Kisah seorang santri bernama Zahra Khoirunnisa yang di jodohkan dengan seorang pengusaha muda bernama Arkan yang tak lain adalah teman dari kakak nya.
Di satu sisi Zahra sudah menyukai seseorang dalam hatinya. Di sisi lain Zahra tidak bisa menolak keinginan ayahnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengannya, sedangkan hatiku sudah untuk orang lain"_Zahra
"Aku bukan orang baik, aku pemabuk dan aku juga tidak suka wanita sepertimu" _Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri risdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Zahra POV
"Hoek hoek." (Anggap aja suara Zahra lagi muntah.)
Rasa mual membangunkan ku dari mimpi indah tadi pagi. Iya tadi pagi karena memang aku tidur lagi setelah subuh, mas Arkan benar benar keterlaluan, sudah tahu istri hamil masih saja di gempur habis habisan sampai aku kelelahan.
"Eh ngomong ngomong mas Arkan dimana?" Buru buru aku keluar mencari keberadaan suamiku.
Di kamar udah gak ada, di dapur gak ada ku lihat sekeliling rumah juga gak ada.
Aku kembali ke kamar karena masih merasa lemas. Tak sengaja ku lihat jam di meja rias ku menunjukkan pukul 10.00.
"ya ampun aku kesiangan banget ini, mas Arkan pasti udah berangkat kerja, kasian dia siap siap sendiri. Mana gak aku buatin sarapan lagi." Aku merasa lalai sekarang.
Aku merasa bersalah karena tidak melakukan kewajiban ku tadi pagi, aku terlalu lelah sampai bangun kesiangan. Mungkin aku akan ke kantor mas Arkan saja nanti siang untuk mengantar makan siang.
Aku bergegas membersihkan diri terlebih dahulu.
"Mas Arkan kok tumben gak bangunin aku ya." Gumam ku.
Selesai membersihkan diri, aku bergegas ke dapur untuk memasak sarapan ku yang kesiangan. Tapi sebelum sampai dapur aku dengar pintu rumah di ketuk.
"Ya sebentar." Ucapku berteriak. Aku segera mengambil hijab ku.
Saat ku buka pintu ternyata yang datang adalah mas mas Go f**d mengantarkan makanan. padahal aku gak pesan.
"Atas nama ibu Zahra." Ucap nya
"Iya benar, tapi saya gak pesan makanan mas."
"Ini Bu nomor pemesanan nya." Dia menunjukkan hp nya padaku.
"Ooh iya itu suami saya mas, makasih ya."
"Sama sama Bu."
Aku masuk ke rumah dengan makan pesanan mas Arkan. Mungkin mas Arkan tahu aku akan bangun kesiangan jadi dia pesankan untukku, uuuh benar benar suami pengertian.
Karena sudah sangat lapar, aku pun langsung memakannya.
Selesai sarapan aku memutuskan mengirimkan pesan untuk suamiku.
Me:
Mas makasih ya sarapan nya, Zahra suka🥰
Beberapa menit berlalu tapi mas Arkan belum menjawab pesanku. Mungkin dia sedang sibuk, Katanya memang sedang ada proyek baru di kantornya yang membuat pekerjaan nya menumpuk.
Aku putuskan untuk membuat makanan untuk makan siang nanti sekalian kue kesukaan mas Arkan, dia pasti senang kalau aku ke kantor bawa makanan kesukaan nya.
##
Hampir Dua jam aku berkutat di dapur, sekarang sudah hampir Dzuhur. Aku bergegas membersihkan diriku lagi karena merasa badanku bau masakan. Aku ingin tampil cantik dan wangi di depan suami ku nanti.
Setelah mandi aku memilih pakaian yang akan aku kenakan. Pilihan ku jatuh pada gamis maroon dengan motif bunga serta hijab berwarna dusty. Ku poles wajah ku dengan sedikit makeup agar tidak terlalu pucat. Merasa sudah siap, aku langsung keluar karena taxi yang ku pesan sudah menunggu.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima belas menit aku sudah sampai di kantor mas Arkan. Ku tenteng bekal makan siang yang tadi ku buat.
"Selamat siang Bu." Sapa Resepsionis sambil tersenyum kearah ku.
"Pagi mbak, Pak Arkan nya ada?"
"Ada di ruangan nya Bu." Jawab nya.
"Ok makasih mbak." Aku pun bergegas ke ruangan mas Arkan.
Sebelum masuk ruangan mas Arkan ku lihat meja sekertaris nya kosong. Memang mas Arkan bilang sekertaris nya mengundurkan diri. Mungkin dia belum dapat sekertaris baru.
Aku bergegas masuk ke ruangan suamiku.
Tapi suara tawa dari dalam sana membuat ku berhenti di depan pintu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan sampai sesenang itu, Yang ,pasti tawa mereka berhenti saat aku berhasil membuka pintu.
Mas Arkan memandang ke arahku dengan mata terkejut. Sedangkan wanita itu yang tadi tertawa dengan suamiku memandang ku dengan heran seakan berkata aku tidak sopan karena masuk tanpa mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum." Ucapku memecah keheningan ruangan ini.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka seakan tersadar.
"Siska kamu boleh kembali ke meja mu. Berkas berkas tadi jangan lupa kamu salin dan kirim ke saya." Ku dengar mas Arkan bicara pada wanita itu.
"Baik Mas eh Pak maksud saya." Ucapnya Yang membuat ku kaget dan heran kenapa dia panggil mas.
Dia berlalu, tapi saat melewati ku dia seperti menilai ku dari atas sampai bawah membuat ku risih.
Setelah dia pergi, aku kembali menatap pria yang berstatus suamiku itu. Dia berjalan menghampiri ku.
"Sayang kok kesini gak bilang bilang?" ucapnya seraya mengecup kening ku.
"Kenapa harus bilang? biar gak ketahuan lagi berduaan ketawa ketawa sama perempuan lain?" Ucapku kesal.
"Duuh bumil marah nih." Ucap mas Arkan sambil menuntun ku ke kursi.
"Ini kamu bawa apa yang?" Mas Arkan meraih bawaan ku.
"Makan siang, tapi kayaknya kamu udah makan." Ucap ku kesal melihat sisa sisa makanan di atas meja.
Aku yakin dia pasti habis makan dengan perempuan tadi. Percuma aku capek capek masak.
"Heem maaf mas tadi udah makan sama Siska, tapi gak apa-apa mas makan lagi masakan istri mas ini." Ucap nya sambil membuka bekal yang ku bawa. Tapi sebelum dia berhasil membuka aku kembali merebut nya.
"Gak usah di paksain, aku bawa pulang lagi aja." Ucapku sambil merapikan bekal ku.
Jujur aku kesal dan sedikit sesak menahan tangis membayangkan suamiku makan berdua ketawa ketawa di ruangan ini dengan wanita lain. Apalagi aku tadi dengar sendiri mereka tertawa.
"Sini mas mau makan, kayak nya ada wangi kue kesukaan mas deh." Ucap nya mencoba merebut bekal ku, tapi aku mencegah nya.
"Gak ada." Ucap ku ketus.
"Jangan marah." Mas Arkan mencoba mengelus kepala ku, tapi aku mengindar.
"Aku ijin ketemu temen di cafe." Ucapku.
"Kapan?" Tanya mas Arkan.
"Sekarang."
"Mas antar ya."
"Gak usah kamu pasti sibuk, aku udah pesan taksi." Aku sengaja panggil Dia 'kamu' supaya dia tau kalau aku lagi kesel.
"Perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan, lagi pula aku gak mungkin berduaan sama laki laki apalagi di tempat tertutup." Ucapku menyindir nya.
"Ya udah mas ijinin tapi pulang nanti mas jemput ya."
"Terserah."
"Jangan marah terus dong."
"Aku pergi dulu udah di tungguin." Aku beranjak dari kursi, tak lupa membawa kembali bekal tadi.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab mas Arkan.
Saat aku keluar dari ruangan mas Arkan, aku lihat perempuan tadi di meja sekertaris, ternyata sekertaris baru mas Arkan. Apa mas Arkan sengaja cari sekertaris perempuan, keterlaluan.
Aku melewati wanita itu tanpa melihat dia sedikit pun. Biasanya aku berusaha ramah pada semua karyawan mas Arkan, tapi aku tidak bisa ramah dengan wanita itu.
Sekarang aku akan pergi bertemu Dini, sahabat ku saat di pondok. Dia tadi mengajak bertemu di cafe dekat sini. Tadinya aku tolak karena ingin menghabiskan waktu dengan suamiku. Tapi dengan kejadian tadi aku merasa akan tambah kesal jika terus berada disana. Jadi aku putuskan untuk menghubungi Dinda lagi dan menerima ajakan nya. Siapa tahu bisa membuatku lupa kekesalanku pada mas Arkan.
#hoho siapa nih yang udah nunggu Arkan dan Zahra, eh eh ngomong ngomong masih pada ingat gak sama Dini sahabat Zahra?? hayoo jangan jangan udah pada lupa.