seorang lelaki paruh baya kepada Jennie kemudian melihat ke arah Abel. "Maaf apa anda salah satu karyawan disini bisa beritahu kami di mana ruang meetingnya".
Seketika Abel ber o ria kala mengerti jika Jennie dan lelaki di sampingnya kemari hendak meeting dengannya. Dan mereka belum menyadari kalau yang akan mereka temui adalah Abel. "Ruang meeting ada di lantai sebelas". Jawabnya.
"Terima kasih nona, apakah pak Reymond sudah ada di tempat meeting ?". Tanya lelaki itu yang Abel yakini adalah pak Bambang.
"Yang akan meeting bukan pak Reymond tapi putrinya karena sekarang putrinya sedikit demi sedikit menggantikan tugas pak Reymond". Abel lalu melihat Jennie dengan tatapan kesal, "sepertinya ada kendala yang membuat putri pak Reymond sedikit terlambay munkin anda harus menunggu dulu di ruang meeting. Jelasnya tanpa mengatakan kalau ia sendiri adalah anak papa Rey.
"Oh ya pak ini adalah Abel salah satu kenalan dekatku, Abel ini sutradara hebat lo mungkin kalau suatu hari kau mau jadi artis cari saja pak Bambang". Ujar Jennie namun tak membuat Abel bersimpatik sedikitpun. "Oh benarkah kau kenalan dekatnya Jennie ?".
"Kami tidak sedekat itu". Jawabnya datar.
"Baiklah aku ke tempat meeting dulu, Jennie cepatlah menyusul". Pak Bambang lebih dulu untuk pergi ke lantai sebelas dan meninggalkan Abel juga Jennie di sana. Ia fikir tak akan menganggu para wanita karena biasanya wanita jika mengobrol pasti tiada akhirnya.
"Abel kau tau prank waktu pertunanganku itu sangat mengejutkanku, kau berhasil tapi aku harap kau tidak akan melakukan itu pada pertunangan orang lain atau mereka akan sangat marah padamu".
Abel merasa jika Jennie tak sedang bicara padanya tapi seperti sedang memberikan peringatan. Lagipula waktu itu bukanlah prank melainkan betulan tapi jika meladeni Jennie yang ada ia malah marah. "Jadi waktu itu apakah kau marah ?". Tanya Abel.
"Sebenarnya aku kurang suka". Jawabnya. Abel tersenyum miring melihat Jennie, ia seperti melihat dua kepribadian berbeda dari wanita itu. "Kau kurang suka atau memang tidak suka ?".
"Kau tau waktu itu aku beracting tapi actingku tidak sebagus dirimu yang sangat pintar beracting tapi actingmu tidak akan mempan padaku". Jawabnya dan melangkah pergi namun tangan Jennie menghalangi langkahnya. "Apa maksudmu ?". Tanya Jennie dengan senyuman yang membuat Abel muak.
"Maksudku adalah kau tidak perlu menyembunyikan topengmu dan tidak perlu berpura-pura baik kepadaku karena itu tidak ada artinya". Abel dan Jennie saling memandang dengan sengit, kini permisuhan terlihat jelas dari sorot mata keduanya. "Jadi seperti itu ?". Jennie tersenyum miring melihat Abel, membuat Abel jadi curiga.
"Aduh". Jennie menjatuhkan dirinya sendiri yang membuat Abel heran bahkan ia tak mengerti mengapa Jennie sampai melakukan itu.
"Apa lagi rencana rubah betina ini". Gumamnya dalam hati dan tiba-tiba tanpa ia sangka ada seorang laki-laki yang menolong Jennie dari arah belakang Abel.
"Jennie apa yang terjadi padamu ?". Abel tetap tak bergerak di tempatnya dan hanya melihat Jennie yang di bantu berdiri oleh lelaki tersebut. Ia cukup terkejut namun menyembunyikan keterkejutannya kala lelaki itu adalah.... Excel.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo apa yang akan terjadi nantinya, jangan lupa like, subscribe, komen, kasih bintang, koin dan poin buat aku yang banyak
sukses
semangat
mksh