'Erlangga Saputra' atau yang biasa di panggil 'Rangga' adalah anak payah, bodoh, pemalas, dan sangat tidak berguna!
hingga suatu saat, ketika ia terbangun dari koma, dan perlahan-lahan menyadari keanehan dalam dirinya.
"sejak kapan aku bisa ini itu? sejak kapan aku bisa melakukan semua hal?"
"apakah kau terbangun dan menemukan sistem?"
"tidak!"
"apakah kau manusia dari dunia lain dan merasuki tubuh Rangga?"
"tentu saja ini adalah diriku sendiri, mana mungkin aku tidak mengenal diriku sendiri?!"
lalu mengapa tiba-tiba dia menjadi jenius dan serba bisa?
penasaran?
silahkan di baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airis28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
adik William
Hari ini aku ada di padang rumput segar di dekat rumah Riki. Bocah 5 tahun yang suka memanggilku ‘kakak malaikat’ itu.
Kesini aku datang bersama Prince.
Sejak kejadian aku di kejar oleh ibunya Riki, Prince suka ngamuk padaku karna sama sekali belum pernah mencoba mencicipi rumput disini. Akhirnya aku hanya bisa diam-diam datang kemari dan mengambil rumput untuk di bawa pulang dan di berikan pada Prince, supaya ngambeknya ga kelamaan.
Tapi untuk kali ini aku bebas datang kesini kapan pun, tapi tetap saja dengan tanda di dahi Prince yang harus di tutup.
Kali ini aku tidak perlu takut identitasku terungkap, karna Riki sudah berjanji padaku akan merahasiakannya. Semoga perkataannya itu bukan sekedar omong kosong.
“Kak Ranggaaa....” bocah berumur 5 tahun berteriak padaku sambil melambaikan tangannya. Ya. Dia adalah Riki, baguslah dia menepati janjinya. Jika terus seperti ini sampai dia besar, dia pasti akan menjadi pria yang bertanggung jawab dan di sukai banyak gadis. Namun tetap saja, kebanyakan manusia melihat tampang no 1.
Riki berlari ke arahku, setelah sampai kami melakukan tos bersama. “Riki, bagaimana kabarmu? Apa para polisi itu menanyaimu aneh-aneh?”
Riki mengangguk. “polisi kemarin nanya, apa aja yang penculik itu buat ke Riki, terus.. Riki takut apa engga. Terus... Riki di bawa ke dokter. Terus....” ucap Riki dengan logat anak kecil. Namun perkataannya langsung ku stop.
Sepertinya dia akan berbicara panjang lebar dengan pemborosan kata ‘terus.. terus... dan terus.....’
“apa mereka menanyakan tentang kejadian saat kau di selamatkan?”
Riki kembali mengangguk. “Riki bilang kalo kakak malaikat dateng nyelametin Riki.”
“Oh ya kak, semua orang jahatnya kata dokter amnesia. Kalo dari yang Riki denger, katanya gara-gara kepalanya kena sesuatu yang keras”
Aku langsung bisa membayangkan apa yang di maksud dengan sesuatu yang keras itu bukanlah benda, melainkan pukulan kuat. Tentu saja pukulan kuat dari si Monster Cantik.
Saku celanaku bergetar terus menerus, yang menandakan ada panggilan di Hp ku. Aku mengambil Hp ku dan melihat layar Hp yang sudah retak akibat terjatuh saat di jambret untuk memeriksa siapa si pemanggil. Namun tidak ada namanya sama sekali. Hanya ada nomor yang tidak ku ketahui.
Aku mengerjap sebentar menatap Hp ku. Lalu menyambungkan panggilan itu. “halo, siapa ya?” bisa jadi ini hanya nomor salah sambung. Atau bisa jadi paman, bibi, ataupun Siska mengubah nomor teleponnya. Dan bisa juga si orangtua menyebalkan itu.
Terdengar suara helaan nafas di ujung sana dan langsung menjawab perkataanku tanpa basa basi. “Sekarang juga, cepat kau datang ke rumahku dan jangan lupa untuk membawa kuda dan memakai kostum norakmu itu!”
Aku menjauhkan Hp dari telingaku. Ini adalah suara William. Meski sekelas, aku dan dia tidak pernah akrab, dan kami juga tidak pernah bertukar nomor. Bukan hanya dia sih... tapi aku juga tidak punya nomor semua teman-teman sekelas. Habisnya aku selama ini tidak punya teman. Ngomong-ngomong.... dari mana dia tau nomor Hp ku ini?
Aku menepuk dahiku. Aku seharusnya tidak perlu heran dia mengetahui nomorku. Dia itu anak sultan! Pasti koneksinya sangat luas. Dan... bisa juga dia tau nomor Hp ku dapat dari ayahnya yang mebyebalkan itu.
Aku kembali menempelkan Hp pada telingaku. “itu saja. Jadi cepat datang kemari! Dan jangan banyak alasan!” William langsung memutus sambungan telepon. Dari nada bicaranya sepertinya dia sedang kesal. Kenapa? Memangnya aku melakukan kesalahan apa lagi padanya? Sepertinya sejak menyelamatkan Riki, aku sudah tidak berinteraksi lagi dengannya. Lalu kenapa dia kesal padaku? Sudahlah... lebih baik aku cepat pergi, daripada nanti kena amuk.
“Riki, kak Rangga pergi dulu ya”
“ko cepet banget kak? Boleh Riki ikut?”
“Tidak boleh, nanti ibumu mencarimu”
Mata Riki terlihat berkaca-kaca, dia menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Aduh... bocah ini...
“Riki” panggilku. Riki mengangkat wajahnya perlahan. Gawat... dia sudah mau meledak untuk menangis.... “kau mau jadi pahlawan seperti kakak?”
Riki mengangguk.
“Kalau begitu jangan menangis hanya karna kakak pergi okey! Pahlawan itu harus kuat! Kau mau kan menjadi seperti kakak?”
Riki menghapus air matanya dan mengangguk menatapku. “ok. Riki akan jadi kuat buat jadi pahlawan!”
“Bagus” aku tersenyum dan mengulurkan tinjuku padanya, Riki juga membalasnya. Kami pun saling tos tinjuan ringan.
...****************...
Di depan rumah William.
William menatapku yang baru datang menaiki Prince dengan jengkel. Memangnya apa kesalahanku?!
“kenapa kau tidak pakai kostum norakmu itu?”
“kau gila ya? Aku tidak mungkin pergi kesini dengan menjadi pangeran berkuda putih! Bisa-bisa satu kota nanti jadi heboh!”
William langsung berbalik dan masuk rumahnya. “cepat masuk, ganti pakaianmu, dan ikuti aku!”
Aku tidak mau berdebat panjang dengannya, jadi aku mengikuti kemauannya.
Aku mengikuti William dari lorong ke lorong. Ini bukan jalan ke ruangan ayahnya. Syukurlah... aku sempat khawatir kalau William menyuruhku kesini hanya karna panggilan dari ayahnya yang menyebalkan itu. Dan sepertinya orang itu memang sedang tidak ada disini. Jadi aku bisa sedikit santai.
William berhenti di depan pintu kamar dan mengetuknya ringan. “Keysha... boleh kakak masuk?”
He? Tadi dia bilang apa? Keysha? Kakak? Memangnya William punya adik? Ko aku tidak tahu sama sekali. Bahkan sepertinya berita juga tidak pernah menyebutkan kalau keluarga Hermantono punya 2 anak.
Pintu di buka oleh seorang pelayan wanita yang menunduk di hadapan William. “silakan masuk tuan muda”
William masuk di ikuti denganku.
“kyaaaa.... pangeran berkuda putih!!” jerit seorang gadis berusia sekitar 9 tahun ketika melihatku dengan penampilanku ini. Rambutnya berwarna hitam, lurus dan panjang sepunggung. Dan dia duduk di atas kursi roda. Siapa gadis ini?
William berjalan menghampiri Keysha dan berjongkok di hadapannya. “kakak sudah membawakan pangeran berkuda putih yang asli padamu. Jadi jangan marah lagi pada kakak ya?”
“Tapi.. apa benar dia yang asli kak? Bukan orang suruhan kakak yang menyamar pake baju pangeran kan” Keysha memicingkan matanya.
“Dia yang asli. Dia juga membawa kudanya ko, ada di halaman depan”
Mata Keysha berbinar senang, dia menyuruh pelayannya untuk menggerakkan kursi rodanya ke arahku. “kakak pangeran, aku penggemar beratmu!”
“emm.. aaa... te.. terima kasih” ucapku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Apa-apaan ini? William menyuruhku cepat kemari hanya untuk bertemu gadis ini? Memangnya dia ini siapa sih??
William menghampiri kami dan menepuk kepala Keysha lembut. “Keysha, kakak ingin membicarakan sesuatu dulu dengan pangeran. Jadi kami pergi dulu ya.”
Keysha cemberut, seperti tidak terima.
“Dia kan pahlawan, dia banyak pekerjaan, lain kali kakak akan membawanya lagi kemari menemuimu. Okey”
“kakak janji?” mata Keysha bersinar penuh harapan.
“janji” William tersenyum sambil menautkan jari kelingkingnya pada Keysha.
William menatapku “ayo ikuti aku PANGERAN BERKUDA PUTIH!” ucapnya dengan penekanan di setiap kata sambil tersenyum. Meski dia tersenyum aku tau dia sedang menahan kesal. Aku jadi merinding.
Saat sudah di luar kamar Keysha, aku yang ingin bertanya siapa itu Keysha, langsung di potong William.
“kau pasti penasaran kan dengan perubahan tubuhmu itu yang mendadak menjadi pintar, kuat, dan serba bisa?”
Eh.... tentu saja, ini yang paling aku tunggu-tunggu! Akhirnya dia mau mengatakannya juga!